CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 128 – TERNYATA



Di satu sisi, hatinya terluka dengan sikap mereka setelah mengetahui dirinya pernah mengajar di madrasah dan hingga sekarang masih menjadi pemimpin di madrasah tersebut tapi di sisi lainnya, hatinya menyangsikan sikapnya sendiri. Suaminya tidak mungkin sepicik itu apalagi dengan pengetahuan agama yang sangat baik.


Hitungan mundur 30nya berakhir. Mereka berdua masih memunggunginya. Cukup sudah. Adisti berjalan ke meja kerja Bramasta. Mengambil tas slempangnya di sana. Lalu berjalan menuju pintu.


“Disti?” suara Bramasta memanggilnya, “Mau kemana?”


Adisti berhenti di depan pintu. Tangannya masih memegang handle pintu. Matanya menatap pintu.


“Pulang..” kemudian menggeleng cepat, “Ke rumah sakit.”


“Kenapa? Ada kabar apa tentang Kakak Ipar?”


Adisti masih menatap pintu. Dia menggeleng.


“Tidak ada kabar apa-apa.”


“Disti, bicara menghadap Abang. Tidak memunggungi seperti itu.”


Adisti memutar tubuhnya.


“Kalau kalian mau membahas tentang saya, silahkan kalian berbicara berdua tanpa harus ada saya untuk mendengar pembicaraan kalian."


Bramasta terkejut dengan ucapan Adisti.


"Eh?" Indra memandang Adisti dengan tatapan heran.


“Ma’af kalau kalian baru mengetahui saya pernah mengajar di madrasah dan hingga sekarang masih menjadi pemimpin madrasah tersebut. Ma’af jika hal tersebut mengganggu kalian. Tapi bagi saya menjadi pengajar di madrasah merupakan kebanggaan bagi saya. Memimpin madrasah membutuhkan tanggung jawab yang besar dan itu menjadi kewajiban saya.”


Embun di mata Adisti meloncat ke pipinya. Dengan cepat Adisti menyekanya menggunakan punggung tangannya. Dia membenci air matanya saat ini. Menunjukkan sisi lemahnya.


“Disti..” Bramasta berjalan ke arahnya.


“Ma’afkan saya,” Adisti membungkukkan badannya, “Permisi. Assalamu’alaikum.”


Adisti segera membalikkan badannya. Tangannya meraih handle pintu. Membukanya dengan cepat.


Setengah tubuhnya sudah berada di luar pintu ketika sebuah tangan menarik tangannya yang masih memegang handle pintu bagian dalam. Adisti tahu betul tangan siapa yang menarik tangannya.


“Disti kenapa? Ada apa?” Bramasta menarik Adisti dalam pelukannya.


“Kok jadi begini sih?” Indra mengusap wajahnya.


Adisti tidak menjawab dan tidak membalas pelukan suaminya juga. Bramasta mengetatkan pelukannya.


“Why? What’s wrong?” bisik Bramasta menenangkan.


“What’s wrong?? Bukannya Abang berpikiran It’s wrong bagi saya yang pernah mengajar di madrasah. It’s wrong juga bagi saya yang masih menjadi pemimpin madrasah??” Adisti mengepalkan kedua tangannya.


“Abang gak pernah berpikir seperti itu,” Bramasta menatap bingung pada Adisti, “Dan tolong jangan gunakan kata ganti subyek pembicara utama. Abang gak suka. Seolah Disti sengaja membuat jarak dengan Abang.”


“Kalian bicarakan berdua. Gue kerja dulu,” Indra berlalu dari ruangan Bramasta.


“Kalau Abang gak pernah berpikir seperti itu, kenapa Abang bertindak seolah-olah apa yang tadi Disti katakan adalah salah?”


“Abang bertindak apa sih?” Bramasta menatap tidak mengerti kepada Adisti.


“Abang gak ingat apa yang Abang lakukan setelah tadi Disti memberitahu Abang tentang pernah mengajar dan menjadi kepala madrasah?”


Bramasta terdiam. Berusaha mengingat semuanya. Tapi menurutnya tidak ada yang salah dengan tindakannya.


Bramasta menggeleng.


“Katakan pada Abang, apa yang Abang lakukan hingga membuat Disti seperti ini?”


“Abang berdiri lalu membuka laci di sebelah sana. Membuka berkas yang katanya itu berkas Disti? Bang Indra juga membicarakan tentang Bang Hans yang sepertinya tidak memberikan laporan akurat tentang Disti,” Adisti menatap tanaman sansivera mini di atas meja kopi. Bramasta tadi mengajak untuk duduk di sofa.


“Apakah salah kalau Disti pernah mengajar di madrasah dan hingga kini masih menjadi kepala madrasahnya?” Adisti menoleh menatap suaminya, “Disti salah, Bang?”


“Astghfiirullahal adzhiim. Subhanallah..” Bramasta menghela nafas.


“Disti.. Sayang, ma’afkan Abang. Tindakan Abang yang sudah membuat Disti salah persepsi. Ma’afkan Abang sudah membuat Disti menangis,” Bramasta memeluk Adisti, meletakkan dagunya di atas kepala Adisti.


“Salah persepsi bagaimana, Bang?”


“It’s not wrong kalau Disti pernah mengajar di madrasah, it’s not wrong juga kalau Disti masih menjadi kepala madrasahnya,” Bramasta menatap mata Adisti.


Adisti masih terdiam menunggu Bramasta meneruskan ucapannya. Tetapi air matanya masih meleleh di pipinya.


Bramasta menghapus lelehan embun dari mata Adisti dengan ibu jarinya.


“Yang salah itu Hans yang tidak melaporkan hal sepenting itu untuk Abang. Hans hanya melaporkannya kepada Daddy dan Mommy.”


“Hans sengaja menyimpan laporan tentang profesi pengajar dan jabatan pimpinan madrasah dari Abang sebagai surprise untuk Abang.”


“Daddy dan Mommy sudah tahu?”


Bramasta mengangguk, “Kata Hans begitu tadi saat ditanya Indra.”


“Kenapa? Kenapa Bang Hans menjadikannya surprise untuk Bang Bram?”


“Karena itu berhubungan dengan keinginan Abang dulu. Selain berkeinginan untuk menikah dengan gadis yang menulis huruf G kecil seperti semut yang melambaikan antenanya, Abang juga berharap gadis tersebut juga mengajari anak-anak kecil mengaji.”


Adisti mengangkat wajahnya menatap mata Bramasta. Tidak ada kebohongan di sana. Bramasta mengatakannya apa adanya.


“Alhamdulillah, itu semua Abang temukan pada diri Disti, istri Abang,” Bramasta mengecup ubun-ubun dan kening istrinya.


“Kenapa?”


“Bagi Abang, pengajar anak-anak kecil belajar mengaji itu luar biasa. Pahala jariyah. Selama anak tersebut membaca Qur’an, selama anak tersebut membaca do’a-do’a yang diajarkan, insyaa Allah mengalir pula pahala bagi orang yang mengajarkannya.”


Bramasta masih menyeka pipi Adisti yang basah. Lalu memperbaiki tepian kerudung yang membingkai wajah Adisti.


“Guru itu istimewa. Disti mengajar di madrasah, gelar Disti adalah ustadzah. Masyaa Allah.. istri Abang seorang Ustadzah.”


Bramasta memeluk Adisti. Adisti yang dipeluk erat menjadi sesunggukan.


“Ma”afkan Disti juga Bang, yang mengambil kesimpulan yang salah.”


“Ssssh.. sudah jangan menangis. Sana, cuci muka dulu.”


Bramasta menarik tangan Adisti lalu mengajaknya ke toilet di ruangannya. Pintu toiletnya tidak terlihat karena menyerupai dinding ruagannya.


“Disti belum pernah menjelajahi ruang kerja Abang kan?”


Adisti mengangguk.


Ruangan toilet berupa washtafel yang terbuat dari batu hitam yang dipahat dan cermin persegi tepat di depan kran.


“Dorong dinding sebelah kiri cermin,” kata Bramasta.


Adisti menurut, lalu melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. Kamar mandi minimalis dengan closet duduk berwarna putih, dinding dengan keramik hitam dan abu-abu dan lantai berwarna abu-abu.


Di sudut ruangan ada shower dengan yang dikelilingi oleh kaca es berbingkai hitam sebagai shower screen-nya.


“Abang sering mandi di kantor?”


“Kalau gak sempat ke rumah sedangkan waktu acara yang harus dihadiri sudah mepet,” Bramasta menarik tangan Adisti lagi, “Sini..”


Bramasta mendorong dinding di samping kanan washafel. Ada kamar tidur ukuran nomor 3 di dalamnya. Rapi dengan bedcover warna navy dan abu-abu.



Sepanjang dinding kanannya adalah lemari buku. Adisti menelusuri lemari buku. Telunjuknya menyentuh buku-buku di sana.


“Benar kata Bang Leon, Conan Edogawa dari jilid 1. Wow.. novel terjemahan juga ada. Kenapa gak ditaruh di rumah saja sih?”


“Dulu sih gak kepikiran buat ditaruh di rumah. Tapi sekarang jadi kepikiran..” Bramasta tertawa.


“Abang sering tidur di sini?” Adisti duduk di tepi kasur.


“Kalau sedang gak enak badan dan malas pulang karena banyak pekerjaan. Tapi itu dulu sebelum nikah. Sekarang udah nikah kan beda lagi...” Bramasta ikut duduk di samping istrinya.


“Bang.. kerja lagi gih.”


“Issh kenapa sih?”


“Soalnya kalau kita berdua terus di sini, Abang mulai ngeres lagi..”


Bramasta tertawa.


“Pekerjaan Abang sudah menunggu di meja tuh. Sana, buruan selesaikan.”


“Temenin ya..”


.


***


Salah persepsi ternyata. 😉


Bramastanya sih... 😌