
“Kenapa Bang?” tanya Agung dengan alis menyatu.
“Orang itu ada di bawah. Tadi minta ijin ke sekuriti akhirnya dihubungkan ke pengawal.”
Agung mengangguk.
Tidak berapa lama, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Indra membukakan pintu.
“Assalamu’alaikum,” ucap Virgo.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Indra.
Virgo tampak terperangah menatap Indra. Wajah yang akhir-akhir ini kerap berada di layar kaca terkait pemberitaan Bramasta dan Adisti.
“Saya Virgo,” Virgo menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Indra menerima uluran tangannya sambil tersenyum.
“Saya Indra, silahkan masuk. Pak Agung sudah menunggu di dalam.”
“Siapa Nak Indra?” tanya Ayah.
“Temannya Agung, Yah. Dia manajer gerai donat tempat Agung menghajar para berandalan tempo hari,” Indra menjelaskan kepada Ayah dan Bunda yang menatap pada Virgo.
Virgo mengangguk lalu bersalaman dengan Ayah.
Adisti dan Adinda yang sedang menonton TV menengok. Adinda langsung berdiri begitu tahu siapa yang datang.
Virgo membelalakkan matanya begitu melihat Adinda.
“Kamu di sini? Kamu baik-baik saja?” tanya Virgo.
Adinda mendekat diikuti Adisti.
Virgo menatap Adisti lalu mengangguk hormat, “Nona Adisti.”
Adisti balas mengangguk.
“Saya baik-baik saja Pak. Alhamdulillah Om Agung datang menolong saya,” Adinda menundukkan pandangannya.
“Ah, syukurlah kamu baik-baik saja,” Virgo mengangguk.
Indra menyentuh siku Virgo.
“Silahkan, Pak Agung ada di sebelah sana.”
Virgo mengangguk.
“Saya menemui Pak Agung dulu, Pak, Bu.”
“Oh iya.. silahkan,” kata Bunda.
Virgo membalikkan tubuhnya, kedua alisnya terangkat. Dia semakin merasa gugup melihat orang-orang yang ada di sekitar Agung. Ada CEO B Group dan orang kedua Sanjaya Group. Dia membungkukkan badannya kepada Bramasta dan Hans.
“Tuan Bramasta, Tuan Hans..” sapanya.
Bramasta dan Hans mengangguk sambil tersenyum.
“Silahkan, tidak usah gugup begitu. Santai saja,” kata Bramasta.
“Pak Agung..” sapa Virgo.
“Pak Virgo, apa kabar?” Agung menganggukkan kepalanya.
“Alhamdulillah baik, Pak Agung. Saya turut prihatin atas kejadian yang Pak Agung alami.”
“Semua sudah takdir Allah. Kita hanya menjalaninya saja.”
Virgo terlihat gelisah.
“Ada apa Pak Virgo? Kenapa gelisah seperti itu?”
“Tentang rekaman CCTV di gerai donat yang bocor di media oleh Prince Zuko Anonymous, sungguh bukan saya pelakunya Pak. Saya dan orang-orang saya tidak pernah membocorkan isi rekaman CCTV tersebut,” Virgo menatap Agung dengan tatapan cemas lalu menundukkan kepalanya.
Agung menatap Bramasta, Indra dan Hans. Bramasta memberi kode dengan meletakkan telunjuk di bibirnya. Keep the secret. Agung mengangguk mengerti.
“Jadi karena itu Pak Virgo berusaha menemui saya?” Agung tersenyum menatap Virgo.
Virgo mengangguk.
“Sudah jangan dicemaskan Pak Virgo. Saya percaya, Bapak adalah orang yang menepati janji. Saya tahu Bapak berkata jujur.”
Virgo mengangkat kepalanya.
“Tentang rekaman CCTV yang diedarkan oleh Prince Zuko Anonymous, saat kami melihat tayangannya, sepertinya Prince Zuko berada di pihak orang yang baik. Terbukti dengan wajah korban dan para pelaku yang diblurkan olehnya,” Agung menjelaskan kepada Virgo.
“Kami baru saja membahas tentang isi CCTV tersebut tadi sebelum Pak Virgo datang. Dan kami berkesimpulan seperti itu. Lagipula bukankah Prince Zuko adalah sosok yang berhasil menguliti Jenderal XX sehingga publik tahu sepak terjangnya di dunia gelap yang tidak terendus oleh media?”
Virgo mengangguk setuju.
“Betul Pak Agung. Tapi tentang CCTV tersebut..”
“Tidak usah dicemaskan, Pak Virgo,” Hans tersenyum memandang Virgo.
“Darimana Pangeran Zuko mendapatkan rekaman CCTV tersebut?” Virgo tampak bingung.
“Saya rasa sebagai seorang hacker, tentunya bukan hal yang sulit bagi Prince Zuko untuk mendapatkannya. Masuk ke dalam sistem data manapun bukan hal yang sulit kan?” Indra meyakinkan Virgo, “Jejak digital mudah ditelusuri dan dilacak kan?”
“Tapi sampai sekarang pihak yang berwajib belum bisa menemukan sosok dibalik Prince Zuko,” kata Bramasta.
“Itu artinya Prince Zuko bukan hacker kaleng-kaleng. Lagipula sepertinya baru Prince Zuko yang mampu menyabotase siaran TV swasta nasional di jam prime time pula..” Hans terkekeh.
“Benar juga ya,” kata Agung pelan.
“Hacker bukan kaleng-kaleng tentu akan mudah meretas kemana-mana ya? Ah, gue gak ngerti tentang dunia hacker..” Indra terkekeh.
“Memangnya ada berapa orang-orang Pak Virgo yang tahu kejadian tersebut?” tanya Hans sambil bersidekap.
“Dua orang, tiga termasuk saya. Mereka staf IT yang membantu saya mentransfer rekaman CCTV ke dalam WA untuk dibagikan ke Pak Agung.”
Hans mengangguk.
“Mereka tidak ikut mengunduh juga kan, Pak?” tanya Indra.
“Ah.. tidak,” kata Virgo sambil menggerakkan kedua tangannya, “Apalagi setelah Pak Agung meminta untuk tidak menyebarluaskan rekaman itu demi keamanan korban. Kami sangat bersimpati kepada korban karena kami juga mempunyai saudara perempuan.”
Agung tersenyum. Dia menepuk lengan Virgo pelan.
“Pak Virgo tidak usah cemas lagi tentang hal ini, OK? Semoga saja niat Prince Zuko sesuai dengan apa yang kita harapkan. Berharap kebenaran terungkap dan kedilan bisa ditegakkan.”
“Mengenai kasus Jenderal XX...” Virgo berhenti sejenak, dia menegakkan tubuhnya sambil memandang semua orang yang ada di sana, “Ah, saya tidak tahu sebaiknya menceritakan ini atau tidak kepada bapak-bapak yang ada di sini..”
Bramasta memiringkan kepalanya. Indra dan Hans memcingkan matanya memandang Virgo yang duduk dengan gelisah.
“Ada apa?” tanya Agung, “Apa yang Pak Virgo ketahui? Ceritakan saja kepada kami. Setidaknya bisa membantu meringankan beban pikiran Pak Virgo.”
Virgo memandang Agung lalu mengangguk.
“Saya bukan orang yang suka menguping pembicaraan orang lain. Tapi sewaktu saya sedang memeriksa kinerja para pekerja frontliner dan pengecekan display, ada pengunjung yang datang berkelompok. 4 orang pria. Salah satunya berseragam polisi, dari pangkatnya dia seorang perwira. 3 orang lainnya berpakaian sipil, berjaket. Tapi dari potongan rambut dan postur tubuhnya, bisa dipastikan mereka polisi juga,” Virgo memegang handrail bed dengan erat.
“Lalu?” tanya Indra.
“Mereka membicarakan Jenderal XX. Sepertinya mereka anak buahnya. Dari pembicaraan mereka, mereka akan melakukan apa saja untuk melindungi Jenderal XX dan membebaskannya dari tahanan.”
“Untuk kasus Pak Agung, mereka membuat dua opsi, yaitu akan ada yang dijadikan kambing hitam sebagai pelaku penembakan atau akan membalikkan kasus sehingga Pak Agung nanti yang dipersalahkan.”
“Astaghfirullah aladziim, maksudnya korban menjadi pelaku?”
Semua geleng-geleng kepala.
“Dari rekaman CCTV yang diedarkan Prince Zuko, ada 2 pelaku yang memperebutkan senjata yang dipegang Jenderal XX kan? Pemilik butik dan anak buahnya Jenderal itu sendiri.”
Virgo mengangguk.
“Kata salah seorang dari mereka, akan ada orang lain yang dilibatkan dan dikorbankan untuk dijadikan kambing hitam. Yang penting, Jenderal XX bisa bebas dari jeratan hukum ataupun mendapat hukuman yang paling ringan.”
“Bagaimana dengan rekaman CCTV?” tanya Agung.
“Salah seorang dari mereka berkata, bukti rekaman CCTV bisa mereka manipulasi dengan mudah.”
“Oh my God..” gumam Indra.
“Jam berapa mereka datang?” tanya Bramasta sambil memandang ke arah lalu lintas sore dari jendela kamar.
“Sekitar pukul 10.30.”
Agung memandang Bramasta. Bramasta tersenyum kecil. Lalu mengetikkan sesuatu pada gawainya.
“Apa lagi yang mereka katakan?” tanya Hans.
“Sesuatu tentang... Batam. Katanya mereka sudah mulai bersiap-siap entah untuk apa.”
“Sepertinya pembicaraan mereka itu adalah pembicaraan sensitif ya?” Indra memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, “Tapi mereka ceroboh dengan melakukannya di tempat umum.”
“Pak Virgo, berhati-hati ya. Jangan sampai apa yang bapak sampaikan tadi diceritakan kepada orang lain. Kita tidak tahu mereka berpihak kepada siapa,” Bramasta memandang Virgo.
Virgo mengangguk.
“Jangan khawatir, pembicaraan ini aman bersama kami,” kata Agung menenangkan Virgo.
Virgo mengangguk lalu berdiri.
“Saya jadi lega sekarang. Saya tidak tahu kemana saya harus bercerita. Tetapi karena mereka menyebut-nyebut nama Pak Agung dalam pembicaraan mereka makanya saya berusaha menemui Pak Agung.”
“Para frontliner, apakah mereka juga ikut mendengar pembicaraan mereka?”
Virgo tampak mengingat sejenak. Kemudian menggelengkan kepalanya.
“Sepertinya tidak. Saat itu gerai tengah sibuk. Banyak pembeli take away.”
“Ah.. syukurlah,” kata Indra.
Virgo menatap arlojinya, “Saya pamit, Bapak-bapak. Terima kasih untuk waktu yang diluangkan.”
“Jangan merasa sungkan, Pak Virgo..” kata Indra.
“Bagaimana saya tidak merasa sungkan? Berhadapan dan berbicara langsung dengan famous people,” Virgo tertawa malu.
“Ah, Pak Virgo bisa saja. Famous people itu cuma stempel yang dilabeli oleh media massa. Kita sih biasa-biasa saja. Gak merasa terkenal gak merasa istimewa juga,” Bramasta tertawa.
Virgo menyalami mereka semua. Indra mengantarkannya ke pintu.
“Pak, Bu, Nona Adisti dan Nona Hoodie Kuning, saya pamit dulu,” kata Virgo.
Ayah dan Bunda menghampiri Virgo.
“Terima kasih sudah menengok Agung ya, Nak,” kata Ayah sambil menyalami Virgo.
Virgo mengangguk lalu mengucap salam. Semua menjawab salam Virgo.
.
***
Tuan Thakur masih berkuasa ya..