CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 71 – AKAD NIKAH : MAHAR TERINDAH



Bapak Penghulu mempersilahkan kedua pengantin untuk saling memakaikan cincin pernikahan mereka. Bramasta dan Adisti tersenyum malu-malu. Bramasta memakaikan cincin dengan grafir namanya di bagian dalam cincinya ke jari manis kanan Adisti sambil menatap wajah Adisti yang bersemu merah. Cincin emas putih dengan model sederhana. Ada berlian kuning bening yang dipotong berbentuk asscher di bagian tengahnya. Simple, anggun, cantik dan kemewahan yang tersamar.


Adisti juga memakaikan cincin dengan grafir namanya pada bagian dalamnya. Cincin emas putih tanpa permata, dengan tepian garis tegas yang membingkai bagian tengahnya yang bertekstur es. Model cincin dengan kesan simple, gagah, kokoh dan elegan.


Usai memasangkan cincin, Adisti mencium tangan suaminya. Untuk pertama kalinya dia salim kepada Bramasta. Menunjukkan bakti dan rasa hormatnya sebagai seorang istri kepada suaminya. Bramasta memandanginya dengan penuh haru. Bibirnya tersenyum.


Bramasta menuntun Adisti untuk duduk lagi. Bramasta membungkukkan tubuhnya. Tangannya menyentuh ubun-ubun Adisti, wajahnya didekatkan kepada ubun-ubun Adisti,



“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa ‘alaih_Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejeekan yang Engkau tetapkan atas dirinya_.”


Adisti meng-aamiin-kan do’a suaminya.


Bramasta mendekat selangkah lalu mengecup ubun-ubun istrinya.


Mommy dan Bunda mengusap air mata yang keluar.


“Masyaa Allah, barakallahu untuk kalian berdua. Baru kali ini saya menemukan pengantin yang betul-betul siap menikah seperti kalian ini. Kalian tahu betul dengan apa yang harus kalian lakukan tanpa dipandu oleh saya selaku penghulu ataupun oleh pembawa acara,” Bapak Penghulu ikut terharu. Dia meraih tisu yang ada di atas meja.


“Jangan-jangan karena kalian berdua sudah ngebet ingin menikah?” kata Bapak Penghulu sambil terkekeh.


Hadirin riuh lagi. Bramasta dan Adisti saling berpandangan lalu tertawa bersama.


“Silahkan mas kawinnya diserahkan kepada mempelai wanita,” kata Bapak Penghulu.


***


“Ananda Bramasta, siap dengan hafalannya?” tanyanya lagi.


Bramasta mengangguk.


“Silahkan ditunaikan dahulu sebelum nasihat pernikahan.”


Bramasta mengangguk lagi.


“Ananda Adisti Maharani binti Gumilar, istri dari Ananda Bramasta Reynard Sanjaya silahkan mendampingi suaminya saat menunaikan bacaan hafalan Qur’annya surat Ar Rahman, ayat 1 hingga selesai,” kata Bapak Penghulu, “Tapi supaya sang suami tidak gugup dan grogi, sebaiknya sang istri duduknya di belakang suami ya."


Adisti duduk di kursi yang telah disediakan untuknya di belakang Bramasta. Baru setelah duduk, dia berani menatap pada Bramasta. Punggung Bramasta. Walau hanya menatap punggungnya saja tapi Adisti merasa tenang dan yakin, suaminya akan lancar membacakan hafalan Ar Rahmannya tanpa ada kesalahan. [Semoga. Insyaa Allah.] Adisti meremat jemari tangannya.


“A’udzu billahi minas-syaithonirr-rojiim. Bismillaahirrohmaanirrohiim. Ar Rohmaan. ‘Allamal-qur-‘aan. Kholaqol-ingsaan…” Bramasta membaca 78 ayat dengan tartil dan enak didengar.


Banyak yang terharu mendengar hafalan Bramasta. Adisti tidak menyangka akan diberi mahar yang begitu luar biasa dari Bramasta. Mommy juga sama sekali tidak menyangka anak bungsunya begitu luar biasa. Bunda juga, ada kebanggaan tersendiri bermantukan seorang Bramasta, bukan karena harta dan status sosialnya tapi karena kesholehannya. Dia yakin menantunya akan menjadi imam yang baik untuk anak gadisnya.


Bahkan Gank Kuping Merah yang biasanya pecicilan menjadi sangat larut dalam suasana haru. Kotak tisu di depan mereka sudah hampir habis isinya.


“Pak Bos, bener-bener ya bikin mata meleleh..” Anton membuka percakapan setelah sekian lama leher mereka tercekat haru.


“Gue juga baru tahu nama tengah Abang,” Agung mengelap hidungnya.


“Reynard, nama pemberian dari keluarga Tante Al yang masih keturunan ningrat Eropa,” kata Indra.


“Garis keturunan bangsawan Eropa itu dari garis ibu. Matrilinial,” Leon mengambil tisu lagi.


“Tapi Nyonya Alwin gak mau pakai gelarnya,” Hans meminum air mineral dalam gelas.


“Kenapa?” tanya Agung dan Anton berbarengan.


Hans cuma mengangkat bahunya.


Bramasta selesai membacakan hafalannya. Tunai sudah maharnya diberikan kepada istrinya. Dia menengok ke arah belakangnya. Adisti tersenyum menatapnya sambil mengangguk. Bramasta beranjak dari kursinya, menghampiri istrinya. Tangannya meraih tangan Adisti untuk membantunya berdiri.


Adisti kembali mencium punggung tangan Bramasta.


“Terimakasih banyak. Abang sudah memberikan mahar terindah untuk Disti,” suara Adisti jelas terdengar karena mikrofon yang disematkan di kerudungnya, “Mohon bimbing Disti untuk menjadi istri yang baik sesuai syari’at, mohon Abang bersabar menghadapi Disti, berlaku lembut pada Disti. Tegur Disti bila salah, tegur dengan baik. Terima Disti dengan apa adanya terutama segala kekurangan Disti.”


Bramasta tertegun. Menatap Adisti dengan takjub. Dia maju selangkah. Meraih tubuh istrinya untuk masuk dalam pelukannya. Dia mengecup lama dahi Adisti. Lalu melepaskan pelukannya. Menatap Adisti dengan pandangan haru.


“Abang tidak salah memilih Adisti untuk menjadi istri Abang. Insyaa Allah Abang akan mengimami Disti. Insyaa Allah kita akan bersama-sama membina rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah mencari ridho Allah,” suara Bramasta membuat hening. Semua orang terharu melihat pasangan pengantin baru ini.


Bramasta menuntun Adisti untuk kembali duduk lagi di sampingnya.


“Masyaa Allah…masyaa Allah,” Bapak Penghulu kembali meraih tisu di atas meja, “Kalian benar-benar pasangan yang bikin mata dan hati meleleh. Semoga Allah memberi sakinah mawadah warahmah hingga jannah nanti untuk kalian berdua.”


Hadirin meng-aamiin-kan do’a Penghulu.


“Andai semua pasangan seperti kalian, pasti jobdesk saya sebagai penghulu terasa lebih ringan. Karena kalian sudah paham betul dengan hakikat pernikahan dan segala hal di dalamnya. Semua nasehat pernikahan sudah kalian beberkan semuanya tadi,” Bapak Penghulu mengenakan lagi kacamatanya, “Tapi tetap saja saya wajib menyampaikan nasihat perkawinan, nasihat ini bukan hanya untuk pasangan yang baru menikah tapi juga para pasangan lama. Supaya saya tidak dianggap makan gaji buta…”


Hadirin tertawa dengan kelakar Bapak Penghulu.


Bapak Penghulu membawakan nasihat perkawinan dengan diselingi dengan candaan sehingga tidak terdengar membosankan. Setelah nasihat perkawinan, Bapak Penghulu memberikan do’a bagi kedua mempelai. Acara akad nikah ditutup dengan sungkeman yang penuh haru.


Langit sudah semakin jingga, semburat warnanya membuat suasana di dalam tenda menjadi berbeda. Indah dan romantis. Sementara suasana di luar tenda terlihat begitu spektakuler pemandangannya. Para petugas WO sedang menggelar karpet untuk sholat Maghrib berjamaah. Ayah akan menjadi imam sholatnya. Para tamu yang tidak mengkuti sholat maghrib menunggu di luar tenda. Meja-meja stand makanan ringan dan buah disediakan di luar tenda.


Adisti berada di ruang rias yang terletak di dalam tenda besar paling belakang. Ruangan beralaskan karpet merah dengan beberapa cermin yang dilengkapi lampu. Riasan Adisti dihapus untuk diganti dengan riasan resepsi nanti.


“Memangnya ada apa saja pilihannya?” tanya Adisti. Wajahnya sedang diberi cream pelembab oleh asisten MUA yang lainnya.


Asisten MUA yang tadi menyodorkan buku menu dari pihak catering.


“Banyak banget, Mbak menunya. Saya jadi bingung mau makan apa. Gak lapar juga. Yang ada malah gugup.”


Para asisten MUA dan MUA tertawa mendengar ucapan Adisti.


“Makan sedikit aja, Teh. Daripada nanti malah kenapa-napa. Masa mau malam pengantinan malah kerokan dulu…” kata MUA disambut cekikikan para asitennya.


Adisti ikut tertawa.


Mommy, Bunda dan Layla memasuki ruang rias hendak memperbaiki riasannya dan ganti baju untuk resepsi.


“Tadi ikut sholat berjama’ah di tenda besar?” tanya Adisti.


“Nggak, kami tadi sholat di ruang istirahat. Berjama’ah dengan para tamu wanita lainnya. Bunda jadi imamnya,” jawab Layla.


Para asisten MUA mulai menghapus make up Mommy, Bunda dan Layla. Mereka bergerak cekatan dan terkoordinir dengan baik oleh MUAnya.


“Assalamu’alaikum,” Bramasta mengucap salam sambil memasuki ruangan.


Semuanya menjawab salam Bramasta.


“Kamu ngapain kemari, Bram?” tanya Mommy, “Bukannya kamu harus bersiap-siap untuk acara resepsi nanti?”


“Cowok mah cepat persiapannya, Mom. Cuma ganti kostum doang,” jawab Bramasta.


“Then, what will you do here_terus mau ngapain di sini_?” tanya Layla.


“Mau lihatin istri Bram,” jawab Bramasta sambil melangkahkan kakinya mendekati meja rias Adisti.


Jawaban Bramasta membuat suasana di dalam ruangan rias menjadi ramai. Mommy, Bunda dan Layla kompak ber-ciyeeee. Sedangkan yang lainnya terkikik.


Bramasta berdiri di belakang Adisti yang tengah duduk. Matanya menatap intensif pantulan Adisti pada cermin.


“Good evening, Mrs. Bramasta,” sapanya sambil tersenyum.


Adisti tersenyum malu menatap mata suaminya dari cermin, “Good evening too, Mr. Bramasta.”


Suara koor “ciyyeee” terdengar lagi. Bramasta tidak menanggapinya. Dia sedang tenggelam menatap mata Adisti dari cermin. Mata coklat yang selalu membuat hatinya bergetar.


“Nona makan dulu ya?” asisten MUA yang tadi membujuk Adisti lagi.


“Kenapa Mbak?” tanya Bramasta.


“Nona tidak mau makan, Tuan. Kami mengkhawatirkan cuaca yang dingin dan angin gunung yang bisa menyebabkan Nona Adisti nanti masuk angin,” MUA menjelaskan kepada Bramasta.


Bramasta mengangguk mengerti. Dia mengambil buku menu di meja rias. Membacanya sekilas lalu memberikan perintah pada asisten MUA. Asisten MUA mengangguk mengerti lalu keluar dari ruangan.


Adisti memandang Bramasta dengan tatapan bertanya. Bramasta membungkukkan tubuhnya. Wajahnya didekatkan pada wajah Adisti. Memberi kecupan singkat pada pipi kanannya.


“Cantiknya Abang sudah jadi istri Abang sekarang,” bisiknya. Wajah Adisti merah padam.


Asisten MUA yang hendak mengoleskan serum wajah langsung terhenti. MUA menjadi salah tingkah.


“Woiy.. Bram! My God.. ada Mommy dan Bunda di sini, woiy..” Layla berseru pada Bramasta. Bramasta meleletkan lidahnya pada kakaknya. Adisti tertawa.


Mommy dan Bunda hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh.


Asisten MUA datang dengan nampan berisi piring bertutup stainless dan 2 cup air mineral. Langsung meletakkannya di meja rias Adisti.


“Mbak,” kata Bramasta kepada MUA, “Saya minta 10 menit ya.”


MUA dan asisten menyingkir dari meja rias Adisti. Mereka beralih ke meja Mommy, Bunda dan Layla.


Bramasta menarik kursi ke samping Adisti. Dia duduk di sana sambil mengambil piring dari nampan.


“Abang suapin, ya. Kita makan bareng sedikit saja. Karena nanti kita juga akan makan malam di bangunan utama.” Adisti mengangguk.


Kurang dari 10 menit mereka berdua selesai makan. Bramasta meraih tisu, memberikannya pada Adisti. Dia sendiri mengambil selembar membersihkan bibirnya sambil menatap Adisti dengan tatapan penuh rahasia.


“Abang pergi dulu ya untuk bersiap-siap. Sampai ketemu di bangunan utama. Selamat menikmati surprise-nya,” Bramasta mengecup pipi Adisti lalu beranjak dari ruangan menuju ruang riasnya di bangunan utama.



***


Fiuuuh


Akhirnya bab akad nikah bisa kelar juga dengan segala kemanisannya. Jangan diabetes ya... 😉