
Bramasta memperhatikan Adisti yang tengah bercerita tentang jalannya persidangan sambil tersenyum. Tubuhnya terbaring di sofa bersandarkan pada sandaran tangannya sedangkan kakinya ada di pangkuan istrinya.
“Ngapain senyum-senyum mulu?” Adisti mencubit punggung kaki suaminya dengan gemas membuat Bramasta menjengit. Lalu tangannya kembali memijat lagi.
“Pijatan Buk Istri enak banget. Jadi rasanya begini punya istri tuh. Enak banget ya.. Nyesel gak nikah dari dulu-dulu..”
PLAKKK.
Adisti menepak telapak kaki suaminya.
“Kalau ngomong tuh yang bener dong. Kalau Abang nikahnya dari dulu-dulu, Abang gak akan nikah sama Disti. Belum tentu istri Abang tuh mau mijitin Abang seperti Disti..”
“Eh, maksud Abang, kita ketemuan dari dulu-dulu terus nikah... Abang maunya nikah sama Adisti Maharani putrinya Bapak Gumilar. Gak mau sama yang lainnya...” Bramasta tersenyum lagi memandangi istrinya.
“Mau menyalahkan takdir?”
“Ngga.. hanya berandai-andai saja..”
“Gak boleh berandai-andai juga. Syukuri apa yang ada dan apa yang sudah terjadi.”
“Kisah kita seru ya..” Bramasta bergeser karena Adisti ikut merebahkan diri di sampingnya.
“Hu um...” Adisti memeluk lengan suaminya.
“Kayaknya kalau dijadikan layar lebar bakalan seru..” Bramasta meletakkan tangan satunya yang bebas di keningnya.
“Heh?” Adisti menoleh cepat, “Siapa produsernya?”
“Abanglah...” Bramasta tersenyum lebar.
“Cih.. pede amat..” Adisti terkikik geli.
“Narsistik,” Bramasta terbahak, “Memalukan..”
“Alhamdulillah.. Pak Suami masih sadar diri..”
“Dih!” gantian Bramasta yang menoleh ke arah Adisti.
“Bang, nanti malam gantian ya..”
“Apaan?” Bramasta melirik jam dinding, 5 menit menjelang jam kantor berakhir.
“Pijatin kaki Disti..”
Bramasta tertawa, “Siaaap Buk Istri..”
“Maacih Pak Suami...”
“Siap-siap ke The Cliff sekarang. Abang juga mau siap-siap ke markas The Shadow. Beneran nih gak apa-apa Disti ke The Cliff gak bareng Abang?”
‘’Disti ke sana kan ditemani stafnya Bang Indra, Teh Dewi,” Adisti melepaskan cincin nikah lalu menempatkannya di box beludru kecil. Sudah ada kalung berliontin sebutir berlian di dalamnya. Lalu menyerahkannya pada suaminya.
“Rasanya aneh melihat jari manis Disti gak pakai cincin dari Abang..” Bramasta memperhatikan jari manis Adisti.
“Disti juga aneh bepergian tanpa Abang dan tanpa cincin itu..”
Bramasta berdiri lalu memeluk istrinya. Mengecup puncak kepalanya yang berbalut hijab baby pink.
“I love you.. Hati-hati di jalan ya. Jangan menghilang dari pantauan pengawal. Jangan lihatin cowok-cowok ganteng yang ada di The Cliff..”
“Sampai segitunya banget sih..” Adisti terkekeh geli, “Love you too, Pak Suami. Langsung pulang ya sepulangnya dari markas. Gak enak di apartemen sendirian..”
“Insyaa Allah. Mau dibawain apa?”
“Bawain cinta yang banyak, Bang..”
Mereka berdua turun bersama menuju teras lobby. Dua buah mobil jenis sedan sudah menunggu mereka. Adisti pamit dan salim pada Bramasta. Bramasta memberi pelukan yang lama, membuat Adisti harus berbisik mengingatkan karena banyak karyawan yang menonton mereka.
Adisti menuju mobil BMW merah marun sedangkan Bramasta menuju mobil Lexus silver. Fortuner hitam berada di depan BMW marun, bertugas mengawal dan membuka jalan. Sedangkan Lexus silver dikawal dari belakang oleh Fortuner hitam.
Saat Bramasta tiba di Markas Shadow Team, Anton sudah ada di salah satu meja. Dia sedang memperhatikan anggota Shadow Team dengan jewelry loupe** terpasang di matanya memasang alat pelacak pada sebuah cincin.
(Pict from CanStock Photos)
“Assalamu’alaikum.. Cincin siapa, Ton?”
“Wa’alaikumussalam.. punyanya Bang Hans dan Mbak Hana..” Anton memperlihatkan layar laptopnya pada Bramasta.
Loupe yang terpasang terhubung dengan laptop, ada kamera kecil pada loupe-nya.
“Wah.. Sedetil itu.. Alatnya kecil banget Ton..”
“Saking kecilnya sampai gak kelihatan ya Bang. Hanya terlihat seperti goresan.”
“Terus nanti di lem?” Bramasta menunjuk pada lem bening di dalam tube.
“Kita sembunyikan di lekukan nomor perhiasan. Umumnya setiap perhiasan yang bagus itu ada nomor yang terpatri pada bagian dalam cincin. Seperti kode dari pembuatnya. Baru kita lem..”
“Ah ya.. Supaya alatnya juga terlindungi dari gesekan kulit juga ya makanya disisipkan di lekukan kode cincinnya,” Bramasta menunjuk pada sejumlah nomor di belakang cincin milik Hans yang terpampang pada layar laptop.
“Punya Bang Bram dan Disti?” Anton memandang pada Bramasta.
Bramasta menyerahkan kotak perhiasan dari Adisti. Lalu melepas cincin nikahnya dan memasukkannya ke dalam kotak beludru.
Dia juga melepaskan ikat pinggang yang sedang dikenakannya. Menggulung beltnya lalu meletakkannya di atas meja.
Anton tersenyum lebar menatap gesper dengan logo brand dunia.
“Wow! Berapa har...”
“Don’t ask.._Jangan tanya.._” Bramasta menyengir.
“Sudah dimulai nih?” Indra datang sambil menenteng paper bag kecil, “Assalamu’alaikum semuanya..”
Semuanya menjawab salam Indra.
“Babeh gak bisa datang. Masih meeting di bank,” mata Indra mengamati layar laptop.
“Itu apa?” Bramasta menunjuk paper bag yang dibawa Indra.
“Cincin nikahnya Babeh dan MakNyak.”
“Antri ya..” Anton terkekeh. Dia membuat label dari kertas lalu menuliskan nama dan menempelkannya pada barang-barang yang dibawa mereka.
Suara Agung terdengar mengucap salam. Tangannya kerepotan membawa kotak besar.
Indra bergegas membantunya.
“Ini yang Lu mau pasang pelacak? Barang apaan sih?”
Agung tergelak, “Bukan... Itu kue buatan Dinda. Saat tahu sore ini gue mau rapat dengan abang-abangnya, dia langsung ngotot mau bikin kue untuk kita semua..”
“Weisszzz, adik kita yang satu itu memang manis banget ya..” Indra terkekeh senang.
Bramasta mengambil gawainya lalu menghubungi Leon.
“Assalamu’alaikum Bang. Dimana?” Jeda.
“Lanjut lagi aja landing di Juanda, Bang. Gak bisa Abang pakai mobil dari Bandara Halim ke Bandung pakai mobil. Gak akan keburu, Bang. Belum lagi macetnya.” Jeda.
“Pakai heli saja. Bentar..” Bramasta menjauhkan gawainya.
Lalu mencari Indra.
“Ndra, heli kita masih di Jakarta? Minta pilotnya jemput Bang Leon di Halim.”
“Nanti gue cek dulu..” Indra mengambil gawainya dan mulai membuat panggilan. Kemudian tidak berapa lama mengacungkan jempolnya ke arah Bramasta.
“Halo, Bang Leon, tunggu saja di tempat heli ya, seperti biasa. Ijin landing dan take off sedang diurus..” Bramasta memandang ke arah Indra lagi yang memberi kode OK dengan jemarinya.
“Sudah OK semua Bang. Tunggu saja di sana. Landing di helipad Sanjaya Group. Lebih dekat ke sini daripada landing di B Group.” Jeda.
“Bandung cerah berawan. Be safe ya. Fii amanillah. Assalamu’alaikum ..” Bramasta mengakhiri panggilannya.
“Hans mana?” Bramasta menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok Hans.
“Bang Hans ada di ruang lab. Pita rekaman CCTVnya sudah lengket, entah bisa diselamatkan atau tidak..” Anton menunjuk ruangan yang tertutup.
Indra tampak terpukul mendengar keterangan Anton.
“Wah.. bukti yang bisa menjebloskan Bryan dan Helena sia-sia dong..”
Agung menepuk punggung Indra.
“Calm down, Bro. Berdo’a saja semoga masih banyak bagian yang bisa diselamatkan.”
“Kelemahan rekaman dalam bentuk pita ya seperti itu, tidak bisa disimpan dalam waktu lama apalagi bila penyimpanannya tidak memperhatikan suhu, kelembaban dan cahaya..” Anton menjelaskan sambil terus memerhatikan layar laptop.
“Cara memperbaikinya bagaimana?” Bramasta menarik kursi di sebelah Anton.
“Gue juga kurang begitu mengerti, Bang. Tapi yang jelas pakai cairan kimia untuk melepas pita yang saling menempel tanpa merusak gambarnya. Too bad, gue gak tertarik dengan pelajaran kimia sewaktu SMA dulu,” Anton terkekeh sambil menatap Bramasta.
Agung menyerahkan kota perhiasan beludru berwarna krem di meja. Bramasta membukanya.
“Wow! Sudah jadi cincinnya.. Ini kalian berdua yang milih?”
Agung menggeleng.
“Gue yang milih, Bang. Ini surprise buat Dinda. Soalnya saat ditanya jawabnya terserah mulu..”
“Jawaban yang bikin puyeng dari kaum hawa adalah kata “terserah”. Asli deh puyeng..” suara Hans terdengar mendekati mereka.
Semua menoleh pada Hans.
“Bagaimana?” Anton dan Bramasta bertanya serempak.
“Baru 30% adegan awal yang bisa diselamatkan. Pitanya masih direndam cairan kimia untuk bisa terurai. Gue baru lihat adegan 30% awal saja sudah merinding.. Ndra, coba hubungi Babeh untuk menanyakan ke Lothar, kedua gadis remaja dalam video itu selamat atau tidak?”
Indra mengambil kursi lalu duduk sambil menyilangkan kakinya.
“Kata Lothar, keduanya berakhir di rumah sakit. Gadis yang digarap Helena mengalami pergeseran rahang bawah juga retak pergelangan tangan kanannya. Sedangkan gadis yang digarap Bryan, mengalami luka robek yang parah pada area genitalnya..”
“Innalillaahi..”
“Na’udzbillah mindzaalik.”
“Bedebah betul mereka.”
“Tidak ada tuntutan terhadap para pelaku?” Anton meringis ngeri.
Indra menggeleng, “Mereka menutupinya dengan uang yang banyak kepada pemilik nightclub. Pemilik nightclub mengancam para gadis itu dan keluarganya. Lothar yang membawa kedua gadis itu ke rumah sakit dibantu dengan petugas penjaga pintu belakang nightclub.”
“Sekarang, mereka masih hidup?”
Indra mengangguk, “Gadis yang dilukai Helena menikah dengan petani setempat, sedangkan gadis yang dicederai Bryan....” Indra menghentikan ucapannya.
Semua menunggu kelanjutan kalimat Indra dengan penasaran.
“....gadis itu mengalami masa-masa yang sulit. Gadis itu dinikahi oleh Lothar. Lothar membantunya mengatasi masa-masa sulitnya.”
.
***
Di dunia ini ada banyak kekerasan yang terjadi demi kesenangan dan kepuasaan sesaat. Bukan hanya di luar negeri saja bahkan di dalam negeri juga.
Menulis tentang Bryan ini membuat Author googling berita tentang hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan s3k su 4l. Ngeri dan pilu bacanya.
Be safe ya Readers.
🌷Selamat Idul Adha bagi Readers yang merayakannya. Semoga kita diberi keberkahan dan ampunan-Nya.🌷