CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 196 – SIMPING CIKUR LOVERS



Saat memasuki ruang tengah, Agung dan Adinda disuguhi pemandangan aneh. Masing-masing orang memegang kepingan simping kencur dan khusyu menikmatinya.


“Sedang lomba makan simping cikur_kencur_?” tanya Agung sambil mengambil kepingan simping di depan Indra.


Indra menghalau tangan Agung.


“Punya gue ini. Jangan diganggu,” Indra memeluk kemasan simpingnya.


"Dih! Cuma simping juga.. pelit amat sih?” sungut Agung


“Ini enak banget. Padahal gue sering lihat kue ini di tempat oeh-oleh tapi baru kali ini gue coba. Ternyata bikin nagih rasanya,” di tangan Hans ada 3 keping simping.


“Kemana aja Lu selama ini, Bang? Ini kue legend banget. Tiap daerah ada. Purwakarta, Cianjur bahkan Cirebon ada kue ini. Tapi kayaknya di Cirebon namanya kue gapit, bentuknya juga lebih kecil dan lebih tebal daripada simping Purwakarta dan Cianjur,” Anton menerangkan panjang lebar.


“Lu tahu banyak Ton?” Hans mengambil kepingan simping lagi.


“Nǎinai suka banget dengan kue ini,” Anton tersenyum namun kemudian wajahnya muram. Dia memakan simping yang ada di tangannya dalam diam.


“Nainai?” tanya Kak Layla.


Anton mengangguk, “Nenek dalam bahasa Cina tradisional.”


Layla mengangguk mengerti.


“Inovasi kue ini, dibuat varian rasa selain rasa cikur alias kencur,” Indra ikut bicara tentang kue simping.


Mommy tertarik. Dia menunggu penjelasan Indra.


“Ada rasa bawang dan juga rasa keju,” Indra memberi 2 keping kepada Agung yang memandangi kemasan simping di tangannya.


Bunda menggeleng sambil menggoyangkan telapak tangannya, “No.. no.. the best is simping cikur. Ori banget rasanya. Kalau yang keju bagi kami aneh rasanya. Baunya gak enak dan warnanya juga aneh.”


Mommy mengangguk-angguk.


“Bun, biasa beli simping dimana?”


Bunda terkekeh.


“Di Pasar Baru, lantai dasar. Kelihatan kok dari jalan. Atau di Pasar Kosambi. Lantai semi basementnya. Pusatnya oleh-oleh tuh di sana.”


“Dih.. dari tadi ngomongin simping melulu,” Daddy menyesap teh tawarnya, “Leon gak malu-maluin kan tadi sewaktu di urut?”


“Owh.. nggak dong Dad..” Leon tersenyum bangga.


Cerita Leon tentang keberaniannya saat diurut oleh Mamang Urut Cimande mengalir lancar bak cerita heroik legenda Hercules melawan Hydra, naga berkepala delapan.


Bramasta dan Indra saling berpandangan. Kemudian tersenyum lebar. Memberi kode untuk mendekat pada Anton.


Anton yang didekati mengerutkan keningnya.


Bramasta memperlihatkan gawainya sambil meminta disambungkan ke speaker laptop Anton. Anton terkekeh dan mengangguk mengerti.


Saat selesai bercerita, suara jeritan Leon terdengar dari laptop Anton. Jeritan bernada tenor. Membuat semua orang dalam ruang tengah melongo.


"HUWWWAAAAAA! SAKIT MANG! UDAH! UDAHAN!”


Tidak berapa lama..


“DUH! AMPUN MANG! AMPUN!! TOS MANG! NYERI PISAN IEUH.. _udah Mang! Sakit banget ini..”


Terdengar suara nafas Leon yang memburu disertai isakan.


“MAMAN .. C’EST TELLEMENT MALADE_Mama.. sakit banget ini.._!” suara isakan Leon terdengar jelas.


"Ulah cengeng jadi lalaki..!” suara Mamang Urut terdengar jelas.


“Da nyeri atuh Mang..!” suara Bang leon setela isakannya reda.


Terdengar suara Mamang Urut membaca basmalah lalu terdengar bunyi KREK dengan nyaring dan jelas disertai jeritan Leon, “WAAAAAAAAAAA!!”


Kemudian sunyi.


“Sok sekarang gerakin pelan-pelan..” perintah Mamang Urut.


Rekaman suara berakhir.


Semuanya memandang Leon dengan tatapan yang sullit dijabarkan. Antara kasihan dan juga ingin tertawa.


Kasihan mendengar jeritan juga isakannya dan ingin tertawa karena apa yang tadi ia ceritakan dengan nada heroik terdengar bagai cerita karangan halu tingkat dewa belaka.


Leon memandang galak pada Bramasta dan Indra. Indra mengangkat kedua tangannya sambil menunjuk pada Bramasta.


“Gue kagak ikutan, Bang!” Indra mengeluarkan cengirannya, “Sesuai larangan Bang Leon kan? No video. Artinya rekam suara dan kamera foto tidak dilarang kan?”


“Iya, Lu kagak ikutan, Bang. Tapi ikut mendukung dan merestui,” Agung terkekeh sambil memberi 2 jempolnya.


“Eta teh suara KREK naon_Itu bunyi KREK apaan_?” tanya Ayah.


“Suara dari persendian tulangnya Bang Leon, Yah,” Bramasta terkekeh.


“Ya Allah.. nepi ka kituna.._Sampai segitunya..” Bunda bergidik.


“Renyah banget ya suaranya,” Mommy menatap iba pada Leon.


“Dih.. Mommy..” Layla menghampiri Leon.


“Cher Léon..” Layla memeluk Leon sambil mengelus punggungnya.


Leon membalas pelukan Layla. Menelusupkan wajahnya pada lekuk leher istrinya yang terbalut hijab.


Salah satu tangan Layla berhenti mengelus punggung suaminya. Terulur pada lengan Bramasta yang duduk di dekat Leon.


“AUW!! KAAAK SAKIIITTT” Bramasta berjengit saat dicubit kakaknya.


“Punya adik kok jahat banget ya ke suami Kakak..” sahut Kak Layla sambil mengelus kembali punggung suaminya.


Leon melirik Bramasta sambil tersenyum lebar. Bramasta mencebik pada Leon sambil mengelus bekas cubitan Kak Layla.


“Kasihan Pak Suami Akoooh..”


“Dih!” Agung, Anton, Indra dan Hans kompak bersuara sambil meleletkan lidahnya.


“Drama bucin dimulai..” seloroh Adinda sambil terkekeh.


“Din, kamu jangan ikutan Layla dan Disti meluk-meluk pasangannya ya," kata Indra sambil membuka gawainya.


"Nggak Bang," Adinda menggeleng cepat, "Gak boleh. Belum mahrom. Ya gak Bun?” Adinda menjulurkan lehernya ke arah Bunda.


Bunda mengacungkan kedua jempolnya pada Adinda.


“Good..” Indra tersenyum lebar memandang Adinda.


“Nanti palingan Dinda meluk tiang gazebo aja daripada meluk Om Agung..”


Agung yang sedang menyeruput kopinya langsung tersedak.


Indra menepuk-nepuk punggung Agung.


“Lu kenapa?”


Agung menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Gak gitu juga kali Din..” protes Agung.


“Kenapa sih?” Indra mendadak kepo.


“Kan tadi saya sudah bilang, kalau sudah mahrom, kamu jangan peluk tiang lagi tapi peluk saya..” Agung menatap Adinda yang balas menatapnya dengan membelalakkan matanya.


“Ciyeeeeee, kanebo kering mendadak bucin..” Adisti terkekeh keras diikuti yang lainnya.


“Oh.. jadi ini yang kalian bicarakan tadi setelah ditinggalkan berdua di gazebo?” tanya Mommy sambil terkekeh.


“Si Kakak...” Ayah memandang Agung sambil menggelengkan kepalanya.


“Kalian berdua seperti cerita film India,” kata Daddy sambil terkekeh.


“Oh iya.. setting tempat syutingnya, kalau gak tiang bangunan yang diputerin, juga pohon, taman bunga, hujan ya Dad. Sambil joged dan nyanyi..” Bunda menjawab sambil terkekeh keras.


“Nah iya,” Daddy terkekeh lagi.


Wajah Agung dan Adinda memerah bersamaan.


"Bram, cuma ada rekaman suaranya saja?" tanya Ayah kembali lagi pada topik Bang Leon.


“Foto-foto ada di Indra, Yah..” Bramasta memandang Indra yang sedang menghubungkan kabel data antara gawainya dangan laptop Anton.


“Foto apa?” Leon terdengar panik, “Dih kalian ini ya..”


Indra memilih foto untuk ditayangkan. Foto-foto Leon terpampang di layar laptop. Suara tawa membahana lagi dari ruang tengah.


“Makanya tadi Daddy tidak yakin dengan cerita awal Leon yang begitu gagah berani..”


“Kenapa gak yakin, Dad?” tanya Ayah.


“Ya bocah tengil, pecicilan dan petakilan tapi manja begitu...” Daddy tertawa, “Jadi ingat saat di ruangan Indra kemarin.. bagaimana pucatnya Leon saat Indra menelepon temannya yang bercerita pengalamannya pernah diurut oleh tukang urut Cimande sampai ngompol...”


Semua tertawa lagi. Leon mencebik kesal.


“Tapi anak Daddy yang satu ini memang luar biasa. Jagoan banget bisa mengalahkan 3 preman dan menolong sepasang turis lansia. Daddy dan Mommy bangga ke kamu, Leon!”


Wajah Leon mendadak cerah setelah dipuji Daddy. Layla yang melihat perubahan wajah suaminya langsung memeluk suaminya dengan keras.


Leon mengaduh sambil meringis.


“Darl, it’s hurt...”


Layla melepaskan pelukannya dengan wajah bersalah.


“Sorry.. really sorry, Dear..”


Bramasta melihatnya dengan jengah. Yang lainnya tertawa.


Gawai Indra berdering panggilan masuk. Indra menerutkan keningnya saat membaca nama yang tertera pada layar.


Agung yang ada di sebelahnya kut mengerutkan keningnya. Lalu menatap Indra.


“Dubes Jerman?”


Indra mengangguk lalu menswipe logo telepon yang berwarna hijau untuk menerima panggilannya.


“Guten Abend, Herr Botschafter_Selamat sore Tuan Duta Besar_” Indra mengawalinya dengan bahasa Jerman membuat semuanya menfokuskan tatapannya pada Indra.


Indra mengerutkan keningnya. Lalu bergumam. Dia mengusap kasar wajahnya. Matanya menatap muram memandang Bramasta dan Hans.


Gesture tubuhnya mengatakan ada yang tidak beres dan tidak baik-baik saja. Bramasta dan Hans menegakkan posisi duduknya.


“Ja..ja..ich verstehe die situation.._Ya..ya.. saya mengerti situasinya.._” Jeda lagi agak lama.


Indra memejamkan mata. Memijat pilipisnya yang terasa berdenyut.


“Irgendwelche Vorschläge zu diesem Bryan-Fall, Herr Karl?_Ada saran untuk kasus Bryan ini, Tuan Karl?_” Jeda.


Indra mendengarkan penjelasan Dubes Jerman, Mr. Karl sambil menganggukkan kepalanya dan menatap Anton.


Bibirnya mengucap, “Prince Zuko,” tanpa suara.


.


***


Kira-kira ada apa lagi ya Mr. Karl sampai menelepon Babang Indra?