CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 63 – WAG KUPING MERAH



Bramasta masih memegangi sebelah telinganya. Kemudian duduk dengan tegak di kursinya.


“Kenapa telinganya merah sebelah, Bram?” tanya Om Dhani yang baru saja datang.


“Pecicilan sih,” ledek Layla.


“Pecicilan bagaimana?” tanya Om Dhani lagi.


“Dijewer Daddy, Om,” cengir Bramasta.


“Lah, kok bisa?”


“Ya itu tadi, Om.. pecicilan,” Layla terkikik.


“Makanya lagi ada acara tuh yang kalem,” protes Mommy.


“Anggap saja tadi sedang bachelor party, Mom..” Bramasta mengelus telinganya lagi.


Mommy menoleh cepat, tangannya mencubit lengan atas Bramasta, “Apaan bachelor party?? No way!”


Bramasta mengaduh, “Issssh sakit Mom!”


Daddy menoleh galak ke Bramasta.


“Pak Gumilar, maafkan Bramasta ya. Tingkah lakunya mendadak pecicilan begini..”


“Nggak, Ayah. Bramasta gak pecicilan. Cuma petakilan.”


“Sama saja, Bram,” Om Dhani menimpali.


Ayah terkekeh.


Pembacaan ayat suci al Qur’an dan saritilawahnya baru saja selesai.


“Bang,” tanya Agung kepada Indra, “Baju udah diambil?”


“Baju apa?”


“The Ritz.”


Mendengar kata The Ritz, Leon langsung mendekatkan tubuhnya pada mereka.


“Apaan sih ini Bang Leon.. Kangen Rita?”


“Mondieu! Gegabah kalian ini,” Leon gusar, “Abang cuma penasaran aja, ngambil bajunya bagaimana. Ada drama lagi gak?”


“Nggak..gak ada drama. Kan yang ngambil anak cewek, Bang. Cuma ya itu, kata yang ngambil dia dijudesin RIta.”


Mereka bertiga terkekeh pelan.


“Gak dapat mangsa baru.”


“Rita ngomong apa aja?”


“Dia nanya-nanyain Andri Dhani. Gue udah briefing ke pegawai yang ngambil baju, bilangin aja gue masih di Singapura.”


Mereka bertiga terkekeh lagi.


Mereka kemudian terdiam ketika penceramah sudah naik panggung. Menyimak dengan baik isi tausiyahnya. Dari kejauhan, Bramasta tampak senyum-senyum sambil menyimak. Agung mengarahkan kamera gawainya untuk mengambil gambar Bramasta. Langsung mengirimkannya kepada Adisti.


Agung_Calon suami Adek, bahagia banget malam ini. (Emot love)_


Adisti_Thanks Kakakku sayang… Tahu banget Adek lagi kangen ke Abang. Salamin ya.. (Emot mawar)_


Agung_Ganjen ih_


Adisti_(emot leletin lidah)_


Acara selesai pukul 22.00. Saat berpamitan pada Bramasta, Agung menunjukkan chatnya pada Bramasta. Bramasta membacanya dengan tersenyum lebar lalu terkekeh.


“Kakak Ipar, bilangin ke Adiknya Kakak, Abang juga sama, kangen Adiknya Kakak..”


Agung menatap Bramasta dengan tatapan jengah.


“Ogah ah menyampaikan pesan sebucin itu.”


“Isssh atuhlah!”


“Ogah.”


“Ada apa?” tanya Ayah.


“Tauk tuh Bang Bramasta..”


Bramasta salah tingkah, “Nggak.. gak ada apa-apa Yah.”


“Beneran?” tanya Ayah.


“Sampaikan salam Abang buat anak Ayah yang paling cantik itu ya Yah..”


Ayah terkekeh, “Salam apa?”


“Salam kangen, Yah.”


“Sebucin itu kamu sekarang, Bram?” tanya Daddy, “Biasanya kamu yang paling protes saat Daddy bucinin Mommy.”


Semua tertawa mendengarnya. Bramasta hanya tersenyum tidak membalas ucapan Daddy.


Agung menarik Bramasta ke kursi di dekatnya.


“Bang, tentang insiden tadi, Bunda cemas terhadap Abang.”


“Cemas bagaimana?” Bramasta mengerutkan keningnya.


“Cemas kalau Abang berpikiran negatif tentang kerabat kami.”


“Bunda terlalu khawatir berlebihan.”


“Aa juga bilang begitu ke Bunda. Abang gak akan pernah berpikiran seperti itu.”


“Lagipula Abang kan sudah merasa kalau si Irma itu penyusup. Bukan kerabat kalian.”


“Bunda gak enak hati karena Abang mendadak tidak mau makan siang bareng padahal makanan sudah tersedia.”


Bramasta terdiam sambil mengangguk-angguk.


“Mommy juga begitu kalau udah masak terus gak ada yang makan, langsung ngambek. Ya udah, besok pagi Abang telepon Bunda ya.”


Agung mengangguk.


“Kakak Ipar, terima kasih ya. Abang senang Kakak Ipar terbuka seperti ini, tidak ada yang ditutup-tutupi.”


Mereka berpelukan sambil saling menepuk-nepuk punggung.


“Ayo Kak, kita pulang,” kata Ayah.


“Iya Yah.”


“Agung,” seru Mommy, “Jangan lupa ya besok semua ke butik untuk fitting baju. Jam 07.30 sudah sampai sana ya.”


Di rumah, kerabat Agung ramai membahas bagaimana Keluarga Sanjaya berinteraksi.


“Sugan teh nya kaluwarga sultan teh kumaha kitu kehidupanana_Kirain keluarga sultan itu gimana gitu kehidupannya_. Diluar jangkauan kita lah selaku rakyat jelata. Tapi melihat Keluarga Sanjaya ini, masyaa Allah.. salut sayah mah dengan mereka. Soleh, beradab, berilmu, akrab, kekeluargaannya luar biasa,” kata kerabat yang paling sepuh.


“Gak semuanya keluarga sultan seperti itu, Uwak,” kata Agung, “Ada juga keluarga sultan yang songongnya luar biasa. Sepertinya Allah memberikan kelebihan harta sebagai bentuk istiradj bagi mereka tapi mereka tidak menyadarinya. Bahkan semakin sombong dengan hartanya yang makin banyak.”


“Tapi ada juga keluarga yang minus tapi songong kebangetan,” kata salah seorang kerabat.


“Asa kacida nyaa_Kebangetan yaa_. Kata Bang Haji Rhoma: T E R L A L U !” seorang sepupu Agung ikut menimpali. Kerabat yang lainnya tertawa.


Ayah menyampaikan salam dari Bramasta kepada Adisti di depan para kerabat. Para Uwak, Mamang dan Bibi Adisti langsung ber-ciyee ciyee menggoda Adisti. Tidak ketinggalan Agung ikut menggoda Adisti. Banyak tawa dan kebahagiaan di rumah mereka. Mereka bersyukur Adisti berjodoh dengan Bramasta.


Malam itu, beberapa kerabat bermalam di penginapan dekat komplek rumah Keluarga Gumilar. Kamar Adisti yang di atas dipakai untuk sepupu-sepupu yang dekat dengan Adisti. Sedangkan sepupu laki-laki tidur menghampar di karpet ruang tengah.


Pagi-pagi, Agung terbahak keras saat membuka gawainya. Indra membentuk WAG beranggotakan Agung, Bramasta, Leon, Hans dan Anton. WAGnya diberi nama “Kuping Merah”.


Agung_Assalamu’alaikum all… gak salah tuh pakai nama Kuping Merah?_


Indra_Wa’alaikumussalam. Kagaklah_


Anton_Kuping gw masih sakit nih_


Leon_Sama, kuping gw juga. Mana tadi ditarik-tarik Eric lagi_


Agung_Bang Hans lom nongol?_


Indra_Setdah! Ni bocah dari semalam yang dicari Hans mulu!_


Hans_Hadir! Lagi nyuci mobil dulu_


Anton_Nyuci sendiri, Bang?_


Hans_Gak. Ini lagi di tempat cuci mobil sambil ngasuh si kecil dan nyenengin busui. Katanya pengen bubur ayam di dekat cucian mobil_


Indra_Hebat. Ayah teladan. Suami siaga (emot jempol)_


Agung_Calon manten lom muncul?_


Leon_Noh lagi body plank di dekat kolam ikan._


WAG senyap. Sepertinya semua kembali ke kegiatannya masing-masing. 10 menit kemudian, notifikasi pesan masuk berbunyi. Bramasta mengirimkan sebuah video di WAG.


Kamera menyorot Daddy yang tengah memberi makan ikan koi di kolamnya. Sesekali mengajak bicara ikan piaraannya.


“Dad, Indra bikin WA grup Kuping Merah,” suara Bramasta terdengar.


“Kenapa?” tanya Daddy tidak menoleh, “Memang siapa saja anggotanya?”


“Ada Hans, Agung, Anton, Bang Leon, Bram juga..”


“Hmmmh biang kerok semua, petakilan grup.”


“Terus tanggapan Daddy tentang WAG Kuping Merah bagaimana?”


Daddy menoleh, “Divideoin nih?”


Daddy menghadap kamera, “Buat anggota WAG Kuping Merah, selamat atas terbentuknya WAG kalian. Tetap kompak, tetap akur selalu. Jangan ragu untuk tetap petakilan tapi ingat jangan sampai lupa tempat dan lupa waktu. Jangan sampai nama WAG kalian berganti lagi menjadi Kuping Ungu. Sekian dan terima kasih. Stay cool and keep petakilan. Karena tanpa petakilan, dunia sepi. Lanjutkan!”


Daddy mengepalkan tangannya di udara sambil memasang wajah serius.


Berikutnya Daddy melambai-lambaikan tangannya di depan kamera sambil tersenyum lebar.


Suara Bramasta terkikik. Video berakhir.


Dan WAG pun ramai dipenuhi emot ngakak.


Anton_Ya Allah.. pagi-pagi udah dibuat ngakak begini_


Hans_Woiyy bini gw keselek bubur gegara ikut nonton video Daddy_


Agung_Kalau bini keselek kasih minum, Bang. Bukannya nge-chat… (Emot tawa)_


Agung menunjukkan video tersebut pada Ayah, Bunda, Adisti dan beberapa sepupunya. Mereka geleng-geleng kepala sambil tertawa. Pagi ini mereka sarapan lebih awal. Bunda memakai jasa catering tetangga komplek untuk makan siang dan makan malam supaya tidak repot. “Melariskan dagangan tetangga,” begitu prinsip Bunda yang lebih mengutamakan menggunakan tetangga daripada tempat lainnya.


Jam 07.30, mereka sudah tiba di butik. Mobil Mommy dan mobil yang biasa dipakai Leon juga sudah tampak di pelataran parkir.


“Masa pingitan buyar deh karena waktunya yang mepet banget,” kata Mommy.


“Dipingit juga mereka masih bisa WA nan,” kata Bunda sambil tertawa.


Kebaya putih untuk akad tengah dicoba Adisti. Kebaya cantik dengan bagian belakang panjang hingga pergelangan kaki. Cantik, simple dan anggun itu yang terlihat saat Adisti memakainya. Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi.


Adisti suka dengan motif kain brokatnya. Motif akar dan kuncup-kuncup bunga. Mengingatkannya dengan film Tinkerbell. Hiasan kristal swarowszki di bagian bawah dan lengannya menambah kesan mewah.


“Disti cantik banget,” kata Layla, “Masyaa Allah..”


“Bajunya yang bikin Disti jadi cantik, Kak,” kata Adisti.


“Jadi pengen pakai kebaya akad lagi..” kata Layla.


“Hussh, kamu itu sembarangan ngomongnya. Kalau Leon dengar bagaimana? Untung di sini cuma kita berempat, bertujuh dengan Umi Khalid dan crew-nya.”


“Maksud Layla, pakai bajunya aja, Mom.. bukan pengen nikah lagi. Bang Leon est irremplacable. Je l’aime tellement_Bang Leon tak tergantikan. Aku sangat mencintainya_,” jawab Layla.


“Dih kena virus bucin juga nih,” kata Mommy.


“Udah pakai saja lagi, buat kejutan suami,” kata Bunda.


“Kayaknya udah gak muat lagi, Bun,” kata Layla dia memanggil Bunda sama dengan adiknya.


“Pakai saja, jadi lebih s*xy kan? Menuh-menuhin bungkusnya?” Bunda terkekeh disertai Mommy.


“Iya, nyenengin mata suami. Pahala loh,” kata Mommy. Bunda langsung mengacungkan jempolnya pada Mommy.


“Bun, Mom,” panggil Adisti, “Disti udahan nih fittingnya? Kayaknya gak ada yang harus dipendekkin atau dibesarin.”


“Belum, Sayang. Itu baru baju buat akadnya. Baju resepsi belum dicoba. Tapi ma’af ya, untuk fitting baju resepsinya, mata Adisti harus ditutup dulu. Layla sudah siapkan penutup matanya,” kata Mommy.


“Kenapa Mom?”


“It’s Bramasta’s request,” kata Mommy. Layla dan Umi Khalid terkikik.


“Serius nih?” Adisti tidak yakin.


“Duarius. Nih Kakak udah siapin penutup matanya,” Layla mengeluarkan penutup mata untuk tidur miliknya saat berada di pesawat.


“Oh My …” kata Adisti.


***


Daddy memang warbiyasah.


Kayaknya para pegawai Sanjaya Group bahagia banget ya punya boss seperti Daddy ...


Mohon maaf telat untuk up. Si Kecil sedang demam selama 2 hari ini karena bapil 🙏🏼