CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 11 – VIDEO YANG TERSEBAR



Pukul 07.15 saat sedang menikmati sarapan seorang diri di tempat tinggalnya, gawai Bramasta berbunyi. Bramasta meraih gawainya lalu menekan tombol hijau. Nama Indra tertulis di layar handphonenya.


“Wa’alaikumussalam, what’s up_ada apa_, Ndra?” jeda. Alis Bramasta bertaut.


“Setengah jam yang lalu?” Bramasta mengecek riwayat panggilan tak terjawab di ponselnya.


Ada 23 panggilan tak terjawab dari Indra.


Matanya terbelalak, “Tadi ponsel gue taruh di meja makan. Nih gue sekarang baru mulai sarapan. Ada apa sih?”


Jeda.


“What_Apa_?? How_Bagaimana_?? Who_Siapa_??” Bramasta tampak gusar saat mengambil remote TV mencari saluran TV swasta dalam negeri yang menayangkan acara selebriti.


TV menayangkan bagian belakang mobilnya yang melaju kencang. Tanpa memutus panggilan, tangannya menekan tombol aplikasi medsos bergambar burung biru. Mencari berita trending topik hari ini. Namanya menjadi hastag yang viral: hastag BramastaKeren!


“Ndra, itu serius hastagnya pakai tanda seru? Dih, kok berasa norak amat sih?” Bramasta menyugar rambutnya yang masih basah. Bahu dan lengannya terasa kaku untuk bergerak, pasti karena evakuasi kemarin.


“Gak ah. Gue gak suka. Alihkan trending topiknya. Bisa gak, Ndra?” Jeda.


“Boro-boro menikmatinya, Ndra… Yang ada malah gue jadi repot, imbasnya lu juga yang bakal dobel repot. Cari tahu siapa yang bocorin video evakuasi ke medsos.” Jeda agak lama.


“Gue gak mau tahu. Pokoknya cari sampai dapat siapa yang pertama kali mengedarkannya ke medsos. Lu kesini ya, kita omongin bareng tentang ini. Gue juga gak bisa nyetir, bahu dan lengan gue nyeri dan kaku.” Jeda.


“Ya.. fii amanillah. Wa’alaikum salam.”


Bramasta tidak memilik akun sosial media. Karena dia merasa hidupnya sudah cukup sibuk dan rumit di dunia nyata tanpa harus ikut meramaikan dunia maya. Dia tidak ingin mencari berita tentang video evakuasinya apalagi komentar-komentar di dalamnya. Bramasta merasa jengah.


Dia yakin, tidak berapa lama, kesehariannya akan terusik dengan orang-orang yang tiba-tiba begitu ingin tahu dengan dirinya, berfoto dengannya, meminta tanda tangannya dan juga sentuhan-sentuhan fisik yang dilakukan oleh mereka.


Ujung telunjuknya menyentuh cuping hidungnya. Berpikir bagaimana kebocoran video bisa terjadi. Dia menyadari, video yang sudah ditransfer ke file handphone akan dengan mudah tersebar luas. Tetapi bila pemilik handphone itu amanah pasti kekacauan ini tidak akan terjadi.


Membuka tombol telepon lalu mencari nama Anton di sana. Nada dering terdengar.


“Assalamu’alaikum, Ton, lu dimana? Udah lihat infotainment ataupun medsos pagi ini?” jeda. Suara Bramasta terdengar dingin.


“Siapa saja yang lu bagiin video itu?” jeda.


“Telusuri kepada siapa video itu mereka share lagi. Cari pelaku yang men-share video itu untuk pertama kali di medsos.” Jeda.


“Hmm.. Cari saja. Assalamu’alaikum,” Bramasta mengakhiri panggilannya.


Suara tombol akses masuk pintu ditekan dari luar terdengar. Bramasta bergegas merapikan meja


.


“Assalamu’alaikum,” Indra melangkah masuk. Bramasta menunjuk pada area ruang duduk. Indra langsung duduk di sofa warna kelabu.


“Wa’alaikumussalam,” jawab Bramasta.


Tangan Indra meraih remote TV yang ada pada meja. Melihat jam tangannya lalu mencari channel TV nasional yang menayangkan infotainment.


“Gila lu, Ndra. Sampai tayangan infotainment di jam berapa dan TV apa lu hafal?” tangan Bramasta masuk ke dalam saku celananya, pandangannya lurus kearah TV.


“Bukan hafal, Bos. Tapi gue tadi nanyain jadwal tayangan TV ke Mieke. HRD di kantor yang hobinya mantengin acara gossip di TV,” Indra menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan nyaman.


“Segitu perhatiannya ke Mieke. Naksir?” Bramasta ikut duduk di samping Indra.


“Isssh gegabah. Dia udah merid, tau,” Indra menatap jengah pada Bramasta, “Segitu cueknya lu ke karyawatinya sendiri..”


“Mulai deh…” Bramasta menatap malas ke arah Indra.


“… Bramasta Sanjaya putra dari Alwin Sanjaya yang dikenal sebagai seorang pengusaha dan konglomerat Indonesia, mencoba menyelamatkan seorang gadis yang terjatuh dari jurang sorang diri. Teman-temannya tiba di lokasi saat Bramasta sudah mendekati tepi jurang. Belum diketahui identitas gadis yang diselamatkan oleh Bramasta,” layar TV dipenuhi dengan wajah Adisti yang di zoom in.


“Heiy, tidak sopan!” Bramasta berteriak sambil menunjuk ke arah TV.


“Kalem, Bos. Wajahnya tidak terlihat jelas. Sebagian wajahnya tertutup darah dan kerudung,” Indra menenangkan Bramasta.


“Bramasta walau dikenal sebagai pewaris kerajaan bisnis Sanjaya namun kehidupan pribadinya tidak diketahui publik. Keluarganya sangat menjaga privacy anak-anaknya. Namun dari kabar yang dihimpun tim kami, Bramasta mempunyai bisnis yang ia bangun sendiri. Kepribadiannya dikenal baik dan santun serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tidak heran, melihat seorang gadis terjatuh ke jurang, ia langsung menolongnya tanpa menunggu bantuan datang,” suara narator terdengar penuh antusias.


Layar kaca berganti dengan gambar gedung milik ayah Bramasta. Berikut video yang diambil saat ulang tahun perusahaan, tampak ayah dan ibunya tersenyum pada kamera.


“Wow, narasinya..” kata Indra sambil menunjukkan cengirannya ke arah Bramasta, “Sobat gue, bos gue, ternyata the real super hero!”


Bramasta melempar bantal sofa yang ditangkis Indra.


“Tar dulu, Bos. Nih ada lagi,” Indra memencet beberapa tombol angka pada remote.


Layar kaca menayangkan stasiun TV yang dikenal sebagai portal berita.


“Tungguin bentar lagi..” Indra menunjuk pada layar TV.


Tak berapa lama, muncul video evakuasi kemarin dengan tajuk berita viral hari ini. Bramasta menggeleng tidak percaya. Baginya seperti menonton film horror saat melihat dirinya menjadi berita viral. Dia tidak menyukainya dan tidak menikmatinya. Memalukan rasanya.


Narasi yang menyertai video tersebut tidak berbeda jauh dengan tayangan pada stasiun TV sebelah pada acara infotainmen. Hanya dibacakan oleh narator yang berbeda saja. Penyajian videonya pun sama. Freeze pada zoom in wajah Bramasta, juga pada wajah Adisti yang tidak terlihat jelas karena darah dan pashmina yang dipotong oleh Bramasta. Juga potongan video kedua orangtua Bramasta saat acara ulang tahun perusahaan.


“Ndra, ada lagi?” mata Bramasta terpaku pada layar TV. Ujung telunjuk kanannya ada di cuping hidung kanan.


Indra melirik jam tangannya, lalu membuka chat apk hijau pada gawainya.


“Tar, lihat contekan dulu. OK, tunggu bentar ya Bos,” Indra menekan beberapa tombol nomor lagi.


Layar TV berganti dengan tayangan dari beda stasiun. Masih menayangkan iklan, “Tunggu saja, Bos.”


Iklan usai. Rupanya acara talk show live. Tampak pada layar TV hanya ada 2 orang yang duduk pada ruangan yang disetting dengan warna biru dan toska. Seorang wanita sebagai host, cantik dengan rambut pendek berwarna pink neon, tampak mencolok sekali di ruangan tersebut. Juga seorang pria berbaju PDL warna khaki dengan perlengkapan panjat tebing di atas mejanya.


“Oh.. my! That’s why I hate this,”_Ya ampun..! Itu sebabnya gue benci hal seperti ini_ Bramasta menyugar rambutnya. Geram.


Ia tidak memperhatikan opening talk yang diucapkan host berambut pink neon itu. Ia lebih memperhatikan tayangan video evakuasinya. Narasinya sama. Freeze zoom in yang sama. Potongan video yang sama. Bramasta tersenyum. Nilai plus dari stasiun TV itu adalah beritanya dikemas lain dengan mendatangkan narasumber. Entah apa yang nanti dibicarakannya.


Acara bergulir. Nona Pink Neon menanyakan tentang tehnik rappelling yang dilakukan Bramasta pada narasumber. Narasumber menjelaskan peralatan dan fungsi-fungsinya setelah tayangan iklan.


Gawai Indra berbunyi. Hanya tertera nomor telepon pada layarnya. Indra mengernyit heran tapi tetap diterima panggilan itu.


“Assalamu’alaikum, selamat pagi,” Indra berbicara dengan nada dan kalimat formal. Dia berubah menjadi sosok yang profesional sebagai tangan kanan Bramasta.


“Maaf, ini dengan siapa saya berbicara?” Jeda.


“Stasiun TV ZZZ? Ya, saya Indra Kusuma, sekretaris Tuan Bramasta. Kebetulan saya sedang menontonnya. Ada perlu apa?” Jeda.


Senyum pada wajah Bramasta lenyap. Dia menoleh pada Indra.


“Maaf, Mas. Saya tidak bersedia untuk dijadikan narasumber. Karena ini menyangkut Tuan Bramasta, nanti akan ada konferensi pers resmi dari pihak kami.” Jeda.


“Maaf, saya tidak bisa berbicara lebih banyak lagi. Tunggu saja nanti ada pemberitahuan tentang waktu dan tempat konferensi pers dari pihak kami. Assalamu’alaikum.”


Bramasta mengangguk setuju pada tindakan Indra. Bramasta tidak tertarik lagi menonton talk show Nona Pink Neon. Ia mematikan TVnya.


“Bentuk tim untuk konferensi pers nanti,” Bramasta mulai mendelegasikan tugas pada Indra, “Konferensi pers diadakan setelah pembocor video diketahui.”


Indra mengangguk, dia menghubungi Anton. Membicarakan tentang konferensi pers dan tentang siapa The Impostor di antara mereka. Adanya pembocor video membuat Indra dan Anton merasa seperti sedang bermain game Among Us, game yang menebak siapa impostor diantara kelompok mereka sebelum dibantai habis oleh impostornya.