CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 245 – PEMILIHAN KATA ADINDA



“Assalamu’alaikum...” suara Ayah, Bunda dan Adinda terdengar bersamaan mengucap salam saat memasuki pintu.


“Ayah, Bunda..” Agung mencium kedua punggung tangan mereka dengan takzim, “Kok gak ngomong dulu sih mau kemari?”


“Kenapa? Gak boleh?” tanya Bunda sambil terkekeh.


Bramasta dan Anton menyalami Ayah dan Bunda.


Agung menatap Adinda yang tengah tersenyum simpul.


“Jadi ini yang kamu bilang mau dikenalin oleh Ayah dan Bunda?”


Adinda terkekeh.


“Nakal kamu..” Agung menyentil punggung tangan Adinda.


“Wah.. Parah nih Dinda. Nge-prank Om Agung sampai hampir nangis karena galau loh tadi...” Bramasta terkekeh menatap Adinda.


Anton ternganga menatap Agung dan Adinda bergantian.


“Ih, nggak. Bohong. Jangan dipercaya omongan Abang Bram yang hiperbolik,” Agung menggerakkan kedua tangannya.


“Beneran kok. Disti jadi saksinya..”


“Memangnya tadi Adek ada di sini?” tanya Ayah.


“Nggak Yah.. Pas kejadian saya sedang video call dengan Disti. Disti sedang di jalan ke arah Jakarta tadi,” Bramasta tertawa diikuti Ayah.


“Memangnya Dinda ngomong apa ke Om Agung?” Bunda mendadak kepo.


Adinda tertawa. Dekik kecil dan lesung pipi yang hanya ada di sebelah pipi kirinya tampak jelas terlihat.


“Dinda tadi bilang diajakin Ayah dan Bunda jalan-jalan. Mau dikenalin ke kenalan Ayah dan Bunda tapi bukan teman seumuran Ayah dan Bunda...” Adinda tidak tahan untuk tidak tertawa geli.


“Terus, yang ada di pikiran Kakak saat itu apa?” tanya Ayah.


“Jujur ya?” Agung menatap Ayah dan Bunda. Keduanya mengangguk.


“Saat itu Kakak merasa Ayah dan Bunda kok tega amat ke Kakak...”


“Tega bagaimana?” tanya Bunda.


Agung cengengesan. Menatap malu-malu pada Adinda.


“Ya.. Gitu deh...”


Bramasta dan Anton langsung terbahak keras.


“Kakak gaje ih. Gak jelas,” Bunda menepuk-nepuk punggung Agung, “Bayi Bunda sudah besar...”


“Jadi Om pernah jadi bayi juga?” tanya Adinda dengan berani yang membuat semuanya tertawa kecuali Agung tentunya.


Agung melirik Adinda dengan sebal.


“Apartemennya enakeun, Kak...” Ayah memandang sekelilingnya.


“Boleh lihat-lihat. Om?” tanya Adinda dengan penuh semangat.


Agung hanya menghela nafas panjang karena tanpa diiyakan pun Adinda akan langsung berkeliling bersama Bunda.


“Berapa kamar, Kak?” tanya Bunda.


Ayah dan Adinda mengekor di belakangnya.


“Dua, Bun..” Agung berdiri memberi pelayanan room touring guide, “Tapi kamar kedua Kakak pakai untuk ruang kerja.”


Agung membuka pintu kamarnya dan ruang kerjanya.


“Kak Anton...” Adinda menoleh pada Anton yang tengah mengobrol bersama Bramasta. Anton menengok ke arah Adinda dengan alis terangkat.


“Kakak keren! Ini semua hasil karya Kakak, kan?” Adinda mengacungkan kedua jempolnya pada Anton. Anton hanya mengibaskan tangannya sambil tertawa menanggapi Adinda.


“Hmmmh,” Agung bergumam di samping Adinda. Pelan. Hanya Adinda yang mendengarnya.


“Terus, kalau Ayah dan Bunda mau tidur di sini, tidur dimana? Di sofa?” Ayah masuk ke dalam ruang kerjanya. Mengamati meja kerja Agung yang sebagian besar dipenuhi perlengkapan komputer.


“Ya nggaklah. Ayah dan Bunda di kamar utama. Dinda di kamar kerja Kakak, ada kasur udara. Kakak bisa tidur di sofa.”


“Gak bisa begitu...” Bramasta protes, “Sebelum tidur di sini, Ayah dan Bunda harus tidur dulu di tempat kami..”


Ayah dan Bunda tertawa.


“Iya.. nanti insyaa Allah Ayah dan Bunda menginap di tempat Nak Bram dan Adek.”


Gawai Bramasta, Agung dan Anton berbunyi bersamaan. Mereka serentak membukanya. Hans sudah menanyakan keberadaan mereka di markas.


“Ayah, Bunda dan Dinda, saya tinggal dulu ya. Hans sudah menghubungi. Banyak pekerjaan yang harus kami lakukan hari ini. Yuk, Ton. Kita jalan sekarang.”


Mereka berdua menyalimi Ayah dan Bunda.


“Timingnya gak pas ya,” Ayah, “Kakak bukannya harus pergi juga ke tempat Nak Hans?”


Agung mengangguk, “Telat juga gak apa-apa..”


“Gak boleh seperti itu. Sana kalau mau pergi ya pergi saja. Kami masih ingin di sini. Gak apa-apa kan?”


“Ini ya Om?” Adinda mengacungkan kertas karton berlaminasi di dekat interkom.


Agung mengangguk. Lalu memanggil Adinda ke arah balkon. Memberitahu cara membuka dan mengunci pintu balkon. Agung juga menyerahkan kartu masuk ke apartemennya pada Adinda. Mengajari cara membuka ataupun mengunci apartemen saat hendak pergi.


Adinda mengangguk-angguk mengerti.


“Simpan baik-baik kartunya ya.”


Adinda mengangguk. Mereka mengobrol berdua di balkon. Ada pot-pot berisi pakis dan suplir. Juga ada kamboja Bali yang berwarna kuning di balkon. Ditata di antara dua buah kursi dan meja kecil. Di ujung sana, ada area jemur yang ditutupi kisi-kisi besi sebagai area jemur sehingga tidak terlihat dari luar.


“Om.. kalau saya perhatikan, kalian kok mirip Power Rangers sih?” Adinda menatap pemandangan Kota Bandung dari balkon apartemen sambil berpegangan pada railing hand.


Agung yang sedang mengamati kuku kakinya mendongak heran. Menatap Adinda yang membelakanginya dengan tatapan bertanya.


“Power Rangers?”


Adinda menoleh dan mengangguk.


“Iya. Begitu menerima panggilan pesan langsung siaga dan bergegas pergi penuh rahasia. Memakai identitas ganda kalian. Kalian seperti itu kan?”


“Ah itu sih hanya perasaan Neng Dinda saja..” Agung terkekeh walaupun ia merasa apa yang diucapkan Adinda benar adanya.


“Kalian seperti berkepribadian ganda. Punya alter ego sebagai penumpas kejahatan di muka bumi..”


Agung merasa geli dengan pilihan kata Adinda. Dia tertawa.


“Becanda kamu tuh..”


“Eh beneran loh.”


“Kalian ngobrolin apa?” Bunda menongolkan kepalanya dari balik pintu, “Wah.. teras balkon ini enak juga ya walaupun kecil. Gak mau ditambahi sayuran aeroponik, Kak? Yang seperti tower itu..”


“Nanti tetangga ngiri Bun, Kakak nanam sayuran di balkon,” Agung terkekeh, “Nanti saja Bun. Takutnya malah gak terurus.”


“Aeroponik sih gak ribet, Kak. Gak perlu disiram. Asal terhubung dengan pompa kecil saja dan dipasang timer untuk penyemprotannya. Bunda buatin ya. Sekalian jadi ajang percobaan. Di tempat seperti ini bisa tumbuh nggak..”


“Terserah Bunda saja deh.. Bunda belanja saja apa yang perlu dibeli nanti Kakak ganti pengeluaran Bunda.”


“Hmmm gampang itu sih..”


Agung masuk ke dalam. Mengambil paper bag yang tadi dibawakan oleh Anton. Lalu membawanya lagi ke teras balkon. Bunda sudah berada di pantry, menyiapkan teh panas untuk Ayah.


“Dinda.. ini..” Agung menyodorkan paper bag kecil.


“Apa ini?” Adinda menerima paper bag lalu mengambil kotak di dalamnya. Membaca nama brand yang tertera pada kotaknya membuat keningnya berkerut.


“Semoga kamu suka dengan pilihan saya. Kamu pakai ya.”


“Tapi.. arloji Dinda masih bagus kok. Ini dibelikan Papa sewaktu saya naik kelas 12.”


“Tolong, mulai sekarang pakai yang ini saja. Ini bukan arloji biasa.”


“Maksudnya?” Adinda membuka kotaknya. Mengamati jam tangan yang berada di dalamnya. Menurutnya tidak ada yang aneh pada jam tangannya.


“Warnanya cantik. Apanya yang tidak biasa?”


“Setelah kejadian kemarin, bukan tidak mungkin mereka juga akan mengincar kamu. Tolong pakai arloji ini ya.”


“Siapa mereka?”


“Tunggu hingga selesai ujian, saya janji akan menjelaskan semuanya..”


Adinda menggeleng.


“Kalau keselamatan saya juga ikut terancam, saya juga berhak tahu siapa yang tengah mengancam kita. Karena kapan pun mereka bisa menyerang kan? Tidak menunggu saya selesai ujian.”


Agung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Berusaha setengah mati untuk tidak memeluknya untuk menghibur dan memberi kekuatan kepada gadis yang mampu menjungkirbalikkan dunianya. Bukan karena di dalam sana ada Ayah dan Bunda tetapi karena lebih pada takut menyentuh yang belum halal baginya.


Agung menatap iris mata cokelat Adinda hanya tiga detik sebelum mengalihkannya ke pemandangan yang terhampar di bawahnya. Adinda harus tengadah untuk melihat wajah Agung.


Agung menghela nafas panjang.


“Mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam peristiwa The Ritz.”


Adinda menoleh cepat pada Agung. Menatap nanar pada mata Agung.


“Jangan takut. Kami akan berusaha melindungi kamu. Dan ada Allah tentu saja yang Maha Melindungi.”


“Saya tidak takut bila saya terluka. Yang saya cemaskan adalah keselamatan Om Agung. Saya tidak mau melihat Om berada di antara hidup dan mati lagi. Karena terlalu menyakitkan dan menyedihkan bagi saya.”


Agung menoleh pada Adinda yang tertunduk. Tangannya bergerak menepuk-nepuk puncak kepalanya.


“Terimakasih. Jangan khawatir, karena saya adalah Power Ranger Hijau.”


.


***


Go! Go! Power Rangers...!


Kan.. kan.. auto nyanyi lagunya Power Rangers. Kanebo Kering jadi Power Ranger Hijau?