
Agung terperanjat.
“Subhanallah. Astaghfirullahal adziim.”
Adinda memegangi cangkirnya dengan erat. Kepalanya semakin ditundukkan.
“Are you OK?” Agung berusaha keras untuk tidak menyentuh tangan gadis itu.
Adinda mengangguk cepat sambil mengelap pipinya dengan kedua punggung tangannya.
“Siapa yang melecehkan kamu?”
“Keempatnya.”
“Damn!”
Agung terdiam.
“Apa yang diperbuat mereka?”
“Mereka memegang-megang tubuh saya,” Adinda berbisik tetapi Agung bisa mendengar apa yang dibisikkannya, “Dan ada yang berusaha mencium saya.”
“Ma’af saya menanyakannya pada kamu.”
Adinda mengangguk.
“Tubuh kamu, apakah ada yang terluka?” Agung menatap Adinda dengan khawatir.
Adinda menggeleng.
Lalu mereka terdiam cukup lama, Adinda sibuk dengan pikirannya sendiri sedangkan Agung mengetik chat di WAG Kuping Merah.
Agung tahu, dia tidak boleh bertanya lagi tentang pelecehan yang dialami Adinda. Karena Adinda pasti merasa tidak nyaman untuk membicarakannya.
“Dimakan kuenya,” Agung menyodorkan kedua piring ke arah Adinda, “Pilih yang mana? Pie apel atau donat keju?”
Adinda diam termangu sambil menatap kedua piring itu bergantian.
“Bingung? Ya sudah kita saling berbagi kue ya. Masing-masing setengahnya. Jadi kita bisa mencicipi dua macam kue sekaligus.”
Adinda menatap Agung dengan heran. Lalu bibirnya tersenyum.
Jujur, Agung terkesima dengan senyum Adinda. Setelah melihatnya gemetaran, setelah melihatnya ketakutan, setelah melihatnya menangis, Adinda tampak luar biasa dengan senyumnya.
Tapi saat Agung berusaha mengiris pie apel, tangannya terasa nyeri. Dia mengernyit kesakitan.
“Om, kenapa?”
Agung tidak menjawab. Dia membuka jaket kulitnya. Lalu memeriksa lengan bawah kanannya. Ada bilur berwarna merah kehitaman berbentuk garis diagonal pada kulitnya yang terang. Tampak bengkak pada bagian yang bergaris.
“Ya Allah.. Om..”
Adinda bergegas ke meja pemesanan, meminta sepotong es batu dan kantung plastik kecil. Lalu duduk di samping Agung.
Meraih lengan bawah Agung yang terluka, memeriksanya lalu menempelkan plastik berisi es batu pada memar lengan bawahnya.
“Ini untuk meredakan nyeri dan juga untuk mengurangi bengkak,” kata Adinda sambil terus memegangi lengan bawah Agung.
Tengkuk Agung merinding, entah akibat sentuhan es batu ataukah akibat sentuhan tangan Adinda. Mendadak leher Agung terasa tercekat.
“Ehm!” Agung berdehem untuk menghilangkan serak yang tiba-tiba muncul, “Kamu jangan memegangi tangan saya.”
“Kenapa? Om khawatir saya mengobati Om dengan asal-asalan? Jangan khawatir, Om. Saya mengambil ekskul PMR sejak SMP.”
“Bukan itu. Saya percaya dengan kemampuan P3K kamu.”
“Terus kenapa?”
“Karena kamu bukan mahram saya.”
“Lah, hubungan kita ini sekarang antara tenaga medis dan pasien. Saya mengobati tangan Om yang cedera, itu sebabnya saya memegang tangan Om.”
“Ya sudah, saya pegangi sendiri saja.”
“Terserah deh.”
“Kamu duduk lagi di tempat kamu ya.”
Adinda mencebik sambil berpindah tempat duduk. Sekarang dia duduk di depan Agung.
Agung tersenyum sambil menyorongkan kedua piring kue.
“Tolong potongkan kuenya.”
Adinda mengangguk. Dia mengiris dengan cekatan. Lalu memindahkan setengah bagian kue pada piring yang berbeda. Dia menyodorkan satu piring pada Agung.
“Silahkan, Om..”
“Terima kasih.”
Saat Agung hendak mengambil sepotong donat keju dengan tangannya, Adinda menepak punggung tangannya.
“Jorok. Cuci tangan dulu!”
Agung melongo.
“Habis mukulin berandalan, cuci tangan dulu. Jangan langsung pegang makanan. Kotor.”
[Setdah! Gini amat sih cewek. Untung cakep!] Agung menurut. Dia berjalan ke arah washtafel.
Saat kembali ke mejanya, dia menunjukkan kedua tangannya pada Adinda.
“Sudah bersih dan kering ya.”
Adinda tertawa lepas dengan tingkah Agung.
Baru kali ini Agung melihat Adinda tertawa. Saat tertawa, ada dua dekik kecil di bawah ekor matanya. Imut, menggemaskan dan cantik.
Diam-diam Agung mengambil fotonya dengan berpura-pura mengetik chat.
“Umur kamu berapa?”
“Baru 17 tahun bulan lalu, Om.”
“Kamu kelas 3 sekarang?”
“Kelas 12, Om.”
“Iya.. maksud saya juga seperti itu. Jaman saya, gak ada kelas 12, adanya kelas 3 SMA.”
Adinda mengangguk.
“Om umurnya berapa?”
“32 tahun.”
“Udah tua ya.”
DEG!
Agung yang tengah meminum coklat panasnya mendadak tersedak.
“Pelan-pelan, Om.”
“Menurut kamu, saya sudah tua?”
“Kalau secara umur sih iya, Om.”
[Setdah! Ini bocah kok jujurnya pakai banget sih?!] Agung mendengus.
“Outlook saya?”
“Looking good, Om. Handsome. Charming,” Adinda memiringkan wajahnya saat mengamati wajah Agung.
“Kalau itu saya sudah tahu. Karena saya looking good sejak masih dalam perut ibu saya.”
Adinda tampak terperangah. Lalu terkekeh pelan.
“Yang saya maksudkan, penampilan saya apakah tampak tua seperti Om Om?”
“Nggak Om. Om keren kok.”
“Terus kenapa kamu manggil saya Om?”
Adinda terdiam. Lalu mengangkat kedua bahunya.
“Karena saat kita pertama kali bertemu, Om galak banget.”
“Kamu juga galak. Tapi saya gak manggil kamu tante kan?”
“Kan waktu itu saya pakai seragam SMA, Om. Masa dipanggil tante? Yang benar saja."
"Berhenti panggil saya Om.”
“Kenapa?”
“Sudah pewe, Om.”
Agung memutar matanya. Speechless menghadapi gadis di hadapannya.
“Rencananya kamu mau melanjutkan kemana setelah lulus nanti?”
“Setelah Papa nggak ada, saya tidak tahu harus melanjutkan kemana.”
Agung mengernyit.
“Kenapa?”
Adinda tidak menjawab. Dia menghela nafas panjang.
Agung bisa melihat gurat kesedihan di mata coklat gadis itu.
“Kita bicarakan hal lain saja, Om.”
“Kenapa?”
“Belum 7 hari kepergian Papa, tapi sudah sekacau ini..” gumam Adinda dengan mata menerawang sedih.
“Ada apa?”
Adinda menggeleng.
“Ceritakan saja, siapa tahu saya bisa bantu kamu.”
“Om sudah banyak membantu saya. Saya tidak mau hutang budi saya bertambah banyak pada Om.”
Agung menghela nafas panjang menatap Adinda.
“Semua hal yang telah saya lakukan pada kamu itu biiznnillah. Atas ijin Allah. Saya ikhlas membantu kamu. Saya tidak berharap apapun dari kamu.”
Adinda terdiam menatap Agung.
“Saya pinjam handphone kamu.”
Terdengar seperti perintah. Dan Agung sedang tidak ingin didebat.
Adinda merogoh saku sweaternya. Lalu menyodorkan gawainya.
“Buka kuncinya.”
Adinda membuka kunci tampilan layarnya.
Agung membuat panggilan misscall ke nomornya dengan menggunakan gawai Adinda. Kemudian menyodorkan gawainya kembali pada pemiliknya.
“Save nomor saya ya.”
Adinda mengangguk.
“Tadi katanya kamu ke toko buku. Ada yang kamu beli?”
Adinda mengangguk.
“Buku latihan soal.”
“Bukunya mana?”
“Dilempar mereka entah kemana.”
“Kurangajar betul mereka!” Agung berkata dengan geram, “Mau saya antar ke toko buku untuk beli lagi?”
Adinda menggeleng.
“Nggak, Om. Terima kasih. Nanti saya belajar latihan soal yang ada di internet saja. Lagipula saya harus pulang. Sudah terlalu lama saya pergi.”
“Saya antar kamu pulang ya?”
“Jangan, Om. Plis jangan ke rumah saya saat ini. Saya tidak mau timbul masalah lagi.”
Agung mengernyit menatap tidak mengerti pada Adinda.
“Tempo hari saat saya mengantar kamu, apakah kamu mendapat masalah karena itu?”
Adinda menggeleng.
“Saat itu, suasananya sedang sibuk jadi tidak ada yang memperhatikan saya diantar siapa. Tapi saat ini berbeda.”
“Sebenarnya ada apa?”
“Om, saya ada permintaan pada Om.”
Agung mengangguk.
“Katakan saja. Kalau saya bisa membantu, akan saya bantu kamu.”
“Terkait peristiwa tadi, tolong jangan sampai Ibu mengetahuinya.”
Agung menatap Adinda lama, berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi melalui matanya. Tapi Adinda menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Agung.
Akhirnya Agung mengangguk, “Insyaa Allah akan saya usahakan keluarga kamu tidak mengetahuinya."
"Saya tidak punya keluarga lagi, Om. Keluarga saya satu-satunya hanyalah Papa. Tidak ada sepupu, paman, bibi ataupun uwak.”
“Ibu kamu?”
“Yang tadi saya sebut Ibu adalah wanita yang kebetulan Papa nikahi karena kasihan tapi memanfaatkan rasa kasihan Papa. Mama saya meninggal saat melahirkan saya.”
Agung menaikkan kedua alisnya. Menatap gadis yang ternyata yatim piatu di hadapannya.
“Om jangan menatap saya seperti itu. Saya tidak perlu dikasihani, Om. Insyaa Allah, saya kuat.”
Agung mengangguk.
“Allah tidak akan membebani seorang hambanya dengan beban yang tudak mampu ia tanggung,” Adinda berkata dengan mata berkabut, “Saya yakin, janji Allah itu pasti. Mungkin dengan melalui ini saya bisa menjadi sosok yang lebih baik, yang bisa membanggakan Papa dan Mama walau sudah beda alam dengan saya.”
Hati Agung mencelos. Rasanya seperti tiba-tiba menuruni turunan curam dalam kecepatan tinggi.
Ada jiwa dewasa dan jiwa pejuang dalam diri seorang gadis 17 tahun.
“Kamu tidak akan berjuang sendiri. Semoga Allah melindungi kamu dan mengumpulkan kamu dengan orang-orang baik.”
“Aamiin Yaa Robbal’aalamiin.”
“Saya pesankan taksi online ya untuk kamu. Nanti saya yang bayar.”
Adinda mengangguk.
“Terimakasih banyak Om sudah bantu saya lagi.”
“Sama-sama..”
Agung bangkit menuju meja pemesanan. Memesan beberapa donat dan croissant untuk dibawa pulang Adinda dan segelas es cola.
“Bawa ini ya.”
“Wah.. banyak banget Om.”
Taksi oline yang dipesan sudah datang. Agung ikut mengantar Adinda hingga di depan pintu penumpangnya.
“Hubungi saya kalau ada apa-apa. Juga kalau mereka masih mengincar kamu untuk dibully, beritahu saya.”
Mata Adinda mengembun saat memandangi Agung.
“Om, kalau Om jadi Om betulan saya kita jadi mahram tidak? Jadi supaya saya bisa peluk Om.”
Agung kaget dengan pertanyaan Adinda. Bahkan driver ikut menoleh pada mereka.
“Gak bisa.”
“Terus, bagaimana supaya saya bisa jadi mahramnya Om?”
“Jadi istri saya. Mau?”
“Eh?” Adinda termangu.
“Ini untuk bayar taksinya ya,” Agung menyelipkan beberapa lembar uang merah ke dalam saku sweater hoodie milik Adinda.
“Kalau sudah sampai, hubungi saya ya. Pak Supir, tolong antarkan Nona Cerewet ini ke rumahnya dengan selamat ya.”
Agung menutup pintu lalu melambai ke arah Adinda yang masih termangu. Mobil melaju meningalkan pelataran parkir gerai donat.
.
***
Om Agung ...!
🤣🤣🤣