CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 76 – PANIC TIME



Bramasta merasa mobil sudah tidak berhenti bergerak. Dia membuka matanya. Lalu menatap di bawahnya, Adisti tidur meringkuk di atas pangkuannya.


“Sudah lama sampainya Pak?” tanya Bramasta pada driver.


“Sejak 10 menit yang lalu, Tuan.”


Bramasta mengangguk lalu sedikit beringsut meletakkan tubuh Adisti agar tertidur nyaman di atas jok.


“Tidak dibangunkan saja, Tuan?”


Bramasta menggeleng, “Kasihan. Nanti saya gendong saja ke atas. Bapak ikut naik ya, bantu buka pintunya.”


Driver menerima kartu pass apartemen Bramasta.


Bramasta keluar dari mobil, meregangkan tubuhnya sejenak. Lalu menyelimuti Adisti dengan tuxedonya. Driver mengambil barang-barang di bagasi. Dia bersiap di samping Bramasta dengan tangan penuh tentengan.


Bramasta mengangkat tubuh Adisti dengan hati-hati. Berhati-hati supaya tidak terbangun dan berhati-hati supaya tidak menekan jahitan pada pundak dan punggungnya. Gaunnya yang mengembang menyulitkan dia untuk mengangkat tubuhnya.


Adisti masih terlelap ketika mereka sudah berhasil keluar dari mobil. Pintu lobby apartemen terbuka otomatis, security sigap menekan tombol pintu lift yang memang dikhususkan hanya untuk para penghuni penthouse. Bramasta mengangkat tubuh Adisti menuju lift.


“Terima kasih,” gumam Bramasta kepada security.


“Selamat atas pernikahan Tuan dan Nona. Semoga samawa hingga jannah nanti,” kata security tersebut.


“Aamiin, terima kasih banyak, Pak,” bisik Bramasta tersenyum dan mengangguk.


Dia memasuki lift dengan drivernya.


Suara TING lembut membangunkan Adisti, matanya mengerjap.


“Ssssh.. tidur lagi saja. Sssh..”


Adisti menurut. Dia melingkarkan tangannya pada leher Bramasta. Tertidur lagi dengan nyaman.


Driver menempelkan kartu pass pada sensor pintu. Pintu terbuka. Lalu melebarkan pintu agar Bramasta bisa masuk dengan mudah.


“Assalamu’alaikum..” bisik Bramasta.


Driver menjawab salamnya dengan berbisik juga.


Bramasta bergegas melangkah ke pintu kamarnya yang dibukakan oleh driver. Driver berjalan ke arah pantry. Dia meletakkan barang-barang bawaannya di atas meja pantry. Lalu menata bawaannya di dalam kulkas. Melipat kantong-kantong kertas dan menyimpannya dengan rapi di laci pantry.


Dia tidak menunggu Bramasta untuk keluar kamar. Diletakkannya kartu pass pada meja pantry. Lalu meninggalkan apartemen tanpa suara.


Bramasta meletakkan tubuh Adisti dengan hati-hati di atas tempat tidur yang dihias dengan kelopak mawar membentuk hati besar. Lalu menatap sekeliling kamarnya dengan tangan di dalam saku celananya. Kamarnya berubah. Ada lemari tambahan. Ada meja rias juga dengan botol dan tube kosmetik di atasnya.


Tubuh Adisti bergerak. Matanya mengerjap. Menatap heran pada sekelilingnya. Dia berada di tempat asing. Bramasta mendekatinya. Menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya ketika mengamati Adisti dari jarak dekat.


“Queen Clarion sudah seperti Putri Tidur sekarang..”


“Ini dimana?”


“Welcome home, Dear. Kita di apartemen.”


“Ah..” Adisti mengangguk.


Adisti duduk mengamati ruangan. Dia merasa canggung hanya ada mereka berdua di ruangan ini.


“Banyak bunga dan kelopak bunga,” Adisti berusaha membuat percakapan.


“Kak Layla yang mendekornya. Untuk kita,” Bramasta memandangi matanya.


“Ooh.”


“Kamar pengantinnya kita,” Bramasta menyentuh wajah Adisti dengan punggung tangannya. Terasa lembut.


“Yaa.”


Adisti semakin canggung. Tengkuknya merinding juga tangannya.


“Abang..” dia mendorong dada Bramasta supaya tercipta jarak.


“Apa?” dia menangkap jemari Adisti, “Tangan Adisti gemetar. Kedinginan?”


Bramasta meraih tombol AC.


“Ng… Disti mau mandi dulu. Gerah.”


Bramasta mengernyit sambil melihat arlojinya, “02.10 ?”


Adisti mengangguk.


Bramasta menggeleng, “Nanti saja.”


“Disti mau buka kerudung dulu.”


“Oh iya. Mau Abang bantu?”


“Memangnya bisa?”


“Nggak.”


Mereka berdua terkekeh. Lalu terdiam canggung lagi.


Adisti mulai melepas jarum pentul di dagunya. Bramasta duduk di belakang Adisti. Adisti menatap wajah Bramasta yang tengah menatapnya dari cermin rias.


“Abang..”


“Hmm?”


“Janji gak bakal ngatain rambut Disti lagi ya.”


“Kan Abang udah minta ma’af waktu itu..”


“Tapi sekarang Abang akan melihat rambut Disti..”


“Iya… Janji..”


“Minta tolong lepas kait mahkotanya, Bang,” pinta Adisti.


Bramasta berdiri lalu mencari kait yang dimaksud Adisti.


“Hati-hati dengan mahkotanya. Itu mahkota beneran,” kata Adisti.


“Iya Abang tahu. Mommy berharap agar kita mewariskan mahkota ini kepada anak perempuan kita saat dia menikah kelak,” Bramasta meletakkan mahkota itu di laci meja rias.


Adisti menatapnya heran. Bramasta mengangkat sebelah alisnya.


“Iya kalau punya anak perempuan, kalau punyanya anak laki-laki?”


“Ya bikin lagi,” Bramasta tersenyum lebar.


“Dih, mulai bikin juga belum…” Matanya menatap mata Bramasta dari pantulann cermin, “Eh!”


Keduanya sama-sama terkejut.


Bramasta berdehem lalu kembali duduk di atas tempat tidur di belakang Adisti. Adisti melanjutkan melepas kerudungnya. Semua jarum pentul ia kumpulkan di kotak bening yang ia temukan di atas meja rias. Perlahan dia melepas ciput yang membungkus rambutnya. Jahitan di kepalanya terasa tidak terlalu berdenyut lagi.


“Sakitkah?” tanya Bramasta.


“Sedikit.”


Adisti merapikan rambut dengan tangannya. Bramasta tersenyum menatapnya.


“Cute! Too cute!” gumam Bramasta, “Kenapa jadi seimut peri teman-temannya Tinkerbell sih?”


Bramasta menangkup pipi Adisti dengan gemas. Kemudian menciumi pipinya berkali-kali.


“Imut tau!” cup pipi kanan, “Cantik banget istri Abang,” cup pipi kiri, “Pipinya gemesin banget sih,” cup pipi kanan, “Issh baby face banget sih,” cup pipi kiri, “Imutnyaaa!” cup pipi kanan, “Gemesssh. Cubit-cubit ah..!”


Adisti memundurkan wajahnya, “Abang, ih! Sakit tau.”


“Ma’af… Abang senang akhirnya bisa unyel-unyel pipi Disti.”


“Huhhh!”


Adisti berdiri cepat.


“Kamar mandi dimana?” tanyanya.


Bramasta menunjuk dinding dengan berpanel kayu vertikal.


“Gak seperti pintu,” kata Adisti. Dia mendorong panel kayunya.


“Are you kidding me?” Adisti menatap Bramasta, “Cuma wastafel doang?”


Bramasta terkekeh. Dia membuka pintu kamar mandinya lalu mendorong tubuh Adisti supaya masuk.


“Sini Abang tunjukin,” langkah Bramasta terhenti saat memandang area wastafel , “Eh kok ada laci-laci di sini?”


“Laah?”


“Pasti kerjaannya Kak Layla nih…”


Bramasta bergerak memeriksa laci-lacinya. Kemudian terkekeh kencang.


“Barang-barang perempuan semuanya.”


Adisti bergegas ikut melihat isi laci. Ada pembalut, body lotion, dll.


“Kak Layla is the best!” mata Adisti berbinar.


“Ini closet” Bramasta menggeser dinding berpanel kayu di samping Adisti.


“Ini bathup dan shower,” Bramasta menggeser dinding berpanel satu lagi.


“Wow.. apa semua apartemen di lantai ini seperti ini susunan ruangnya?”


Bramasta mengangkat bahu, “Gak tahu. Abang ambil 3 unit penthouse untuk dijadikan satu.”


“Ya ampun Abang.. kelebihan duit banget sih?”


“Tau ah!”


Adisti menggeser pintu kamar mandi. Bramasta mendorong tubuh Adisti untuk masuk ke dalamnya.


“Eh, Bang kenapa? Disti mau mandi sendiri.”


Bramasta menoleh dengan alis terangkat sebelah, “Abang cuma mau nunjukin cara pakai showernya. Untuk kepala jangan terlalu kencang ya, nanti jahitannya sakit lagi.”


Bramasta mengatur tombol. Adisti menatap takjub.



“Segini cukup? Suhunya cukup?”


Adisti mengangguk.


“OK, Abang mau sholat dulu. Jangan kelamaan mandinya nanti masuk angin.”


“Iya.. Dah Abang. Thanks ya.”


“Hmm.”


Adisti meraih risleting belakang gaunnya. Ia tidak menemukan kepala risletingnya.


Kepalanya dilongokkan ke wastafel area. Bramasta selesai berwudhu di keran wudhu lalu menatapnya heran.


“Ada apa?”


“Disti gak bisa buka risletingnya.”


Bramasta terkekeh.


“Balik belakang,” perintahnya, “Nanti gaunnya digantung di dalam lemari di samping wastafel ya. Untuk baju yang gak perlu dryclean taruh saja di keranjang baju kotor di bawah wastafel.”


“Siiip. Sudah sana sholat. Jangan lupa do’ain Disti ya supaya bisa jadi istri yang baik untuk Abang.”


“Issh manisnya istri Abang..”


“Gak usah unyel-unyel lagi. Nanti batal loh wudhunya.”


“Iyaa… Jangan kelamaan mandinya.”


Adisti selesai lalu mematikan shower. Kemudian tersadar dengan kesalahan fatal yang ia lakukan. Ia lupa mengambil handuk di lemari wastafel. Bergegas menuju pintu. Dia menengok ke lantai di belakangnya. Meringis dengan jejak basah yang ia ciptakan.


Kepalanya dilongokkan ke pintu. Aman. Segera membuka lemari tempat handuk yang tergulung rapi di dalam kotak anyaman rotan. Secepat kilat menutupi tubuhnya. Lalu membuka pintu closet. Membuka laci disamping laci pembalut, dia menemukan laci underwear yang masih baru karena masih ada price tag-nya. Menatap tidak percaya pada angka yang tertera. Kemudian kembali lagi ke closet.


Dia juga baru sadar, koper berisi pakaiannya ada di mobil pengantin silver yang tadi siang ia kendarai dari rumah. Berharap menemukan baju di lemari wastafel. Nihil. Dia membuka pintu perlahan, melongokkan kepalanya ke dalam kamar.


Bramasta sudah mengganti lampu plafon menjadi lampu dinding. Kamar jadi temaram. Aman, tidak ada penampakan Bramasta di dalam kamar. Kamar juga sunyi. Dia membuka pintu lalu melangkah dengan cepat menuju lemari besar.


“Hmmm jadi seperti itu. Karena kesibukan mempersiapkan acara Abang, Abang jadi gak fokus, lupa menanyakan detail kejadian selanjutnya. Abang baru dapat cerita awal dari Hans dan Daddy saja,” suara Bramasta terdengar dari sofa di dekat jendela.


Adisti dengan cepat menoleh ke arah suara.


“Eh!”


“Disti?”


“Ma’af. Kirain gak ada Abang,” Adisti berbisik sambil berdiri canggung serba salah dengan tangan memegangi erat handuk yang dipakainya.


Bramasta menatapnya dengan alis terangkat. Kemudian tersedak dan terbatuk. Handphonenya terjatuh di lantai karpet. Masih tersedak sambil memegangi dadanya dan menatap Adisti dengan nanar dan berwajah bingung.


Ketika terasa ada rasa manis dan asin dan aroma besi yang kuat, Bramasta memegangi hidungnya sambil tengadah.


“Tisu!” serunya.


Adisti kebingungan. Dia melihat kotak tisu di meja samping sofa. Mengambil selembar lalu menyerahkan kepada Bramasta.


“Ya Allah.. Abang berdarah! ABANG KENAPA???!” Adisti berteriak panik.


Adisti membantu mengelap darah yang keluar dari hidung suaminya sambil menangis.


“Halo..? Abang Bramasta??” suara dari handphone samar terdengar, “Dek?? Ada apa dengan abang? Abang kenapa?”


Adisti menoleh ke arah kakinya. Menatap handphone suaminya yang ternyata masih tersambung dengan lawan bicaranya.


“Kakak?” tanya Adisti panik meraih handphone suaminya, “Ini benar Kakak??”


“Iya. Ada apa?”


“Buruan ke apartemen Abang. Abang sakit. Dari hidungnya keluar darah. Banyak banget!”


“Apa??”


“KAKAK CEPETAN. ADEK TAKUT!!!” suara Adisti pecah bercampur tangisan.


***


Abang Bramasta kenapa?


Masa baru merid dah sakit?


Lom sempat ngapa-ngapain pula.


Sakit apa sih Bramastanya?


Parah kah?


Kasihan Adisti...