CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 236 – PELATIH PRIVAT



“Setdah, kalian berdua ini, dari tadi saat ditanya jawabannya kompak banget!” Indra mendengus kesal.


“Kayaknya mereka barus buru-buru dihalalin deh,” Bramasta menggeleng-geleng.


“Panggil Ayah, ah..” Leon tiba-tiba menjadi kompor meledug, “Ayyy..”


Agung menarik bahu Leon dan tubuhnya dimiringkan untuk menimpa tubuh samping Leon yang ikut terdorong miring.


“Mulai deh..mulai..” Anton membalikkan bola matanya dengan kesal.


“Ck..ck..ck...” Hans menggeleng-gelengkan kepala sambil memandang Bramasta, “Belum bisa dinikahin sekarang. Masih bocah dianya..”


Semua terkekeh mendengar ucapan Hans.


“Bang Leon nih ya... Bener kata Daddy: bule rese!” Agung bersungut kesal.


“Tapi gantengkan?” Leon memamerkan cengiran lebarnya.


“Dih!”


Hans memandang Agung, menepak lututnya.


“Lu kenapa gak mau jadi guru beladirinya Adinda? Gue tahu, selain Lu sudah sabuk hitam, Lu juga menjadi sabeum di dojang yang ada di sekitar Karang Setra kan?”


Agung menatap Hans tak berkedip.


“Kok Bang Hans tahu?”


“Lah..!” Hans menatap sebal pada Agung.


Bramasta terkekeh.


“Wooooo *Agunga *Sabeum**,” Anton menepuk-nepuk punggung Agung.


“Gue baru mulai aktif lagi besok..”


“Ajakin Adinda sekalian ke dojang,” Leon mengerutkan keningnya.


Agung menggeleng. Dia menggoyang-gooyangkan lengan Leon dengan tatapan memohon.


“Gue gak bisa melatih Adinda.. Jangan gue..”


“Lu takut bakal buat Adinda cedera?”


“Salah satunya itu..”


“Salah duanya?” Bramasta mendesak.


“Ya itu tadi.. takut khilaf.”


“Takut khilaf bagaimana sih?” Anton meletakkan kedua telapak tangannya untuk menyangga bagian belakang kepala saat dia menyandarkan punggungnya ke sofa.


“Kalian kan tahu taekwondo selain tendangan juga lebih bermain di teknik bantingan kan?”


Semuanya mengangguk setuju.


“Kalian tahu setelah membanting harus apa? Harus mengunci lawan supaya tidak bisa bergerak. Tahu bagaimana tehnik kuncian?”


“Ah ya...” Semua mengangguk setuju, baru teringat kenapa Agung tidak mau mengajari Adinda.


“Gue sih bisa saja memberi teori tehnik kuncian. Gue yakin kalau Adinda ngunci gue, dia gak bakalan apa-apa. Tapi kalau gue mencontohkan pada Adinda, berat bagi gue untuk menahan khilaf..”


Meledak tawa mereka.


Bramasta mengelap air mata dari ujung matanya dengan kedua ibu jarinya. Lalu melongok ke arah pantry.


“Buk Istri... besok ikut sama Kakak Ipar ke dojang ya. Ajarin Adinda beladiri.”


“Pak Suami.. Adinda sudah khatam Disti ajari. Masalahnya ada di dirinya sendiri. Kepercayaan diri dan keberanian.”


Agung menoleh pada Adisti.


“Beneran, Dek?”


“Beneran lah. Posisi kuda-kudanya juga bagus. Tehnik menendang dan memukulnya juga sudah dia kuasai.”


“Din, mau ikut saya gak ke dojang, besok sore? Saya ada jadwal mengajar di sana.”


Adinda yang saat itu sedang mengeluarkan muffin dari microwave langsung menoleh.


“Saya sih mau aja, Om. Tapi sepertinya besok saya mau fokus belajar. Lusa kan sudah mulai ujian tertulis.”


“Oh iya...” Agung menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal, “Setelah ujian saja ya kalau begitu..”


Adisti meletakkan muffin yang baru matang di tray stainless steel. Setelah semua selesai diletakkan, dia menatap Agung.


“Om, kok banyak banget sih agenda kita yang dibuat setelah ujian?"


Para anggota Kuping Merah terkikik menahan tawanya kecuali Agung yang tampak kebingungan.


“Nah loh.. agenda apa aja tuh, Gung?” Layla tersenyum lebar.


Hana dan Adisti terkikik sambil saling mendekatkan kepalanya.


“Catat, Din.. Om kamu itu sering lupa. Bahkan kalau ke kamar mandi sering lupa bawa handuk...” Adisti terkikik geli.


“Woiyyy, Dek! Jadi adik yang baik napa sih? Malah bongkar aib kakaknya..” Agung bersungut-sungut.


“Nggak kok Teh.. selama Dinda di sini, Om Agung gak pernah ketinggalan handuknya,” Adinda tengah mengisi mangkuk-mangkuk kertas di cetakan muffin dengan adonan yang baru, “Kan Om Agung setiap keluar dari kamar mandi sudah pakai baju..”


Suara tawa meledak lagi. Membuat Baby Andra terlonjak kaget dari gendongan Hana dan menangis kencang.


“Cup..cup..cup.. kaget ya. Uncle dan Aunty berisik semua ya. Kasihan banget cucu Nenek. Kaget ya sayang..” Bunda berjalan ke arah luar, “Ikut Nenek yuk.. Petik bunga kuning, mau?”


Saat sampai di ambang pintu, Baby Andra sudah berhenti menangis. Dia memainkan kerudung Bunda.


Bunda menoleh pada Hans dan Hana, “Kalian kalau mau honeymoon, titipin saja Baby Andra ke Bunda ya. Biar kalian tenang bikin adiknya Baby Andra..”


Suara tawa terdengar lagi.


“Ya ampun.. Bunda..baru juga berumur setahun..” Hana menatap punggung Bunda.


“Hunny, ide dari Bunda bagus juga tuh,” Hans mengedipkan sebelah matanya pada Hana.


“Ciyeeeeee,” ledek Adisti, Layla dan Adinda bersamaan.


“Bunny, please deh gak usah macam-macam..” Hana menatap galak pada Hans.


Giliran para pria di sofa ruang tengah terbahak.


“Yaaaa ditolak deh,” Leon terkekeh.


“Layu sebelum mengembang,” sergah Indra sampai terbatuk-batuk.


“Apanya yang mengembang?” tanya Adinda dari arah pantry.


Seketika semuanya terdiam memandangi Indra. Sementara di pantry para istri cekikikan tertahan.


“Nah loh!” gumam Anton pelan.


“Nggak.. itu cuma kata-kata kiasan doang kok,” Indra menyengir menatap Adinda.


Agung menatap Indra dan Adinda bergantian. Sepertinya Adinda tampak kurang puas dengan jawaban dari Indra.


Sebelum Adinda bertanya lagi, Agung langsung berkata, “Din, kayaknya kamu ada yang lupa ya? Pembicaraan kita di mobil saat kita belum sampai ke toko peralatan kue tadi..."


Adinda menatap Agung. Berusaha mengingat lagi. Kemudian mengangguk.


"Bang Hans, Bang Bram, Bang Indra, bang Leon, Kak Anton. Juga Mbak Hana, Teh Disti dan Kak Layla.. ma’afkan Dinda tadi pagi. Sebelum berangkat ke toko tadi... Dinda sudah jutek ke kalian semua. Karena dikatai bocil...”


Semuanya terdiam menunggu kelanjutan Adinda.


“Gak seharusnya Dinda bersikap seperti itu. Bang Hans menyebut Dinda bocil bukan berarti menyepelekan Dinda tapi justru karena sayang ke Dinda..”


Hans mengangguk dan tersenyum.


“It’s OK. Kita semua saja sudah lupa dengan kejadian tadi..”


“Tetap saja Dinda merasa hal tersebut tidak pantas untuk dilakukan apalagi pada orang yang lebih tua usianya daripada Dinda. Tolong ma’afkan Dinda ya..”


“Iya.. sudah dima’afkan kok,” Layla menepuk-nepuk pundak Adinda sambil tersenyum.


"It's OK. Kita semua tahu kok seusia kamu memang wajar bersikap seperti itu. Usia merasa sudah dewasa tapi bingung hendak apa dan bagaimana. Usia labil. Masih mencari jati diri,” Hana merangkul Adinda.


“Nah.. untung deh keingatan Mbak Hana ini seorang psikolog. Sekalian ya Mbak, bimbing Adinda untuk menguatkan rasa percaya dirinya juga keberaniannya,” Adisti tersenyum lebar menatap Hana.


“Insyaa Allah. Kita bantu Adinda bareng-bareng ya. Tapi dengan Adinda menunjukkkan bakat bakingnya melalui video saja sudah merupakan lompatan besar untuk orang introvert.”


Adisti dan Layla mengangguk setuju.


“Video kamu saat baking dengan seragam putih abu kamu itu keren banget, loh Din. Gak ada kan, video baking dengan seragam sekolah?" Hana menatap Adinda yang tersenyum malu.


Gawai Hans berbunyi, Dering panggilan masuk.


“Bunny.. it’s weekend time, Darl..” Hana mengingatkan suaminya.


Hans hanya membalas dengan kedipan sebelah matanya. Dia sudah membaca nama yang tertera di layar gawainya. Nama yang tidak bia dia abaikan begitu saja. Raditya.


“Assalamu’alaikum Pak Raditya,” Hans menekan tombol loudspeaker.


“Wa’alaikumussalam Tuan Hans. Saya baru saja turun dari pesawat saat melihat sosmed dipenuhi video Agung Aksara Gumilar memenuhi beranda medsos.”


.


***


Kira-kira Raditya ini orangnya Inspektur Thakur bukan ya?


Catatan Kecil:


• Capcut : adalah aplikasi pengeditan video all in one yang membantu pengguna membuat video berkualitas tinggi dengan lebih mudah hanya dengan menggunakan foto ataupun video sederhana.


• Adobe Lightroom adalah software pengeditan foto yang paling digemari para fotografer ataupun konten kreator.


Sebagai software, penggunaannya lebih rumit daripada aplikasi editor lainnya.


• Dari huruf hanja yang menyusun kata taekwondo,


Tae : menendang atau menghancurkan dengan kaki


Kwon : tinju


Do : jalan atau seni


Taekwondo diterjemahkan sebagai seni tangan dan kaki atau jalan atau cara kaki dan kepalan.


• Sabeum : instruktur


• Dojang : tempat latihan