CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 31 – LEBIH BAIK



Bramasta membawa berkas yang kemari belum selesai diperiksa ke dalam mobilnya. Semua sudah diperiksanya semalam di apartemennya. Sambil ditemani Adisti yang dihubunginya via vicall. Mereka banyak mengobrol mengetahui sisi kepribadian masing-masing.


Bramasta menjemput Adisti lebih awal dari kesepakatan awal karena Bramasta harus menaruh berkas di kantornya terlebih dahulu. Pukul 07.15 Bramasta sudah sampai di depan rumah Keluarga Gumilar. Scoopy Adisti terparkir di carport.


Agung ada di halaman samping mengenakan celana pendek dan Tshirt bertuliskan I’m Okay. Bramasta tersenyum lebar melihat tulisannya.


“Assalamu’alaikum, ngapain A?”


“Eh, wa’alaikumussalam. Lagi nyenengin piaraannya Ayah.”


Penasaran, Bramasta menghampiri. Matanya berbinar melihat ikan-ikan berwarna oranye pucat bergerombol sambil memunculkan mulutnya di permukaan air berebut makanan. Sebanyak ini? Jumlah ikan koi di kolam Daddy kalah jauh. Bramasta mengambil gambar ikan nila yang berebut makanan lalu mengirimkan ke Daddy dengan caption, Piaraan Ayah Ngalahin Piaraan Daddy (emot ngakak).


Tidak berapa lama, notifikasi pesan masuk berbunyi. Bramasta membukanya lalu terkekeh.


Daddy_Bilangin Pak Gumilar, tukeran kolam mau gak?_


Bramasta_Gak. Ikan Daddy gak enak dimakan. Lembek dan banyak durinya. Lagian juga tiap kali ada koi atau kumpai yang mati, Daddy nangis sesunggukan di pojok kolam_


“Kenapa Bang?” tanya Agung melihat Bramasta terkekeh menatap layar gawainya.


“Nih,” Bramasta menunjukkan chatnya dengan Daddy. Keduanya tertawa keras.


Bunyi panggilan masuk terdengar dari gawai Agung. Agung menatap layar dengan dahi berkerut. Hanya nomor telepon.


“Assalamu’alaikum.” Jeda.


“Betul, saya sendiri. Ada apa ya?” Jeda.


Agung mencekal lengan Bramasta. Bramasta menoleh. Agung menunjuk handphonenya lalu berbicara tanpa suara, “Sanjaya Group.”


Bramasta memandang Agung tidak mengerti lalu mengangkat bahunya.


“Baik, insyaa Allah saya akan hadir pukul 9 pagi ini.” Jeda.


“Iya, Bu. Terimakasih banyak.” Jeda.


“Wa’alaikumussalam.” Panggilan berakhir.


Agung menatap Bramasta sambil menunjuk gawainya lagi.


“Abang ada hubungannya dengan ini?”


“Apaan?”


“Panggilan dari Sanjaya Group.”


Bramasta menggeleng.


“Abang cerita ke Daddy?”


Bramasta menggeleng.


“Ini tentang apa sih?” tanya Bramasta.


“Permintaan dari Sanjaya Group supaya Aa bergabung di divisi akuntan mereka. Ini karena Abang, bukan?”


“Abang tidak pernah ikut campur masalah internal Sanjaya Group walaupun Abang sebagai pewaris Sanjaya Group karena Daddy masih mampu menjalankan Sanjaya Group. Selain itu Abang juga sibuk dengan perusahaan Abang sendiri. Sanjaya Group tidak sembarangan merekrut pegawainya. Seleksinya ketat. Hanya yang mampu dan berkualitas baik saja yang diterima. Karena Sanjaya Group membayar para pegawainya di atas rata-rata perusahaan lain membayar pegawainya,” Bramasta menepuk-nepuk telapak tangannya membersihkan remah makanan ikan, “Hal yang sama juga dilakukan oleh B Group.”


Agung mengangguk.


“Jangan merasa tidak nyaman. Mungkin inilah hikmah dari kejadian kemarin, A.”


Agung memandang Bramasta.


“Di saat Komisaris Buana Raya membuang pegawai terbaiknya, bahkan kualitasnya lebih baik dari para petinggi di sana, pasti pegawai tersebut akan menjadi rebutan bagi perusahaan lainnya,” kata Bramasta sambil memegang lengan Agung.


“Kemarin sore setelah kita berbicara di telepon, Indra menemui Abang. Papinya meminta Indra untuk mencari info identitas nama pegawai yang tengah viral di kalangan pengusaha dan petinggi perusahaan. Papinya Indra, Om Kusuma Wardhani direktur keuangan Sanjaya Group. Ada salah satu manajer yang mendadak resign. Tadinya Abang mau tutup mulut tapi gak tega melihat Indra yang kelimpungan harus mengorek info dari mana, akhirnya Abang beritahu.”


“Terimakasih, Bang,” Agung merangkul Bramasta sambil mengelap cepat sudut matanya, “Alhamdulillah, Aa jadi pengangguran cuma sebentar.”


“Hanya dalam hitungan jam saja ya,” kata Bramasta sambil menepuk-nepuk punggung Agung. Agung tertawa.


“Ya Allah.. ditungguin dari tadi ternyata ada di sini lagi pelukan sama Kakak..” suara Adisti membuyarkan pelukan Bramasta dan Agung.


“Abang udah sampai dari tadi, Dek,” kata Agung.


“Masa sih?” tanya Adisti tidak percaya.


“Lha, itu mobil Abang di depan pagar,” kata Bramasta menunjuk pada mobil sedan warna perak dua pintu.


“Itu mobil Abang? Kirain mobil orang numpang parkir depan rumah. Kan Disti tahunya mobil Abang itu yang gede dobel gardan hitam kuning, terus mobilnya Mommy Alphard putih, sama motor Ducati Abang.”


Bramasta tersenyum lebar.


“Bang, kayaknya kudu dibawa ke garasi Abang deh buat ngenalin mobil-mobil Abang,” kata Agung.


“Memangnya mobil Abang banyak?” tanya Adisti.


“Tau ah..” kata Bramasta sambil melangkah masuk ke dalam rumah lewat pintu samping.


“Bang… Abang…” Adisti memanggil tapi tidak dihiraukan oleh Bramasta.


“Assalamu’alaikum, Bun, Yah” Bramasta menyalimi Bunda dan Ayah di ruang makan.


“Wa’alaikumussalam, kok muncul dari samping?” tanya Ayah.


“Iya tadi ngobrol sama A Agung sambil ngasih makan ikan,” Bramasta duduk di kursi depan Ayah, “Daddy ngajakin tukeran kolam ikan, gegara Bram kirim foto ikan-ikan Ayah yang lagi berebut makanan.”


“Memang Daddy melihara ikan apa?” tanya Bunda.


“Koi dan kumpai.”


“No way_ogah_ ,” kata Ayah, “Ikan mahal itu mah. Manja ikannya.”


Bramasta terkekeh.


“Hmm?” Bramasta memutar tubuhnya menghadap Adisti.


“Jadi gak?”


“Apa?”


“Katanya mau singgah ke kantor dulu nyimpan berkas?”


“Eh, iya sampai kelupaan,” Bramasta bangkit dari kursi lalu bergegas menyalimi Ayah dan Bunda, “Pamit dulu. Insyaa Allah sebelum Ashar, Adisti saya antarkan pulang. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam, hati-hati di jalan ya. Adek jangan nakal ya,” kata Bunda sambil tertawa.


“Dih, Bunda..”


Di dalam mobil, Adisti melipat tangannya di pangkuannya. Bramasta sesekali melirik ke arah Adisti sambil ternyum.


“Pertama kali ya, kita semobil dan cuma berdua,” Bramasta membuka percakapan. Adisti mengangguk sambil tersenyum.


“Kok diam sih? Biasanya rame mirip Mommy,” kata Bramasta lagi.


“Hmmm.”


“Apa hmmm?”


“Hah?”


“Disti kenapa sih?”


“Bang.”


“Ya?”


“Abang kalau naik mobil ACnya harus sedingin ini?”


“Eh? Kenapa? Terlalu dingin? Maaf ya,” Bramasta menaikkan suhu ACnya.


Adisti mengangguk.


“Bang.”


“Kenapa?” Bramasta menoleh, dahinya berkerut melihat Adisti bergerak gelisah.


“Maaf, bukannya gak sopan..” Adisti memandang Bramasta dengan wajah memohon, “Tapi Disti kebelet pipis…”


Bramasta melongo memandang Adisti. Sejenak pikirannya blank. Merasa gadis di sampingnya begitu ajaib dalam bertutur kata.


“Bang!”


“Eh iya! Tunggu sebentar lagi ya. Tahan ya. Itu gedung kantor Abang sudah kelihatan,” Bramasta menoleh, “ Pikirkan sesuatu yang membuat Disti berkeringat. Bayangkan saja Disti sedang lari..”


“Bang, yang bener aja napah sih? Masa lagi kebelet pipis disuruh bayangin lagi lari..”


“Isssh bukan begitu..” Bramasta menaikkan speed mobilnya. Mendekati belokan di depan pintu masuk halaman gedung, Bramasta membunyikan klakson sambil menyalakan lampu kedip beberapa kali kepada security. Security langsung bergerak menyetop kendaraan yang lewat agar mobil Bramasta bisa masuk ke dalam area pelataran.


Bramasta menancap gas mobilnya hingga area drop off di teras lobby, sesuatu yang tidak pernah Bramasta lakukan selama ini, bunyi decit rem terdengar ketika Bramasta menekan pedal rem tepat di depan pintu lobby. Bergegas keluar dari mobil untuk membuka pintu penumpang, hingga lupa menutup pintu mobilnya. Membantu Adisti membuka seatbelt-nya lalu membantu Adisti keluar dari mobil sambil memegangi siku Adisti mengajaknya setengah berlari menuju toilet wanita.


Bramasta kembali ladi ke lobby dengan nafas terengah-engah. Memberikan kunci mobilnya pada security untuk diparkirkan. Orang-orang yang ada di lobby memandanginya dengan tatapan heran. Indra yang dari tadi ada di depan meja resepsionis menghampiri Bramasta yang tengah terengah-engah sambil memegangi lututnya.


“Lu kenapa, Bos?”


“Adisti,” dia menunjuk ke arah toilet wanita di belakang lift.


“Kenapa Adisti?”


“Kebelet pipis.”


“What the .. _apa-apa…_” Indra terbengong mendengar jawaban Bramasta. Kemudian tawanya meledak.


Adisti keluar dari toilet dengan wajah lega, berjalan ke lobby dengan tatapan heran kepada Bramasta yang masih memegangi lututnya sambil terengah-engah.


“Abang kenapa?”


Bramasta memandang Adisti. Adisti menatap Indra dengan tatapan bertanya. Indra semakin meledak tawanya.


“Kalian kenapa sih?” tanya Adisti cemberut.


“Ya ampun, Bos.. Lu apain Adisti sampai dia kebelet pipis kayak gitu?”


Bramasta memukul lengan Indra, “Diem. Berisik.”


Adisti memukul lengan Indra juga dengan tas ranselnya, “Jangan malu-maluin.”


“Gila, kalian bisa kompakan begini sih kelakuannya? Mana pakai baju kompakan lagi..”


Adisti dan Bramasta saling menatap penampilan satu sama lain.


Bramasta memakai kemeja coklat lengan panjang yang digulung hingga siku dan celana khaki. Adisti memakai kaos lengan panjang milo, outer warna khaki, rok lipit lebar bahan chiffon dengan warna milo motif bunga-bunga kecil warna pink dan pashmina milo.


“Eh, kok kita samaan?” kata mereka bersamaan.


Bramasta melirik arlojinya, baru jam 9. Masih banyak waktu untuk ke Lunar Art & Gallery.


“Disti, kita ke atas dulu yuk. Ke ruangan Abang.”


Disti mengangguk.


“Ndra, gak ada meeting kan pagi ini?”


“Setengah jam lagi, meeting dengan Divisi Gadget & Electronic. Tapi kalau lu mau jalan sama Adisti, jalan aja ya. Meeting biar gue yang handle.”


Keberadaan Adisti menarik perhatian para pegawai. Apalagi dengan penampilannya yang sederhana dan gendongan tangannya. Dan pagi ini, Adisti menjadi bahan pembicaraan di gedung ini. Mereka berjalan bersama menuju lift.