CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 165 – DON’T BE WORRY ADINDA & AGUNG



Adinda menyembunyikan matanya dengan kedua tangannya. Malu karena matanya begitu sembab dan bengkak.


“Diterima gak nih bunganya?” tanya Agung.


Bramasta, Adisti dan Bunda yang menjadi penonton hanya senyum-senyum saja melihatnya.


“Iya..” Adinda berkata pelan, tangan kanannya menerima bouquet Peony dari Agung, “Terimakasih banyak, Om.”


“Lihat saya dong, jangan menunduk terus..” kata Agung lagi.


“Iya..” Adinda mendongakkan wajahnya sedikit menatap Agung yang tersenyum lebar.


“Senyumnya mana?” tanya Agung.


“Eh?”


Adinda malah menundukkan wajahnya lagi. Menghidu aroma Peony yang semerbak.


“Kenapa?” Agung bersidekap.


“Malu Om. Mata saya bengkak banget. Lagi jelek..”


Bunda dan Adisti terkekeh.


Agung duduk di tepi bed Adinda, “Makanya jangan kebanyakan menangis. Pedih kan sekarang matanya?”


Adinda mengangguk.


“Tunggu ya, saya baru saja meminta obat tetes mata ke perawat.”


Adinda mengangguk lagi.


“Apapun keadaan kamu, mau kamu lagi cakep ataupun lagi jelek, saya tetap sayang kok sama kamu.”


“Tapi saya gak bisa berdiri. Kemungkinan tidak bisa jalan juga, Om. Bagaimana kalau selamanya saya lumpuh? Lebih baik Om Agung dengan rekan kerja Om saja. Dia cantik dan sempurna, Om,” Adinda berbicara sambil menunduk menatap kuntum-kuntum Peony.


Agung berdecak lalu mencebik.


“Kamu pikir mengubah perasaan yang udah mentok ke kamu itu mudah? Saya gak mau yang lainnya, saya cuma mau kamu.”


“Rekan kerja yang mana?” tanya Bramasta.


“Yang waktu itu menengok Om Agung bersama teman-teman satu divisinya, Bang,” jawab Adinda.


“Siapa Kak? Yang waktu itu minjemin selimut ke Adek?”


Agung mengangguk sambil menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.


“Cantik sih tapi terlalu agresif banget jadi perempuan,” Adisti memeluk lengan suaminya, “Gak sreg buat Adek. Adek lebih sreg Kakak sama Dinda.”


“Ngomong-ngomong Kakak merayu atau memaksa Adinda sih?” tanya Bunda sambil terkekeh.


“Dua-duanya Bun..” jawab Agung.


“Dih, gak romantis banget sih Kak.”


Adinda tersenyum kecil masih sambil menatap Adisti yang tersenyum menatapnya.


“Ngomong-ngomong tentang Adinda yang tidak bisa berdiri, sepertinya Disti tahu kenapa. Bukan sesuatu yang dikhawatirkan kok..”


Semuanya menatap Adisti dengan tidak berkedip.


“Jangan sok tahu deh,” tukas Agung.


“Dokter saraf sudah visit belum?” tanya Bramasta.


Agung menggeleng, “Sewaktu di UGD, dokter saraf sudah memeriksa Adinda. Berarti visit berikutnya besok begitu juga dengan psikiater.”


“Lanjutin tadi yang Adek bicarakan,” perintah Bunda dengan wajah penasaran.


“Tadi Adek sudah bertanya ke teman Adek, Diana, yang baru saja melahirkan, tentang pengalamannya dipasang kateter urin pasca melahirkan. Bunda juga pernah cerita kan sewaktu setelah melahirkan Adek, perawat memasang kateter urin,” Adisti menatap Bunda yang mengangguk, “Disti juga sudah menanyakan pengalamannya Mbak Hana, istrinya Abang Hans.”


“Dan semuanya sama, saat kateter urin terpasang, rasanya gak karuan banget, gak nyaman banget. Boro-boro untuk berjalan, untuk berdiri saja rasanya antara sakit, sensasi panas di pinggang dan juga pegal,” Adisti menatap Bunda lagi untuk bertanya apakah benar seperti itu.


Bunda mengangguk lagi.


“Iya memang seperti itu rasanya,” kata Bunda.


“Nah, karena itulah, Adek berkesimpulan, ketidakmampuan Dinda berdiri bukan karena lumpuh tetapi karena kateter urin yang terpasang di tubuhnya,” Adisti menatap semua orang yang ada di ruangan itu.


“Bukannya sewaktu Disti jatuh dari jurang juga dipasang kateter?” tanya Bramasta.


Adisti mengangguk, “Iya Bang, hanya pada saat Disti sudah tersadar, Disti minta dilepas kateternya. Disti lebih nyaman buang air kecil di toilet daripada memakai kateter.”


“Kan Disti belum bisa jalan waktu itu?” tanya Bramasta lagi.


“Kan ada Kakak, Bang,” Adisti menatap suaminya dengan senyum lebar di wajahnya.


“Weizzss, thanks a lot Kakak Ipar, sudah jagain Disti banget,” Bramasta menepuk bahu Agung.


“Ya iyalah, secara dia adik gue satu-satunya,” Agung menatap Bunda yang terkekeh.


“Pakai kateter malah kita tidak bisa mengontrol ataupun merasakan berasa ingin pipis atau tidak. Karena kateter membuat urin langsung ditampung pada urine bag,” kata Bunda.


“Lepas saja ya Bun?” Adinda meminta persetujuan Bunda.


“Terserah Dinda saja,” Bunda tersenyum sambil membelai kepala Adinda.


“Jangan khawatir ngompol, Disti punya solusinya,” Adisti tersenyum lebar.


“Dih.. Teteh.. Malu bahas ginian di depan Om Agung dan Abang Bram..” Adinda meringis sambil menutupi wajahnya.


“Dah, kalian ngobrol aja yang asyik. Kita mengalah, menyingkir dulu,” kata Bramasta sambil menggamit lengan Agung, mengajak untuk duduk di sofa L.


“Gue penasaran, seperti apa sih bentuk kateter urin dan pemasangannya sampai bikin rasa sakit seperti itu,” kata Bramasta ketika mereka duduk di sofa L.


“Sama,” kata Agung sambil mengetik kateter urin di mesin pencarian di gawainya.


Mata mereka fokus memandangi layar gawai Agung. Keduanya menatap layar dengan ekspresi yang sama: kedua alis terangkat tinggi. Kemudian meringis bersamaan.


“Kok gue linu ya melihatnya?” sergah Agung sambil bergidik.


“Iya. Isssh, luar biasa perjuangan para ibu pasca melahirkan ya,” Bramasta menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Agung duduk dengan punggung tegak dan berwajah tegang, memandangi Bramasta denga tatapan tajam.


“Apa?” tanya Bramasta.


“Bang, kalau untuk ibu yang habis melahirkan sih bisa dimengerti, tapi ini dipasang pada gadis..” Agung tidak melanjutkan lagi kalimatnya.


Bramasta mengerti arah pembicaraan Agung. Kemudian menggeleng sambil menggerakkan tangannya.


“Gak, Kakak Ipar. Gak apa-apa. Bakal tetap aman, beda jalurnya,” Bramasta tersenyum lebar.


“Serius Bang?” Agung bertanya dengan suara berbisik.


“Ya iyalah. Kan Abang sudah buktikan sendiri,” Bramasta menjawab dengan suara berbisik juga.


“Buktikan bagaimana?”


“Lah, adiknya Kakak Ipar sendiri itu buktinya. Masih tersegel utuh,” Bramasta terkekeh.


“Hisssh Abang!” Agung menepak punggung Bramasta sambil terkekeh juga.


“Terus tentang kondisi amnesia Adinda bagaimana?” tanya Bramasta dengan wajah serius.


“Tadi Aa ke bawah, ke tempat praktek psikiater yang menangani Adinda.”


Bramasta mengangguk, “Terus?”


“Psikiater tersebut menjelaskan, itu salah satu tahapan pikiran pasca dilanda suatu peristiwa buruk yang traumatis dan tidak ingin diingat lagi. Jadi pikirannya berusaha memblokir kenangan tersebut.”


“Maksudnya bagaimana?” tanya Bramasta.


“Jadi, pasca mengalami peristiwa traumatis yang tidak ingin diingat lagi dan ingin menghapusnya dari memori, orang tersebut akan mengalami beberapa fase kedukaan,” Agung menatap Bramasta.


“Apa yang Adinda dalami ini adalah bagian dari fase duka yang pertama, yaitu penyangkalan atau denial. Adinda sedang menyangkal telah mengalami suatu kejadian yang buruk yang menimpanya.”


“Itu wajar?” tanya Bramasta.


Agung mengangguk, “Itu sebagai respon alami manusia untuk meminimalkan luka batin akibat peristiwa tersebut.”


“Lalu?”


“Setelah fase denial atau penyangkalan, ada fase anger atau kemarahan, fase bargaining atau tawar-menawar, fase depression atau depresi dan terakhir fase accepting atau penerimaan.”


“Apakah semua orang yang seperti Adinda harus menjalani seluruh fase kedukaan tersebut secara berurutan?”


“Kata Psikiaternya gak semuanya sih. Ada yang baru tahap fase denial, kemudian seiring berjalannya waktu dia mulai bisa menerima apa yang sudah terjadi pada dirinya.”


“Mudah-mudahan Adinda seperti itu ya.”


“Aamiin. Supaya cepat pulih karena dia sebentar lagi ujian kelulusan sekolah.”


“By the way, fase apa yang paling riskan?”


“Fase anger dan fase depression. Pada fase anger, khawatir kemarahannya akan melukai dirinya sendiri ataupun orang lain. Fase depression apabila dibiarkan berlarut bisa memicu orang tersebut untuk melakukan bunuh diri.”


“Na’udzubillah mindzaalik.”


“Karena itu, Aa ingin, Adinda tinggal bersama Ayah dan Bunda. Supaya bisa terawasi dengan baik dan juga sekaligus memperdalam pengetahuan agamanya. Anggap saja Adinda jadi santrinya Ayah dan Bunda.”


“Private pesantren, judulnya?” kekeh Bramasta yang diangguki oleh Agung.


.


***


Readers punya kerabat atau teman yang baru mengalami kejadian traumatis? Selalu dampingi، ya


Bantu untuk bangkit lagi.