CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 116 – RUANG TUNGGU ICCU



“Jadi ini arti rasa gelisah Disti siang tadi saat Kakak berpamitan,” isak Disti.


“Ssssh.. Kakak Ipar akan baik-baik saja, Sayang. Kakak Ipar laki-laki yang kuat,” Bramasta menenangkan istrinya.


“Siang tadi, sebelum kejadian, Agung menyelamatkan seorang gadis yang dibully dan dilecehkan oleh sekelompok berandalan,” kata Indra.


Para orangtua berseru terkejut di ruang tunggu ICCU. Mereka tengah berkumpul bersama di ruang tunggu ICCU.Pasca operasi, pasien tidak diperkenankan untuk mendapat kunjungan, apalagi memang saat itu sudah malam.



Anton menyodorkan laptopnya. Memutar video rekaman CCTV bagian belakang gedung gerai donat. Mereka geram sekali melihat adegan pada rekaman CCTV tersebut.


Anton mengarahkan kursor pada rekaman CCTV samping gedung. Para orangtua dibuat takjub dengan aksi tangan kosong Agung menghadapi keempat berandalan tersebut.


“Gadis itu bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Daddy.


Hans menjelaskan tentang gadis itu pada semua orangtua. Adisti juga turut menjelaskan bahwa sudah dua kali gadis tersebut ditolong oleh Agung.


“Kok kebetulan sekali ya?” gumam Pak Dhani.


“Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, Om. Semua sudah tertulis di Lauh Mahfudz,” kata Bramasta.


Ayah dan Daddy mengangguk setuju.


“Mungkin memang mereka terikat benang perjodohan,” ucap Mommy yang membuat Ayah dan Bunda melongo.


“Apa gak terlalu muda buat jodohnya Agung?” tanya Bunda sangsi.


Mommy tertawa, “Kalau sudah ketentuan Yang Kuasa, kita bisa apa?”


“Kan baru mungkin, Bu..” ucap Bu Dhani.


“Anak itu memanggil Kakak dengan sebutan Om,” ucap Adisti yang membuat semua jadi tertawa.


Ayah dan Bunda yang tadinya galau dan sedih dengan kejadian yang menimpa putra sulung mereka jadi tertawa. Bahkan Ayah menyusut air mata di sudut matanya akibat tertawa.


“Ndra, kamu bakal disalip lagi, kali ini oleh Agung?” Pak Dhani terkekeh memandang anak semata wayangnya.


“No way, Pa. Urutannya Indra duluan, baru Agung,” Indra berucap penuh percaya diri.


“Calonnya?” tanya Bu Dhani.


“Ada, Ma. Masih ngumpet, belum ketemu,” Indra memandang Mamanya sambil tersenyum lebar.


“Keep dreaming, Bro. As long as it’s free_Teruslah bermimpi, Bro. Selama masih gratis_,” kekeh Hans diikuti yang lainnya.


Seorang perawat menghampiri dengan takut-takut.


“Ma’af Bapak dan Ibu, dimohon untuk tetap menjaga ketenangan karena ini rumah sakit.”


“Oh iya, ma’af ya Suster..” sahut Adisti.


“Sssst kita terlalu berisik sampi ditegur perawat,” kata Bramasta kepada yang lainnya.


“Ya sudah, para orangtua dipersilahkan untuk makan malam dulu di bawah.Kita gantian saja. Kalau para orangtua sudah selesai makan malam, nanti giliran kita yang turun untuk makan malam dan para orangtua yang berjaga di sini,” Indra berkata sambil memandang pintu ICCU yang tertutup rapat, “Setelah makan, nanti baru kita rencanakan siapa yang stay untuk berjaga di rumah sakit.”


Semua mengangguk setuju. Indra dan Leon mengantar para orangtua ke lantai dasar untuk makan malam.


Untung saja di ruang tunggu ICCU tidak terlalu banyak keluarga pasien yang menunggui di luar ruangan.


“Bagaimana perkembangan The Ritz?” tanya Bramasta.


“Dunia medsos bergolak, netizen bergejolak. Mereka banyak mencari tahu tentang sepak terjang Tuan Thakur,” jawab Hans.


“Kenapa tidak kita beri saja apa yang diinginkan netizen?” Anton tersenyum lebar.


Bramasta ikut tersenyum lalu mengangguk setuju, “Prince Zuko lagi.”


Hans ikut mengangguk setuju, ia sedang melakukan vicall dengan istri dan Baby Andra. Saat berbicara dengan Baby Andra, ekspresi Hans berbeda 180°. Bahkan ia mengeluarkan suara-suara dan ekspresi lucu untuk membuat bayinya tergelak senang.


Hans tersadar tengah diperhatikan oleh Bramasta , Adisti dan Anton. Tapi dengan acuh dia melanjutkan lagi berbicara dengan Baby Andra.


“Kalian kalau sudah jadi orangtua dan punya bayi, pasti juga melakukan hal sama yang tadi gue lakukan. Trust me,” kata Hans ketika selesai melakukan vicall-nya.


“Istri Abang gak protes karena Abang sering pulang malam bahkan di hari libur seperti sekarang?” tanya Adisti


“Sebelum menikah, istri Abang sudah tahu siapa Abang. Jadi dia tahu konsekuensinya menjadi istri Abang,” kata Hans sambil menyimpan gawainya di saku jaket.


“Kasihan dong Bang... Peka sedikitlah ke istri..”


“Isssh Adisti Maharani mendadak kepo dengan rumah tangga gue, Bram..” Hans terkekeh.


“Jelasin Hans, daripada gue yang dikejar-kejar terus tentang istri lu. Ini kayaknya tentang ikatan yang terbentuk antara wanita, Hans, sebagai bentuk solidaritas istri..” Bramasta terkekeh.


“Dis, Abang gak dholimi istri Abang, suer. Istri Abang bahagia kok, terpuaskan bahagia lahir batin,” Hans memandang Anton yang memilih menjadi pendengar dan penyimak saja.


“Kata siapa? Kata Abang sendiri tuh pastinya..” Adisti mencibir pada Hans.


“Nggak,” Hans bersikeras, “Tanyain sendiri deh ke istri Abang.”


Hans mengeluarkan lagi gawainya lalu menekan tombol panggilan ke nomor istrinya.


“Assalamu’alaikum, Honey... Iya Bunny tahu..” Jeda.


Ketiganya yang mendengarkan terkikik tak tertahankan.


“Ya Allah... Honey Bunny... ciyus Bang?” Adisti mengelap ujung matanya yang basah oleh air mata tawanya.


Hans melirik kesal pada ketiganya.


“Tar Hon.. ni mau ngediamin yang rese dulu nih,” Hans sekarang memandang pada ketiganya, “Tiap pasangan boleh dong punya panggilan intim?”


“Boleh..” Anton mengangguk cepat sambil cekikikan.


“Boleh Bang. Te Ow Pe begete dah, Honey Bunny!”


“Isssh...kalian tuh ya!” Hans terlihat kesal.


Di gawainya terdengar suara tawa istrinya.


“Bang, Disti ngobrol sama istri Abang aja deh daripada geli begini..."


"Nih," Hans mengangsurkan gawainya.


"Assalamu'alaikum Mbak Hana.." sapa Adisti sambil menyalakan loudspeaker.


“Wa’alaikumussalam.. ih seru banget sih jahilin Papanya Andra..” istri Hans tertawa, “Disti, kondisi Agung bagaimana?”


“Sudah dibawa ke ICCU, Mbak. Kami gak ada yang boleh masuk, hanya bisa melihat dari jendela saja.”


“Tadi Papanya Andra cerita, Disti kepoin kami ya,” Hana tertawa, “Kepoin apa sih? Tentang jadwal Papanya Andra yang gak jelas?”


“Iya Mbak.. Mbak gak keberatan?”


“Nggaklah. Kan Mbak sudah tahu kehidupan Papanya Andra bagaimana, lagian kalau Papanya Andra di rumah, saya jadi gak bisa santai..”


Hans langsung mendongak menatap gawainya yang dipegang Adisti.


“Kenapa Mbak?” suara Adisti terdengar penasaran sekali.


“Sayanya digarap terus oleh Papanya Andra..” Hana terkekeh.


Anton yang sedang menenggak air mineral dari botolnya mendadak tersedak. Sementara Bramasta melongo memandang Adisti.


“Honey, would you please?” kata Hans sambil merebut gawai dari tangan Adisti yang sedang terkekeh.


“Pardon me, Bunny. Aku kelepasan ngomong tadi..” Hana terkikik.


Adisti langsung berdiri menghindari Hans yang akan merebut gawainya.


“Terus panggilan Bunny-nya sejarahnya bagaimana, Mbak?” kikik Adisti.


“Oh itu.. dia manis seperti kelinci, aktif banget seperti boneka kelinci dalam iklan baterai tahan lama, juga kulitnya lembut dan halus seperti kelinci..” Hana terkekeh.


“Honey...” Hans memanggil istrinya.


“Yes Bunny.. love you Bunny!” Hana terkekeh.


“Love you more, Honey..” Hans ikut terkekeh, “Udah ah. Dis, siniin handphone Abang.”


“Iya..iya.. Mbak, next time kalau Kuping Merah ngumpul, Mbak Hana ikut ya, supaya Disti ada temannya.”


“Insyaa Allah.. nanti kita ketemuan ya Disti. Bye..”


Adisti menyerahkan gawai Hans, “Ciyeeee yang hiperaktif, yang kulitnya sehalus kelinci...”


“Jelas dong!” Hans tersenyum lebar.


“Eh, ngomong-ngomong saat kita ngobrol di sini kok berasa ada yang mengawasi ya?” Adisti melipat kakinya ke atas kursi.


“CCTV?”


Adisti menggeleng.


“Security atau perawat?”


Adisti menggeleng lagi.


“Terus siapa dong?”


Adisti mengangkat bahu hanya melihat sekeliling ruangan sambil memicingkan mata.


“Ah Dis, plis deh jangan mulai horor begitu..” Anton menaikkan kerah jaketnya.


“Gak Hyung.. bukan horor,” Adisti, “Ah susah jelasinnya.”


“Udah sini duduk dekat Abang,” Bramasta menarik lengan istrinya agar merapat di sebelahnya.


“Kita ketinggalan berita seru apa nih?” suara Leon yang beraksen Perancis mengagetkan mereka.


“Dari jauh kalian tuh ya seperti bukan menunggui orang yang sedang sakit deh,” Indra menjatuhkan tubuhnya yang besar ke sofa ruang tunggu.


“Kalian ketingggalan cerita tentang Honey Bunny,” Adisti terkekeh.


“What??”


“Cerita apaan tuh?”


“Ma’af gak ada siaran ulang,” Bramasta terkekeh.


“Awas loh kalau ada yang cerita Honey Bunny ke Indra ataupun Leon,” ancam Hans sambil memasukkan gawainya lagi ke saku jaket.


“Gue jadi curiga nih,” Leon memandang Hans.


“Ton, nanti ya..” kata Indra.


Anton menanggapi dengan tertawa.


.


***


Gak nyangka Hans, ketua Shadow Team, di rumahnya selembut kelinci. Honey Bunny? Author aja ngetiknya sampai geli sendiri 🤣🤣


*Foto comot dari Gugel, waiting room ICU-nya Mount Elizabeth Hospital.