
Karena berada di tempat proyek, mereka semua memakai helm proyek. Bramasta mengatur klip plastik bagian dalam helm yang melingkari kepala untuk Adisti.
“Terlalu sempit gak?” tanyanya saat memakaikan helmnya pada Adisti.
Adisti menggeleng sambil tersenyum, “Makasih Bang..”
Orang-orang di sana tersenyum maklum dengan pasangan pengantin baru itu.
Indra mempersiapkan laptopnya. Menghubungkan kabel laptop dengan proyektor.
Orang-orang yang hadir adalah para investor pembangunan gedung salah satu anak usaha B Group. Diundang meeting untuk melihat kemajuan pembangunan gedung cabang B Group untuk daerah Bandung Timur.
Meeting berjalan lancar. Para investor merasa puas dengan progres pembangunan gedung yang berjalan lancar dan sesuai target.
“Disti capek?” tanya Bramasta saat mereka mengajak para investor untuk berkeliling bangunan 7 lantai itu.
Adisti menggeleng. Dia beruntung hari ini memilih sneakers untuk alas kakinya.
“Ini rancangannya Hyung Anton?” tanya Adisti sambil memegang lengan Bramasta.
“Timnya, Dis. Itu sebabnya yang presentasi tadi bukan Anton,” Indra menjelaskan.
Adisti mengangguk mengerti.
“Setelah ini kita ke rumah sakit ya Bang.”
“Masih ada meeting lagi?” tanya Bramasta kepada Indra.
Indra menggeleng, “Kalian free setelah ini. Nanti saya drop di rumah sakit ya.”
Indra menggunakan bahasa formal.
Bramasta dan Adisti mengangguk.
***
Rumah Sakit XX
Ruang Rawat Inap VIP
“Kakak tertarik dengan Adinda?” tanya Bunda.
Ayah yang sedang minum kopi memasang telinga untuk mendengar jawaban Agung.
“Siapa sih yang gak tertarik dengan Adinda, Bun..” Agung menjawab setelah terdiam sesaat.
“Maksud Bunda seperti Nak Bram tertarik dengan Adek,” Bunda menatap wajah Agung.
“Menurut Bunda bagaimana?” Agung balik bertanya.
“Usianya terlalu muda untuk Kakak jadikan istri.”
“Memangnya kenapa Bun?”
“Bunda khawatir, karena usianya yang masih terlalu muda, cara berpikir Adinda masih labil.”
Agung terdiam. Ucapan Bunda ada benarnya tapi dia melihat ada kedewasaan pada cara berpikir Adinda yang tidak didapat pada remaja seumurannya.
“Kakak belum menanyakan tentang perasaan Adinda pada Kakak. Tapi kalau memang Adinda adalah jodohnya Kakak, Kakak tidak akan menolaknya Bun. Lagi pula Kakak sudah berjanji pada kedua orangtuanya.”
Ayah berdehem lalu meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Dia berdiri lalu berjalan ke arah bed Agung.
“Jodoh itu sudah diatur oleh Allah. Pertemuan awal Adinda dan Kakak juga bukan suatu kebetulan. Itu sudah tercatat di Lauh Mahfudz. Dan Ayah yakin, semua peristiwa yang berkaitan antara Kakak dan Adinda itu menunjukkan kalau kalian berdua terikat oleh takdir,” Ayah duduk di tepi bed sambil mengusap bahu Agung.
“Apalagi dengan kejadian saat Agung pra koma dan bertemu dengan kedua orangtua Adinda,” Ayah menatap Agung sambil tersenyum.
“Tapi Yah..” Bunda duduk di tepi bed satunya, “Dia baru 17 tahun, Yah.”
Ayah mengangguk sambil tersenyum, “Ayah tahu.”
“Bun..Kakak gak akan menikah sekarang. Usia minimal pengantin perempuan yang tertera di peraturan KUA itu minimal 18 tahun,” Agung terkekeh perlahan melihat wajah cemas Bunda.
“Lagipula Kakak baru meniti karir di tempat baru. Adinda juga harus melanjutkan sekolahnya seperti yang diinginkan oleh Papanya.”
Bunda tampak lega. Ayah tertawa melihat Bunda tidak mencebik lagi.
“Assalamu’alaikum..” suara halus Adinda terdengar di balik pintu.
“Masyaa Allah.. panjang umur ya, baru diomongin ternyata sudah datang. Bun, buka pintunya,” kata Ayah.
Bunda bergegas ke arah pintu lalu membukakan pintu.
“Wa’alaikumussalam.. masuk Nak..”
Adinda menyalimi Bunda. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya. Kemeja putihnya ditutupi oleh cardigan berwarna coklat muda. Ada sulaman beruang lucu warna coklat kopi di salah satu sakunya.
“Assalamu’alaikum Ayah, Om Agung..” Adinda menyalimi Ayah lalu berbalik menatap Agung sambil tersenyum.
“Dari sekolah langsung ke sini?” Agung melirik jam di gawainya.
Adinda menggeleng, “Tadi mampir dulu ke gerai donat. Beli pie apel untuk Om Agung..”
Agung mengangkat sebelah alisnya, “Gerai donat yang waktu itu?”
Adinda menggeleng, “Nggak, Om. Kejauhan kalau ke gerai donat yang itu. Saya ke gerai donat yang terdekat dengan sekolah.”
Agung hanya ber-ooh.
“Pie apelnya cuma untuk Om Agung saja nih?” tanya Ayah.
Adinda menoleh pada Ayah.
“Nggak Yah.. saya beli 3 kok. Buat di sini, dimakan untuk Ayah, Bunda dan Om Agung.”
“Terus kamu?” tanya Agung.
“Saya sudah makan tadi.”
“Beneran?”
“Bener Om.”
“Kita makan bareng ya. Saya baru saja makan siang.”
Adinda mengangguk.
Bunda memegang bahu Adinda, “Sudah sholat dhuhur?”
“Sudah Bunda, tadi di masjid sekolah.”
“Alhamdulillah. Ini buat Bunda dan Ayah?”
“Terimakasih ya Nak..”
“Sama-sama Bun..”
“Yuk Yah, kita makan kue dari Adinda sambil nonton TV,” ajak Bunda sambil menggamit lengan Ayah ke sofa U.
“Di sekolah tadi bagaimana?” tanya Agung saat Adinda duduk di kursi samping bednya.
“Biasa saja. Hari ini tidak bertemu dengan gank-nya Ivan dan juga para mantannya. Sepertinya mereka tidak masuk.”
“Tidak ada yang bully kamu lagi?”
Adinda menggeleng.
“Om, hari Senin nanti sekolah mengadakan try out.”
“Sudah siap?”
“Entahlah..”
“Jangan hanya belajar teori yang diajarkan di sekolah saja ya. Belajar dari latihan soal try out juga.”
“Iya Om..”
“Kamu ingin ambil jurusan apa?”
“Saya ingin ambil akuntansi, Om.”
“Kenapa?”
“Karena Om seorang akuntan.”
Agung menarik bibirnya sedikit.
“Terus? Kenapa memangnya kalau saya akuntan?”
Adinda memandang Agung dengan tatapan takut-takut.
“Kan supaya ada yang bisa mengajari saya Om. Seperti punya guru privat. Tapi Om kalau mengajari saya jangan galak-galak ya?”
“Memangnya saya mau mengajari kamu?”
Bunda menyenggol lengan Ayah. Ayah langsung menoleh ke arah bed Agung.
“Kakak.. gak boleh seperti itu ke Adinda. Kasihan dong.”
“Maafin Om Agung ya, Nak. Om kamu itu orangnya memang suka jahil. Sering buat adiknya jengkel sampai nangis juga..” Bunda ikut menoleh ke arah bed.
“Om Agung segalak dan sejutek ini ke Teh Adis, Bun?”
“Nggak.. Om Agung gak galak, cuma nyebelin saja,” Bunda dan Ayah terkekeh.
“Tapi kenapa ke saya selalu galak dan jutek, Bun?” Adinda melirik Agung yang sedang memeriksa email sambil mencebik.
“Ah.. itu sih bisa-bisanya Om Agung saja..” Bunda menutup mulutnya sambil terkekeh.
“Pencitraan itu mah...” seru Ayah yang sudah menatap televisi lagi.
“Ayah dan Bunda udah selesai belum?” tanya Agung sambil menatap layar gawainya.
“Selesai apa Kak?” tanya Bunda.
“Selesai bully Kakak?” Agung mencebik memandang Bunda dan Ayah yang tertawa makin keras.
“Belum Kak..” sahut Ayah.
“Belum apa?”
“Belum puas..” Ayah dan Bunda tertawa lagi.
Agung menggelengkan kepalanya. Menatap tajam pada Adinda yang tengah tersenyum lebar.
“Gak usah pencitraan galak ke saya, Om..” Adinda memamerkan dekik di bawah matanya.
Melihat dekik senyum Adinda, Agung melunak. Di balas tersenyum.
“Kemarin bagaimana saat kamu pulang?”
“Ibu sudah pulang.”
“Terus?”
Adinda terdiam sejenak.
“Ya begitu saja. Ibu langsung menuduh saya sebagai anak yang gak bener, hobinya ngelayap kemana-mana. Buang-buang uang saja membesarkan saya."
"Terus kamu?"
"Saya tidak menjawab Ibu. Saya hanya mengambil air minum lalu masuk ke kamar. Mandi terus tidur.”
“Kenapa?”
“Karena ada teman Ibu di ruang tengah. Saya benci dengan teman Ibu itu.”
“Dia pulang jam berapa?”
“Teman laki-laki Ibu? Saya tidak tahu karena saya sudah tidur, Om.”
“Paginya?”
“Saat saya sudah siap berangkat sekolah, Ibu belum bangun. Pintu kamarnya masih tertutup.”
“Teman laki-lakinya masih ada?”
“Gak tahu Om. Kan saya tidak melihat dalam kamar Ibu.”
Adinda terdiam sejenak kemudian seperti yang kaget karena teringat sesuatu.
“Tapi ada jaket teman Ibu di sofa. Saya kira jaketnya tertinggal. Wah.. bisa jadi teman laki-laki Ibu tidak pulang ya?”
Adinda mengepalkan tangannya. Rumah peninggalan kedua orangtuanya dikotori oleh tingkah ibu tiri dan teman laki-lakinya.
.
***