
Agung lega saat melihat Adisti dan Bramasta sudah akur kembali. Daddy, Mommy dan Hans sudah pulang sesaat mereka tiba dari rumah Ayah.
“Dek, maafin Kakak ya,” Agung menghampiri Adisti yang tengah browsing.
“Apaan Kak?” Adisti menoleh pada kakaknya.
“Yang tadi itu.. tentang rambut Adek..”
“Oooh,” matanya menekuri layar gawainya lagi.
“Dek..” Agung beringsut mendekati Adisti. Merangkul bahu Adisti, “Masih marah ya?”
Bramasta yang duduk di hadapan mereka menatap tajam pada tangan Agung yang merangkul Adisti.
“Nggak..”
“Kok diam aja?”
“Terus Adek harus salto? Jalan kayang biar rame?”
“Issssh. Gak gitu juga kali, Dek. Ma’afin Kakak nggak?”
“Iya..iya.. udah dima’afin dari tadi juga..”
“Thanks a lot ya Dek! Kakak saaaaaaaayyyyyyyaaaaang banget dengan Adek.”
Agung memeluk Adisti sambil mengayunkan tubuh ke kanan dan ke kiri. Adisti terkekeh sambil balas memeluk kakakknya. Bramasta melihatnya dengan alis terangkat sebelah.
“Dek, calon suami Adek jutek banget deh ngelihatin kita..” kata Agung sambil menyengir kepada Bramasta.
“Mana?” Adisti menoleh lalu terkekeh.
“Kalem Bang.. Setelah hari Ahad nanti, Aa gak bakalan peluk-peluk Adek lagi…” Agung terkekeh.
Bramasta mendengus kesal, “Terus aja panasin Abang..”
“Dih, dipeluk sama kakak sendiri aja ngambek. Dah ah, gak asyik,” Adisti melepas pelukannya. Agung terkekeh.
Notifikasi pesan chat masuk dari gawai Adisti berbunyi. Semuanya memandang gawai Adisti yang disimpan di atas meja. Nama Andrew Smith muncul di layar dengan chat menanyakan kabar. Bramasta menaikkan sebelah alisnya. Agung dan Bramasta saling menatap. Adisti yang tidak peka langsung membuka pesan chat dengan ceria. Adisti baru menyadari ada yang tidak beres saat ruangan dirasa sunyi. Bramasta dan Agung menatap Adisti tajam.
“Ada apa sih?” tanya Adisti.
“Asyik ya jawab chat-nya,” singgung Bramasta, “Khusyu’ banget..”
“Nggak juga. B aja,” jawab Adisti.
“Dek..”
“Hmmm?” Adisti menoleh. Agung memberi kode dengan sedikit memiringkan kepalanya ke arah Bramasta.
Adisti terdiam. Menatap takut-takut pada Bramasta sambil tersenyum kaku.
“Ma’af…”
Bramasta berdehem. Dia bangkit dan tidak berkata apa-apa. Berjalan ke arah pantry sambil membuka tutup laci kabinet dapur. Lalu berbalik lagi ke arah bed-nya. Tidak berapa lama dia turun lagi dari bed. Berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Menuju pantry lagi. Mengambil air mineral dalam lemari pendingin lalu berjalan menuju sofa U. Mengacuhkan Adisti dan Agung masih duduk di sofa bed.
“Bang, saya ajak Adek ke bawah dulu ya?” kata Agung.
Bramasta menoleh, “Mau ngapain?”
“Jajanin Adek.”
“Gak usah. Udah malam juga,” suara Bramasta terdengar dingin, “Kalau mau ngomong berdua di lobby atas kan bisa?”
“OK. Assalamu’alaikum.”
Agung bergegas menggamit lengan kanan Adisti. Adisti mengikuti Kakaknya. Mencari tempat duduk yang temaram di sudut lobby. Seorang pengawal mengikuti mereka dari jarak aman.
“Dek, bisa nggak sih jangan terlalu cuek?” tegur Agung saat menghempaskan tubuhnya di sofa empuk.
“Cuek gimana sih? Adek gak ngerti.”
“Yang peka dikit dong ke Abang Bramasta. Dia segitunya care ke Adek tapi Adeknya cuek bebek.”
“Adek gak cuek, Kak.”
“Lah tadi? Sampai Abang ngambek gitu.”
“Meneketehe Kak..”
“Issh Adek tuh dibilangin kok gitu sih?” Agung menatap sebal pada Adisti, “Adek sayang gak sih dengan Abang Bramasta?”
“Sayang lah..”
“Abang Bramasta itu gak pernah dekat sama perempuan di luar keluarganya. Pergaulannya terbatas karena dia menjaga pergaulannya. Itu sebabnya saat dia memiliki perempuan yang dekat dengan dirinya dan akan menjadi bagian dari hidupnya, dia menjadi posesif banget. Gak lihat tadi Abang Bramasta cemburu ke Kakak apalagi saat Adek membalas chat Andrew Smith?”
Adisti terdiam. Matanya menekuri meja.
“Adek gak boleh berteman?”
“Bukannya gak boleh berteman, Dek. Tapi situasi sekarang berbeda. Adek sudah dikhitbah oleh Abang Bramasta. Dalam hitungan hari akan dinikahi. Lagipula posisi Abang Bramasta juga bukan orang biasa. Kehidupannya disorot orang banyak. Tahu kan maksud Kakak?”
Adisti mengangguk. Dia bangkit lalu berjalan meninggalkan kakaknya.
“Dek, mau kemana? Kok pergi gak ngomong-ngomong sih?”
Dia mendengar suara Bramasta yang tengah berbicara memakai bahasa asing. Bramasta menoleh lalu berdiri menyadari kehadiran Adisti. Tangannya menutup speaker gawainya, “Wa’alaikumussalam.” Lalu berbincang lagi dengan lawan bicaranya. Matanya menatap lurus pada Adisti. Adisti jadi serba salah. Ragu-ragu untuk melangkah mendekat ke arah Bramasta.
Bramasta terkekeh kepada lawan bicaranya di telepon. Lalu berbincang cepat dengan bahasa yang tidak dipahami Adisti.
“OK. Ciao!” kata Bramasta sambil menutup panggilannya.
Bramasta mengangkat sebelah alisnya kepada Adisti.
“Bang..” suara Adisti tercekat.
“Hmm?”
“Maafin Disti. Disti gak bermaksud bikin Abang Bramasta marah,” Adisti duduk di ujung sofa.
Bramasta masih berdiri menatap Adisti.
“Mmm..”
“Abang cemburu?”
Bramasta mengangkat bahu sambil mengerucutkan bibirnya. Dia memilih untuk duduk sambil meraih botol air mineralnya.
“Sini, duduk dekat Abang.”
Adisti menggeleng.
“Kenapa?”
“Takut,” Adisti memilin jemarinya, “Abangnya lagi marah ke Disti.”
Bramasta tersenyum.
“Enak gak didiemin? Dicuekin?” tanya Bramasta.
Adisti menggeleng.
“Disti tadi merasakan perasaan yang petang tadi Abang rasakan ya? Didiemin, dicuekin…” Bramasta beringsut mendekati Adisti.
Adisti mengangguk.
“Jadi Abang balas dendam nih ceritanya?” Adisti menoleh cepat.
Bramasta terkekeh, “Bukan, bukan balas dendam. Abang cuma ingin Adisti merasakan apa yang Abang rasakan. Serba salah kan saat dicuekin dan didiamin?”
Adisti mengangguk lagi.
“Abang ingin, kedepannya kalau kita sedang ada masalah, masalah apapun itu mau besar ataupun kecil, kita gak saling mendiamkan. Understand?”
“OK. Insyaa Allah. Tapi, tentang beda usia kita..” Adisti terdiam tidak meneruskan.
“Kita berbeda 10 tahun,” kata Bramasta dengan mode waspada, “Terus?”
“Abang kan yang lebih tua dari Disti, lebih berpengalaman dari Disti, harusnya Abang yang lebih banyak bersabar dong menghadapi Disti..”
“Tapi Abang kan ingin juga dimengerti oleh Disti. Masa Abang harus ngertiin Disti terus sementara Disti cuek,” Bramasta mempermainkan ujung hijab Adisti sambil sesekali melirik menatap mata Adisti.
“Disti memangnya terlalu cuek ya?”
Bramasta mengangguk.
“Tadi juga Kakak ngomong begitu ke Disti,” Adisti terdiam lalu melanjutkan dengan pipi memerah, “Tapi… Disti sayang banget ke Abang.” [Isssh kok jadi berasa lebay banget sih. Eh, bener gak sih ngomongnya?]
Bramasta mengangkat kedua alisnya, “Apa?” [Ngomong lagi dong, please.. Abang ingin dengar lagi]
“Disti… sayang banget ke Abang Bramasta.” [Udah dong.. Masa harus diulang lagi sih? Apa harus ke dokter THT?]
“Ngomongnya sambil hadap Abang dong biar jelas. Lagian juga ngomong kok pelan banget sambil nunduk begitu.”
“Abang perlu ke dokter THT?” tanya Adisti jengah.
“Lah malah nuduh Abang kena gangguan pendengaran. Say it clearly_Ngomong yang jelas_.”
“Isssh Abang Bramasta ini. Malu tau ngomongnya lagi.”
“Say it clearly, now. Woud you please?”
Bramasta menarik-narik lengan baju Adisti.
Adisti memutar tubuhnya menghadap Bramasta. Pipinya semakin memerah, nafasnya agak terengah. Gugup.
“Disti sayang banget ke Abang Bramasta.”
Bramasta tersenyum lebar. Matanya menikmati rona pipi Adisti yang memerah alami.
“Kalian sedang apa?” Agung berdiri bersidekap di belakang mereka.
Bramasta dan Adisti sampai terlonjak saking kagetnya. Agung menatap mereka bergantian dengan tatapan setajam silet.
[Oh My God, si Aa kenapa tiba-tiba muncul disaat-saat momen indah sih?]_Bramasta.
[Kakak… duh gawat nih. Kenapa muncul disaat memalukan buat diceritain sih? Nanti kalau diaduin ke Ayah Bunda bagaimana?]_Adisti.
[Muehehehe, pengen ngakak tapi kudu pasang wajah datar sedatar wajan Teflon. Wajah mereka berdua lucu banget karena panik. Apalagi tadi wajah kaget bangetnya…]_Agung.