CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 279 – JEJAK YANG TERLIHAT



“Bagaimana bisa?” Adisti berseru panik.


“Sebentar.... Ada Bang Hans dengan anak buahnya di apartemen Kakak Ipar. Anton sudah bergabung.”


“Bang, baca bareng dong.”


“Bang Hans kirim video. Sedang download...”


“Video apa?”


“Dari CCTV rumah Pak Radit sepertinya.”


Downloading selesai. Bramasta segera menekan tombol play.


“Loh, itu kan Pak Radit? Kenapa dia pulang ke rumahnya. Kan gak dibolehin kembali ke rumahnya?” Adisti menunjuk pada sosok yang membuka pintu rumah Raditya.


“Ssssh tonton dulu baru komen.”


“Isssh Abang gitu ih.”


“Hmmm!”


“Innalillaahi!” Adisti berseru kaget, “Itu sih dibakar bukannya terbakar!”


“Bom molotov.”


Anton mengirim pesan, identitas pelaku yang bisa dikenali oleh Agung dan Raditya. Indra dan Leon ramai mengomentari.


“Bang,” Adisti memegang tangan suaminya, “Besok, Ayah dan Bunda bagaimana?”


Adisti memilih bersandar di headbed sambil memeluk lututnya. Pikirannya dibayangi kecemasan akan keselamatan Ayah dan Bunda besok.


“Kita tunggu kabar dari Hans, OK. Jangan cemas. Lagi pula Kakak Ipar sedang berada bersama Hans sekarang.”


“Disti cemas, Bang.”


“Percayakan keselamatan Ayah, Bunda dan semuanya pada Allah. Jangan ragukan kemampuan Hans. Dia mengorganisir orang-orangnya dengan sangat baik.”


“Bagaimana kebakaran di rumah Pak Radit?”


“Kata Kakak Ipar, sudah berhasil dipadamkan oleh warga. Pemadam kebakaran yang dipanggil tidak pernah sampai ke sana padahal menurut petugas di kantor pemadam, mereka sudah mengirimkan 1 unit mobil ke sana.”


“Aneh.”


“Indeed.”


“Yang tadi itu beneran Pak Radit? Keadaannya bagaimana sekarang?”


“Bukan. Karena ucapan Kakak tadi membuat Hans membuat skenario bahwa Pak Radit pulang ke rumahnya. Itu salah satu anak buahnya Bang Hans, sengaja dipilih karena perawakannya mirip Pak Radit.”


“Terus dia bagaimana?”


“Dia berhasil keluar dengan selamat. Membawa barang-barang yang diminta Pak Radit plus laptopnya dari ruang kerjanya yang terbakar. Ruang kerjanya ada di kamar paling depan.”


“Bagaimana dia keluar?”


“Dia membungkus dirinya pakai bedcover yang dibasahi air di dalam bak mandi.”


“Kasihan Pak Radit.”


Bramasta masih membaca chat percakapan dengan para Kuping Merah. Adisti meletakkan dagu di atas lututnya. Matanya menerawang menatap tembok abu-abu muda di hadapannya.


“Kalau seperti ini sudah tidak bisa lagi mengambil minyak pakai cara dingin. Mereka yang memulai keributan, langsung saja taruh di atas api. Suruh orang-orang yang tidak bersalah menyingkir dari api agar tidak terpercik minyak panasnya..”


Bramasta menoleh menatap istrinya yang tatapan matanya tidak seperti biasa. Dia mendengarkan ucapan istrinya dengan jelas.


Dengan hati-hati, Bramasta menyentuh siku istrinya.


“Disti..”


“... jauhkan yang tidak bersalah dari api dan dari katel panasnya. Akan ada uap panas yang membumbung, biarkan saja. Biar tertiup angin...” Adisti bergeming dan masih berucap dengan intonasi yang beda.


“Disti..”


Adisti mengerjapkan matanya.


“Eh, apa Bang? Abang bicara apa?”


“Abang dari tadi manggil-manggil Disti..” Bramasta memeluk dengan rasa khawatir, “Buk Istri baik-baik saja?”


“Isssh kenapa sih Abang ini?”


Bramasta menyodorkan gelas berisi air minum kepada istrinya.


“Minum dulu. Terus baca ayat kursi dan baca do’a tidur.”


“Disti belum mau tidur sekarang..”


“Patuh. Jangan buat Abang cemas lagi.”


“Iya..”


Bramasta menunggui istrinya hingga tertidur sambil menulis pesan chat di WAG. Menceritakan apa yang baru saja Adisti katakan dalam keadaan setengah sadarnya.


Hans_OK. Ucapan Disti sama dengan skenario baru yang baru saja gue bicarakan ke Raditya_


Anton mengirimkan video mobil pemadam kebakaran dan mobil patroli.


Bramasta_Apa Raditya tidak curiga kalian bisa melacak keberadaan mobil patroli?_


Anton_Bang Hans bilang, orang-orang AMANSecure punya kemampuan untuk melakukan hal tersebut_


Indra_Bang Bram sudah lihat videonya? Jelas beda banget dengan video dari Prince Zuko. Sepertinya Raditya menyadari perbedaan tersebut. Dia tipikal orang yang memperhatikan detil_


Bramasta_Belum.._


Indra_Terlihat berbeda karena video tersebut tidak mendapat sentuhan Anton_


Leon_Berarti Anton jadi ciri khasnya Prince Zuko (emot jempol)_


Bramasta_Adisti mencemaskan keselamatan Ayah dan Bunda besok. Hans, bagaimana?_


Agung_Bang Hans masih berbicara dengan Bang Raditya. Tadi sudah dibahas oleh Bang Hans. Insyaa Allah aman. Besok pagi-pagi sekali akan ada orang AMANSecure yang ke rumah mengantarkan 3 rompi kevlar. Bilang ke Adek, Bunda sebaiknya pakai gamis saja jangan tunik_


Bramasta_OK. Thanks Kakak Ipar_


Indra_Gue perlu merapat ke unit Lu gak nih Gung?_


Agung_Gak usah. Ini juga sudah mau pamitan. Kalian tidur semua. Jangan terlambat_


Indra_Gue besok merapat ke rumah Ayah, Gung_


Agung_OK_


Bramasta_Daddy sudah tahu belum, Bang @Leon?_


Leon_Sepertinya belum. Nanti gue yang beritahu Daddy besok pagi. Kasihan kalau diberitahu sekarang. Sudah masuk kamar dari tadi_


***


03.50


Pintu kamar diketuk dari luar. Adisti yang membukakan pintu. Ayah bersiap-siap ke masjid hendak mengajak menantunya.


“Suami Adek udah bangun?”


“Belum Yah. Sepertinya baru tidur sejam yang lalu.”


“Bangunkan dulu. Ayah mau ajak Nak Bram shubuh berjama’ah di masjid.”


“Iya Ayah..”


Tidak berapa lama, Bramasta sudah rapi mengenakan sarung dan baju koko menghampiri Ayah yang sedang mengaji di ruang tengah.


“Sudah siap? Ayo..”


Adzan shubuh baru terdengar saat mereka keluar dari gerbang.


“Kata Adek, Nak Bram baru tidur? Kenapa? Gak bisa tidur?”


“Bukan gak bisa tidur, Yah. Tapi kita sedang berdiskusi tentang Pak Raditya.”


“Kenapa?”


Ayah terperanjat kaget.


“Ada apa?”


“Rumah Pak Raditya kebakaran. Lebih tepatnya ada yang membakar, sesaat setelah orang yang disangka sebagai Pak Raditya memasuki rumahnya.”


Ayah berhenti berjalan. Tangannya mencekal lengan Bramasta. Menatap menantunya dengan mata melebar.


“Innalillaahi... Subhanallah... Terus?”


“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Hanya bagian depan rumah Pak Raditya yang terbakar. Orangnya Bang Hans yang menyamar sebagai Pak Raditya bisa keluar dari rumah dengan selamat dengan membungkus dirinya memakai bedcover yang dibasahi dalam bak mandi.”


“Ya Allah... Allahu Akbar...”


Bramasta merangkul Ayah. Menepuk-nepuk punggung Ayah.


“Jangan khawatir, Ayah. Insyaa Allah semua akan terkendali. Kita minta perlindungan kepada Allah. Ayah jangan terlalu mengkhawatirkan segala sesuatunya. Bang Hans sudah membuat pengaturan dengan cermat bersama Pak Raditya.”


Ayah mengangguk.


Saat mereka pulang dari masjid, sebuah mobil blind van bertuliskan AMANSecure parkir di depan gerbang.


“Mereka mengantar rompi kevlar,” Bramasta menjelaskan.


Baru saja hendak memasuki pintu depan, mobil Anton berhenti di belakang mobil blind van. Ayah dan Bramasta tidak jadi masuk. Mereka menunggu rombongan Anton di teras.


Mobil Indra tidak lama sampai di depan rumah Ayah. Mereka menyalimi Ayah. Ayah memeluk Raditya.


“Yang sabar ya. Luaskan hati untuk lebih bisa meluaskan rasa sabar. Insyaa Allah, Allah akan mengganti semua yang telah hilang dengan yang lebih baik.”


Raditya mengangguk.


Adisti rupanya sudah mengetahui kedatangan mereka semua. Terbukti sudah disiapkannya minuman teh panas di beberapa cangkir.


Adisti juga rupanya sudah bercerita dengan Bunda. Melihat Raditya, Bunda langsung memeluknya. Menghiburnya. Membuat Raditya menjadi terharu dengan Keluarga Gumilar juga circle pertemanan mereka.


Hans datang dengan rambut basah dan mata memerah.


“Lu tidur gak, Hans?” Indra mengamati Hans.


“Gak. Gak sempat.”


“Tapi Lu gak nyetir sendiri kan?”


“Iyalah. Too risky..”


Bramasta lewat di depan Hans sambil terkekeh.


“Gue tahulah kenapa Hans gak tidur..” Bramasta masih terkekeh, “Yang jelas sih bukan karena ini...”


“Terus, karena apa?” Indra menatap Hans lagi.


Hans yang ditatap terlihat salah tingkah tapi berusaha tetap jaim.


“Barang buktinya, cek aja lehernya!”


Semuanya langsung memperhatikan leher Hans. Hans yang mendadak jadi pusat perhatian langsung menutupi lehernya. Sayang, yang ditutupi adalah leher depan, padahal jejak merah nyaris bundar itu ada di leher belakangnya.


“Haisssh, Lu tuh Bram. Sebelum ngomongin gue, ngaca dulu..” Hans mendekati Bramasta.


Bramasta yang sedang mengambil cake langsung berbalik menatap Hans.


“Apaan sih?” Bramasta mengernyit heran.


“Ini apa nih? Dari sini....sampai sini. Gak tahu kalau di balik baju kokonya..” Hans tertawa.


Anton mendekat untuk melihat lebih jelas.


“Satu..dua..tiga..empat..” Anton menunjuk jejak nyaris bundar berwarna kemerahan di kulit leher Bram yang putih.


Semuanya tertawa tertahan.


“Ck..ck..ck...” Agung menggelengkan kepalanya, “Gue gak nyangka si Adek.....”


Suara kikikan mulai terdengar.


Bramasta terkejut. Meraba lehernya. Dan berusaha melihat lehernya dengan bantuan kamera depan di gawainya.


Bramasta melihatnya. Jejak kemerahan dimulai di bawah telinga... tengkuknya merinding membayangkan aksi Adisti semalam.


Adisti keluar dari kamar Bunda setelah membantu Bunda mengenakan rompi kevlar.


“Nah ini nih, tersangka utamanya...” Agung menatap Adisti.


“Apaan sih Kakak, gak jelas banget.”


Semuanya tertawa lagi.


“Buk Istri, Sayang...” Bramasta menunjuk lehernya.


“Apaan Bang?” Adisti mendekat untuk melihat lebih jelas, “Merah-merah? Digigit nyamuk?”


“Jiaaah nyamuuuuk!” seloroh Indra membuat semuanya terbahak.


“Nyamuk jadi tertuduh padahal mah vampire..” Anton menimpali.


“Abang ada meeting pagi loh.. Ini nutupinnya bagaimana?” Bramasta dilanda panik.


Semuanya tertawa lagi.


“Pakai syal saja..” Adisti mengambil cangkir tehnya.


“Musim kemarau sekarang, Sayang. Lagipula kita di Bandung bukan di Lembang,” Bramasta memegangi lehernya, “Buk Istri harus tanggung jawab.”


“Tanggung jawab apaan. Orang semalam kita gak ngapa-ngapain. Disti kan disuruh langsung bobo begitu kalian bahas kebakaran rumah Pak Radit.”


“Ciyee yang gak ngapai-ngapain dengan tanda bukti lebih banyak jumlahnya daripada yang ngapa-ngapain..” Indra terkekeh dan semakin keras kekehannya setelah mendapat tepukan keras pada lengannya oleh Hans.


Ruang tengah riuh lagi.


“Memang gak ngapa-ngapain kok kita.. Gue langsung tidur begitu tahu Bang Hans pulang dar apartemen Agung,” Bramasta menjelaskan, “Tanya saja Ayah...”


“Tahu ah!” jawab Ayah sambil meminum tehnya.


Jawaban Ayah membuat semuanya semakin keras tawanya. Raditya bahkan harus mengelap sudut matanya.


“Srimulat lagi nih. Semalam kakaknya, pagi ini adiknya...” seloroh Hans yang membuat semuanya tertawa lagi.


Ketegangan pagi itu mencair. Hans menjelaskan semua rencananya dengan santai.


Raditya tidak memakai seragam perwiranya. Dia memakai kemeja lengan pendek biasa agar tidak menarik perhatian. Di balik kemejanya dia sudah mengenakan rompi kevlar. Begitu pula dengan Ayah dan Bunda.


Rombongan Raditya menaiki sedan Lexus milik Bramasta. Sedan Lexus ES 300h miliknya itu sebenarnya bukan silver tetapi sonic titanium. Mata kita lebih terbiasa menyebut warna tersebut sebagai silver grey.



Akselerasi mesinnya sangat bagus. Hanya butuh 8,9 detik untuk sampai ke speed maksimal dari 0 speed. Itulah alasan utama Hans, bilamana terjadi hal yang tidak diinginkan di jalanan yang harus membutuhkan gerak cepat dan gesit untuk menghindari bahaya.


Hans sengaja meminjam mobil Bramasta karena tidak terlalu mencolok seperti Mercedes Maybach-nya Tuan Alwin. Terlalu glamor untuk Raditya dan terutama untuk Keluarga Gumilar.


Keberadaan Maybach tentu akan membuat iri hati bagi para pejabat yang haus dunia. Apalagi di negeri ini hanya sedikit yang memiliki mobil tersebut.


Sedan Lexus berjalan perlahan di komplek perumahan dengan dikawal mobil Fortuner dan Pajero di depan dan belakangnya. Menuju Jakarta.


.


***


Demi Readers, Author sampai download brosur Lexus. Dan tadi sepertinya gak sengaja kepencet buku test drive-nya 🤭😁


🙏🏼Lexus Indonesia, hapunten nyaaa teu kahaja🙏🏼


Jangan lupa pencet tombol like untuk menghitung retensi pembaca.


🙏🏼


Yang mau nyawer kembang, ngasih kopi, Author terima dengan tangan terbuka dan rasa bahagia 😁😁


Klik saja "hadiah" di dekat tombol like.


Hatur tengkyu, matur suwun, Readers ❤️