
Sesuai janji ya.. malam ini double up.
***
Rumah Keluarga Gumilar 05.30
Ayah mengetuk pintu kamar Adisti, “Dek..”
“Iya Ayah, masuk saja. Adek sedang beresin tempat tidur.”
Ayah melangkah masuk lalu duduk di kursi.
“Ada apa Yah?”
Ayah menggeleng dan tersenyum, “Nggak.. nggak ada apa-apa. Ayah cuma ingin mengobrol berdua dengan Adek. Insyaa Allah, selepas Ashar nanti jika acara berjalan lancar, tanggung jawab Ayah kepada Adek akan beralih kepada suami Adek.”
Ayah berhenti berbicara untuk melonggarkan tenggorokannya yang terasa tercekat. Ayah berdehem. Kemudian membelai kepala Adisti, “Patuhi suami Adek selama dia mengajak dalam kebaikan. Hargai suami Adek sebagai imam Adek. Hormati suami Adek sebagai lelaki yang menggantikan tanggung jawab Ayah di hadapan Allah terhadap anak gadis Ayah sebagai istrinya. Sayangi suami Adek dan keluarganya.”
Adisti tercenung. Dia meletakkan selimut yang sudah dilipatnya di atas tempat tidurnya lalu bergegas memeluk ayah. Bunda yang dari tadi mendengarkan di ambang pintu, bergegas menyusut air matanya.
“Insyaa Allah, Ayah. Insyaa Allah Adek akan selalu mengingat nasehat Ayah. Insyaa Allah Adek tidak akan mempermalukan keluarga kita,” Adisti mengelap air matanya dengan punggung tangannya.
“Adek akan selalu menjadi Tuan Putrinya Ayah, selamanya,” Ayah mengecup ubun-ubun Adisti. Air mata ayah menetes di tangan Adisti. Adisti baru kali ini melihat Ayah menangis.
Dia menggenggam kedua tangan Ayah, “Ayah sedih Adek akan menikah?”
Ayah mengeleng, “Ayah hanya terharu. Semalam, Ayah dan Bunda mengobrol. Merasa waktu terasa begitu cepat berlalu. Rasanya Ayah baru saja menuntun Adek saat belajar jalan, rasanya Ayah baru saja mengajari Adek naik sepeda, rasanya Ayah baru saja mengantarkan Adek ke sekolah bersama Kakak. Tahu-tahunya sekarang Adek udah mau jadi istri orang.”
“Ayaaaaah,” Adisti membenamkan wajahnya di bahu Ayah. Menangis sesunggukan. Ayah membelai lembut punggung anak gadisnya.
Bunda tidak tahan lagi. Sambil terisak menghampiri mereka berdua lalu memeluk Adisti.
“Bayi cantik Bunda sudah besar, sudah menjadi anak gadis, sebentar lagi menjadi istri, menjadi ibu rumah tangga,” Bunda mengusap kepala Adisti, “Semakin sholeha ya Sayang… ada banyak pahala menanti untuk dijemput sebagai seorang istri.”
“Adek merasa sangat beruntung punya orangtua seperti Ayah dan Bunda. Yang sudah memberi cinta tanpa syarat kepada Adek, mendidik Adek, mengajari Adek dan menegur Adek hingga Adek menjadi seperti ini.”
“Eh, lagi pada ngapain?” Agung menatap heran pada mereka, “Kok nangis semua sih? Kakak gak diajak?”
Bunda melepaskan pelukannya pada Adisti. Lalu melambaikan tangannya kepada Kakak, “Hayu sini Kakak. Kita nangis bareng. Kita lanjutin lagi…”
“Dih.. nangisnya tentang apa dulu nih. Temanya apa?” Kakak berlutut di samping Bunda.
“Hhhh!” Ayah melepaskan pelukannya pada Adisti, “Ambyar deh…”
“Kakak ih, datang-datang merusak suasana..” Adisti mencebik kesal.
“Lagian kenapa sih main teletubbies-teletubbiesan tapi gak ngajak Kakak?” Agung memperlihatkan cengirannya.
“Udah ah,” Bunda menepak lengan atas Agung.
“Kalau mau nangis nanti aja di acara sungkeman, Dek. Nanti setelah ijab kabul. Tapi hati-hati make upnya luntur kalau diunyek-unyek terus pakai tisu. Dan ingat, Dek. Ini sebagai kakak ya kakak ingatkan Adek,” Agung sengaja menjeda kalimatnya untuk memandangi wajah adiknya dengan tatapan serius. Ayah dan Bunda ikut menunggu kelanjutan kalimat Agung.
“Apa?” tanya Adisti, “Kakak ingatkan Adek apa?”
“Kakak ingatkan Adek, nanti saat menangis, jangan usap ingus pakai lengan baju Adek, ya. Jijik. Malu tahu dilihat tamu…” Agung langsung berlari ke arah pintu sambil terkekeh.
“KAKAAAAAK.”
“Kakak…” panggil Ayah.
“Bercanda, Yah.. mumpung Adek belum jadi istri Abang..” cengir Agung.
Ayah hanya menghela nafas sambil memandang Bunda.
“Dek,” panggil Agung di ambang pintu, “Latihan yuk.”
“Latihan apa?”
“Taekwondo.”
Adisti memandang Agung dengan kesal.
“Kakak…” panggil Bunda.
“He he he… iya Bunda tersayang… ma’af..”
Agung melihat gawainya, kemudian berbicara dengan nada serius, “Nanti jam 8 ada petugas dari spa lagi untuk treatment Adek.”
“Lagi?”
Agung mengangguk, “Kenapa? Kan enak dipijatin, luluran de el el. Nanti dilanjut dengan petugas salon dan butik.”
“Boring, Kak. Gak bisa ngapa-ngapain.”
“Ya gak usah ngapa-ngapain.”
“Isssh Kakak.”
“Udah jalani saja,” kata Bunda, “Untuk jadi ratu sehari. Supaya pangling orang-orang melihat Adek.”
“Tuh, dengar kata Bunda. Supaya Adek gak jadi pengantin yang burik.”
“KAKAAAAAK!” kali ini Ayah, Bunda dan Adisti kompak bersuara.
***
Rumah Keluarga Sanjaya 05.30
“Bang Leon,” panggil Bramasta dari lantai bawah.
Leon menengok ke bawah sambil menggendong Eric, “Bonjour, oncle_Selamat pagi, paman_,” tangan Eric dilambai-lambaikan kepada Bramasta.
“Bonjour aussi beau neveu_selamat pagi juga keponakan ganteng_” Bramasta memandang gemas pada Eric, “Turun, Bang.”
“Hati-hati, Eric baru minum susu. Bisi olab_Nanti muntah_”
“Kasihan Eric nih nanti, bakal bingung bahasa.”
“Impossible. Papa et maman sont intelligents, leurs enfant doivent etre intelligents aussie_Tidak mungkin. Papa dan Mamanya pintar, pasti anaknya juga pintar_” Leon menyalakan mesin treadmill lalu mulai berjalan hingga berlari kecil.
“Iya deh.. iya..” Bramasta mendekatkan wajahnya pada Eric, “Ganteng banget sih kamu..”
“Seperti papanya dong..” seru Leon.
Bramasta tidak menghiraukan ucapan Leon.
“Uncle unyel-unyel boleh ya…” Bramasta mendekatkan hidungnya dengan hidung Eric. Eric terkekeh senang. Tangan mungilnya menggapai-gapai wajah Bramasta. Tangannya menangkap telinganya lalu menariknya.
“Ugh! Eric..no! Jangan! Kuping Uncle masih sakit dijewer Opa. Jangan ya Ganteng…”
Eric tidak peduli. Dia semakin terkekeh melihat Bramasta kesakitan. Bibirnya berdecap-decap menciumi hidung Bramasta. Kemudian… menggigitnya.
“Ouch! Eric!” Bramasta berusaha melepaskan diri, “Abang! Bang Leon!”
Leon menengok ke arah Bramasta. Terkejut dengan pemandangan yang ada. Segera mematikan mesin treadmill.
“Eric, no Dear. Jorok ih kamu. Hidung Uncle kok dikolomoh seperti itu. Bukan permen, tahu!”
“Ini bukan dikolomoh, Bang. Buruan, hidung Bram digigit, gak mau lepas dianya..”
“Halaaaagh,” Leon mengambil alih Eric.
Eric menangis karena ditarik paksa dari Bramasta. Bramasta langsung memegangi hidungnya. Mengecek dengan tisu, berdarah atau tidak.
“Ssssssh… jangan nangis udah.. tuh lihat cicak di atas,” tangan Leon menunjuk ke plafon yang tidak ada cicak sama sekali. Kepala Eric tengadah, tangisnya berangsur reda.
“Papppa…da da,” tangan Eric menunjuk ke atas sambil kepalanya geleng-geleng. Memberitahukan papanya tidak ada cicak di sana.
Leon terkekeh, “Smart boy… cicaknya sudah pergi tangkap nyamuk.”
“Hap!” seru Eric sambil tepuk tangan.
Leon dan Bramasta tergelak.
Leon mendekatkan wajahnya ke hidung Bramasta. Memeriksa hidungnya. Ada bekas gigi Eric di sana untungnya tidak sampai membuat kulit Bramasta terluka.
“Untung saja gak berdarah, Bram. Tapi bekasnya dalam, kompres es batu gih.”
“Eric ah… Uncle mau jadi pengantin malah dianiaya begini..”
“Siapa yang dianiaya?” tanya Daddy masuk dari pintu taman.
“Eric gigit hidung Bram, Dad,” Bramasta mengambil es baru dari pintu kulkas mempunyai tempat untuk mengeluarkan es batu tanpa harus membuka freezernya. Membungkus es batu dengan tisu makan lalu menempelkannya pada hidung.
“Kamunya pasti pecicilan,” kata Daddy, “Kasihan cucu Opa… dimarahi Uncle? Atau dimarahi Papa?”
“Nuduh….” Leon dan Bramasta kompak.
Daddy terkekeh.
“Layla mana?”
“Tidur lagi, Dad. Semalam pulang jam 1,” kata Leon.
“Dari site?” tanya Bramasta kaget.
“Nggak lah. Urusan site udah kelar sebelum Maghrib. Langsung ke apartemen lu. Layla dekor kamar pengantin, Bram,” jawab Leon sambil menepuk-nepuk Eric.
“Padahal Bram udah request jangan terlalu banyak bunga nanti di kamar.”
“Kenapa? Kamar pengantin identik dengan bunga kan?” tanya Daddy.
“Gak suka aja.. geli aja mendadak tidur di ruangan penuh bunga.”
“Kan gak tiap hari lu tidur dikelilingi bunga, Bram.”
“Nah itu,” Daddy terkekeh.
“Terus, sudah hafal belum?” tanya Leon.
“Eh!” Bramasta mematung.
Tatapan matanya terlihat tegang. Dia diam sembari meletakkan telunjuk kanannya di cuping hidungnya. Lalu menatap panik Leon dan Daddy bergantian.
“Astaghfirullah… kok buyar semua ya. Padahal dari semalam sudah hafal. Gimana dong??”
Leon dan Daddy terkekeh.
“Ya hafalin lagi..” Leon menggoyang-goyangkan tubuh Eric.
“Mana Disti pakai ngancam segala, kalau Bram sampai salah-salah mulu, dia bakal matahin meja ijab kabulnya jadi dua…” Bramasta tampak cemas.
Daddy semakin terkekeh, “Ini yang Daddy suka dari Adisti…”
“Bram, jangan malu-maluin Mommy ya, gegara kamu gak hafal teks ijab kabulnya!” suara Mommy dari lantai dua terdengar nyaring penuh ancaman.
Eric cute gemesin ya..
Jadi pengen punya bayi lagi.
Eh! 😁