
Petang itu semua sudah berkumpul di ruang meeting Sanjaya Group, termasuk Bramasta. Adisti masih di rumah utama. Bramasta berangkat ke Sanjaya Group semobil bersama Leon dan Daddy sedangkan Tuan Armand datang dengan mobil terpisah.
Wajah Daddy dan Bramasta tampak kusut. Tuan Armand membuka percakapan dengan laporannya terkait perkembangan pemeriksaan Rita Gunaldi yang tidak sesuai harapan. Penahanannya ditangguhkan atas perintah dari atas.
“Ada tekanan kepada pihak penyidik yang berasal dari internal,” Tuan Armand mengangkat bahu, “Pengaruhnya sangat kuat sekali. Bahkan yang pangkatnya lebih tinggi dari dirinya pun dibuat tidak berkutik menghadapinya.”
Hans berdiri untuk berbicara, “Saya buka saja nama petinggi tersebut di sini ya. Ini off the record ya, petinggi ini dikenal di masyarakat sebagai aparat yang humanis. Jenderal bintang 2 dengan karir yang sebenarnya biasa saja tetapi tampak melejit pesat tidak wajar."
Hans mengetik pada laptopnya, proyektor memunculkan riwayat pendidikan dan perjalanan karirnya di instansi tersebut tersebut, "Sepertinya dia adalah titipan dari aparat kuat terdahulunya. Kalau kita lihat biografinya, ayahnya juga salah seorang petinggi kepolisian juga.”
“Dia adalah Jenderal XX, untuk selanjutnya di WAG dan percakapan kita nanti kita sebut sebagai Inspektur Thakur. Kenapa saya memberi nama Inspektur Thakur? Karena selain menjadi pejabat tinggi dia juga pebisnis dunia bawah tanah. Jadi saat siang menjadi Inspektur Thakur, saat malam hari menjadi Tuan Thakur,” Hans menunjukkan video CCTV dari suatu tempat hiburan malam.
“Bad cop_Polisi jahat_” gumam Indra.
“Kehidupan selalu punya dua sisi gelap dan terang. Seperti koin yang punya dua sisi. Ada bad cop ada juga good cop. Kita gak bisa men-generalisir semuanya,” kata Hans.
“Inspektur Thakur vs Inspektur Vijay,” kata Agung.
“Kira-kira siapa ya yang jadi Inspektur Vijaynya?” tanya Bramasta, “Karena secara kasat mata mereka sama semua, berseragam dan terlihat baik casing-nya.”
“Terlalu rumit kalau kita menghadapi kejahatan terstruktur seperti ini. Menghadapi mafia berseragam itu lebih berat daripada menghadapi mafia biasa. Mereka difasilitasi, dilatih dan digaji secara resmi oleh negara,” kata Tuan Armand.
“Jadi kita mundur?” Daddy berkata dengan suara muram.
“Gunakan kekuatan sosial media,” tiba-tiba Anton dengan nada penuh keyakinan.
Semua menoleh pada Anton.
“Kita gak mungkin melawan mereka di dunia nyata. Kalau ngotot maju, akan ada korban jiwa yang berjatuhan, karena mereka tidak akan segan-segan untuk bermain kasar,” Anton maju ke depan.
Mengetikkan sesuatu pada laptop Hans lalu muncul berita-berita seputar Bramasta-Adisti. Anton meminta pointer laser yang sedang dipegang oleh Hans.
“Yang ini, berita awal tentang kemunculan Bramasta-Adisti, video evakuasi. Sebanyak ini orang yang menayangkan video mereka, belum lagi yang membahas di channel youtube. Belum lagi stasiun-stasiun TV yang berlomba-lomba menayangkan video tersebut. Ini baru video awal ya,” Anton mengetik dengan cepat di laptop Hans.
“Ini video kedua. Tendangan Memutar Adisti. Kemudian video CCTV parkiran kafe, awalnya netizen kurang antusias membahasnya karena jarak yang terlalu jauh dan hingga kini pria yang dipukul Bramasta tidak berhasil diungkap publik. Baru setelah video tersebut ditanyakan di acara konferensi pers dan dibenarkan oleh Pak Bos, netizen mulai membahas video tersebut,” Anton berhenti sejenak lalu mengetik dengan cepat lagi.
Kali ini tampilan layar terbagi 2, layar pertama berisi postingan video dan layar kedua berisi postingan netizen di aneka sosial media terkait Bramasta-Adisti, “Untungnya, hal yang menjadi viral di dunia maya itu bergulir dengan cepat, video CCTV tersebut kalah pamor dengan aksi dukungan moril untuk Adisti pasca diserang, sehingga netizen berhenti mencari tahu siapa lelaki yang dipukul oleh Pak Bos.”
“Dua video di rumah sakit tentang Bramasta-Adisti pun sangat menarik minat publik. Video saat mereka sedang di lobby membaca kartu-kartu pengirim bunga dan video adegan romantis mereka saat Pak Bos menahan tubuh Adisti supaya tidak jatuh juga saat menalikan tali sepatunya…” Anton tersenyum ke arah Bramasta.
Bramasta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, “Ton.. bisa gak sih lu gak ngingetin semuanya?”
“Kenapa Pak Bos?” tanya Anton dengan wajah polos.
“Malu tau.. It’s very uncomfort for me.”
“Alaaah bilang aja auto ingat bini…” celutuk Leon.
“Iya juga sih,” Bramasta tersenyum lebar pada semua orang, “Kan gue jadi kangen..”
“Dih kelakuan,” protes Indra, “Hormati kami-kami yang masih jomblo, Bos.”
“Jomblo itu pilihan, menikah itu tujuan hidup,” kata Daddy.
“Duh nasib jadi jomblo gini amat…” Agung mengusap wajahnya.
Suasana yang tadinya tegang jadi penuh tawa di ruang meeting.
“Jadi bagaimana kelanjutannya,Ton?” tanya Hans.
Anton berdehem. Mengetikkan sesuatu lagi pada laptop. Proyektor menampilkan video-video amatir yang diambil dari jauh menyorot pada tebing The Cliff.
“Pada malam resepsi, jagat maya dihebohkan dengan video-video tebing yang mendadak warna-warni dan menayangkan video-video Bramasta_Adisti. Kehebohannya bukan saja di jagat maya Indonesia melainkan hingga ke mancanegara,” Anton menunduk lagi pada laptop.
Semua yang ada di ruangan meeting terperangah dengan suara “wow” berkali-kali saat membaca komentar-komentar dan tayangan video dalam berbagai bahasa.
“Masyaa Allah, lu go international Bram!” seru Leon.
“How it could be?_Bagaimana bisa?_” gumamnya.
“Bingo!_Itu dia!_” seru Hans, “I got your point!_Aku tahu maksudmu!_”
Hans menunjuk pada Anton sambil mengangguk senang dengan antusias.
Daddy berdiri lalu memandang Hans dan Anton bergantian, “That’s our weapon!_Itu senjata kita!_”
Tuan Armand mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Son, we will use both of your fame_Nak, kita akan gunakan ketenaran kalian berdua_,” kata Daddy sambil menepuk-nepuk bahu Bramasta.
“Dan publik akan selalu merasa penasaran dengan kisah kalian,” kata Anton sebagai kalimat penutupnya lalu berjalan kembali ke kursinya.
“OK… Hans, siapkan konferensi pers untuk mengumumkan pernikahan Bramasta dan Adisti ya. Besok bisa?” Daddy dalam mode Tuan Alwin memberi perintah pada Hans.
Hans melirik arlojinya, “Insyaa Allah besok sore atau petang bisa.”
“Agung, sampaikan pada Bapak dan Ibu Gumilar akan kemungkinan di depan rumah akan ada wartawan yang akan meminta wawancara. Tolak semua permintaan wawancara. Wawancara dilakukan dari tim TV-nya Mommy Bram saja.”
“Baik Om, nanti akan saya sampaikan.”
“Anton, siapkan video A Gift From B Crews ya. Kita akan pakai itu,” Daddy lama memandangi wajah Anton, “By the way, kamu ada keingingan untuk bergabung dengan Sanjaya Group, gak?”
“NO WAY!” seru Bramasta dan Indra kompak.
“Gak boleh membajak karyawannya Bram, Dad!” Bramasta protes kereas.
Daddy terkekeh, “Daddy kan cuma nanya ke Anton..”
“Terimakasih, Tuan Alwin. Tapi saya masih betah di B Group. Atmosfir di sana sangat saya sukai begitu juga dengan rekan-rekan kerja di sana,” jawab Anton dengan terkekeh.
Bramasta dan Indra langsung mengacungkan 2 jempolnya pada Anton.
“Anton itu Kim Taehyung-nya versi +62. Kasihan para gadis di B Group, bisa termehek-mehek mereka kalau Anton pindah ke Sanjaya Group,” kata Indra disambut kekehan Bramasta.
“Apaan sih Bro..” Anton menepak lengan atas Indra.
“Indra, Agung dan Anton malam ahad nanti kalian ada acara?” tanya Daddy dengan wajah serius.
“Gak ada, Om/Tuan,” jawab mereka bertiga.
“Oh iya, saya baru ingat kalian jomblo ya…” Daddy mengambil botol mineral di depannya. Bramasta, Leon dan Hans terkikik.
“Memangnya ada apa, Om?” tanya Indra.
“Kalian bertiga diajakin muter-muter oleh kipas angin…” jawab Daddy dengan wajah polos.
Tuan Armand berdehem, “Tuan Alwin, saya jomblo juga loh…”
“Nah loh!” seru Indra, Agung dan Anton kompak.
Bramasta, Hans dan Leon tertawa semakin keras saat melihat Daddy terdiam tidak bisa berkata-kata.
***
Catatan Kecil:
A.K.A. (Also Known As) artinya juga dikenal sebagai atau alias, dipakai untuk menyebut nama samaran seseorang.
**Nah loh.. Daddy gak nyadar kalau Tuan Armand itu lawyer dengan status duren maxi, DUDA KEREN MAXIMAL.
😁**