
Bramasta merasakan perubahan atmosfir di pelaminan. Menoleh pada Adisti yang tengah berjuang untuk menahan air matanya agar tidak menetes.
“Kenapa?”
Adisti menggeleng. Tangannya saling memilin di pangkuannya.
“Ma’af tidak memberitahu Disti terlebih dahulu,” Bramasta duduk di samping Adisti, “Daddy mengundang Tuan Hilman Anggoro sebagai rekan bisnis.”
Bramasta memberi tanda pada petugas WO. Petugas menghentikan antrian tamu ke pelaminan. Tamu yang sudah naik panggung bersalaman dengan kedua orang tua mempelai saja.
“Kita istirahat dulu ya,” Bramasta membantu memakaikan selop Adisti. Menggandeng Adisti ke meja makan khusus pengantin.
Bramasta menarik kursi untuk diduduki Adisti. Dia menarik kursi untuk duduk sedekat mungkin dengan istrinya. Dia mengambil selembar tisu lalu memberikannya pada Adisti. Adisti menyeka kedua ujung matanya. Dia sendiri menyeka dahinya yang berkeringat.
Seorang petugas catering mengangsurkan buku menu pada Bramasta. Bramasta tidak membukanya.
“Mas, minta tolong ambilkan soda 1 dan jus apel 1 ya. Spagheti carbonara 1 dan aneka cake & pudding.”
Petugas tersebut mengangguk lalu berlalu.
Adisti menatap suaminya. Menatapnya lama. Baru kali ini dia bisa berlama-lama menatap wajah suaminya. Bramasta balas menatap. Mereka tidak saling berbicara. Hanya saling menatap. Bramasta menyentuh pipi Adisti dengan punggung tangannya.
“Jangan menangis lagi. Abang tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Disti. Jangan biarkan kejadian buruk yang sudah lewat membebani hidup Disti untuk ke depannya. Ma’afkan saja istri dan anak Tuan Hilman.”
Adisti mengerjap. Matanya terasa berembun lagi.
Bramasta meraih tangannya. Menggenggamnya erat setelah mengecup punggung tangannya.
“Ada sesuatu yang terjadi pada keluarga mereka beberapa hari ini,” Bramasta menatap mata Adisti yang manatapnya dalam bingung, “Nanti Abang akan ceritakan pada Disti setelah Abang mendapatkan cerita keseluruhannya.”
Petugas catering datang dan langsung menata meja.
“Makan ya sekarang? Sengaja Abang pilih menu ringan saja. Gak mood makan kan?” tanya Bramasta.
Adisti mengangguk sambil tersenyum.
“Sepiring berdua? Antara romantis dan pelit itu memang samar ya…” Adisti sudah kembali menjadi dirinya.
“Jangan mulai deh..” Bramasta menggulung spageti dengan garpu lalu menyodorkannya pada Adisti. Tangan yang satunya memegangi tisu untuk menadah tumpahan saus spageti agar tidak mengenai gaun.
Agung bertemu dengan Halim, tangan kanannya saat masih di Buana Raya. Agung memang sengaja mengundang Halim. Mereka berpelukan erat.
“Bagaimana kabar anak-anak di kantor?” tanya Agung.
“Kondisi kantor berantakan, Pak. Kita masih mempertahankan ritme kerja yang diciptakan Bapak. Tapi penganti Bapak mengacaukan semuanya. Diacak-acak tanpa jelas ujungnya. Para manajer stress. Pasca Bapak dikeluarkan dari meeting bulanan, sampai sekarang belum ada kelanjutannya lagi dari meeting yang dihentikan,” Halim mengangkat bahunya.
Agung menatap Halim, “Terus kedepannya bagaimana?”
Halim mengangkat bahunya lagi, “Selama kami masih dibayar, ya sudah jalani saja. Tapi bila semakin oleng, sepertinya kami harus segera mencari perusahaan lain.”
“Bapak beruntung banget ya langsung bergabung dengan perusahaan nomor satu di negeri ini bahkan di Asia Tenggara,” kata Halim sambil menatap Agung.
“Alhamdulillah kebetulan Sanjaya Group sedang mengalami kekosongan akuntan setelah pegawai sebelumnya resign,” Agung menjelaskan.
“Apakah ini ada hubungannya dengan Adisti?”
“Maksud kamu karena Adisti saat itu calon menantu owner Sanjaya Group?”
“Iya.. Eh ma’af ya Pak..” Halim merasa tidak enak hati.
Agung terbahak, “Bisa habis saya dimarahi Ayah dan Bunda karena memakai jalur nepotisme. Sanjaya dan B Group perusahaan yang jujur. Mereka tidak pernah menerima orang untuk bekerja memakai jalur titipan.”
“Bahkan Tuan Alwin Sanjaya baru tahu saya bergabung dengan perusahannya saat kami bertemu di UGD pasca Adisti diserang.”
“Adisti diserang?”
“Video tendangan memutar Adisti yang viral itu..?”
“Oh iya…” Hilman menatap pelaminan, “Adisti cantik banget ya..”
Agung tersenyum lalu menepuk lengan Halim, “Ma’af ya. Bapak tahu kamu menyimpan hati untuk Adisti sejak lama bahkan rela menunggu hingga hubungannya dengan Tiyo berakhir. Tapi sepertinya memang kamu bukan jodohnya.”
Halim menundukkan wajahnya.
“Saya bahagia melihat Adisti bahagia, menemukan belahan hatinya. Semoga mereka samawa hingga jannah nanti."
"Dibandingkan suaminya, saya bukan siapa-siapa. Baik secara materi maupun keberanian. Saya tidak akan seberani Beliau saat memintanya di hadapan keluarga secara langsung dan lugas seperti pada video tadi,” Halim menatap Adisti dari kejauhan.
“Terima kasih sudah mendo’akan adik saya dan suaminya,” Agung tersenyum pada Halim, “Saya yakin jodoh kamu sedang menunggu kamu. Sama seperti jodoh saya pun pasti sedang menunggu saya untuk dijemput.”
“Karena Allah mendengar setiap prasangka kita. Berprasangka baik saja. Positive thinking.”
“Ah.. rasanya sudah lama tidak mendengar nasihat-nasihat dari Bapak. Teman-teman sangat kehilangan sekali momen-momen seperti ini..”
“Next time kita ketemuan bareng ya. Anggap saja reunian. Tempat dan waktunya atur saja.”
“Beneran Pak?”
“Insyaa Allah. Kalian atur saja waktunya. Asal jangan saat saya sedang bentrok dengan acara lainnya.”
“Agung? Where is Bramasta and Adisti?” seorang pria bule menepuk bahu Agung. Agung lupa dengan nama bule tersebut.
“On the stage?” Agung menengok pelaminan, “Eh?”
Bule tadi mengangkat bahunya.
“Perhaps at their dinning table.”
“Where is it?”
“Come with me,” Agung menoleh pada Halim, “Lim, saya tinggal dulu ya.”
“Iya Pak, silahkan.”
Acara resepsi berakhir mendekati pukul 23.00. Bramasta dan Adisti meninggalkan The Cliff pukul 24.00 setelah acara foto-foto lagi dengan pihak WO, Tim MUA, dll. Juga foto-foto dengan Gank Kuping Merah dan kerabat bule yang selalu minta lagi dan lagi.
Mobil pengantin dikemudikan driver. Bramasta dan Adisti duduk di kursi belakang. Adisti melepaskan gendongan tangannya agar bisa duduk dengan nyaman. Bagian ekor gaun sudah dilepas sebelum masuk ke dalam mobil.
“Kakinya masih sakit?” tanya Bramasta sambil menepuk pahanya, “Taruh di sini kakinya. Abang pijat.”
“Nggak usah Bang. Abang kan juga capek kan?”
Bramasta meregangkan tubuhnya di bangku belakang. Dia melepas tuxedo-nya lalu menyampirkannya di bangku depan. Adisti menatap Bramasta dengan malu-malu. Suaminya tampak semakin tampan dengan hanya mengenakan vest dan kemeja putihnya.
“Kenapa lihatin Abang begitu?”
“Abang ganteng.”
“Hmmm.. terus?”
“Udah.”
“Issh, cuma segitu doang.. Sini, duduknya dekat Abang.”
Adisti bergeser.
“By the way, tadi siapa yang bersama Kakak Ipar?”
“Oh itu A Halim. Dia tangan kanan Kakak sewaktu di Buana Raya.”
“Ooh..”
“Dia naksir Disti dari dulu.”
Bramasta menoleh cepat pada Adisti.
“Tapi Disti udah keburu jadian sama Ti..”
“Gak usah diceritain kali,” suara Bramasta terdengar ketus.
Adisti menoleh pada suaminya, “Ma’af..”
Bramasta memejamkan matanya, wajahnya terlihat lelah. Adisti melipat kakinya lalu menyandarkan tubuhnya pada tubuh Bramasta.
“Ma’af,” suaranya pelan agak berbisik.
“Ssssh… Tidur,” tangan Bramasta di atas pinggang Adisti.
Adisti merasa tidak enak hati. Dia memegang tangan Bramasta untuk dicium punggung tangannya. Tapi Bramasta bergeming. Nafasnya terdengar pelan dan teratur. Dia sudah masuk ke alam mimpi.
Alunan musik lembut dari audio mobil membuat Adisti mengantuk. Lagipula tidak ada pemandangan yang bisa dilihat pada tengah malam seperti ini. Adisti juga tertidur. Driver melirik ke spion dalam untuk melihat penumpangnya, lalu tersenyum. Mobil melaju mulus pada jalanan yang lengang.
***
Babang Ganteng ngambek..