CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 52 – PERMINTAAN MA’AF



Mommy mendekati Bramasta yang sedang duduk terpekur di atas bed-nya. Bed Adisti masih tertutup tirai.


“Bram,” tegur Mommy sambil mencubit lengan atas Bramasta.


Bramasta yang tengah melamun berjengit kaget bercampur nyeri.


“Mommy ih, kebiasaan deh..”


“Minta maaf ke Adisti sana,” Mommy bersidekap.


“Sudah Mom.. Adisti gak jawab. Ngambek.”


“Kalau Mommy jadi Adisti juga Mommy pasti ngambek kok.”


“Bram sudah keterlaluan ya Mom?”


“Kebayang gak punya rambut panjang tapi gak bisa keramas selama lebih dari seminggu?” tanya Mommy.


“Kebayang gak jadi perempuan yang menjaga baik rambutnya lalu tiba-tiba rambutnya harus dipitakin?” tanya Mommy lagi.


“Dan itu semua terjadi menjelang hari pernikahannya. Sayangnya calon suaminya gak peka. Dan orang-orang di sekitarnya juga gak peka malah menjadikan rambutnya sebagai bahan ejekan,” Mommy memandang tajam pada Bramasta dan Indra bergantian.


“Rambut bagi perempuan itu sangat penting.”


Bramasta dan Indra menunduk, menekuri kesalahan mereka.


Mommy melongokkan kepalanya ke dalam tirai bed Adisti. Adisti tampak berbaring miring ke arah kanan. Menghadap jendela.


“Sayang..” sapa Mommy, “Disti tidur?”


Mommy melangkah mendekat, “Eh, kok nangis?”


Bramasta dan Indra yang mendengar ucapan Mommy jadi mencelos hatinya.


“Kenapa?” Mommy duduk di kursi samping bed Adisti. Menariknya hingga bisa berhadapan dengan Adisti, “Sudah.. gak usah sedih dengan perkataan mereka. Mereka cuma senang banget bisa usilin Disti. Jangan diambil hati, OK? Mommy udah marahin mereka semua.”


Mommy meraih tisu di atas nakas. Membantu mengelap air mata calon menantunya.


“Udah ngambeknya ya,” bujuk Mommy, “Kamar jadi sepi gak terdengar suara Disti.”


Adisti tersenyum malu pada Mommy.


“Thanks a lot, Mom..” Adisti memeluk Mommy.


“Your always welcome, Dear,” Mommy balas memeluk sambil mengelus punggung Adisti.


“Abang boleh masuk gak?” tanya Bramasta.


Mommy memandang Adisti. Adisti mengangguk. Mommy membuka seluruh tirai yang menutupi bed Adisti. Mommy memandang heran pada Bramasta yang menenteng jus apel kemasan 1 L di tangannya.


“Jangan minum jus dulu, kan mau makan malam,” kata Mommy.


“Just a lil bit_Cuma sedikit_, Mom.”


Mommy berdiri lalu meninggalkan mereka berdua. Bramasta mengambil alih kursi yang tadi diduduki Mommy. Adisti masih berbaring dengan posisi miringnya.


“Abang bawa ini. Duduk yuk.”


Adisti menggeleng.


“Masih marah ke Abang? Abang minta maaf..”


Adisti mengangguk.


“Maaf ya buat Disti sedih,” Bramasta menyentuh lengan baju Adisti, “Duduk yuk?”


Adisti menggeleng lagi.


“Lagi pewe Bang. Posisi kayak gini gak bikin jahitannya nyut-nyutan seperti ketarik-tarik..” jawab Adisti.


“Masih terasa sakit? Abang mintain obat pereda nyeri ya?”


“Sebentar lagi juga waktunya makan malam, Bang. Habis itu waktunya minum obat.”


“Masih sedih?”


“Dikit.”


“My strong girl jadi nangis gegara rambut ya..”


“Jangan mulai deh, Bang.”


“Eh iya.. ma’af. Soalnya gemes lihat Disti berbaring miring kayak gini. Pipi chubbynya bikin Abang pengen unyel-unyel..”


“Jadi sekarang Abang ngatain Disti gendut?”


“Eh?” Bramasta terkejut, “Nggak.. Abang gak ngatain Disti gendut.”


“Barusan ngatain pipi Disti chubby..”


“Laaaah… Salah lagi ya Abang.”


Bramasta menatap Adisti dengan wajah bingung. Lalu terdiam. Pandangan matanya dialihkan.


“Kenapa diam?”


“Daripada ngomong tapi nanti bikin Disti jengkel lagi..”


Keduanya kembali terdiam. Bramasta menuang jus apel ke dalam 2 gelas kertas. Berdua menikmatinya dalam hening. Mommy dan Indra berulangkali melirik kepada mereka berdua.


“Abang..” panggil Adisti setelah menyesap jusnya.


“Hmmm?”


Bramasta tersenyum, “Kenapa?”


“Ya karena terkadang Disti terkena mood swing.”


“Kayaknya semua cewek seperti itu ya. Mommy, Kak Layla juga seperti itu kalau lagi PMS,” Bramasta tersadar dengan sesuatu, “Eh, berarti..?”


“Apa?”


“Nggak.. Gak jadi. Takut salah ngomong lagi,” Bramasta terkekeh.


***


Pak Gumilar baru sampai dari masjid setelah Isya berjama’ah ketika mobil yang dinaiki rombongan Daddy sampai. Agung mengabari Ayah dan Bunda, Tuan Alwin dan Hans akan ke rumah karena ada sesuatu yang akan dibicarakan. Agung tidak menyebut akan ada kedatangan Tuan Hilman Anggoro. Khawatir Ayah dan Bunda akan menolaknya.


Agung dan Hans menyalimi Ayah di teras. Ayah memeluk Daddy dengan hangat lalu mengajak semuanya masuk.


“Ayo..ayo masuk. Mau langsung makan dulu atau mau sholat Isya? Makanan sudah siap,” kata Ayah.


“Sholat dulu, Pak. Supaya tenang makannya,” kata Daddy sambil terkekeh.


Agung dibantu Hans menggeser kursi di ruang tengah supaya mereka bisa sholat berjama’ah. Sajadah digelar. Mereka berwudhu bergantian. Daddy menjadi imam. Raka’at pertama Daddy membaca 10 ayat pertama dari surat Al Kahfi. Raka’at kedua Daddy membaca 10 ayat terakhir dari surat Al Kahfi. Bunda menyenggol lengan Ayah mendengar bacaan surat Al Kahfi. Berdua mereka menyimak bacaan Daddy dari ruang makan.


Usai sholat, mereka langsung menuju ruang makan. Hidangan sederhana sudah disajikan Bunda. Sayur asem, ikan nila goreng, tempe goreng, pepes tahu, lalapan mentah dan sambal terasi. Sangat menggoda selera.


“Wah.. makan besar kita.. Dietnya besok aja,” kata Daddy sambil duduk.


“Seadanya ya menunya,” sahut Bunda, “Agung tidak mengabari dari siang kalau Pak Alwin mau ke rumah.”


“Ini luar biasa, Bu. Menu pemersatu keluarga. Gak bakal ada yang nolak kalau diberi menu seperti ini walaupun sudah makan di luar,” Daddy terkekeh sambil menunggu nasinya diambilkan oleh Agung, “Cukup Gung, segitu aja. Nanti gampang nambah lagi. Bolehkan nambah?”


“Boleh dong..” jawab Ayah.


Suasana makan malam penuh dengan keakraban tanpa canggung sama sekali. Masakan Bunda memang luar biasa. Setelah makan malam, Agung membantu Bunda membereskan piring kotor. Bunda menyiapkan buah potong dan kue. Saat Agung mencuci piring, Hans datang untuk membantu tapi ditolak Agung.


“Udah, Bang Hans di ruang tengah saja menemani Tuan Alwin mengobrol. Abang kan udah capek seharian kerja. Saya kan ngantornya hari ini di kamar rumah sakit jadi tidak terlalu capek.”


“Beneran nih gak perlu dibantu? Abang juga biasa bantu istri kok di rumah. Apalagi kalau si kecil lagi rewel.”


“Pengen lihat foto si kecil dong Bang.”


Hans sigap membuka galeri gawainya. Menunjukkan foto anaknya.


“Ih.. gemoy amat sih pipinya..” Agung tampak gemas dengan foto bayinya Hans, “Cowok atau cewek, Bang?”


“Cowok. Andra Pratama Rahardian, 4 bulan,” Hans bercerita dengan penuh kebanggaan.


“Ganteng banget ih,” Agung berkata sambil menyabuni sendok dengan spons.


“Ya iyalah. Bapaknya juga ganteng..”


“Dih. Pede amat Bang.”


“Iya dong. Kamu kapan married?”


“Pengennya sih secepatnya nyusul Adek. Biar balapan ngasih cucu buat Ayah Bunda,” Agung terkekeh, “Tapi calon aja belum punya.”


“Semoga disegerakan dan dimudahkan jodoh buat kamu ya Gung..”


“Aamiin..”


Mereka baru saja duduk di ruang tengah untuk mengobrol dengan Ayah, Bunda dan Daddy yang tengah membahas keutamaan menghafal 10 ayat pertama atau 10 ayat terakhir dari surat Al Kahfi untuk melindungi diri dari fitnah dajjal. Hanya Hans yang belum hafal. Dia berjanji akan menghafalnya.


Suara salam terdengar dari arah pintu luar, “Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam,” Agung menjawab sambil menghampiri pintu depan.


Ada Tuan Hilman Anggoro datang bersama Prasetyo Anggoro. Mereka hanya berdua. Agung memang sudah mengetahui rencana kedatangan Tuan Hilman Anggoro dari Tuan Alwin. Tapi melihat kehadiran mereka berdua di rumahnya membuat hatinya merasa sakit. Masih terbayang bagaimana perlakuan mereka terhadap keluarganya. Agung menatap dingin pada Tuan Hilman dan Prasetyo.


“Ma’af Nak Agung, kami ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu Gumilar. Apakah mereka ada?” tanya Tuan Hilman Anggoro dengan sangat hati-hati saat berbicara. Prasetyo menundukkan pandangannya terus dari tadi. Tidak berani menatap Agung.


“Silahkan masuk. Kebetulan kami sedang ada tamu, calon besan Ayah dan Bunda,” Agung sengaja mengucapkannya untuk melihat reaksi dua orang di hadapannya.


Agung berbalik, memandu mereka ke ruang tengah. Ayah dan Bunda sedang tertawa bersama Daddy dan Hans. Sangat akrab sekali seperti keluarga. Bukan seperti orang yang baru kenal ataupun terganjal strata sosial yang berbeda.


Hati Hilman Anggoro tercubit. Sangat berbeda jauh bagaimana dia dan istrinya memperlakukan Keluarga Gumilar dulu. Terlebih istrinya yang entah kenapa terhadap Keluarga Gumilar hatinya begitu keras dan angkuh. Merasa lebih tinggi status sosialnya.


Prasetyo yang melihat interaksi Keluarga Gumilar dengan Pemilik Sanjaya Group dan sekretarisnya membuat hatinya makin menciut. Jarak antara dia dan Adisti terasa semakin jauh membentang. Dia sendiri yang sudah membakar jembatan penghubung jarak antara mereka. Ditambah lagi dengan perilaku Mama yang meruntuhkan jembatan yang sudah terbakar itu.


Bunda menoleh ke arah Agung. Terperanjat melihat orang-orang yang ada di belakang anaknya. Orang-orang yang telah memporakporandakan kehidupan keluarganya. Terutama Adisti dan Agung. Bunda berdiri kaku. Tatapannya terpaku pada Tuan Hilman. Matanya bergetar nanar. Terasa panas karena kenangan-kenangan menyakitkan bermunculan.


Ayah menoleh pada Bunda. Lalu mengarahkan pandangannya ke arah pandangan Bunda. Tuan Hilman Anggoro mengangguk dan tersenyum dengan ragu-ragu kepada Ayah. Ayah menghela nafas panjang. Tuan Alwin menyentuh lengan Ayah.


“Assalamu’alaikum,” Tuan Hilman mengucap salam.


“Wa’alaikumussalam,” semua menjawab salam dari Tuan Hilman.


“Ada perlu apa Tuan Hilman datang ke rumah kami yang kumuh ini?” Bunda bertanya dengan suara bergetar penuh emosi. Nyonya Hilman selalu mengatakan rumah ini adalah rumah kumuh. Rumah orang miskin.


“Apakah kami harus berlutut lagi di hadapan Tuan Hilman di rumah kami sendiri?” Bunda mengepalkan kedua tangannya.


“Dan kamu, Tiyo! Kamu belum pernah sekalipun datang kepada kami untuk meminta ma’af. Kamu datang ke rumah sakit pada waktu itu hanya untuk merengek kepada Adisti agar menerimamu kembali.”


Agung bergegas menampiri Bunda. Memeluknya lalu berbisik supaya Bundanya beristigfar agar tenang.


“Duduk Bun.. Yang tenang dulu. Kakak yakin, mereka datang ke sini untuk niat yang baik.”


Nafas Tuan Hilman terasa tercekat. Dia teringat ucapan isterinya yang tidak henti-hentinya menghina Keluarga Gumilar. Kakinya yang hendak melangkah mendadak berhenti.


“Ma’af. Ma’afkan saya. Ma’afkan kami yang sudah menyakiti hati Bapak dan Ibu Gumilar sekeluarga,” tubuhnya membungkuk saat mengucap ma’af.