CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 139 – DI ANTARA BUNGA UNTUK AGUNG



“TVnya dinyalakan saja Bu. Sepertinya ini akan menjadi siaran langsung di TV Swasta,” seorang perawat berbicara pada Bunda.


“Wah.. Kakak beken sekarang,” Bunda tertawa.


“Dulu juga sudah beken, Bu. Tetapi kini makin beken karena Prince Zuko,” seorang perawat yang mendorong kursi roda terkekeh.


“Kakak di komplek juga udah lama beken, Bun. Idolanya para gadis dan mamah muda,” sergah Adisti sambil tertawa diikuti yang lainnya.


“Issh, Adek ini..” Agung melirik Adinda yang hanya tersenyum. Pandangan mereka bertemu tetapi Adinda segera mengalihkan pandangannya.


Senyum Agung yang sempat terbit saat bersitatap dengan Adinda menjadi luntur.


“Let’s go..” Agung menyalimi Bunda, “Pergi dulu ya Bun. Titip Adinda..”


Adinda menoleh pada Agung.


“Mudah-mudahan acaranya berjalan lancar ya. Jangan lupa baca do’a Nabi Musa alayhissalam supaya dilancarkan dalam berucap,” Bunda mengusap kepala Agung, “Yang ada Dinda jagain Bunda, Kak.”


Adinda tersenyum pada Bunda.


Bramasta dan Adisti salim pada Bunda.


“Ke bawah dulu, Bun..”


“Ingatkan Kakak supaya gak petakilan nanti.."


Bramasta dan Adinda terkekeh. Kedua perawat pun sama.


"Isssh Bunda mah.." Agung mencebik.


Pintu ruang rawat inap tertutup. Bunda tersenyum memandang Adinda yang berdiri termangu.


“Yuk, kita nonton acaranya lewat TV,” ajak Bunda sambil meraih tangan Adinda menuju sofa L.


Adinda menurut. Ia meraih remote lalu mencari TV swasta mana yang menayangkan langsung dari lobby rumah sakit.


“Ada Bun.. masuk ke acara infotainment,” Adinda dan Bunda tertawa.


Suasana lobby rumah sakit tampak ramai. Meja memanjang diletakkan di depan dinding yang terdapat nama dan logo rumah sakit. Para wartawan duduk rapat di hadapannya. Sementara lantai tepian loby dipenuhi bunga-bunga pemberian masyarakat yang bersimpati kepada Agung.


Agung tampak keluar dari lift di dorong oleh perawat. Bramasta dan Adisti mengapit Agung. Kilatan kamera menyambar wajah mereka.


Para pengunjung dan wartawan meneriakkan nama mereka. Ketiganya tersenyum kepada semuanya lalu melambaikan tangannya.


Adisti menunduk, berjongkok di salah satu kumpulan bunga. Mengambil satu lalu membaca kartu ucapannya. Ia berdiri lagi dan menyerahkan bunganya kepada Agung.


“Kak, baca..” Adisti menyodorkan kartu ucapan.


“The Real Hero, stay strong!”


“Ciyeeee,” desis Adisti yang membungkuk lagi mengambil bunga lainnya dan membacakan kartunya.


“Syafakallahu, Agung Gumilar... Cepat sembuh Bang... Get well soon..”


Mata Adisti tertumbuk pada salah satu rangkaian bunga anyelir, ada banyak tulisan di kartunya.


“Cepat sembuh, Kak. Ma’af saya tidak bisa menengok Kak Agung. Siang ini saya berangkat Oslo. Saya sekolah lagi di sana sekaligus untuk menyembuhkan hati. Sampaikan permintaan maaf saya kepada Ayah, Bunda dan Adek juga suaminya. Tiyo.”


Adisti terkejut. Dia menoleh kepada kakaknya yang memicingkan matanya kepadanya.


“Ada apa?” bisik Agung.


Adisti mematung. Kemudian tersadar dengan banyaknya mata dan kamera yang ada di hadapannya. Tangannya gemetar memberikan bunga itu kepada Agung.


Agung membacanya dengan alis terangkat. Kemudian menoleh kepada adiknya. Menepuk-nepuk tangannya sambil tersenyum.


“Smile...” bisik Agung.


Bramasta datang dari sisi yang lain sambil membawa rangkaian sederhana bunga anggrek Golden Shower.



“Kakak Ipar... lihat ini.”


Agung menerima bunga dari tangan Bramasta. Dia membaca kartu ucapannya.


“Syafakallahu Pak Agung. Cepat sembuh. You are the best. Kami semua kangen Bapak. Love, anak-anak akunting Buana Raya.”


Mata Agung mengembun. Bibir tersenyum sambil mengusap penuh sayang kepada anggrek Golden Shower-nya. Dia meletakkan bunga di pangkuannya.


Adisti tersenyum lebar pada kakaknya sambil membawa rangkaian mawar biru di tangannya.



“Tebak dari siapa ini?”


“Blue roses?” Agung menaikkan sebelah alisnya.


“Pak Agung, The Real Hero. Cepat sembuh, cepat pulih. Kantor sepi tanpa Bapak. Pak Bos juga uring-uringan terus...”


Agung tertawa.


Bramasta tampak berbincang dengan perawat dan pengawalnya. Meminta bunga untuk dibagikan kepada pasien lainnya dan mengumpulkan kartu ucapannya. Keduanya menganguk mengerti.


Perawat mendorong kursi Agung menuju meja konferensi pers. Ternyata bukan hanya pihak direksi tetapi juga ada dokter yang mengoperasi dan merawat Agung.


Konferensi pers berlangsung lancar. Diawali dengan sambutan dari direksi rumah sakit. Kemudian dokter menjelaskan tentang kondisi Agung saat tiba di rumah sakit dan luka tembak Agung. Semua hening saat dokter menjelaskannya.


Juga kondisi pasca operasi. Begitu banyak kemudahan dan keajaiban yang dialami para tenaga medis saat memberi tindakan pada Agung.


Agung, Bramasta dan Adisti terperangah mendengar penjelasan dokter. Berkali-kali terucap kata hamdalah dari bibir mereka begitu pula para wartawan dan pengunjung yang menyaksikan jalannya konferensi pers. Mereka sama sekali tidak menyangka kondisi Agung segenting itu.


Saat wartawan bertanya kepada Agung tentang kronologi kejadian, Agung menceritakannya dengan runut.


“Jadi benar apa yang di-share Prince Zuko tentang Anda? Beberapa jam sebelum kejadian, Anda menolong seorang remaja putri dari bullying dan pelecehan.”


Agung mengangguk, “Kebetulan saat itu saya melihat seorang remaja yang sedang dibully. Pada saat itu saya tidak tahu dia adalah seorang remaja putri karena dia mengenakan sweater hoodie. Dan saya tidak tahu dia baru saja dilecehkan.”


“Anda hebat sekali mengalahkan mereka semua dengan tangan kosong padahal mereka semua bersenjata.”


“Semua itu karena pertolongan Allah.”


“Darimana Prince Zuko mendapatkan rekaman CCTVnya?”


“Saya yakin, Prince Zuko itu hacker yang handal. Bisa masuk ke CCTV manapun yang ia maui. Pihak gerai donat sendiri tidak pernah menyebarluaskan video rekaman CCTV tersebut karena saya melarangnya, untuk menghargai privasi korban dan melindungi korban dari tudingan masyarakat yang masih saja berpikiran buruk terhadap korban pelecehan.”


Dengung gumaman terdengar dari arah wartawan.


“Pada saat peristiwa, sebenarnya Anda hendak kemana?”


“Saya ada janji dengan teman yang tinggal tidak jauh dari TKP oleh sebab itu saya melewati The Ritz.”


“Kopi dan donat yang Anda beli, apakah itu untuk teman Anda? Seseorang yang istimewa kah?”


Agung tertawa.


“Pertanyaannya terlalu menjurus ya. Dia teman baik saya, bukan cewek kok tapi cowok.”


“Ah, syukurlah.. setidaknya para gadis di ples namdua tidak menjadi patah hati karenanya. Mengingat sekarang Anda termasuk dalam list lajang yang paling diinginkan. Menggantikan Tuan Bramasta keluar dari list setelah menikah dengan adik Anda, Adisti.”


Agung mengangkat kedua alisnya lalu menatap Bramasta yang mengangkat bahu.


“Memangnya ada ya, list seperti itu?” Agung balik bertanya kepada wartawan yang tadi.


Semua orang terkekeh mendengar pertanyaan Agung yang terdengar polos.


Seorang wartawan yang duduk di deretan belakang mengacungkan tangannya sambil berdiri. Seseorang memberikan mikrofon.


“Di luar sana, rangkaian bunga papan selain dari B Group, Sanjaya Group, Buana Raya dan Taekwondo Indonesia, ada juga bunga papan dari Prince Zuko Anonymous. Apakah artinya Anda dan Prince Zuko saling terhubung?”


Alarm di kepala Bramasta berdenging. Dia memandang pada Adisti dan Agung. Kemudian ia bersikap biasa.


“Saya belum melihat keluar. Baru kali ini saya menuruni lobby,” Agung tampak mengerutkan keningnya sebentar.


“Kami juga belum melihat bunga papan yang dimaksud,” kata Bramasta, “Tadi sewaktu kami datang, sepertinya bunga tersebut belum ada. Ya, Sayang?”


Bramasta memandang Adisti. Adisti mengangguk mengiyakan.


“Saya tidak mengenal Prince Zuko. Tapi sampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada Prince Zuko yang telah membuat saya masuk ke dalam list lajang yang paling diinginkan di ples namdua.”


Jawaban Agung membuat semua yang hadir riuh tertawa dan bertepuk tangan.


“Untuk yang mengenal Prince Zuko, siapapun dia, dia orang hebat dan berani. Bisa membongkar kejahatan mafia di negara kita. Semoga Allah selalu melindunginya.”


Hadirin mengaminkan do’a Agung.


“Saya dan adik saya, penggemar berat film animasi Avatar Aang, The Last Air Bender. Jadi rasanya merupakan suatu kehormatan dikirimi bunga oleh Prince Zuko.”


Adisti dan Bramasta terkekeh.


"Terimakasih banyak juga saya ucapkan kepada masyarakat yang memberikan saya bunga berisi kata-kata semangat dan do'a juga para netizen di medsos yang mendo'akan saya. Semoga kasus yang saya alami tidak lagi terjadi. Semoga para pelaku mendapat hukuman yang setimpal akibat kelakuan mereka yang menyebabkan orang lain menjadi cedera," Agung menatap para pengunjung dan wartawan dengan senyum tulus.


Tanya jawab masih berlangsung. Hingga akhirnya Bramasta mengakhirinya dengan mengucapkan banyak terimakasih kepada dewan direksi rumah sakit, para dokter, perawat dan staf rumah sakit.


...****************...


Bukan Author yang late to post, tapi lama di proses review-nya. Padahal gak pernah ada konten adegan dewasa ataupun politik di dalam novel ini.


Semalam sudah up bab sebelumnya, tapi sampai pagi belum selesai review.


So sad kalau diginiin ya Readers..