
Sambil makan, Daddy dan Pak Armand menceritakan kedatangan mereka di Anggoro Putro, diselingi oleh Hans. Semua mendengarkan sambil sesekali berkomentar.
“Ambil hikmah dari kejadian ini,” kata Daddy, “Ada pelajaran penting buat kita sebagai lelaki, pemimpin rumah tangga, imam bagi istri dan anak-anaknya.”
Semuanya memandang dengan serius, “Mencari nafkah itu kewajiban kita karena kita sebagai tulang punggung. Tulang punggung bukan hanya berfungsi untuk menyokong tubuh tapi sebagai struktur tubuh. Ibarat bangunan, bagaimana bila strukturnya tidak kokoh? Carilah nafkah dengan halal. Jangan sampai ada makanan yang bersumber dari harta yang tidak halal masuk kedalam tubuh suami, istri dan anak-anaknya lalu menjadi daging dan darah.”
Daddy meminum air mineral dari botol.
“Tugas utama laki-laki dalam rumah tangga bukan hanya mencari nafkah tetapi juga membimbing istri. Kenapa istri harus dibimbing? Karena istri akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Maka dari itu, kalian-kalian ini yang masih single harus mencari calon istri yang mengerti agama, cerdas dan mau dibimbing oleh calon suaminya. Percuma kalau hanya cantik. Cantik itu casing. Isi di dalamnya akan mempengaruhi bagaimana orang memandang casing cantik tersebut. Mengerti, kalian?”
“Ngomongin wanita dengan casing cantik, Om,” kata Indra sambil melirik Leon, “Ini sama dengan yang Indra dan Bang Leon hadapi hari ini.”
Leon terkekeh, “Casingnya cantik tapi dalamnya amburadul. Sepintas terlihat cantik tapi begitu kita tahu ********** (Leon memberikan 2 bentukan V yang ditekuk berulang kali dengan kedua jemari telunjuk dan tengah kanan kirinya) jadi gak terlihat cantik lagi. Malah terlihat mengerikan.”
“Owner The Ritz, Om.. Rita Gunaldi,” kata Indra menjelaskan setelah melihat tatapan Daddy yang bingung.
Daddy mengangguk paham, “Dhuhur dulu yuk semuanya. Bagi dua saja supaya ada yang menjaga Adisti bergantian.”
Anton membuka laptop yang tadi dibawa oleh Indra dan Leon. Disambungkannya laptop dengan kabel HDMI ke TV. Anton membuka file manager. Area pintu masuk utama The Ritz tampak pada layar kaca. Gagang pintu logam berwarna emas berbentuk kepala Medusa versi Gianni Versace memenuhi layar TV.
“Ini dari kamera yang ada di saku kemeja Indra. Kamera dalam bentuk pena,” Anton menjelaskan.
Dia mengambil remote, mengatur suara agar tidak terlalu besar.
“Gung, cek Adisti,” kata Indra mengingatkan kepada Agung dengan suara pelan, “Jangan sampai dia melihat video ini.”
“Kenapa?” tanya Agung.
“Ini tentang Rita Gunaldi, pasti kejadian antara Rita dan mantan tunangannya akan terlintas lagi dalam benaknya. Walaupun Adisti sudah memberikan tendangan yang indah pada wanita tersebut tapi pasti melihat ini dia bakal merasa sedih,” Indra memandang Agung dan Bramasta. Daddy dan lainnya mengangguk setuju.
“Lagi pula adiklu masih bocah banget. Gak pantes dia melihat adegan di dalam rekaman itu..”
Semuanya heboh.
“Ndra, memangnya kamu ngapain aja dengan Rita? Duh, bagaimana nanti Om menjelaskan ke orangtua kamu, Ndra..” Daddy mengelus dadanya.
“Gila lu. Lu diapain sama Medusa?”
“Stay calm, Gentlemen_Tetap tenang, tuan-tuan_, Alhamdulillah sampai detik ini gue masih utuh,” Indra terkekeh.
Agung menghampiri bed Adisti. Menyingkap tirainya perlahan. Adisti tengah tertidur miring ke arah gawainya yang sedang menayangkan Thinkerbell. Agung mengambil gawai adiknya lalu mematikannya. Meletakkan gawainya di laci nakas. Menyelimuti adikya dengan baik lalu kembali ke sofa U.
“Amaaaan,” kata Agung, “Adek lagi tidur.”
“Bukannya sedang nonton Thinkerbell?” tanya Bramasta.
“Iya, ketiduran. Filmya masih nyala, orangnya udah tidur,” jawab Agung.
“Tuh, kan gue bilang apa. Adik lu masih bocah.”
“Iya masih bocah. Tapi 4 hari lagi mau jadi pengantin. Ngalahin gue, lu dan lu,” kata Indra sambil menunjuk pada Indra dan Anton.
Semuanya tergelak mendengar perkataan Agung.
“Ssssssst jangan berisik. Ketawanya pelan-palan aja,” kata Bramasta sambil melirik bed Adisti yang tertutup tirai.
“Ciyeeeee segitu care_peduli_nya,” Anton meledek.
“Gila, lama banget lu Ndra nungguin si Rita turun,” Hans mengomentari video rekaman.
“Tau tuh dia ngapain aja di atas. Cepetin aja, Ton. Gue aja tadi bete amat. Ngantuk lihat warna-warna soft kayak gitu..”
Anton mendekati laptopnya. Mempercepat gambar rekaman. Ada suara detak hak sepatu tapi tampak pada layar hanya jas-jas warna-warni permen karena Indra berdiri membelakangi Rita. Saat kamera menghadap Rita, suasana di sofa U menjadi meriah.
“Waaah.. cantiknya,” kata Pak Armand.
“Duh, bajunya..!”seru Hans, “Cat woman?”
“Bukan, penyanyi dangdut pantura,” jawab Indra.
“Kunang-kunang kesiangan,” kata Leon, “Biasanya dia pakai baju terbuka tapi karena sedang ada suaminya, dia memakai baju yang tertutup walaupun bagian dadanya terbuka seperti itu.”
“Kok Lu tau, Bang?” tanya Bramasta
“Kan Abang mencuri dengar obrolan saat rambut Abang dirapikan.”
“Memangnya suaminya cemburuan, Bang?” tanya Indra.
“Nggak. Suaminya sebelas dua belas kelakuannya dengan Rita. Abang yakin, suaminya mengamati layar CCTV di atas sana, mengamati semua kegiatan di area salon dan butik.”
“Jadi kenapa dia pakai baju seperti itu?”
“Buat menutupi bekas-bekas semalam. Rita itu seorang masokis, sepertinya mereka pasangan sadomasokis,” jawab Leon.
“Wah.. pasangan sakit jiwa ini mah,” kata Daddy.
Ruangan display baju The Ritz tempat Indra dan Rita mengobrol banyak dikelilingi cermin. Pantulan Indra dan Rita terlihat pada cerrmin.
“Ya ampun, Ndra.. ekspresi lu gitu amat…” komentar Anton sambil cekikikan diikuti cekikikan yang lainnya.
“Geli tau ditempel cewek kayak gitu. Mana bajunya melekat seperti kulit kedua tapi bagian dadanya tumpah-tumpah…”
“Deg-degan Lu, Ndra?” Hans menimpali.
“Yaiyalah…” sahut Indra. Gelak tawa memenuhi ruangan seakan lupa ada pasien yang sedang tidur di balik tirai.
“Ya ampun… itu yang tumpah-tumpah kayaknya nempel di kamera deh..”Agung menutupi wajahnya, layar TV dipenuhi penampakan bagian tubuh tumpah ruahnya Rita Gunaldi.
“Oh My God_Ya Tuhan_..... Ndraaaaaaa, lu diapain sih????” tanya Bramasta sambil memalingkan wajahnya dari layar TV.
“Kayaknya si Rita ini saingannya si Uget-uget, Bram,” jawab Indra, “Tapi dia lebih parah dari si Uget-uget, ini lebih tepat disebut ulat keket. Nempel terus, susah lepasnya. Itu pada saat pengukuran.”
“Kayaknya modus saat dia bilang asisten laki-lakinya gak masuk.”
“Cih, ini sih sudah termasuk pelecehan ya, Pak Armand?”
Pak Armand mengangguk tapi matanya tidak lepas dari layar TV, “Tapi kalau yang kayak gini dijadikan delik aduan, yang ada malah ditertawakan. Jarang ada kasus pelecehan sek*ual yang dilakukan wanita kepada pria yang dilaporkan.”
“Perhatikan hiasan dinding yang dipakai Rita untuk menghias interior ruangannya. Di dinding belakang meja kerjanya. Itu benar-benar logo Gianni Versace kan?” Anton mem-freeze video, “Terlalu mencolok kemiripannya. Sama dengan handle pintu masuknya.”
“Kita bisa menghubungi perwakilan Gianni Versace yang ada di Plaza Indonesia. Pasti bakal kena pasal nih The Ritz. Tuntutan pelanggaran merk dagang tidak akan main-main apalagi dari brand dunia,” kata Pak Armand.
“OK. Let’s do it_Baiklah. Ayo lakukan_!” kata Daddy.
Pak Armand mengangguk, “Kita lihat lagi rekaman dari Bang Leon.”
“Saya mencurigai The Ritz menjual barang-barang palsu, Pak Armand. Tidak semuanya palsu. Ada beberapa item yang palsu,” kata Leon, “Nanti kita lihat barang yang saya curigai palsu di rekaman video.”
Gambar pada layar TV berubah. Suasana ruangan di area salon lebih semarak daripada area butik yang cenderung sepi. Ada beberapa pelanggan pagi itu. Saat hair dresser memasangkan kain pelindung guntingan rambut, layar TV berubah krem semua. Tertutup oleh kain, sama sekali tidak dapat melihat apapun kecuali lampu-lampu yang mengelilingi cermin. Hanya suara yang terdengar jelas.
Mereka bersama-sama mendengarkan obrolan antara pekerja salon dan pemuda di sebelah Leon. Beberapa kali mereka ikut tertawa mendengar obrolan itu. Rambut Leon sudah selesai dirapikan. Kain pelindungnya sudah dibuka. Pria gemulai membersihkan sisa-sisa potongan rambut yang tertinggal pada tengkuk Leon dengan gaya yang gemulai.
“Abang kenapa ekspresinya seperti itu?” tanya Agung.
“Isssh, Abang takut dipegang-pegang oleh Martin alias Martina. Merinding..”
Semuanya tertawa mendengar jawaban polos Leon.
Kemudian adegan saat Leon berdiri dari kursinya lalu mengucap terimakasih dalam Bahasa Sunda, tawa mereka meledak bersama. Ekspresi Leon pantulan cermin saat itu terkejut sendiri dan sedikit panik.
“Tuh kan, sudah diingetin juga tadi pagi tentang kebiasaan suka keceplosan dan suka nimbrung kalau dengar orang ngomong pakai Bahasa Sunda..” Indra menepuk lengan Leon.
“Untung kamu bisa berimprovisasi,” kata Daddy sambil terkekeh.
Adegan berganti tempat di butik aksesoris fashion.
“Yang itu,” tunjuk Leon, “Ton, tolong di-freeze gambarnya.”
Anton sedikit memundurkan video. Lalu mem-freeze sebuah tas yang dimaksud Leon.
“Seminggu yang lalu saya membeli tas dari brand tersebut untuk Layla, new arrival autumn collection, modelnya mirip. Yang berbeda adalah koleksi warna untuk model tersebut hanya ada 3, beige, coklat kemerahan dan hitam. Sedangkan di The Ritz, model tersebut berwarna cerah seperti summer collection,” Leon menunjuk pada bagian depan tas, “Tas Layla saku depan tidak memakai risleting seperti tas yang ada di The Ritz tetapi kancing logam dengan emboss logo huruf di tengahnya.”
Hans membuka gawainya. Mengetik sesuatu pada gawainya lalu menunjukkan pada Leon foto tas, “Yang ini, Bang?”
“Iya yang itu. Hanya ada 3 warna saja kan untuk autumn tahun ini? Dan tidak mengeluarkan varian baru?”
Hans mengangguk, “Betul sekali.”
“Anton, nanti videonya dikirimkan ke saya ya,” kata Pak Armand.
Anton mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
“Oh, My…” suara Daddy terdengar sangat galau, “Rahasiakan ini dari Layla dan Mommy ya…”
Layar TV dipenuhi gambar anggota tubuh yang tumpah-tumpah.
“Lu dipepet juga, Bang?” Bramasta terkikik diikuti yang lainnya.
“Eh, apa itu?” Indra menunjuk pada layar TV.
“Jari telunjuk Rita sepertinya menempel di lensa kamera. Dia bermain-main di sana…” Leon berkata sambil menggigiti punggung telunjuknya.
“Ya ampun… Layla kasihan banget ya, suaminya dicolek-colek begitu,” kata Daddy.
“Kan yang penting sayanya gak tergoda, Dad. Insyaa Allah akan selalu setia dengan Layla. Dia cinta terbaik yang pernah saya miliki. Dia wanita terindah yang ada untuk saya. Dan dia ibu dari anak saya, Eric,” Leon menatap Daddy, “Alhamdulillah saya mendapatkan Layla.”
“Wow.. bule kalau bucin kata-katanya dahsyat ya,” Agung menimpali, “Jadi penasaran kisah cinta mereka seperti apa..”
“Panjang banget, Gung,” jawab Indra, “Banyak kelokannya. Ada tanjakan dan turunannya juga.”
“Setelah ini, Rita membongkar sendiri bisnis gelap dia dan suaminya,” Leon mengeluarkan 2 kartu nama yang diberikan Rita padanya tadi, “Bisnis prostitusi online dan juga kemungkinan suaminya terlibat dalam woman and children trafficking, perdagangan wanit dan anak-anak.”
Semua orang berseru mendengar penuturan Leon.
Hans mengangguk, “Kita punya bukti bahwa Rita mengelola bisnis prostitusi online dari Tuan Hilman Sanjaya. DRV CCTV area butik dirampas oleh orang-orangnya pada malam Keluarga Gumilar memutuskan pertunangan Adisti dengan Prasetyo.”
“Tapi mereka tetap saja menyalahkan Adisti hingga memutarbalikkan fakta untuk menuntut Adisti atas kerugian finansial untuk biaya resepsi yang dipotong denda pembatalan. Jahatnya,” suara Agung terdengar getir. Bramasta yang ada di sebelahnya menepuk-nepuk punggung Agung untuk menenangkan.
“Tuan Hilman malam ini akan mengujungi Bapak dan Ibu Gumilar untuk meminta maaf atas segala perbuatan istrinya. Juga pengkhianatan yang dilakukan oleh anaknya. Nanti Daddy akan mendampinginya karena dia merasa malu kepada Bapak dan Ibu Gumilar,” Daddy menjelaskan, “Hans sudah mengabari Bapak dan Ibu Gumilar kalau nanti kita akan ke rumah. Rencana pertemuan dengan Tuan Hilman jangan diberitahukan dulu, Gung. Khawatir Tuan Hilman mendadak membatalkannya atau khawatir dari awal ada penolakan dari Bapak dan Ibu Gumilar.”
Agung mengangguk, “Nanti saya akan mendampingi Ayah dan Bunda.”
“Kita berangkat bersama-sama saja setelah konferensi pers, ya,” kata Daddy.
“Anton tolong di-freeze gambar Ferdi Gunaldi yang melihat saya yang sudah ada di dalam mobil,” pinta Leon.
“Mon Dieu_Tuhanku_!” Leon berseru dalam Bahasa Perancis.
“Ada apa, Bang?”
“Aku baru ingat pernah melihat Ferdi Gunaldi dimana. Sepertinya dia buronan Interpol untuk kasus penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis di bawah umur di kawasan Central Region.”
“What???!”
Catatan Kecil:
Sadomasokis merupakan penyimpangan sek*ual, dibagi menjadi dua kata: sadisme dan masokis.
Sadisme adalah orang yang menerima rangsangan sek*ual dari memberi rasa sakit dan mendapatkan kepuasan setelah terlebih dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya.
Masokis adalah orang dengan penyimpangan sek*ual yang mana orang tersebut mencapai kepuasan sek*ualnya dari perilaku kekerasan. yang diterimanya oleh pasangannya.