
“Saya mengerti,” suara Raditya terdengar lemah.
“Bersiaplah, orang saya sedang menuju ke tempat Bapak. Malam ini, berusahalah tidur dengan baik di tempat Pak Agung. Bangunlah saat tahajud nanti. Do’akan istri Bapak juga meminta untuk diberi kekuatan untuk menghadapi ini semua. Ikhlaskan yang sudah pergi. Kenanglah yang terbaik darinya,” Hans mengusap wajahnya.
“Tuan Hans... terimakasih banyak.”
“Jangan sungkan kepada saya, Pak Raditya. Besok akan menjadi hari yang melelahkan untuk Anda.”
“Terimakasih banyak.. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” Hans mengakhiri panggilan teleponnya.
Ruangan masih hening. Semuanya masih terkesima dengan percakapan barusan.
“Bang Hans keren banget!” Adisti menatap Hans sambil mengacungkan jempolnya.
“Beneran Hans, tentang eksekutor yang sudah diringkus di Pelabuhan Merak?” Indra memandang Hans.
Hans mengangguk.
“Bahkan yang bawa ransel kuning sudah diintai oleh anak buah gue di Semarang.”
“Kaos polo?” tanya Bramasta.
“Langsung diringkus saat itu juga oleh anak buah Raditya. Kebetulan sedang ada di kantor tadi.”
“Jadi, sekarang kita bagaimana?” Anton wajahnya tampak mengantuk.
“Pulanglah kita semua. Lu gak usah stay di sini, Ton. Istirahat di apartemen Lu. Kayaknya pengaruh teh MakNyak mulai bekerja dengan baik..” Indra menepuk punggung Anton.
“Jangan bawa mobil, Ton. Mobil tinggalin saja di sini,” Bramasta berdiri menggamit tangan Adisti, “Lu pulang bareng Kakak Ipar saja.”
“Iya Pak Bos. Gue udah gak sanggup nyetir..”
“Gung, gue titip Raditya ya. Gue percaya Lu bisa menangani Raditya yang tengah terpukul,” Hans membereskan mejanya.
Agung mengangguk, “Insyaa Allah Bang.”
Lalu berdiri dan mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam tasnya.
Hans menekan satu tombol pada mejanya, layar monitor mati, keyboard cahaya juga lenyap. Monitor perlahan menjadi tegak 90. Lalu perlahan turun ke dalam meja secara otomatis. Celah meja tempat monitor turun menutup perlahan.
“Isssh.. jadi mupeng punya meja komputer seperti ini..” Agung menatap terkesima.
Suara gemeretak lapisan es yang pecah terdengar saat kaca jendela menjadi kaca tembus pandang. Mereka keluar dari ruangan.
“Kalau Lu ingin, gue rekomendasikan produsennya, Gung..” Hans terkekeh.
“Nanti saja Bang. Kalau udah punya rumah sendiri aja.”
Mereka tertawa saat melihat Anton yang berjalan terhuyung kemudian akhirnya disangga oleh tubuh Indra.
“Kalau ada wartawan gosip yang melihat, bisa jadi bahan gosip tuh. Pasangan sejenis B Group. Anton disangka sedang mabuk berat. Dih.. na’udzubillah mindzaalik,” Hans terkekeh.
***
Agung dan Anton bertemu Raditya saat hendak memasuki lift. Raditya ditemani oleh anak buah Hans. Dia membawa travel bag yang disampirkan di bahunya.
“Dia kenapa?” Raditya menunjuk pada Anton yang menyandar pada lift, “Mabuk?”
Anton yang disangka mabuk langsung membuka matanya menatap Raditya dengan mata mengantuk.
“Pak Radit.. Memangnya saya cowok keren apaan sampai mengonsumsi barang-barang haram.. Na'udzubillah mindzaalik.”
Agung terkekeh.
Raditya tampak terkejut.
“Eh, ma'af.. Adek ini muslim?”
“Namanya Anton. Kepala arsitek di B Group. Dia mualaf,” Agung menjelaskan sambil terkekeh.
“Saya ngantuk banget Pak. 3 hari ini saya kurang tidur. Hari ini pekerjaan yang berat sudah saya bereskan. Plong rasanya...” Anton menyandar lagi pada dinding lift.
“Berat banget ya kerja di B Group. Sepadan dengan gaji yang besar di sana..” Raditya menatap Anton dengan prihatin.
TING.
Lift berdenting, pintu lift terbuka. Agung memegangi Anton menuju ke unitnya.
“Lu bisa sendiri, Bro?”
“Hmmm.”
“Ah, gue gak percaya kalau Lu bisa sendiri...” Agung menunduk, untuk menekan password kunci elektronik pintu apartemen Anton. Raditya memegangi tubuh Anton.
Pintu terbuka. Mereka bertiga masuk ke apartemen Anton. Minimalis khas laki-laki. Tidak ada hiasan yang mencolok. Dinding dihiasi dengan beberapa gambar tehnik di atas kertas kalkir yang dipigura kayu berpelitur.
Warna biru muda cerah dan coklat kopi mendominasi apartemen Anton. Anton menjatuhkan dirinya di atas sofa bed.
“Bro.. Lu gak boleh tidur di sini. Di kamar, sana,” Agung menggoyangkan tubuh Anton.
“Ngantuk..”
“Buka sepatunya. Bersih-bersih dulu. Ganti baju juga..”
“Gak sanggup..”
“Untung aja tadi kita sholat isya berjama’ah..” Agung membantu melepas sepatu dan kaus kaki Anton.
“Pak Raditya, tolong bantu saya. Bawa Anton ke kamarnya.”
“Yang mana kamarnya?” Raditya melepas slempang tasnya
“Yang kanan..”
“OK..”
Mereka memapah Anton yang sudah mengantuk berat. Raditya membuka pintunya.
Kamar Anton bersih dan rapi. Sprei polos warna coklat kopi menutupi single bed ukuran 120 x 200.
“Lu duduk dulu, Ton. Gue ambil baju ganti Lu..”
Agung dan Raditya saling berpandangan kemudian terkekeh. Gegas Agung mengambil baju rumah yang nyaman di lemari.
Dengan cepat Agung membuka kemeja Anton dan menggantikannya dengan Tshirt putih bertuliskan BumbleBee.
“Bro, cuci muka dulu, gosok gigi..”
“Ngantuk..”
“Gue bantu ya, Aset Lu sebagai jomblo berkualitas, bro. Jangan sampai para fans Lu di B Group kecewa karena Taehyung mereka jerawatan. Ayo..” Agung menegakkan tubuh Anton, menuntunnya ke kamar mandi.
Raditya mengernyit melihat kedekatan Agung dan Anton. Sambil menunggu Agung dan Anton dari kamar mandi, dia duduk di kursi sofa ruang tengah sekaligus ruang tamu apartemen.
Dia terkejut melihat benda pipih bundar berjalan hilir mudik di lantai ruangan. Matanya mengamati dari tempatnya duduk.
Agung muncul mengejutkannya.
“Kenapa? Ada apa? Kok serius betul?”
“Itu apa?” Raditya menunjuk pada benda pipih yang hilir mudik dengan cahaya lampu kecil berwarna biru.
“Robot penyapu.”
“Wow! Pantesan apartemennya bersih sekali untuk ukuran cowok lajang.”
“Di tempat saya juga ada. Hadiah dari Anton sewaktu saya pindah kemari.”
“Pak Agung sudah lama tinggal di sini?” Raditya memandangi Agung.
“Jangan formal. Panggil nama saja. Saya lebih muda daripada Pak Radit,” Agung tersenyum.
“Kalau begitu Agung jangan panggil saya Bapak. Ssaya belum setua itu kan?” Raditya tersenyum lebar.
Agung mengangguk dan tersenyum.
“Yuk, ke tempat saya. Anton bakal tidur nyenyak malam ini. Kasihan, dia menderita insomnia parah. Dia bisa tidur malam ini setelah minum teh dari Maminya Bang Indra.”
“Indra Kusumawardhani?” Raditya mencangklongkan travel bag besarnya.
Agung mengangguk. Mereka berjalan menuju unit Agung. Semua pintu apartemen tampak sama. Yang membedakan hanya nomornya saja.
“Saya baru pindah ke apartemen hari Sabtu lalu,” Agung membuka pintu setelah menekan tombol passwordnya. Lalu mengucap salam yang dijawab oleh Raditya.
“Anggap saja rumah sendiri ya Bang,” Agung mempersilahkan Raditya duduk di sofa.
Raditya mengamati ruangan yang didominasi warna hijau tua dan putih itu.
“Suasananya kok seperti Rumah Pak Gumilar, ya? Teduh, asri, nyaman..”
Agung tertawa, “Semua yang berkunjung ke sini juga mengatakan demikian. Interiornya hasil garapan Anton.”
“Hubungan kalian sedekat itu ya? Kalian sudah saling mengenal lama?”
Agung engernyit mengingat-ingat. Lalu menggeleng.
“Saya mengenal Anton sama dengan saat saya mengenal Bang Bram dan Bang Indra. Yaitu pada saat Adisti jatuh ke jurang,” Agung menjerang air di teko elektriknya.
“Wah, berarti belum lama dong? Tapi kok bisa seakrab itu?” Raditya berpindah duduk di meja makan yang dekat dengan pantry.
“Entahlah.. mungkin karena kami merasa cocok satu sama lainnya. Saya menganggap Anton sebagai adik sendiri.”
“Ah.. itu sebabnya Agung terlihat perhatian dan mengurus Anton dengan baik.”
“Karena saat saya tengah berada di antara hidup dan mati, mereka mengurus saya dengan baik juga, Bang,” Agung menyeduh teh yang sama yang diberikan kepada Anton.
Dia tahu, Raditya akan susah tidur karena berada di tempat baru dan juga karena apa yang baru ia ketahui dari tayangan Prince Zuko. Aroma Chamomile menguar di pantry.
“Bang Radit sudah makan?” Agung menyodorkan mug berisi teh kepada Raditya.
Raditya mengangguk. Tapi tidak menolak saat Agung menyodorkan potongan cake dari lemari pendingin.
“Buatan Adinda..” Agung ikut duduk di samping Raditya.
“Saya kira Bang Radit akan membawa koper.”
Raditya menggeleng sambil terkekeh.
“Terlalu mencolok kalau saya memakai koper. Saya khawatir sudah ada yang mengintai saya. Kalau saya memakai koper, selain tidak bebas bergerak juga seperti pengumuman saya akan bepergian jauh dan lama. Travel bag ini biasa saya pakai saat ke gym.”
Agung mengangguk mengerti.
“Kita tidur di kamar saya saja ya. Kamar satunya belum siap. Dan saya tidak punya tenaga untuk menyiapkannya malam ini..” Agung terkekeh.
“Tidak apa-apa. Saya sangat berterimakasih bisa diterima dengan baik di sini.
“Yuk, beristirahat sekarang. Silahkan kalau
mau bersih-bersih dulu. Di dalam kamar juga ada kamar mandinya. Kamar saya, pintu yang itu.”
Raditya mengangguk lalu membawa tasnya masuk ke dalam kamar. Agung membereskan gelas kotor.
Saat Agung memasuki kamar, Raditya sudah berganti baju dengan baju santainya. Rambutnya basah karena baru saja mandi. Wajahnya terlihat jauh lebih muda daripada saat memakai seragamnya.
“Tehnya manjur banget. Sekarang saya merasa mengantuk. Padahal saya menyangka, malam ini saya tidak akan bisa tidur..” Raditya duduk di tepi tempat tidur.
“Beristirahatlah Bang. Besok adalah hari yang berat buat Abang karena tekanan masyarakat terkait tayangan Prince Zuko tadi.”
Raditya mengangguk kemudian menatap Agung dengan serius, “Bagaimana Prince Zuko menghubungi Agung untuk mendapatkan informasi tentang isi flashdisk?”
.
***
Nah loh..
Bang Radit mulai bertanya-tanya tentang Prince Zuko. Tiati Gung..jangan sampai salah ngomong...
Mampir ke kisah Babang Indra di Mr. Secretary: Destiny Bound ya..
Jalan cerita dan konfliknya beda dengan novel ini.