CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 149 – TERNYATA...



“Bagi Om Agung, Dinda hanya seorang anak kecil saja yang harus dijaga, dilindungi. Seperti janji Om Agung pada Papa dan Mama.”


“Memangnya Kakak ngomong apa saja kemarin?”


"Seperti biasa, Om Agung tidak banyak bicara. Hanya minta ma’af. Itu saja poin telepon semalam.”


“Aneh. Biasanya Kakak tuh orangnya bawel banget..”


“Kalau bersama teman-temannya dan keluarganya sih iya seperti itu. Tapi kalau bersama Dinda, Om Agung irit bicara. Seperti ada yang tengah dipikirkannya.”


“Maksudnya?”


“Pernah gak Teh Disti ngobrol dengan seseorang tapi pikiran orang itu sedang memikirkan hal lain. Seperti yang setengah hati mengobrol dengan kita. Tubuhnya memang di dekat kita tapi pikiran dan hatinya ada di tempat lain..?”


“Teteh merasa nyaman gak?”


“Dinda juga kemarin merasa seperti itu.”


Agung melanjutkan ke voice note berikutnya.


“Salah persepsi bagaimana?”


“Abang Hans, Abang Indra juga Kak Anton berkata, Dinda adalah wanita istimewanya Om Agung karena mampu membuat dunianya jungkir balik. “


“Bayangkan, Teh. Seorang Adinda mendapat kalimat-kalimat seperti itu apa tidak merasa tersanjung? Rasanya meleleh hati ini, Teh. Membuat Dinda menyimpan harapan di sini.”


“Tapi kejadian kemarin sore menunjukkan bahwa persepsi Dinda salah. Om Agung hanya sebatas peduli dengan Dinda karena janjinya pada Papa dan Mama.”


“Tapi Kakak memang suka ke Dinda kok.”


“Sukanya Om Agung ke Dinda bukan seperti sukanya Abang Bramasta ke Teh Adisti. Sukanya Om Agung Ke Dinda itu hanya seperti rasa sayangnya Om Agung ke Teh Disti. Itu saja.”


Dan Agung mencelos mendengar kalimat Adinda. Nafasnya terasa berat sekarang.


Agung menggeser duduknya. Lalu mulai mendengarkan voice note terakhir.


“Seberapa suka Dinda kepada Kakak?”


“Dinda pernah menyimpan rasa untuk Om Agung. Rasa seorang perempuan kepada laki-laki. Dinda juga belum pernah merasa jatuh cinta sebelumnya. Untuk pertama kalinya Dinda merasa jatuh cinta, tapi hanya dalam hitungan hari saja, Dinda harus melupakan rasa itu.”


Voice note berakhir.


Agung membenci dirinya sendiri yang sudah membuat Adinda terluka. Dia juga membenci dirinya sendiri kenapa bersikap kaku kepada Adinda sementara dengan wanita lain dia bisa bersikap luwes.


Matanya nanar menatap jendela. Gerimis saat Ashar semakin menambah rasa gundah dalam hati Agung. Tidak semestinya dia bersikap seperti itu pada Adinda yang masih belia.


Dia mengetik cepat di gawainya.


Agung_Dek, kalian ada dimana? Lagi ngapain?_


Centang 2 abu-abu. Kemudian centang 2 biru. Tetapi tidak ada balasan dari adiknya.


Apakah Adisti juga marah pada dirinya?


Suara Indra yang mengucap salam membuyarkan lamunan Agung.


“Wa’alaikumussalam..”


“Bro, Lu bikin Papi khawatir banget,” lndra meletakkan tas laptopnya di atas meja sofa bed.


“Padahal gue gak kenapa-napa.”


“Tapi darahnya banyak banget. Mengucur deras begitu. Yang lihat aja ngeri..”


“Namanya juga luka di pembuluh aliran darah, pasti kencang alirannya.”


“Ngeri, Bro.”


“Eh, Bang Indra tahu darimana?”


“Papi nge-share rekaman meeting tadi..”


“OMG..”


“Mana Lu lagi sendirian..”


Gawai Agung berdering. Panggilan masuk. Hatinya berdenyut, dari Adinda.


“Assalamu’alaikum, Dinda..” Jeda.


“Nggak. Saya baik-baik saja. Sudah tidak apa-apa. Tadi sepertinya plesternya tergesek baju jadinya terbuka.” Jeda.


“Iya, Ayah ada jadwal mengajar. Bunda ada jadwal kajian di majelis. Sudah lama Bunda absen mengisi kajian karena lebih sering jaga di rumah sakit sejak Adisti kecelakaan.” Jeda.


“Tadinya Bunda gak mau ninggalin saya. Tapi saya paksa Bunda untuk mengisi kajian. Kan saya juga sudah bisa turun dari bed tanpa harus merasa sakit lagi kakinya..” Jeda.


“Dinda kan sekolah. Disti juga baru mulai aktif bantuin Bang Indra dan Bang Bram di kantornya. Lagipula dengar-dengar kalian sedang girl time bareng ya?” Jeda.


“Nggak.. gak usah khawatir. Saya tidak apa-apa. Bang Indra baru saja datang untuk menemani saya.” Jeda.


“Udah.. nikmati saja girl time kalian berdua. Nanti kalau sudah selesai baru kalian ke sini. Sudah ada Bang Indra yang menemani kok..” Jeda.


Hati Agung menghangat mengetahui betapa Adinda mencemaskan dirinya.


“Kalian kemana saja?” Jeda. Agung terkekeh.


“Ditraktir Disti?” Jeda.


“Yang banyak aja nraktirnya. Lukisan Adisti sedang banyak dicari para kolektor. Membuat harganya melambung berkali lipat..” Agung terkekeh.


“Iya, saya tidak apa-apa sekarang. Sudah ada Bang Indra juga kan. Jadi santai aja ya. Sebentar lagi juga jam bezuk. Akan ada yang datang membezuk. Sepertinya nanti akan ada banyak orang di sini.” Jeda.


“Bunda katanya juga mau ke sini bersama tetangga yang mau jenguk saya.” Jeda.


“Iya.. terserah deh. Beneran sudah selesai girl time-nya?” Agung terkekeh.


“Wa’alaikumussalam. Eh Dinda, tunggu.” Jeda.


“Terimakasih sudah menelepon saya. M’afkan saya kemarin membuat kamu terluka. Saya tidak bermaksud begitu. Saya sayang sama kamu.”


Agung memutuskan sambungan.


Indra yang sedang menyesap teh manisnya mendadak tersedak mendengar kalimat terakhir Agung.


“Subhanallah.. Dih, panas euy!”


Agung mencondongkan tubuhnya untuk menatap Indra yang berada di pantry.


“Lu kenapa, Bro? Kena air panas?”


Indra muncul sambil mengipas-ngipas mulutnya dengan tangan yang tidak memegang cangkir.


“Lah, gitu aja. Bocah banget sih kelakuan Lu..”


“Ini gara-gara Lu nih Gung..”


“Lah?”


“Tadi Lu ngomong ama ke Dinda? Kalimat terakhir?”


“Kalimat terakhir apaan?”


“Barusan..”


“Au ah,” pipi Agung memerah.


“Ciyeeee akhirnya berani juga ngomong sayang-sayangan..”


“Diem Lu ah.”


“Ciyeeee tersapu-sapu...”


“Hisssh nguping aja sih Bang?”


“Sorry, bukannya nguping. Tapi karena gue punya kuping,” Indra terkekeh.


Agung menekan tombol loudspeaker.


“Assalamu’alaikum, Dek.”


“Kakak!!” suara Adisti terdengar kesal.


“Ada apa? Kenapa?”


“Issh Kakak ini kenapa sih ngeselin banget?!”


Agung menatap Indra dengan tatapan bertanya. Indra hanya mengangkat bahu sambil duduk di dekat bed Agung.


“Memangnya Kakak ngapain sih sampai bikin Adek kesal begitu.”


“Kakak apain Dinda sampai buat Dinda menangis begitu? Kakak ngomong apa ke Dinda? Adek bilangin ke Bunda dan Ayah loh. Kakak sering banget bikin Dinda menangis. Jahat banget sih jadi laki??!”


Terdengar suara Adinda yang mencegah Adisti untuk bicara lagi.


“Udah, Dinda diam aja. Ini urusan Teteh sama Om kamu yang kaku banget seperti kanebo kejemur selama 3 hari!”


Kembali Indra tersedak teh panasnya lagi. Terbatuk-batuk sambil mengipas-ngipas mulutnya. Matanya sampai berair.


Agung menatap Indra dengan tatapan prihatin,“Bro? Hati-hati napa?”


Indra terkikik.


“Dek, itu mulut ya kondisikan...”


“Napa?!! Emang bener, Kakak tuh gak beda jauh dengan kanebo kering kalau berhadapan dengan Adinda. Kenapa sih Kak? Sok jaim banget. Sok cool banget. Biar dikata keren seperti tokoh drakor??”


Indra makin terkikik hingga terbungkuk. Berulang kali dia menyusut sudut matanya. Matanya terlihat berkilau oleh air mata dan memerah.


Agung memicingkan matanya menatap Indra.


“Dek!” Agung berkata dengan suara keras pada Adisti.


“Abang Bram ada di situ gak? Buruan suruh ke sini. Bang Indra sepertinya kesurupan!” suara Agung terdengar panik.


Indra mengangkat kedua alisnya. Terlihat seperti melotot bagi Agung.


“Apa??!! Bang Indra kesurupan??!”


“Buruan ke sini!”


“Iya... iya... Assalamu’alaikum!” Adisti memutuskan telepon tanpa mendengar jawaban salamnya.


Agung mengernyit memandang Indra yang kembali terkikik bahkan hingga mengglosor di lantai.


“Bang.. Bang Indra, istighfar Bang..” dia hendak turun untuk menghampiri Indra namun ragu-ragu.


Bila ia mendekati Indra yang tengah kesurupan, khawatir bila Indra nanti akan bergerak yang membahayakan lukanya. Bukankah orang kesurupan sering menyerang orang-orang yang berada di dekatnya?


Indra melirik Agung yang beringsut menjauh. Membuatnya semakin terkikik dengan nafas tersengal-sengal.


“Ke..banget...tan Lu...Gung!” Indra berhasil bicara dengan nafas tersengal di sela-sela kikikannya.


Agung menaikkan kedua alisnya, mulutnya terbuka. Tidak bisa berkata-kata . Tengkuknya meremang mendengar suara Indra.


“Bang Indra.. nyebut Bang..” suara Agung terdengar bergetar.


Indra mendongak menatap Agung. Memicingkan matanya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil masih terkikik.


“Ter..la..lu...” nafas Indra benar-benar terasa sesak karena terlalu banyak tertawa.


“Lah, Bang Haji Roma Irama??”


Kikikan Indra berubah menjadi tawa keras.


Tiba-tiba pintu terbuka. Sosok Hans dengan tubuh tegapnya masuk dengan cepat. Lalu menutup pintu dengan cepat juga.


Agung terlonjak kaget. Indra mendongak dengan posisi tubuh masih duduk di lantai. Terkikik kembali melihat Agung yang terlonjak kaget.


Hans menatap bergantian kepada Agung dan Indra.


“Ndra, woiy! Lu kenapa??!”


Indra menggelengkan kepalanya. Tangannya melambai ke arah Hans.


“Ndra!” panggil Hans.


“Bang, dia gak bakalan dengar,” kata Agung sambil turun dari bed, mendekati Hans, “Dari tadi Bang Indra seperti ini terus..”


“Lah, itu kenapa dia dadah-dadahin tangannya ke kita?” Hans mengernyit.


“Ndra!!” panggil Hans lagi.


“Seperti di acara hantu di TV ya. Lain Dunia. Melambaikan tangan ke arah kamera..” gumam Agung.


Indra semakin terkikik.


Pintu terbuka lagi. Anton masuk dengan terburu-buru. Lalu menutup pintunya lagi. Nafasnya terengah-engah.


“Sebentar lagi waktu bezuk. Bang Indra masih begini?” Anton memandang Hans.


Hans mengambil gawainya.


“Selamat sore, untuk jadwal bezuk Ruang VIP 2 atas nama Tuan Agung, tolong bisa diundur 30 menit lagi? Tolong tahan dulu pembezuk yang hendak berkunjung ke ruangan ini ya.” Jeda.


“Ya. Saya Hans dari Sanjaya Group.” Jeda.


“Terimakasih atas kerjasamanya.”


Hans menyimpan gawainya ke dalam saku dalam jas.


Anton bergerak cepat. Dia mendekati Indra yang masih terkikik di lantai. Lalu menariknya agar duduk di kursi terdekat.


Indra berhenti terkikik. Dia menatap Anton yang menatap balik sambil mundur selangkah.


“Kalian kenapa sih?? Gue gak kenapa-napa. Kenapa gue dikira kesurupan sih??” Indra menatap ketiga pria yang berdiri di hadapannya.


“Lah tadi kenapa Abang terkikik sampai duduk di lantai seperti itu?” tanya Anton.


Indra mulai tertawa lagi mengingat kejadian tadi. Tapi untungnya hanya sebentar.


“Tuh.. gara-gara dia,” Indra menunjuk pada Agung.


“Kenapa memangnya gue?”


“Pertama saat Dinda nelepon, kalimat terakhir Lu, bikin gue tersedak. Yang kedua telepon dari Adisti. Kalimatnya bikin gue tersedak lagi dan ngakak very hard.”


“Lah, Bang Indra sendiri tingkahnya seperti orang kesurupan. Mana pakai melotot, mata menyala pula.”


“Mata menyala.. mata menyala... Lampu tuh yang menyala!” Indra menatap kesal pada Agung.


Hans meraup kasar wajahnya. Memandang kepada Indra dan Agung.


“What the fu*k! Gue dari Tangerang mau balik ke kantor sampai harus menyuruh pilot untuk belok ke sini. Untung helipad-nya dalam keadaan kosong!”


“Abang kesini pakai helikopter?” Agung melongo.


“Ternyata yang didatangi dengan penuh kecemasan dan kekhawatiran malah sedang main srimulat!” Hans bertolak pinggang.


“Gue dari bawah pakai tangga karena ingin cepat-cepat sampai ke sini. Lift penuh. Gak tahunya.. seperti ini..” Anton meletakkan tas slempangnya di atas sofa bed, masih dengan nafas yang memburu.


Hans membuka jasnya. Lalu menggulung kemejanya hingga siku. Mengambil kursi lalu mendudukinya.


“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”


***


Laaaah siapa yang kesurupan?


Ambyar..