
Adisti membuka pintu ruangan kantor suaminya sambil mengucap salam, “Assalamu’alaina wa ‘alaa ibaadillaahisshoolihiin_Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shaleh_”.
Bukan salam yang biasa ia ucapkan karena tidak akan ada yang menjawab salamnya. Berbeda jika ada suami ataupun orang lain yang menyertainya.
Rasanya aneh memasuki ruangan kerja suaminya seorang diri. Tiba-tiba ia merasa kesepian.
Seolah tahu dengan perasaan istrinya, gawai Adisti berbunyi. Tertulis MyHubby-PakSuami pada layar gawainya.
Adisti tersenyum seraya menjawab salam suaminya.
“Sudah sampai mana?” Jeda.
“Baru saja masuk ruangan Abang. Rasanya sepi banget. Beda banget...” Jeda sejenak sebelum kemudian Adisti menyembung lagi ucapannya, “Disti kangen Abang..”
Jawaban Bramasta membuat pipi Adisti bersemu tersipu-sipu. Tetapi kemudian terdengar suara Indra yang tidak terima dengan Bramasta bertukar kata-kata mesra dengan istrinya.
“Abang Bram, bilangin ke Bang Indra supaya gak rese. Buruan cari anak-anaknya dulu sebelum bertemu dengan ibunya.”
Jeda lama karena Bramasta dan Indra jadi saling berdiskusi membahas ucapan Adisti.
Adisti sudah berada di ruangannya. Meletakkan tasnya lalu meletakkan gawainya di atas meja sambil menyalakan loudspeaker.
Adisti duduk sambil membuka laptopnya. Dia tersenyum lebar menatap layar gawainya. Suara Suami dan sahabatnya terdengar.
“Dis, jadi beneran nih gue harus cari anak-anak itu dahulu sebelum bertemu dengan ibunya?”
“Tadi Disti ngomong apa?” Adisti balik bertanya.
“Lah tadi Disti ngomong seperti itu..” Indra menggantung kalimatnya.
“Ya kalau Disti tadi ngomong seperti itu berarti ya memang seperti itu..” Adisti mengetikkan password laptopnya.
“Maksudnya?” suara Indra penuh tanda tanya.
“Soalnya Disti beneran lupa tadi Disti ngomong apaan...” Adisti terkekeh kecil.
“Yaelah... Bram, bini Lu tuh Bram. Memang kadang-kadang ya.. Bini Lu tuh..” suara Indra terdengar kesal.
Terdengar suara kekehan Bramasta.
“Udah.. dengerin aja omongannya.”
“Kenapa Bang Indra? Disti kadang-kadang kenapa?” Adisti bertanya dengan suara dingin.
“Nahloh.. Lu sih Ndra..” Bramasta terdengar kesal pada Indra.
“Eh, nggak Bu.. Bu Adisti istrinya Bramasta mah baik banget orangnya. Baik hati, gak baperan, jago masak, gak sombong dan selalu tersenyum walau saat sendirian.." Indra menyerocos sambil mengganti persneling.
“Maksudnya?”
“Gak ada. Cuma mau bilang Disti baik aja..”
“Tadi kan bilang Disti selalu tersenyum walau saat sedang sendirian..” protes Adisti.
“Masa sih Abang ngomong begitu? Perasaan nggak deh,” Indra terkekeh pelan.
“Isssh Abang Indra tuh ya..”
“Sayang.. udah dong ngobrol dengan Indranya. Ngobrol sama Abang aja ya. Katanya kangen...”
Terdengar suara Indra berdecak.
“Kok Bang Leon gak kedengeran suaranya?”
“Bang Leon tidur sedari baru berangkat. Dia gak bisa tidur. Setiap kali berbaring di atas bed, rasa nyerinya menjalar kemana-mana. Tapi dia nyaman di kursi mobil. Makanya tadi Abang suruh tidur aja.”
“Iya sih.. Disti ngerti dengan rasa sakitnya Bang Leon.”
“Sayang sedang apa?”
“Baru mau melukis mumpung sedang kangen Abang..”
“Melukis apa?”
“Ada deh..”
“Nanti boleh lihat gak?”
“Gak boleh. Itu surprise buat Abang.”
“Issh.. main rahasia-rahasiaan sekarang..”
“Woyyyadooong,” Adisti terkekeh.
“Sayang udah dulu ya, kita sudah sampai di tukang urut Cimandenya..”
“Hati-hati ya kalian semua. Jagain Bang Leon, walaupun nanti pecicilan dan petakilan, dimaklumi saja. Kan dia pasien..”
“Iya.. daaah Sayang. Baik-baik ya di kantor.. Assalamau’alaikum..”
Adisti menjawab salam lalu mengakhiri panggilan. Dia sedari tadi sudah melapisi bajunya dengan baju untuk melukis. Menjaga agar bajunya tidak terkena cat.
Dia mulai menggoreskan kuasnya untuk membuat sketsa dasar, berupa garis-garis kasar. Lalu memperhalusnya dengan warna. Sebelum akhirnya dia mengganti kuasnya dengan pisau palet untuk menorehkan cat akriliknya di atas kanvas.
1 jam lebih dia melukis. Belum selesai. Melukis itu perlu kesabaran dan juga mood. Dia masih ada kewajiban pekerjaan yang harus dilakukan. Itu sebabnya dia mengakhiri kegiatan melukisnya.
Mesin exhaust masih berdengung untuk membuang aroma cat dan minyaknya. Dia membuka pintu ruang kerjanya yang menghadap pada koridor.
(Photography by Ghar360)
Baru saja duduk, seorang karyawati kesekretariatan masuk membawa berkas-berkas map. Dia mengucap salam sambil mengetuk pintu.
Adisti menjawab salamnya sambil tersenyum. Menyuruhnya masuk dan mulai berbicara tentang pekerjaan.
***
Pukul 11 lebih sedikit, Mommy menjemput Adisti untuk bersama-sama ke rumah sakit.
Mereka tiba di rumah sakit bersamaan dengan Agung dan Ayah yang sedang berjalan ke arah kamar.
Setelah salim dengan Ayah dan Agung, Adisti menggamit lengan kakaknya, “Dari mana?”
“Ruang perawat, mengurus berkas dan surat kontrol juga surat untuk sekolah Adinda..”
“Jadwal kontrol Kakak dan Adinda samaan gak?”
“Sudah siap semuanya?” tanya Mommy setelah bercipika dan cipiki dengan Bunda dan Adinda.
“Alhamdulillah, semuanya sudah beres.”
“Gung, gak ada bill kamar, farmasi dan medis kan?” tanya Mommy.
Agung menggeleng sambil tersenyum, “Gak ada Mom.. Itu yang bikin saya heran.”
“Kenapa heran?” Mommy mengambil duduk di samping Adinda sambil membelai kepalanya yang tertutup hijab sewarna dengan hijabnya Mommy.
“Kalau saya walaupun baru bergabung dengan Sanjaya Group, tapi sudah tercover penuh oleh asuransi yang ditunjuk oleh perusahaan. Tapi Adinda.. kan seharusnya ada bill terpisah..” Agung menatap Mommy dengan pandangan bertanya.
Mommy mengibaskan tangannya, “Gak usah dipikirin. Adinda kan sudah jadi anak angkat Mommy dan Daddy. Tagihannya sudah masuk ke dalam tagihan keluarga.”
“Waduh, Mom.. kami jadi gak enak nih..” kata Bunda sambil menepuk lutut Mommy.
“Issh.. dibikin enak aja supaya gak bikin pusing..” Mommy terkekeh.
“Mom, terima kasih banyak ya,” Adinda malu-malu memandang Mommy.
“Isssh kamu ini imut banget sih. Jadi ingat sewaktu pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Adisti di ruangan ini..”
Adisti memberikan cengirannya sedangkan Adinda mengangkat kedua alisnya.
“Sewaktu mukanya masih bengep gak karuan ya Mom?” seloroh Agung sambil terkekeh membuat Adisti memberikan tatapan setajam silet pada kakaknya.
Mommy mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Wajarlah bengep dan baret. Kan habis jatuh dari jurang. Tapi walau begitu, cantik dan manisnya Disti masih terlihat kok.. Buktinya, Bram jadi fall in love at first sight, kan?” Mommy terkekeh.
“Kita pulang sekarang? Sudah diperiksa lagi kan barang-barang pribadi jangan sampai tertinggal?” kata Ayah sambil berdiri.
Di depan pintu sudah ada supir yang menunggu.
‘’Kita semua naik Alphard saja ya. Biar barang-barangnya diangkut Innova,” usul Mommy yang disetujui oleh semuanya.
Ayah duduk di depan. Bangku tengah Mommy dan Bunda. Sedangkan bangku belakang ditempati oleh Adinda, Adisti dan Agung.
“Disti jadi pembatas kalian ya. Nanti kalian kalau sudah resmi akad, Disti gak bakalan jadi pembatas kalian lagi,” Adisti memandang Agung dan Adinda bergantian.
“Adek sekarang jadi bawel ih!” Agung mendengus.
Pipi Adinda merona.
“Tanpa ada Adek jadi pembatas pun Kakak gak akan berani ngapa-ngapain Adinda..” Agung mendengus lagi.
“Kenapa memangnya? Karena Kakak itu mirip kanebo kering?”
Mommy dan Bunda terkekeh di bangku tengah.
“Hih, gegabah!” Agung mencebik. Melirik pada Adinda yang tersenyum, memamerkan lesung pipinya. Dada Agung mendadak berdebar-debar.
Agung menyentuh dada kirinya lalu berdehem untuk mengusir debaran yang ada.
Mobil mereka melalui kantor polisi.
“Om,” Adinda menoleh pada Agung, “Ibu dan teman prianya ditahan di kantor polisi mana?”
Ayah yang duduk di depan langsung menoleh pada Agung. Bunda dan Mommy saling bertatapan.
“Kenapa?” Agung menatap mata Adinda. Begitu juga Adisti.
Tatapan mata Adinda terlihat begitu mengibakan dan juga begitu kosong. Adisti merangkul Adinda. Mengelus punggungnya.
“Saya harus bertemu mereka, Om.”
“Kenapa?” tanya Agung lagi.
“Karena mereka berdua sudah membunuh Papa. Dan juga karena saya sudah mengingat semuanya apa yang telah dan akan dilakukan oleh teman pria si ibu terhadap saya.”
Bunda dan Mommy bersamaan menoleh pada Adinda.
“Dinda sayang.. istighfar Nak.. jangan biarkan kemarahan menguasai kamu..” Bunda menyentuh lutut Adinda.
“Semua sudah diserahkan pada yang berwajib. Biarkan mereka yang memprosesnya ya,” Agung berkata sambil tetap melakukan eye contact dengan Adinda.
“Dinda percaya dengan saya?” tanya Agung.
Adinda mengangguk.
“Fokus ke pemulihan diri Dinda dulu ya. Supaya Dinda bisa masuk sekolah lagi. Menyelesaikan ujian praktek kamu.”
Adinda menurunkan pandangannya.
“Selesai ujian, bila kamu masih berkeinginan untuk bertemu mereka, insyaa Allah saya akan mengantarkan kamu. Tapi tetap kendalikan diri kamu dari amarah ya. Bisa?”
Adinda tidak menjawab.
“Kenapa harus menunggu selesai ujian, Om? Kenapa tidak sekarang saja?” Adinda menyeka air mata yang begitu saja meluncur di pipinya.
“Karena kamu baru pulang dari rumah sakit dan belum bisa berjalan terlalu jauh. Karena kamu harus belajar utuk mengendalikan amarah kamu.”
“Saya jadi seperti ini karena mereka, Om! Saya jadi seperti ini karena lelaki itu, Om!” Adinda mulai terisak.
“Sssh..sssh.. Dinda yang tenang ya..” Adisti mengambil tisu yang disodorkan Mommy lalu menyerahkan tisu itu pada Adinda.
Agung menatap Ayah. Ayah memberi kode dengan menggerakkan kepalanya ke arah Adinda duduk. Agung mengangguk.
Dia memberi kode pada Adisti untuk bertukar tempat duduk.
Nafas Dinda mulai tersengal. Seperti susah untuk menghirup udara. Bunda dengan cepat meraih tabung oksigen yang ada di dekat kakinya.
“Kak.. pakai ini. Kalau keadaan memburuk, kita kembali ke rumah sakit ya..” Bunda menyodorkan tabung oksigennya dan selang yang masih ada di dalam plastik bersegel.
“Dinda.. dengarkan saya. Tarik nafas perlahan, hembuskan perlahan juga. Mengerti?”
Adinda tidak bereaksi.
***
Ma'af telat upload.
Semedi dulu nyari ilham.
(Jaman Author SMA, ada kakak kelas namanya Ilham, ganteng beud... 😁🤣🤣)