
Papanya menoleh cepat ke arah Tiyo. Tapi mengibaskan tangannya tak peduli. Wajahnya terlihat lelah dan menua. Dia menatap Daddy. Daddy hanya mengangkat bahunya.
“Nggak Ma. Sekarang saatnya Mama menuai apa yang Mama tanam. By the way, Mama sudah ditetapkan sebagai tersangka otak kejahatan. Jangan meminta tolong pada Papa ataupun Prasetyo, Ma. Bukannya ada Gunawan Tan?” Jeda.
Prasetyo mengepalkan telapak tangannya karena gemas, “Tidak.. Tolong Ma. Jangan ngeles lagi. Hadapi saja sesuai prosedur. Hadapi dengan berani seperti Mama yang mengambil keputusan dan tindakan gegabah dengan berani. Hadapi dengan berani seperti Mama dengan beraninya mencurangi Papa yang selalu setia kepada Mama.”
Prasetyo memandang Papanya, “Sudah ya Ma. Kami sedang sibuk sekarang. Assalamu’alaikum, Ma.”
Hilman Anggoro bergegas membuat panggilan kepada anak bungsunya, “Assalamu’alaikum Dim. Ada dimana?” Jeda.
“Polisi di rumah? Iya, Papa tahu.” Jeda.
“Jangan menangis, Nak. Papa dan Masmu akan segera pulang. Jangan menangis ya. Yang sabar. Mama sedang menerima akibat dari apa yang sudah ia perbuat.” Jeda.
“Dimas kasihan ke Mama? Do’akan Mama agar segera sadar dari perbuatannya. Do’akan agar Mama menjadi wanita yang sholeha. Sudah, sekarang Dimas kembali ke kamar ya. Tidak perlu berada di ruang tamu melihat Mama dijemput polisi. Kembali ke kamar Dimas lalu sholat. Belum sholat Isya kan?” Jeda.
“Papa dan Mas pulang sekarang. Assalamu’alaikum.”
Hilman Anggoro menatap Prasetyo, “Adikmu melihat penjemputan Mamamu. Dimas shock.”
Prasetyo mengusap wajahnya.
“Nak Tiyo, sejahat dan sesalah apapun Mamamu, dia tetap ibu kandungmu. Wanita yang sudah melahirkanmu. Tetaplah berkata dan berlaku lembut padanya. Yang kuat dan sabar ya kalian semua. Jaga adikmu,” Bunda menepuk pundak Prasetyo dengan lembut saat mereka berdua berpamitan.
“Ini kenapa banyak sekali?” tanya Agung sambil mengintip isi paper bag kecil yang diberikan Pak Hilman kepada Ayah.
Semuanya memandang Agung dengan tidak mengerti.
“Apa Kak?” tanya Ayah.
“Kita memberikan mereka 150 juta, kenapa di dalam paper bag ini ada 300 juta?” tanya Agung.
“Apa???” seru Ayah dan Bunda berbarengan.
“Mungkin ini sebagai permintaan maaf kepada kalian,” kata Daddy.
“Tapi kami sudah mema’afkannya tadi..” Ayah masih keheranan.
“Kenapa permintaan ma’af dinilai dengan uang?” Agung menimpali.
“Bukan begitu, Gung..” Hans menyahut, “Anggap saja itu uang ganti rugi atas perbuatan mereka.”
“Terima sajalah daripada memperumit hal yang sebenarnya sederhana. Toh itu bukan jumlah yang banyak bagi mereka. Lagipula itu uang halal bukan riba,” kata Daddy.
Ayah mengangguk, “Betul, akad penyerahan uangnya untuk ganti rugi bukan pinjaman.”
“Pak Alwin, saya kasihan dengan anak-anak Pak Hilman,” kata Bunda.
“Prasetyo sudah dewasa untuk mengerti sedangkan adiknya sudah cukup besar untuk diberi pengertian. Kalau tidak dibeginikan, Nyonya Hilman tidak akan sadar dan akan terus bersikap arogan kepada semua orang,” Daddy menjelaskan, “Terkadang kita harus membalas kesombongan dengan kesombongan lagi agar orang tersebut sadar masih ada langit di atas langit.”
“Luar biasa memang dampak istiradj ya. Diberi keleluasaan rejeki tetapi tidak dipergunakan dengan baik malah dipakai untuk menyombongkan diri,” kata Ayah, “Ini contoh nyata buat kalian ya yang masih muda. Apabila kelak kalian diberi keluasan rejeki, jangan sampai kekayaan kalian menjadi istiradj. Ngeri.”
Agung dan Hans yang ditunjuk Ayah mengangguk.
“Besok Adek pulang. Ayah dan Bunda tidak usah menjemput. Biar nanti Kakak saja yang mengurusnya,” kata Agung.
Bunda mengangguk, “Terimakasih ya Kak. Kita bagi tugas, di sini Ayah dan Bunda mempersiapkan acara pengajian syukuran, lagipula kerabat kita juga mulai berdatangan besok.”
Ayah menepuk-nepuk punggung Agung, “Mudah-mudahan Allah menyegerakan jodohmu ya Kak..”
Do’a Ayah diaamiinkan oleh semua orang.
“Besok juga di rumah ada syukuran pengajian,” kata Daddy sambil mencicipi buah potong yang disediakan.
Bunda menggeleng, “Tidak mengapa Pak Alwin. Bagi kami yang penting adalah proses ijab kabulnya lancar.”
“Mudah-mudahan dilancarkan dan dipermudah oleh Allah,” kata Ayah.
Semuanya meng-aamiinkan lagi.
Mereka berpamitan untuk kembali ke rumah sakit setelah Agung mengambil baju ganti untuk dipakai besok.
Di dalam mobil Hans menerima pesan chat dari Tuan Armand.
Tuan Armand_Nyonya Hilman mengamuk di kantor polisi. Dia menyangkal semuanya_
Hans_Hilman Anggoro datang?_
Tuan Armand_Tidak. Hanya Prasetyo yang datang. Tetapi tidak lama. Dia pergi setelah melihat ibunya menyangkal semua perbuatannya_
Hans_Apa yang akan terjadi bila dia terus menyangkal?"
Tuan Armand_Bukti-bukti kita udah lebih dari cukup. Eksekutor juga sudah diciduk sejak siang. Tinggal dipertemukan saja mereka. Si Nyonya akan berkilah apa lagi_
Hans_Gunawan Tan datang?_
Tuan Armand_Dia baru saja tiba. Membawa pengacara_
Hans_Siapa?_
Tuan Armand_Kusebut namanya pun kau tak bakal kenal, Hans (emot tawa)_
Hans_(emot ngakak)_
Hans terkekeh perlahan sambil memandang layar HPnya. Tuan Alwin mengerutkan kening. Hans paham. Dia menceritakan isi chat-nya.
“Hmm... Tanpa kekuasaan suaminya, Nyonya Hilman bukan siapa-siapa ternyata. Selamat menuai badai dari angin yang kau tebar sendiri,” gumam Tuan Alwin.
"Eksekutor ditangkap siang tadi. Coba cek portal berita online," kata Hans.
Semuanya membuka gawai masing-masing.
"Oh Boy... Netizen plus Enam Dua memang luar biasa kreatifnya, Penjahat Berkadas," Agung membaca komentar netizen. Hans dan Tuan Alwin terbahak hingga mengeluarkan air matanya.
“Gunawan Tan hanya sanggup memberikan pengacara yang tidak terkenal. Entah karena sedang bokek atau karena pelit?” Hans terkekeh.
“Bagaimana kabar Buana Raya saat ini?” tanya Agung.
“Lu penasaran, Gung?” Hans bertanya balik.
“Iyalah. Siapa yang menggantikan saya di sana?”
“Orang baru, baru direkrut pagi tadi. Titipannya Gunawan Tan.”
“Gila! Perusahaan berisi orang-orang titipan semua?” seru Agung.
"Saya gak habis pikir dengan Gunawan Tan. Apa yang sebenarnya ada di dalam kepalanya?" kata Hans.
Tuan Alwin terkekeh. “Perusahaan yang diisi dengan orang-orang titipan apalagi untuk mengisi jabatan penting akan menjadi perusahaan yang tidak kompeten. Umurnya tidak akan lama. ”
Hans ikut terkekeh, “Perusahaannya ibarat tubuh dengan imun yang lemah sedangkan orang-orang titipan tanpa kompetensi adalah sel kanker yang ganas.”
“Gunawan Tan tak akan lama lagi menuai badai kehancuran bisnisnya,” kata Tuan Alwin.
Agung mengangguk. Tapi mendadak merasa sedih karena terkenang anak buahnya yang berada di divisinya dulu. Mereka orang-orang baik dan berkompeten. Bagaimana nasib mereka nantinya? Dia ingin menyelamatkan mereka. Haruskah dia mendirikan biro akuntan publik?