CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 161 – KONEKSI YANG KUAT



“Semudah itu bertemu menteri?” tanya Agung.


“Tidak akan mudah sebagai rakyat jelata. Kita pakai jalur khusus. Nama Tuan Sanjaya sangat sakti dipakai di beberapa negara.”


“Issh, apaan sih Lu, Hans? “ Bramasta berdecak.


“Apa gue harus ngomong juga ke Dubes Jerman untuk negara kita?” tanya Indra tiba-tiba.


“Memang Lu kenal, Ndra?” Hans menoleh pada Indra.


Indra menyengir lalu menunjukkan layar gawainya di aplikasi pesan chat.


“Baru 2 hari yang lalu kami bertukar kabar. Kenal secara personal. Gue pernah nolongin anak perempuannya sewaktu di Hamburg. Anaknya diserang, kebetulan gue di sana. Jadi ya gitu deh.. Temenan.”


“Temenan dengan calon bapak mertua, Ndra?” Bramasta menggoda Indra.


“Ma’af, gue sukanya selera nusantara,” Indra ikut berdiri lalu menggiring semuanya ke arah lobby rumah sakit tempat gerai-gerai makanan berada.


Semuanya mengikuti giringan Indra.


“Mau sarapan apa?” tanya Bramasta.


“Sebenarnya sih Ayah dan Bunda dari kemarin ingin sarapan kupat tahu Gempol..” kata Ayah dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Ya sudah, kita beli kupat tahu Gempol. Biar driver saja yang membelinya,” Bramasta mengirimkan pesan chat kepada driver.


“Terus kita makannya di mana?” tanya Agung.


“Di atas saja, di kamar Lu, Gung. Gue udah atur Adinda untuk dirawat di kamar Lu. Dia gak punya siapa-siapa. Dalam kondisi seperti ini, dia hanya mengenali Lu dan Bunda saja.”


Agung menatap penuh terimakasih dan haru pada Indra.


“Hey.. don’t mention it, K. We are family,” Indra menepuk punggung kiri Agung yang membuat Agung berjengit dan mengaduh lirih.


“Eh..eh.. sorry.. gue lupa. Luka tembaknya di situ ya?”


“Kebiasaan..” gumam Bramasta.


“Halaagh.. Lu juga kemarin gebuk bekas operasinya Agung sampai bikin Adisti meradang,” kekeh Hans.


Ayah menatap Agung sambil menyengir.


Seorang pengawal mendekati Bramasta sebelum mereka memasuki lift VIP. Bramasta berbicara dengan perlahan lalu mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dompetnya.


“Beli sekalian untuk kalian dan driver, ya.”


Pengawal tersebut mengangguk.


Gawai Bramasta berbunyi notifikasi pesan chat.


Adisti_Sayang, kita udah mau ke ruang rawat inap. Kata perawat, ruang rawat inapnya disatukan dengan ruangan Kakak_


Bramasta_OK. Abang dan yang lainnya sedang di lift sekarang. Love you_


Adisti_Love you too, Pak Suami_


Bramasta_Gak lihat Buk Istri beberapa jam kok rasanya jadi pengen ngajak gabruk-gabrukan, ya_


Adisti_(Emot ngakak)_


***


Mereka sedang duduk-duduk di sofa L saat bed dengan Adinda tertidur di atasnya didorong masuk oleh seorang suster dibantu dengan perawat pria.


Mereka menghentikan obrolannya. Bed Agung digeser ke dekat jendela oleh perawat pria. Tirai pembatas dipasang.


Ayah dan Agung menghampiri perawat.


“Bagaimana kondisi Adinda?” tanya Ayah.


“Masih dalam trauma berat. Hasil CT Scan kepalanya bagus, tidak ada trauma pada kepala yang menghambat sensor motorik ataupun daya ingatnya,” Perawat Pria yang bernama Agus menjelaskan.


“Untuk selanjutnya, Pasien Adinda akan berada dalam perawatan psikiater dan spesialis saraf,” Perawat Agus menjelaskan lagi sambil tersenyum.


Suster memasangkan selang oksigen pada hidung Adinda. Dia juga memeriksa cairan infus yang digantungkan di hanger sebelah kanan.


Ayah dan Agung mengangguk.


“Tuan Agung, saya cek dulu kondisi Tuan ya. Pasca petualangan Anda subuh tadi, kami harap luka-luka di tubuh Tuan Agung baik-baik saja,” Suster mendekati bed Agung.


Agung menaiki bed-nya untuk diperiksa. Tidak ada hal yang harus dikhawatirkan. Bahkan luka bekas operasinya baik-baik saja. Hanya tekanan darahnya saja yang terlalu rendah.


“Harus banyak istirahat dulu ya. Jangan melakukan aktifitas fisik yang berat dulu ya, Tuan Agung.”


Agung mengangguk.


“Kira-kira berapa lama proses kesembuhan Adinda?” tanya Agung.


Perawat Agus menggeleng dan tersenyum, “Kita tidak tahu pasti, Tuan Agung. Semoga kesembuhan Pasien Adinda sama dengan Anda, penuh keajaiban. Ada tangan Yang Maha Berkehendak yang bekerja.”


Ayah dan Agung mengaminkan do’a Perawat Agus.


“Kami semua turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Pasien Adinda. Semoga Allah menguatkan dan memberi kesabaran yang luas kepadanya,” Suster tersebut tersenyum menatap Ayah dan Agung.


Ayah dan Agung mengaminkan kembali do’a suster tersebut.


“Kami pamit dulu. Ini hasil visum et repertum Pasien Adinda untuk keperluan laporan dan penyidikan Polisi,” Suster memberikan map dengan kop dan logo rumah sakit yang bertuliskan VeR.


“Suster, saya minta surat keterangan sakit dan tengah dirawat di rumah sakit untuk Adinda ya,” kata Agung yang baru saja teringat hari ini Adinda ada ujian praktek olahraga.


“Baik, kalau sudah siap nanti kami kabari dan bisa diambil di ruang perawat.”


Agung mengangguk lalu mengucapkan terima kasih.


Ayah kembali ke sofa L. Bunda dan Adisti tengah menceritakan apa saja yang terjadi di ruang UGD tadi.


Sementara Agung masih di atas bed-nya, membaca hasil visum rumah sakit. Dia meremas geram selimut yang menutupi bednya. Walau begitu, dia bersyukur tidak ada kekerasan pada organ sek su al yang dialami oleh Adinda.


Memar pada pipi kanan akibat tamparan (Agung teringat Ibu Tiri Adinda menampar dengan kuat saat di depan pintu kamar Adinda). Juga terdapat pendarahan pada sudut mata kanannya akibat pukulan benda tumpul.


Memar pada punggung samping kanan, rata memanjang ke bawah 30 cm dan lebar 10 cm, akibat benturan, dari bentuk trauma memar kemungkinan benturan dengan tembok.


Memar berbentuk lingkaran berdiameter 1,5 cm, kemungkinan terantuk sudut meja.


Memar di area pa yu da ra kanan akibat rema san tangan. Memar di kedua paha belakang bagian atas yang membentuk jari, dipastiikan karena rema san tangan juga.


“Astaghfirullahal adzhiim...” Agung menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai terisak lirih.


Adindanya yang cerewet galak dan berani membantahnya tiba-tiba harus mengalami kejadian yang seperti ini. Hidupnya dipenuhi tragedi.


Semuanya terdiam saat Bunda menyenggol lengan Ayah. Ayah bangkit menghampiri Agung.


“Kakak..” Ayah memeluk Agung yang terisak. Map yang berisi hasil visum terjatuh di atas bed.


Ayah mengambilnya lalu membaca cepat. Kemudian beristighfar. Pelukannya semakin erat pada anak sulungnya.


“Kita bantu Adinda untuk pulih lagi, OK?” Ayah menyemangati Agung.


“Kakak merasa bersalah pada Adinda. Merasa bersalah juga pada kedua orangtuanya yang mempercayakan Adinda pada Kakak,” Agung mengelap kasar pipinya yang basah.


“Ini semua qodarullah. Tindakan Kakak dan tangguhnya Adinda akan menolong banyak korban woman trafficking oleh teman pria si ibu tirinya Adinda dan dari keganasan si Bryan itu.”


“Tapi Adinda harus berkorban banyak, Yah. Hari ini dia ada ujian praktek olahraga. Hari berikutnya ujian praktek lainnya.”


“Untuk masalah sekolah Adinda, biarkan Ayah yang akan berbicara dengan pihak sekolah. Ayah kenal dengan kepala sekolah dan ketua yayasan sekolah. Ayah juga kenal baik dengan beberapa pejabat Diknas. Jangan khawatir, Kak.”


.


***


Catatan Kecil:


Visum et Repertum (VeR) adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas permintaan tertulis penyidik tentang pemeriksaan medis terhadap manusia baik hidup ataupun mati.


VeR untuk manusia hidup dilakukan untuk korban penganiayaan, korban kejahatan susila atau korban psikiatri.


***