CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 286 – TERGULUNGNYA ANAK BUAH TUAN THAKUR



Suara pintu digeser dan salam terdengar. Langkah kaki panjang tampak dari balik kelokan dinding.


Hans meletakkan bawaannya di meja pantry. Lalu menyalimi para orangtua. Setelah ber-hi five dengan Agung dan Raditya, dia menoleh ke arah Agung.


“Makan malam dulu gih. Gue bawain menu bento dari resto Jepang.”


“Iyyyeessh! Alhamdulillah... Lu memang bos yang paling pengertian, Bang!”


“Bang Radit, mau gak?”


“Saladnya saya gak nolak, Gung!”


Hans dan Agung tertawa.


“Mommy dan Bunda, ayo makan bareng. Bang Hans bawa banyak..”


Usai makan, Hans dan Agung berkumpul di dekat bed Raditya.


“Semuanya sudah diringkus. Orang-orangnya Tuan Thakur sekarang sedang mulai bernyanyi dengan nyaring. Mereka tidak saling menutupi kejahatan Tuan Thakur lagi.”


“Secepat itu dan semudah itu?” Agung melebarkan matanya.


“Desakan dari rakyat, netizen juga dari anggota dewan setelah melihat apa yang terjadi pagi tadi pasti membuat panik. Mereka berusaha untuk menyelamatkan diri mereka sendiri,” Raditya menegakkan punggungnya.


“Pak Ilham tidak main-main lagi. Dia sudah sangat gemas selama ini untuk berdiam diri melihat institusi diacak-acak dan berada di titik nadir kepercayaan masyarakat. Kejadian pagi tadi seperti bom waktu yang meledak. Menjadi katalis perubahan dan pembaharuan di tubuh instansi,” Hans meminum teh hijau dari resto bento yang ia bawa.


“Kejadian pagi tadi, seperti teori Adisti, memanaskan air dan minyak secara bersamaan. Memang banyak letupan yang terjadi tapi cara tersebut sangat ampuh dan efisien untuk memisahkan minyak dan air. Membersihkan minyak dari air,” Raditya mengomentari kalimat Hans.


“Setelah pelaku penghadang mobil pemadam kebakaran terungkap, saat itulah reaksi dari air dan minyak yang dipanaskan bersamaan terlihat,” Hans mengangguk puas, “Orang-orangnya Tuan Thakur berkumpul dengan sesamanya, sedangkan orang-orang yang ingin mengembalikan fungsi instansi seperti sedia kala berkumpul dengan sesamanya juga. Semua terlihat secara tidak sengaja di rekaman video dari stasiun TV.”


“Wah.. seriously?” Agung tampak terkejut.


Hans mengangguk.


“Lalu bagaimana dengan kelompok abu-abu? Kelompok oportunis?” Raditya mengerutkan dahinya.


“Sebenarnya tidak ada kelompok abu-abu. Sekalinya dia bersikap berdiri di dua perahu yang berbeda, maka otomatis dia adalah pengkhianat atau suatu saat akan mencurangi kita,” Hans berkata dengan nada tegas.


“Sebenarnya petugas wanita yang menarik tangan Bunda itu siapa?" Agung menatap Hans.


“Dia komplotan Tuan Thakur. Dia diberi tugas untuk menculik Bunda. Tujuannya bukan uang tebusan tapi untuk memaksa Pak Raditya mengundurkan diri sehingga tidak ada lagi yang menghalangi kejahatan mereka.”


“SO D A M N!” Agung mengutuk.


“Posisinya dihirarki struktur organisasi Tuan Thakur cukup tinggi. Dia negosiator penjual barang bukti narkoba dengan para kartel dan pemilik nightclub.”


Agung dan Raditya terperangah.


“Ketua Instansi?” Agung bertanya dengan nada hati-hati, “Sebenarnya dia berada di pihak mana. Karena kata Ayah, sikap dan kalimatnya terlihat ganjil.”


“Dia bagian dari orang yang berdiri di dua perahu. Dia tersandera dengan daftar nama layanan gelap The Ritz. Namanya ditutupi oleh Prince Zuko, sepertinya sengaja untuk kejutan kepada kita semua.”


Agung menaikkan sebelah alisnya.


“Pelanggan tetap The Ritz?”


Hans mengangguk.


“Rutin, sebulan sekali. Setiap minggu ketiga, selama 3 hari di Kepulauan Seribu sebagai tempat transaksi. Berangkat dari salah satu rumah mewah di PIK. Orang saya menenggarai rumah itu adalah rumah pribadinya, hadiah dari Tuan Thakur.”


“Uang tutup mulut?” Agung terkekeh.


“Lebih tepatnya, uang tahu sama tahu.”


“Ah.. pantas saja..” Raditya menepuk pahanya.


“Pantas saja apa?” Hans dan Agung bertanya bersamaan.


“Kepala instansi tidak bisa dijumpai setiap bulannya di minggu ketiga. Rupanya dia sedang menikmati surga dunia di seberang lautan..”


Mereka bertiga terkekeh.


“Pak Raditya, istirahatlah supaya cepat pulih. Nanti Anton akan bergabung dengan Agung untuk menjaga Bapak.”


“Terimakasih banyak, Tuan Hans. Ma’af jadi merepotkan kalian semua.”


“Tidak usah merasa sungkan, Pak Radit,” Hans tersenyum menatap Hans.


Agung membantu Raditya untuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Raditya pamit untuk tidur. Obat penghilang nyeri yang sudah diminumnya mulai terasa efek sampingnya yaitu menimbulkan rasa kantuk.


Para orang tua tengah menonton TV yang membahas kejadian pagi tadi di sofa U. Hans dan Agung berada di sofa bed.


Agung memeriksa laporan keuangan yang dibuat oleh anak buahnya. Dia baru bisa memeriksanya sekarang.


Hans juga tengah membuka laptopnya. Keningnya berkerut saat membaca beberapa email yang masuk.


‘’Bang,” Agung berkata dengan suara pelan, “Yang lainnya sudah tahu tentang perkembangan terakhir yang terjadi?”


“After work hours kami langsung berkumpul di ruang rapat Shadow Team,” mata Hans tidak lepas dari layar laptopnya.


“Haisssh! Pantas saja gue nunggu kabar dari WAG ternyata senyap semua...” Agung membuka berkas di pangkuannya.


Hans terkekeh pelan.


“Gung, Lu ijin saja ya besok. Tetap berjaga di sini. Besok pasti akan ada banyak kunjungan dari rekan-rekan Raditya.”


“Suruh Dinda nemenin gue ya Bang!”


“Dih!” Hans terkekeh.


“Ya Bang ya.. Pliiis.”


“Iya.. iya.. Ntar gue ngomong ke Dinda..”


“Minta bawain cilok juga.”


“Ngelunjak Lu ya.”


“Kan gue cuma disisain satu, Abang sama Daddy yang makannya banyak..”


Hans tergelak.


“Kalian ngomongin apa? Tadi saya mendengar ada kata-kata cilok dan Dinda..” Daddy tiba-tiba berada di dekat pantry bar memandang mereka berdua, berbicara dengan suara lirih pada mereka.


“Daddy mau cilok yang kemarin?” tanya Agung.


Mata Daddy berbinar. Dia menarik kursi pantry bar.


"Mau.. tapi yang agak banyakan. Kemarin kurang..” Daddy berbicara pelan.


“Kalau Nyonya Al sampai tahu bagaimana, Tuan?” Hans sengaja menakuti Daddy.


“Isssh kamu bagaimana sih Hans. Sebagai CEO di AMANSecure masa masalah cilok saja bisa bocor ke Nyonya," Daddy menatap sebal pada Hans.


Agung tersenyum lebar.


“Iya ih, Bang Hans bagaimana sih..”


Hans menatap sebal pada Agung. Agung tersenyum makin lebar.


“Ini kan rahasia kita bertiga...” Agung berkata lirih lagi.


“Iya..” Daddy mengangguk setuju.


Mau tidak mau, Hans ikut mengangguk.


“Jadi, besok mau ada cilok?” Daddy memajukan tubuhnya.


“Tapi Daddy dan Bang Hans harus bujuk Dinda dulu buat nemenin saya di sini. Nanti cilok untuk Daddy dan Bang Hans langsung diantarkan ke ruangan masing-masing. Bagaimana?”


Hans tersenyum lebar tapi sedetik kemudian senyumnya lenyap.


“Kenapa harus gue dan Tuan Al yang bujuk Dinda?”


Agung mengaruk tengkuknya sambil memberikan cengiran terbaiknya.


“Soalnya.. soalnya Dinda ngambek lagi ke saya Bang..”


Daddy menghela nafas kasar. Hans menatap Agung dengan penuh intimidasi.


“Kapan kejadiannya?”


“Shubuh tadi setelah pulang dari mushola gedung..”


“What??” Daddy dan Hans bersuara kompak. Lalu keduanya saling berpandangan.


“Kalian ketemuan saat shubuh?!” nada suara Hans meninggi.


“Nggak Bang.. via video call..”


“Kirain..” Hans menurunkan suaranya.


“Terus?” Daddy tampak tidak sabar.


“Lihat wajahnya baru bangun tidur dengan sisa make up yang belum terlalu bersih semuanya...” Agung berusaha mengingat penampilan Adinda di depan layarnya saat itu, “Matanya seperti habis kesemprot tinta cumi..”


Daddy dan Hans menahan senyum geli.


“Memangnya sebelum tidur dia gak bersihkan sisa make upnya terlebih dahulu?”


“Katanya sudah. Tapi karena sudah ngantuk berat jadinya bersihkan sekedarnya saja. Itu juga gak lihat cermin..."


“Terus Lu komenin?” Hans menaikkan alisnya.


“Yaiyalah Bang. Reflek itu juga karena kaget..”


“Dasar amatir benar kamu, Gung..” Daddy menggelengkan kepalanya, “Mau abege kek, usia matang kek bahkan nenek-nenek sekalipun, bagi kaum cewek, haram hukumnya kaum cowok untuk mengomentari secara frontal penampilan kaum cewek. Pantas saja Dinda marah ke kamu, Gung!”


“Makanya saya butuh Daddy dan Bang Hans buat bujuk Dinda.. Bantu ya. Please Dad.. Bang Hans..” Agung menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“Tahu ah. Gak ikutan..” Daddy mengibaskan tangannya. Hans menganggukkan kepalanya.


“Demi cilok bumbu kacang!” Agung menyengir lagi.


“Terus Lu mau apa kalau ada Dinda?”


“Minta ma’af lah..”


“Kamu tuh Gung, umurnya lebih dewasa daripada Adinda tapi kok terkadang sikap kamu masih random sih?” Daddy menyandarkan punggungnya.


Agung menggaruk tengkuknya lagi.


“Nah loh!” Hans tersenyum senang melihat Agung diceramahi Daddy.


“Kata Ayah dan Bunda, kamu memperlakukan Dinda seperti kamu memperlakukan Disti sewaktu belum menikah? Dijahili terus bahkan sering sampai hampir menangis...”


Agung menekuri lantai. Hans menyandarkan punggung di sofa bed sambil tersenyum lebar pada Agung.


“Jangan begitu dong. Nanti kalau betulan jadi ilfil ke kamu bagaimana? Tiba-tiba di kampusnya, Dinda bertemu dengan pria dewasa dan sangat baik padanya, selalu memperlakukan dia dengan baik, gak pernah buat dia kesal bagaimana?”


“Eh, jangan dong Dad!” Agung mendongak.


“Terus dia pindah ke lain hati..” Hans mengompori.


“Bang Hans!”


“Makanya..” Hans balik menatap Agung.


Daddy berdiri, mengibaskan celana panjangnya.


“Jangan diulang lagi ya, Gung. Besok saya akan meminta Dinda menemani kamu di sini. Kamu minta ma’af yang baik.”


“Iya Dad. Insyaa Allah. Terima kasih banyak, Dad..”


“Hans, kamu sudah catat semua ucapan Agung malam itu kan?”


“Sudah, Tuan..” Hans mengambil gawainya dan memulai membuka catatannya.


“Catatan apa? Ucapan apa?” Agung memandang Daddy dan Hans dengan cemas.


“Panci susun tiga, mixer stand berkapasitas 3 liter, loyang swirl cake alias melintir, apron,...”


“Ya Salaam... Lu buat catatannya, Bang?”


.


***


Raja Tengil dari Keluarga Gumilar sudah kena batunya...


Tagih Hans!


🤭🤣😁😁


Utamakan baca Qur'an.


Jangan lupa pencet like supaya bisa terhitung jumlah retensi pembaca 🙏🏼