
Bramasta menyerahkan gawainya pada Adisti yang baru saja selesai mengaji di samping kakaknya.
“Baca saja,” perintah Bramasta.
Adisti menurut. Dia membaca, kadang mengerutkan kening kadang tersenyum lalu berakhir dengan kekehan.
“OK. Disti siap. Kapan kita menghadap Pak Rete?”
“Siapa?”
“Pak RT, Bang..”
“Tahu darimana nama Pak RT di lingkungan rumah Adinda itu bernama Pak Rete? Namanya aneh ya. Orang mana sih?”
“Ya Allah Abang...”
“Kenapa?”
“Kuper banget sih.”
“Isssh, Abang keren begini dibilang kuper..”
“Auk ah. Jadi mau kapan?”
“Setelah Shadow Team memasang kamera pengintai di dalam rumah Adinda.”
Suara Biip terdengar.
Bramasta memandang Agung. Dia memegang telapak tangannya.
“Barusan rapat Kuping Merah di WAG, Kakak Ipar. Kami bahas tentang kekhawatiran Disti tadi. Abang sudah tahu kan?”
Agung masih terdiam. Suara nafasnya yang teratur terdengar jelas di ruangan yang dipenuhi dengan alat medis dan tindakan.
“Disti khawatir dengan teman pria ibu tirinya yang sering berada di rumah. Khawatir bila dia melakukan hal yang tidak baik kepada Adinda.”
Bramasta merasakan rematan pada tangannya. Dia terus berbicara berusaha menarik Agung dari alam bawah sadarnya.
“Hans akan menyuruh anak buahnya untuk memasang kamera pengintai. Cuma benar kata Bang Leon dan Indra, kita tidak bisa mengandalkan Shadow Team yang kesibukannya banyak, harus ada warga sekitar yang kita libatkan, jadi pada saat terjadi hal darurat yang menimpa Adinda, bisa bergerak cepat menolongnya.”
Rematan tangan Agung terasa begitu kuat. Adisti melihatnya.
“Abang..” bisiknya.
Bramasta menyuruh Adisti untuk tidak bersuara. Dia melanjutkan lagi berbicara dengan Agung.
“Jadi rencananya, Abang, Adisti dan Indra akan berbicara dangan RT setempat juga tetangga kanan dan kiri rumah Adinda.”
Bramasta jeda sejenak untuk melihat reaksi Agung.
“Kakak Ipar, bangun sekarang, Bang. Kita lindungi Adinda bersama-sama. Dia terlalu muda, terlalu polos dan tidak bisa melindungi dirinya sendiri untuk hidup sendirian. Yuk, Kakak Ipar. Ada Adinda menunggu kakak Ipar untuk sadar di luar ruangan ini. Ayah dan Bunda juga baru datang.”
Masih belum ada reaksi. Tapi terdengar bunyi biip dua kali.
“Memar-memar berbentuk jari di pipinya, Abang betul-betul tidak tega melihatnya. Unbelieveble itu kelakuan para mantannya Ivan yang notabene sesama cewek. Ini menunjukkan bahwa Adinda tidak mampu untuk membela dirinya sendiri. Bangun Kakak Ipar. Tuntaskan misi Kakak Ipar untuk melindungi Adinda!”
Bramasta bukan saja merasakan rematan pada jemarinya tetapi juga tarikan. Matanya dan mata Adisti tertuju pada tangan Agung.
“Lindungi.. Adinda..” suara Agung terdengar jelas. Matanya terbuka menatap Bramasta dan Adisti.
“Kakak..!” Adisti berseru pelan sambil menutupi mulutnya.
“Adinda.. lindungi..” Agung menggenggam erat tangan Bramasta.
Bramasta meraih tombol panggil perawat sambil masih memegangi tangan Agung.
“Kita lakukan bersama-sama Kakak Ipar. Adinda hanya mengenal Kakak Ipar. Dia tidak mengenal yang lainnya. Adinda mempunyai kepercayaan yang besar kepada Kakak Ipar.”
Agung mengangguk.
Seorang perawat masuk. Melihat Agung yang sudah sadar, dia langsung menuju ke pesawat interkom yang ada pada salah satu dinding.
“Panggilkan Dokter Reno ke ICCU 2. Pasien Agung sudah sadar.”
Perawat langsung memeriksa Agung, rekan-rekannya datang membantu. Lalu seseorang dengan stetoskop datang memasuki ruangan meminta laporan yang langsung dibacakan oleh salah seorang perawat.
Di luar ruangan, Ayah, Bunda, Kuping Merah dan Adinda menatap Agung dengan penuh harap.
Adisti mengelap air matanya dengan punggung tangannya. Dia memeluk suaminya. Menangis di bahu suaminya. Bramasta mengangguk kepada orang-orang di jendela sambil mengacungkan kedua jempolnya dan tersenyum lebar.
Bunda tampak menangis haru. Dia memeluk Adinda yang tampak menangis sesunggukan. Ayah memeluk Indra dan Anton dengn penuh keharuan.
***
Ruang Rawat Inap VIP
Semua berkumpul di sana sekarang. Bahkan Daddy, Mommy, Pak dan Bu Dhani juga. Beberapa kali, gelak tawa terdengar dari ruangan itu.
“Demi Lu, Bram, kita rapat di WAG padahal kita sedang berdiri dempet-dempetan depan jendela,” kata Indra disambut gelak yang lainnya.
“Padahal sewaktu kita ngetik, ini siku saling adu dengan sebelahan kita,” Hans terkekeh, “Rusuk gue sampai kesikut Bang Leon. Bener-bener ya bule satu ini, sudah seperti Hulk saja.”
“Sorry, Hans. Gak sengaja..” Leon menampakkan wajah polos.
Adinda menatap ke arah tempat tidur. Lalu berbisik kepada Adisti.
“Mereka memang seperti itu?” tanya Adinda dengan wajah keheranan.
Adisti tertawa membuat Mommy menoleh.
“Kenapa?” tanya Mommy.
“Adinda tanya, apakah mereka memang seperti itu?”
“Seperti itu bagaimana?” tanya Bunda.
“Bicara dengan santai, bercanda, saling ejek tapi gak baper,” Adinda melirik lagi ke arah bed yang dipenuhi gelak tawa, “Mereka kan udah om-om semua kecuali Kak Anton..”
Semua yang duduk di sofa L terbahak mendengar pembicaraan Adinda.
“Mereka kalau ngumpul, memang seperti itu, Nak,” Daddy terkekeh, “Pecicilan dan petakilan. Apalagi Agung. Agung dan Indra tuh biangnya.”
“Om Agung? Masa sih Om?” tanya Adinda keheranan.
“Sebentar.. sebentar dulu. Sepertinya ada yang harus kita luruskan terlebih dahulu..” Daddy berdiri lalu memandang ke arah bed Agung, “Boys, attention please. Ada yang Daddy ingin luruskan dengan Adinda.”
Semua memandang ke arah Daddy dengan kening berkerut. Penasaran dengan apa yang akan Daddy bicarakan.
“Barusan Adinda menyebut Agung dengan panggilan Om dan menyebut Daddy dengan panggilan Om juga. Rancu ya," Daddy melirik Adinda yang tampak bengong.
"Dinda memanggil Indra, Hans dan Bram dengan panggilan Bapak,” kata Bramasta dengan tersenyum lebar.
Adinda tampak tersenyum malu.
“Saya dipanggil, Om, Dad!” seru Leon sambil mencebik. Lainnya terkekeh.
“Cuma Hyung Anton yang dipanggil Kakak oleh Adinda,” kata Adisti sambil terkekeh.
Anton tersenyum lebar.
“Anton sih wajar dipanggil Kakak oleh Adinda, karena Anton itu si Bungsu di sini,” kata Mommy.
Anton memandang Mommy dengan tatapan terharu, “Terima kasih, Tante.”
“Ah kamu tuh ngikuti Indra saja manggil saya Tante. Panggil Mommy kenapa sih? Kamu tuh sudah dianggap anak oleh kami,” Mommy sambil melengos.
“Iya Mommy,” kata Anton sambil tersenyum lebar.
“Nah gitu dong. Kalian tuh manggil Bapak dan Ibu Gumilar bisa kompakan semua, Ayah Bunda. Giliran ke saya aja beda-beda manggilnya. Kamu juga Hans..” Mommy menunjuk kepada Hans.
Hans langsung mendadak garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Saya lebih nyaman dengan panggilan Tuan dan Nyonya Al saja.”
“Kita kan gak selamanya ngomongin kerjaan, Hans,” kata Daddy.
“Tapi saya lebih nyaman seperti itu, Tuan.”
“Terserah kamu deh Hans..” Mommy akhirnya menyerah.
“Adinda mengerti gak?” tanya Daddy.
Adinda memandang Daddy dengan takut-takut.
“Mereka saya anggap anak-anak saya semua. Jadi aneh kan kalau kamu manggil saya Om sementara manggil anak-anak saya juga Om?”
Adinda mengangguk. Adisti terkikik. Semua orang tersenyum lebar menonton dialog tentang panggilan ini.
“Jadi saya harus manggil Om dengan Opa? Secara kan Pak Bramasta dan Om Leon itu anak dan menantu Om?”
“Ya Allah Ya Rabb!” seru Daddy sambil mengusap wajahnya.
Semua orang tertawa geli. Tidak kecuali Agung yang tertawa sambil meringis memegangi dadanya.
.
***
Agung sudah sadar.
Adinda diterima para orangtua.