
Acara pengajian berlangsung lancar. Dihadiri oleh ibu-ibu majelis ta’lim asuhan Bunda dan ibu-ibu tetangga sekitar yang tidak ikut majelis ta’lim. Adisti mengenakan baju 2 piece berwarna lilac dengan pashmina warna lavender. Dia merias sendiri wajahnya. Dia juga merias Bunda.
Pengajian diisi dengan membaca surat Ar Rahman dan Al Kahfi lalu dilanjut dengan tausiyah tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga yang dibawakan oleh sahabat Ayah. Semua menangis haru saat Adisti sungkem kepada Ayah dan Bunda juga kepada Agung. Bahkan Agung tidak kuasa menahan air matanya saat memeluk adiknya. Saat bersalam-salaman, banyak do’a dipanjatkan untuk Adisti dan kelancaran acara.
Semua kerabat berucap hamdalah ketika para tamu pulang. Mereka bersiap ke masjid untuk sholat Maghrib. Agung mengenali kameramen dan fotografer sebagai anak buah Indra. Menyapa sebentar kemudian menunjukkan hasil foto-fotonya.
“Yang ini kirim ke gue ya sekarang. Bisa?” tanya Agung menunjuk pada foto Adisti yang tengah menyimak tausiyah.
“OK Bang. Minta nomor WAnya aja,” kata orang tersebut.
Agung lalu menyebutkan nomor WA nya. Orang tersebut mengangguk sambil tersenyum. Lalu segera mentransfer foto yang dimaksud ke dalam format JPEG.
“Nanti kita ke rumah Pak Alwin bareng-bareng saja. Makan malam dulu di sini,” kata Agung.
Orang tersebut menggeleng, “Nggak Bang, terima kasih. Habis sholat Maghrib kami langsung cabut aja ke rumah Tuan Alwin. Pasti ada briefing dulu di sana, apa-apa yang harus di-shoot atau di-shot.”
“OK lah. Sampai ketemu lagi di sana ya nanti,” bersamaan dengan itu, gawai notifikasi pesan chat Agung terdengar, “Eh, udah ada fotonya. Thanks ya, Bro!”
“Sama-sama Bang..”
Agung mengirim foto Adisti kepada Bramasta dengan caption: _Adiknya Aa, calon bini Abang. Cakep ya. Tolong dibimbing dan dijaga ya_
Tidak berapa lama, terdengar bunyi notifikasi pesan masuk.
Bramasta _ Masyaa Allah, calon istri Abang… Insyaa Allah, Kakak Ipar, Abang akan bimbing dan jaga_
_(emot love)_
Emot lovenya tampil dalam bentuk gambar hati berdetak dalam ukuran yang besar. Agung berdecih. Merasa geli dengan kelakuan calon adik iparnya yang bucin.
Agung_Isssh. Mulai deh bucinnya muncul_
Bramasta_(emot tawa) Jangan julid, Kakak Ipar. Someday you’ll feel it_
Agung_Tapi Aa gak bakal jadi bucin seperti Abang…_
Bramasta_Yakin?? (emot tawa)_
_Btw, merci_
Agung_Merci?? Perasaan Aa gak ngomongin mobil buatan Jerman itu deh_
Bramata_Eh, ma’af. Abang lagi ngobrol sama Bang Leon jadinya kebawa bahasa Perancis ngetiknya. It means thanks_
Agung_(emot tawa)Makanya jangan bucin. Ambyar tuh konsentrasi. (Emot ngakak)_
Ba’da Maghrib Keluarga Gumilar dan para kerabat makan malam bersama. Setelah itu para pria bersiap pergi ke rumah Keluarga Sanjaya untuk menghadiri pengajian di sana. Mereka berangkat setelah menunaikan sholat Isya berjama’ah. Berangkat dengan menggunakan 3 mobil. Mobil yang dinaiki Agung dan Ayah berada paling depan sebagai pemandu jalan.
Halaman rumah Keluarga Sanjaya yang luas terpasang tenda besar yang tinggi berwarna ivory dengan aksen emas. Mewah dan berkelas adalah kesan yang tampak. Ada layar proyektor yang terpasang di tenda tersebut. Kursi-kursi dengan dibungkus kain sewarna dengan tenda tertata rapi di dalam tenda.
Orang-orang sudah banyak yang berdatangan. Agung mengenali berapa wajah mereka sebagai karyawan Sanjaya Group dan B Group. Agung menyapa mereka.
Panitia mengarahkan rombongan Ayah ke tempat duduk keluarga besan. Daddy dan Bramasta menyambut Ayah dan kerabat yang datang. Indra melambaikan tangan kepada Agung untuk duduk di dekatnya.
“Gung, insiden pagi menjelang siang tadi bagaimana?” tanya Indra to the point begitu Agung duduk di samping Indra.
Anton dan Leon ikut merapat duduknya di dekat Agung. Menjulurkan kepalanya dengan antusias ingin mendengar langsung dari Agung.
“Bang Hans mana?”
“Lagi sibuk di dalam, nge-briefing MC dan pengisi acara,” kata Anton.
“Kok malah nanya Hans sih?” tanya Indra.
“Biar lengkap aja formasinya,” Agung terkekeh.
“Haisssh.. buruan atuh cerita, Gung,” Bang Leon menepuk pundak Agung.
“Issh, nyeri atuh Bang,” Agung meringis sambil mengelus-elus pundaknya.
“Eh, tarik teuing nyaa_keras banget ya.._” Bang Leon nyengir.
Agung terkekeh geli melihat ekspresi Bang Leon, “Duh euy.. kalau dengar Bang Leon ngomong Sunda kok bawaannya pengen ngakak mulu ya, ditambah lagi ekspresinya bikin geli banget..”
“Gung, lu kalau gak ceritain sekarang, kita jengkangin kursi lu rame-rame nih,” ancam Indra sambil memegangi sandaran kursi yang diduduki Agung.
Anton dan Leon mendadak ikut memegangi sandaran kursinya. 2 kaki depan kursi sudah terangkat bahkan kaki Agung pun sudah terangkat. Kakinya melambai-lambai di udara. Agung panik. Tangannya memegang erat tepi dudukan kursi.
“Woiyy.. bisa patah nih kursi! Iya gue cerita. Turunin dong..!”
Indra, Leon dan Anton begitu menikmati kepanikan Agung.
Kursi kembali ke posisi semula. Agung mengelus dadanya. Sementara yang lain memberi cengirannya kepada Hans.
“Semua orang jadi melihat ke arah kalian gara-gara kehebohan yang kalian buat,” Hans menatap galak kepada mereka semua, “Udah pada tua juga masih seperti bocah kelakuannya!”
“I’m the victim_Saya korbannya, Bang..” kata Agung.
“Halllaaagh.. kalau sejak awal lu langsung cerita ke kita kan gak perlu ada kejadian kayak gini,” kata Indra.
Leon dan Anton mengangguk setuju. Dari jauh, Bramasta menatap mereka lalu menghampiri.
“Cerita apa?” tanya Hans.
“Insiden Bos Bramasta dirayu jendes di kebun sayur,” jawab Anton dengan wajah datar.
“Dih, kebun sayur!” Agung mencebik.
“Siapa yang dirayu janda?” Bramasta bersidekap menatap mereka semua.
“Nah loh!” Leon dalam mode kompor meledug.
“Insiden pagi tadi, Pak Bos..” Anton mendadak menggaruk tengkuknya.
“Jadi, kata Mang Yosep, kerabat Ayah yang tinggal di Cianjur, si Irma itu bukan kerabat keluarga. Tetangga beberapa rumah. Dia anak Pak Lurah. Dia memang janda. Kata istri Mang Yosep, baru jadi janda 2 bulan. Menikah baru 3 tahun tapi suaminya gak tahan dengan sifatnya yang pemalas tapi hedon dan boros.”
“Kok bisa dia ikut ke rumah Keluarga Gumilar?” tanya Indra.
“Anaknya Mang Yosep yang sulung cerita ke si Irma kalau mendapat undangan Adek dan Abang dari Ayah. Nah sebagai fans berat Abang garis keras, si Irma merasa wajib hadir. Walau sudah dijelaskan undangan hanya untuk keluarga saja.”
“Isssh.. fans berat garis keras..” Bang Leon terkikik. Bramasta menatapnya sebal.
“Terus?” tanya Hans.
“Mang Yosep dan isterinya gak tahu si Irma bakalan nekat datang. Mereka datang terpisah. Si Irma bawa mobil sendiri ngebuntuti mobil Mang Yosep.”
“Kenapa saat kejadian Mang Yosep ataupun istrinya tidak menghampiri Abang atau Ayah Bunda di halaman samping?” tanya Bramasta.
“Karena Mang Yosep dan istrinya sedang gak ada. Mereka sedang belanja jeruk untuk keperluan pengajian," jelas Agung.
“Jadi murni inisiatif sendiri? Bukan karena ada yang menyuruh untuk membuat onar?” tanya Hans.
“Iya. Diinterogasi pengawalnya Abang si Irma cuma nangis, ngangguk ataupun geleng kepala doang saat ditanya. Gak jawab dengan kalimat.”
“Terus maksud kalimat janda rasa gadis yang diucapkan si Irma itu apa ya?” tanya Anton polos.
“Euleuh si Ujang…” Leon memukul lengan atas Anton.
“HUUUUU!” kompak mereka memukuli Anton yang langsung menundukkan tubuhnya sambil terkekeh.
“EHM!”suara deheman yang mereka kenal menghentikan aksi mereka.
“Kalian kenapa sih kalau ngumpul berisik banget?” tanya Daddy sambil bersidekap.
“Udah pada tua juga tapi kelakuan kayak anak SMA!” tangan Daddy bergerak dengan cepat menjewer telinga mereka satu-satu. Termasuk Bramasta. Mereka kompak mengaduh karena jeweran Daddy sakit sekali.
Suara para tamu yang tertawa terbahak menarik perhatian mereka. Mata mereka tertuju pada para tamu yang berada di tenda. Wajah mereka ada di layar proyektor. Kamera menyorot mereka. Sambil terkikik malu, mereka menundukkan wajah menghindari kamera. Telinga mereka terasa panas akibat jeweran Daddy.
“Bang,” panggil Agung kepada Bramasta, “Hadap sini Bang!”
Bramasta menoleh. Agung langsung mengambil foto Bramasta dengan telinga merah sebelah. Agung langsung mengirimkannya kepada Adisti.
“Calon manten baru saja dijewer Ayahnya…”
“Eh, jangan dikirim ke Disti!” Bramasta panik.
“Telat, Bang. Udah sent.”
Mereka terkikik lagi. Tapi mendadak diam setelah melihat mata Daddy yang melotot ke arah mereka.
Acara dimulai. MC mulai mengucap salam. Bramasta kembali duduk di kursinya sambil memegangi telinganya yang terasa panas. Mommy dan Layla terkekeh geli melihatnya.
***
Hyaaaa
Formasi lengkap jadinya rame ngobrolnya.
Daddy kayaknya punya jurus kung Fu bisa jewer beberapa kuping secepat itu.. 😂