
Adisti berjalan ke arah toilet area. Dia mencuci wajahnya dan menyikat giginya. Saat dia berjalan ke ruangan ini, suaminya bahkan tidak menoleh sama sekali. Adisti menatap bayangan wajahnya pada cermin.
Mengingat itu semua membuat matanya mengembun. Bulir air mata jatuh di pipinya. Cepat dia menyekanya. Tapi bulir berikutnya jatuh lagi tanpa sempat ia cegah.
“Kamu nyebelin banget sih kalau sedang ngambek..” Adisti berkata pada bayangannya, “Ternyata sesakit ini dicuekin suami..”
Tangannya mencengkeram tepian meja washtafel hingga buku jarinya memutih. Kepalanya tertunduk. Dia mulai terisak.
Menjaga agar suaranya tetap pelan walaupun dia tahu ruangan ini kedap suara.
Menatap pantulan wajahya lagi. Melihat hidungnya memerah dan matanya sembab membuat Adisti segera membasahi wajahnya lagi. Dia mengambil make-up kit yang sengaja ia simpan di laci washtafel, mulai memperbaiki riasan wajahnya.
Setelah selesai, ia mencoba untuk tersenyum. Terlihat kaku dengan tatapan mata nelangsa. Diulang lagi tarikan otot bibirnya. Tersenyum 3 jari dengan memperlihatkan gigi sepertinya merupakan senyum terbaiknya yang dimiliki saat ini.
Dia membuka pintu toilet. Melangkah ke ruangan Bramasta. Bramasta tengah berbicara di telepon dengan nada yang tidak bersahabat. Galak dan dingin.
Bramasta mengakhiri teleponnya saat Adisti berdiri di depan mejanya.
“Ya?” tanyanya.
Adisti memilin jemarinya. Gugup. Dia hanya mampu mengeluarkan senyum 3 jarinya.
Bramasta melemparkan pandangannya ke arah lain.
Adisti menghampiri kursi Bramasta. Dia berjalan memutari meja. Bramasta mengerutkan keningnya. Adisti tidak peduli.
Ditariknya tangan suaminya untuk berjalan mengikutinya. Sebelumnya Adisti meraih remote pintu ruangan Bramasta. Menekan locked dan memastikannya sudah terkunci.
Bramasta bergeming. Dia tetap bertahan di kursinya. Adisti masih berusaha menarik tangan suaminya.
“Kita harus bicara.”
“Ya sudah bicara saja. Abang dengerin kok.”
“Gak di sini bicaranya.”
“Terus maunya dimana?” Bramasta berbicara sambil matanya menatap layar laptopnya.
“Di sofa..”
“Di sofa ataupun di sini sama saja kan?”
Adisti terdiam lalu melepaskan pegangan tangannya pada suaminya.
“Baik kalau itu memang maunya Abang.”
Bramasta mendongak, menatap Adisti sambil memiringkan kepalanya.
“Kenapa Disti membuat keputusan sendiri tanpa meminta persetujuan dari Abang? Kenapa Disti tidak menceritakan ide-ide dari kepala Disti kepada Abang terlebih dahulu?”
“Bang.. ide-ide tadi itu spontanitas. Disti tidak pernah memikirkan itu sebelumnya saat bersama Abang di rumah ataupun di perjalanan..”
Bramasta melengos.
“Abang kenapa sih? Gak bisa diajak bicara baik-baik? Dari tadi kok rasanya menyakitkan banget..”
“Abang merasa tidak dihargai oleh Disti. Abang merasa tidak dianggap oleh Disti sebagai suami.”
“Kok Abang punya pikiran seperti itu?”
“Karena Disti memutuskan semuanya sendiri. Bahkan orang-orang yang dipilih Disti pun langsung menyetujui ide Disti dengan antusiasme tinggi terlibat dalam proyeknya Disti.”
Adisti terkekeh.
“Abang.. apa Abang lupa? Abang itu CEO B Group. Artinya keputusan final ada di tangan Abang. Abang jangan keburu spanneng begitu dong. Menakutkan dan gak asyik, tahu!”
Bramasta mencebik. Adisti maju mendekati suaminya yang masih duduk di kursinya. Menyentuh wajah suaminya dengan ujung telunjuknya. Menyisir rambut suaminya dengan jemarinya.
“Jangan ngambek, walaupun gantengnya gak hilang ataupun berkurang. Tapi Disti tidak mengenali Abang,” Adisti memeluk suaminya dalam posisinya yang berdiri.
Mendekap kepala suaminya dengan lembut sambil jemarinya berada di sela-sela rambut Bramasta. Suaminya masih bergeming. Dingin bagaikan freezer jadul dengan bunga es yang memenuhi seluruh bagiannya. Freezer jadul? Iya. Karena freezer jaman now diciptakan tanpa bunga es.
“Rasanya asing melihat Abang menjaga jarak dengan Disti. Mendiamkan Disti. Tidak mempedulikan Disti bahkan enggan menatap Disti..”
Bramasta menghidu aroma samar pewangi baju pada baju Adisti. Adisti tidak memakai parfum karena dalam ajaran Islam wanita dilarang memakai wewangian yang dapat memikat pria lain yang bukan mahromnya.
Parfum yang dikenakan Adisti hanyalah pewangi dan pelembut cucian. Sementara parfum mahal yang dibelikan oleh Mommy ataupun olehnya dipakaiannya pada saat mereka berdua saja.
“Sesakit itukah hati Abang akibat Disti mengeluarkan ide-ide dari kepala Disti?”
Bramasta masih terdiam. Tangannya juga tidak membalas pelukan istrinya.
“Abang sudah mengeluarkan tuduhan-tuduhan pada Disti tanpa bertabayun dahulu mengenai duduk permasalahannya. Bagi Disti, itu dobel sakitnya. Sudah juga dicuekin, didiamkan, dituduh juga tanpa bertabayun dahulu.”
Bramasta tersentak. Seperti baru menyadari sesuatu yang penting.
“Itu yang membuat Disti merasa kehilangan Abang karena Abang berubah menjadi sosok yang tidak Disti kenal. Kedewasaan Abang, rasionalitas Abang, kasih sayang Abang, lenyap.”
Bramasta melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya. Suaranya tercekat.
“Ma’af.. ma’afkan Abang karena sudah mendholimi Disti. Ma’afkan Abang karena sudah bersikap tidak adil dengan tidak bertabayun terlebih dahulu.”
Adisti meletakkan dagunya di atas kepala suaminya. Diam sejenak untuk menyusun kata.
“Sekarang Abang sudah siap mendengarkan penjelasan dari Disti?”
Bramasta mengetatkan pelukannya.
“Disti... ma’af..”
Adisti membelai rambut suaminya hingga tengkuknya. Ia lalu menunjuk arah pintu toilet dengan ibu jari kanannya.
“Disti nangis di sana tadi..”
“Ma’af... ma’af...” Bramasta mengangkat tubuh Adisti hingga Adisti duduk di atas pangkuannya. Dia bisa memeluk punggung istrinya sekarang.
“Ma’af.. Abang seringkali hilang kendali saat harga diri Abang terusik..”
Adisti menjauhkan tubuhnya dari Bramasta tetapi Bramasta tidak mengijinkannya.
“Maksud Abang? Tindakan Disti ini dianggap melukai harga diri Abang? Sebenarnya yang terusik itu harga diri Abang atau ego Abang?”
“Keduanya.”
Adisti berusaha menjauhkan tubuhnya dari dekapan suaminya.
“Tidak.. tetaplah seperti ini..”
“Kenapa? Disti ingin lihat mata Abang saat berbicara.”
“Tidak.. jangan.. Abang gak berani melihat dan dilihat oleh Disti,” Bramasta mengetatkan pelukannya. Tepi wajahnya menyentuh telinga Adisti.
“Kenapa?”
“Karena Abang malu.. Abang seegois itu ke Disti. Abang juga malu sudah mendholimi Disti dengan sikap Abang..”
Adisti membelai pelan punggung suaminya.
“Pak Suami sholeh aku...”
Tapi sejurus kemudian Adisti terkikik geli.
Bramasta melepaskan pelukannya. Memandang Adisti dengan kening berkerut.
“Kok tertawa sih?”
Adisti masih terkikik bahkan matanya sampai berair.
“Saat Disti tadi bilang, Pak Suami sholeh aku, tetiba Disti teringat dengan teman SMP Disti yang bernama Sholeh. Dia suka ke Disti sampai menguntit Disti pulang untuk tahu di mana rumah Disti..”
“Terus?” Bramasta mencebik.
Tidak menyangka akan ada nama pria lain yang muncul di tengah obrolan serius mereka.
“Sabtu sore datang, pas kebetulan Ayah sedang ada di depan rumah. Sholeh pakai jurus modus minta buah jambu di depan rumah ke Ayah sambil memperkenalkan diri sebagai teman sekolah Disti. Ayah sih mengijinkan dia untuk manjat pohon jambu air di depan rumah. Tapi begitu Ayah masuk ke dalam untuk manggil Disti, Kakak keluar. Langsung mengusir si Sholeh yang sedang di atas pohon dengan membawa sapu siap untuk dipukulkan," Adisti terkekeh.
"Ingatkan Abang untuk membelikan Kakak Ipar buah jambu air yang banyak,” Bramasta tersenyum senang.
“Isssh buat apa? Kakak gak suka jambu air.”
“Kenapa?”
Bramasta terkekeh.
“OK..please no more Sholeh between us. Jangan pernah menyebut nama Sholeh lagi di antara kita.”
“Tadi kan intermezzo, Bang. Tapi suami aku ini memang sholeh kok.”
“Abang gak merasa sesholeh itu, Sayang. Kalau Abang sesholeh itu, Abang gak akan buat Disti menangis, Abang gak akan mendholimi Disti dengan sikap dan tuduhan-tuduhan Abang.”
“Gak apa-apa, Bang. Selama Disti masih bisa bersabar,” Adisti menatap suaminya, “Lagi pula Bang Indra juga sudah mewanti-wanti Disti untuk tidak dimasukkan ke hati semua perkataan dan perbuatan Abang pada saat seperti ini.”
“Memangnya Indra ngomong apa aja ke Disti?”
“Kata Bang Indra, Abang kalau lagi ngambek itu benar-benar menyebalkan. Memang iya sih..”
Bramasta berdecak. Kemudian merengkuh punggung istrinya lagi. Menyatukan kening mereka.
“Ma’afin Pak Suami ya Buk Istri...”
“Sama-sama Bang.. Disti juga minta ma’af sudah membuat Abang merasa terluka.”
“Disti terluka lebih banyak dari Abang. Andai Abang lebih bisa menahan diri dan menahan ego Abang...” Bramasta meletakkan bibirnya di kening Adisti lama.
Adisti melepaskan pelukan suaminya. Lalu berdiri dari pangkuannya. Menarik tangan suaminya.
“Mau kemana?” tanya Bramasta keheranan.
“Ke sana. Kita bicara di sana.”
“Kenapa gak di sini saja?”
“Karena Disti mau menyampaikan proposal proyek Disti pada Pak Suami dengan cara yang baik dan benar.”
“What??” wajah Bramasta penuh rasa heran.
Adisti menghela nafas.
“Jadi begini.. tadi sewaktu Abang sedang meeting di kantor, Disti kan buka medsos dan berita online. Banyak tuh berita-berita tentang kita, Kakak, Bang Indra, Bang Hans dan Bang Anton.”
“Orang-orang pilihan Disti yang langsung menyetujui ide Disti..” Bramasta mengangguk sambil memicingkan matanya.
“Masih su’udzhon nih?” Adisti mendongak menatap suaminya yang tinggi menjulang.
“Nggak.. lanjutkan.”
“Matanya gak usah begitu, kali..”
“Bagaimana? Memangnya mata Abang bagaimana dan kenapa?”
“Hisssh. Ya sudahlah,” tangan Adisti bergerak membuka kancing teratas kemeja yang dikenakan suaminya.
Bramasta menaikkan alisnya.
“Jadi, rencananya, untuk season baru produk busana ready to wear dari B Group, semuanya, akan memakai mereka dan kita sebagai model. Semua brand. Baik brand premium maupun brand medium.”
Kancing kedua terbuka.
“Disti.. Abang ada aturan tentang privacy kita ke publik. Disti ingat kan?”
Adisti mengangguk.
“Semua tentang angle photo. Sudut pengambilan foto yang pas dan bisa dibantu dengan proses editing, Bang. Wajah kita dan mereka tidak akan muncul di publik.”
Kancing ketiga terbuka.
“Bagaimana bisa menjadi model busana tanpa memperlihatkan wajah? Psikologi pasar saat melihat iklan fashion yang pertama kali mereka lihat dan yang pertama kali mereka apresiasi adalah wajah model dan siapa model tersebut.”
Adisti mengangguk.
“That’s right,” tangannya menarik kemeja suaminya dari celana.
“Lah terus konsepnya Disti bagaimana?” Bramasta memandang istrinya.
“Konsep Disti sederhana. Hanya ingin membalikkan psikologi pasar seperti yang tadi Abang uraikan. Publik difokuskan hanya melihat fashion yang ada pada model. Tubuh kalian bagus, proporsional dan enak dilihat. Bahkan meskipun itu hanya tampak punggung sekalipun...”
Bramasta menaikkan sebelah alisnya.
Kancing keempat terbuka.
“Lagipula, tubuh Disti walau dikata ceper, masih bisa disebut proporsionalah dengan keceperannya. Rata-rata tubuh orang kita ya 11 12 dengan tubuh Disti kan. Selain itu kita punya Mbak Hana yang bisa mewakili para ibu muda juga ada Adinda yang bisa mewakili para remaja.”
Bramasta melongo.
Kancing terakhir terbuka.
“Disti merekrut mereka juga?”
“Iya. Kenapa?”
“Mereka diijinkan oleh pasangannya?” Bramasta membulatkan matanya.
Adisti mengangguk. Tangannya menyentuh gesper kepala ikat pinggang yang dikenakan suaminya.
“Mbak Hana diijinkan oleh Bang Hans. Adinda diijinkan oleh Kakak, Ayah dan Bunda.”
“Bagaimana caranya Disti meyakinkan mereka sih?”
“Kan sudah Disti bilang, mereka tertarik dengan konsep yang Disti buat. Mulai dari sudut pandang foto yang tidak menampakkan wajah mereka,” Adisti menekan knop kecil pada gesper yang membuat gesper tidak terkunci hingga sabuk bisa dilonggarkan.
“Juga konsep how the fashion can fit and comfort you. Kalau yang ini, konsepnya, kita tidak akan memberitahu pada mereka,model kita, baju yang mereka pakai itu brand premium ataupun brand medium. Karena konsepnya, brand dari B Group itu bisa dipakai oleh siapa saja dan terasa nyaman dan percaya diri.”
Bramasta mengangguk-angguk mengerti. Sejujurnya dia merasa senang dengan ide yang dikemukakan istrinya. Seperti yang dikatakan Indra: out of the box.
Adisti menarik ikat pinggang terlepas dari celana Bramasta. Dia lalu menggulungnya dengan hati-hati sambil tetap berbicara.
“Tentang konsep tanpa wajah ini supaya memudahkan publik memperhatikan dan memilih baju. Jadi lebih konsentrasi dan dapat memvisualisasikan dirinya sendiri sedang memakai baju tersebut.”
Bramasta mengerutkan keningnya.
“Are you sure? Bagaimana kalau tubuh mereka tidak proporsional?”
Tangan Adisti berada di ban pinggang celana Bramasta yang sekarang tanpa sabuk.
“Kalau tentang itu dikembalikan lagi ke publik. Kesadaran masing-masing lah. Tapi kalau Disti perhatikan, produk fashion B Group itu universal kok. Garisnya sederhana, rata-rata bisa dipakai oleh semua proporsi tubuh selama mengikuti size yang ada.”
Adisti membuka pengait celana. Jemari Adisti yang menyelusup dan menyentuh kulit perut Bramasta membuat suaminya tersadar.
Bramasta menunduk. Terperangah menatap kancing kemejanya sudah terbuka semua bahkan menggantung di luar celananya.
“What did you do? What are you doing?”
Adisti tersenyum lebar.
“Kan tadi Disti sudah bilang, mau bicara di sana. Karena Disti mau mengajukan pproposal ke Pak Suami secara baik dan benar...”
Bramasta terjeda sejenak untuk mencerna ucapan dan maksud ucapan Adisti.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Bramasta menarik tangan Adisti membuka pintu toilet area lalu membuka pintu kamar mereka.
“OK. Finish it,” Bramasta melepaskan pegangan tangannya pada Adisti.
“Ck!” Adisti berdecak, “Tadi aja Disti tarik-tarik mau ke sini gak mau. Sekarang malah ngebet...”
Bramasta terkekeh.
.
***
Duh.. tak kusangka tak kuduga.
Kukira Disti cupu.. eh, ternyata suhu.
2 bab dijadikan 1 nih, demi Readers biar gak penasaran lagi dengan Babang Bram 😁🤭
Naikin mood Author ya dengan pencet tombol minta update juga 🎁. 😁😁