
Bramasta segera beranjak dari duduknya sambil memasukkan gawainya ke dalam saku depan kemejanya. Dia keluar dari gazebo dengan tubuh dimiringkan karena takut bersentuhan dengan wanita tersebut yang memblokir pintu gazebo.
“Ma’af, anda siapanya Adisti?”
“Saya Irma,” Wanita itu mengangsurkan tangannya mengajak Bramasta untuk bersalaman.
Bramasta hanya menatap tangannya dan diam saja tidak berkata apapun.
Wanita tersebut tersenyum, “Kamu yakin mau menikahi Adisti? Kamu tidak kenal betul dengan dia kan?”
“Maksudnya?”
“Kalian baru kenal beberapa hari ini kan?”
“Lalu?”
“Kamu tahu gak, Adisti harusnya menikah dengan pewaris Anggoro Putro seminggu yang lalu? Tapi pernikahannya dibatalkan?”
Bramasta menghembuskan nafasnya sambil memasukkan tangannya di saku celananya.
“Lalu?”
“Kamu tahu berapa lama mereka berpacaran? 2 tahun. Waktu yang cukup lama kan? Anak muda jaman now pacaran, kayak yang gak tahu saja bagaimana kelakuan mereka. Di depan keluarganya cupu tapi di belakang keluarganya ternyata suhu,” Wanita tersebut berkata sambil mengibaskan tangannya.
“Maksudnya?”
“Kamu beneran gak tahu? Ck ck ck… Kamu tuh polos banget atau putra-pura gak tahu, Bram..” Wanita tersebut tersenyum sambil memandangi wajah Bramasta.
Bramasta menunjukkan raut wajah tidak suka kepada wanita tersebut.
“Kamu yakin Adisti masih gadis? Yakin dia masih perawan? Atau jangan-jangan sebenarnya dia gadis rasa janda? Mending pilih yang jelas-jelas saja statusnya seperti Irma: janda. Tapi bukan sembarang janda karena Irma itu janda rasa gadis. Terawat dengan baik. Lebih berpengalaman dan pastinya lebih …”
“Cukup! Gak perlu kamu teruskan omongan kamu. Janda macam kamu itu yang membuat para janda baik-baik menjadi tercoreng imejnya,” Bramasta berucap dengan nada keras. Orang-orang yang berada di sana memperhatikan mereka. Ayah dan Bunda tergopoh-gopoh mendatangi Bramasta yang terlihat tampak gusar.
“Berani kamu menfitnah calon istri saya? Berani kamu menghina calon istri saya? Jangan mentang-mentang kamu perempuan lalu saya tidak berani menghadapi kamu,” Bramasta menunjuk ke arah wanita itu, “Saya sudah bicara di media, siapapun yang berani menyakiti wanita saya maka orang itu akan berhadapan dengan saya. Siapa pun!”
“Nak Bram, ada apa ini?” tanya Ayah.
Bunda memeluk Bramasta untuk menenangkan, “Sabar Nak..sabar.”
Bunda menoleh pada wanita itu, “Kamu siapa?”
“Tadi saya hanya berbincang dengan Bramasta. Tapi sepertinya Bramasta salah mengerti dengan ucapan saya,” wanita itu tampak gugup. Tangannya gemetar.
“Kamu siapa?” tanya Bunda lagi.
“Saya tidak bermaksud membuat Bramasta marah dan saya tidak memfitnah Adisti seperti yang Bramasta tuduhkan tadi..” matanya berlinang air mata.
Orang-orang makin banyak yang berkumpul di halaman samping. Bahkan Adisti menerobos hingga berhasil sampai di dekat petak tanaman kubis. Memandang pada Ayah, Bunda, Bramasta dan wanita itu.
Bunda menarik kedua lengan Bramasta untuk berada di belakangnya. Bunda maju ke depan.
“Saya tanya dari tadi kamu itu siapa? Kami tidak ingat punya kerabat dengan wajah seperti kamu!”
“Saya… saya Irma,” wanita itu terisak.
“Menangis kamu sekarang? Berharap orang-orang akan percaya dengan bualan kamu?” Bramasta menatap tajam pada wanita itu, “Kamu pikir saya tidak merekam kejadian tadi? Saya sudah menduga kamu bukan perempuan yang baik saat memaksa hendak menemani saya duduk di dalam gazebo. Dan saya yakin kamu bukan kerabat Keluarga Gumilar kan? Siapa yang mengirim kamu ke sini?!”
Orang-orang yang berkumpul berdengung heboh sambil menunjuk-nunjuk wanita tersebut.
Wanita tersebut memandang Bramasta dengan wajah yang tidak mengerti, “Maksud kamu apa Bram?”
Adisti melangkah maju menghampiri mereka.
“Abang? Ada apa?” tanyanya.
“Ini..” Bramasta mengambil gawainya yang ia simpan di saku atas kemejanya. Dia menekan tombol stop recording, “Abang gak mau timbul fitnah saat perempuan ini memaksa untuk menemani Abang di dalam gazebo saat Abang sedang menunggu Ayah dan Bunda, jadi Abang mengaktifkan rekam video. Abang gak mau Disti ataupun Ayah dan Bunda jadi salah sangka ke Abang.”
Ayah menepuk-nepuk bahu Bramasta. Adisti menekan tombol galeri lalu menekan video yang baru saja dibuat Bramasta. Adisti, Bunda dan Ayah menonton video tersebut yang merekam jelas wajah wanita itu. Tombol volume di-full-kan. Orang-orang mendengarkan isi percakapan antara Bramasta dan wanita itu.
Video selesai, orang-orang memandang gusar pada wanita itu. Adisti mengirim video tersebut pada gawainya, gawai Ayah dan gawai Agung.
“Jangan disebarluaskan video ini. Kasihan wanita itu kalau percakapan ini tersebar luas,” kata Adisti dengan suara dingin sambil menatap wanita yang tengah tertunduk itu.
Adisti mendekati wanita itu.
“Teh Irma, coba lihat ke saya. Mungkin dengan melihat wajah Teteh saya bisa mengingat kita pernah bertemu dimana atau kenal dimana.”
Wanita yang bernama Irma itu menampakkan wajahnya dengan takut-takut. Adisti menggeleng.
“Saya tidak merasa kita pernah bertemu apalagi kenal. Jadi tolong katakan, saya punya dosa apa ke Teteh sampai saya difitnah dengan begitu buruk di hadapan calon suami saya oleh Teteh?”
“Apa Teteh tidak malu menawarkan diri Teteh kepada calon suami saya?” Adisti mengepalkan tangannya karena gemas dengan perilaku wanita itu, “Saya saja yang menontonnya malu, Teh. Malu karena ada perempuan yang merendahkan martabatnya kepada seorang pria. Menjadi janda bukan berarti perempuan itu bebas menggoda lelaki, Teh. Seharusnya dengan menjadi janda Teteh menjadi lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertutur kata karena dapat menimbulkan fitnah bagi dirinya sendiri.”
Bramasta yang memperhatikan Adisti dari belakang merasa bangga pada calon istrinya itu yang begitu dewasa menyikapi insiden tadi.
“Menyatakan diri sebagai janda rasa gadis kepada seorang lelaki apakah Teteh tidak merasa malu? Kalau Teteh menyatakannya di hadapan lelaki hidung belang pasti lelaki itu akan senang dan menyambut Teteh. Tapi meyatakannya kepada lelaki baik-baik, malah menjadi aib buat Teteh.”
Adisti bersidekap dengan sebelah tangan yang berada di kain gendongan tangan.
“Teteh suka dengan calon suami saya?”
Wanita itu mengangguk.
“Yang suka dengan calon suami saya banyak, Teh. Bukan hanya para janda saja tapi para gadis juga. Dari berbagai kalangan dan usia. Tapi Alhamdulillah, calon suami saya seorang lelaki yang baik-baik dan sangat menjaga pergaulannya. Teteh ingin mendapat calon suami seperti calon suami saya?”
Wanita itu mengangguk lagi.
“Kalau Teteh ingin suami yang sholeh dan baik-baik maka persiapkan diri Teteh untuk menjadi sholehah dan wanita baik-baik agar Teteh bisa memantaskan diri dengan calon jodoh Teteh. Karena janji Allah: wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik dan wanita keji untuk lelaki yang keji,” Adisti menatap tajam pada wanita itu, “Berhijrah bukan hanya sekedar menutup aurat saja tetapi juga harus berilmu dan menjaga pergaulan kita serta menjaga adab kita, karena hijrah hakekatnya adalah ilmu. Di atas ilmu adalah adab. Kelakuan Teteh yang seperti ini sama sekali niradab, tidak memiliki adab.”
Adisti maju selangkah mendekati wanita itu, “Ingin jodoh yang baik, ingin memiliki pasangan hidup yang baik bukan dengan jadi pelakor ataupun menelikung hubungan yang sedang terjalin. Dosa Teh. Yakin, kalau hidup bersama dengan si pelakor ataupun si penelikung maka lelaki tersebut bisa tetap baik? Atau malah blangsak dunia akherat? Jangan silau dengan harta ataupun kedudukan sosial yang dimiliki orang lain. Karena semua itu hanya titipan.”
“Disti,” Bramasta memanggil, “Sudah cukup.”
Bramasta berdiri di samping Adisti lalu menatap tajam pada wanita itu.
“Kerabat ataupun bukan, kamu tidak diperkenankan hadir dalam acara kami. Silahkan meninggalkan tempat ini tanpa drama ataupun membuat keributan terkait kejadian tadi, baik di tempat ini ataupun di tempat lain.”
Wanita tersebut terperangah sambil memandang Bramasta. Bramasta terlihat jengah. Bramasta berbalik menatap Adisti. Sementara wanita tersebut dibawa keluar oleh pengawal untuk keluar dari kediaman Keluarga Gumilar untuk diinterogasi. Beberapa kerabat Adisti juga ikut bersama pengawal itu.
“Are you OK?” tanya Bramasta memandang sendu Adisti.
“I’m fine.”
“I’m so proud of you_Aku sangat bangga padamu_”
“So do I, proud of you too. Thanks a lot_Aku juga, bangga padamu. Makasih_”
“For?”
“For not to be tempted_Untuk tidak tergoda_”
“Just like your said this morning: I’m yours and you are mine. That’z enough for us_Seperti ucapanmu pagi tadi: aku milikmu dan kamu milikku. Itu saja sudah cukup untuk kita_”
Adisti terkekeh pelan dengan pipi merona.
Bramasta menoleh pada Ayah, “Ayah, seperti Bram tidak jadi makan siang dan sholat Jum’at bersama Ayah.”
Ayah mengangguk.
“Padahal makan siang sudah siap, Nak Bram,” kata Bunda.
“Kejadian ini bikin Bram gak minat makan, Bun. Nanti biar Bramasta makan di kantor.”
“Maafkan insiden ini ya Nak,” kata Ayah sambil menepuk-nepuk punggung Bramasta.
Bramasta mengangguk, “Tolong pertimbangkan ucapan saya tadi, Ayah. Bicarakan lagi dengan para kerabat. Demi keamanan kita semua.”
Ayah mengangguk-angguk, “Ba’da sholat Jum’at rencananya kami akan rembukan dengan kerabat dekat membicarakan hal itu, Nak. Ditambah dengan insiden ini sepertinya pembatasan yang akan kita lakukan bisa mudah dimengerti oleh mereka.”
“Baiklah saya pamit dulu, Ayah, Bunda,” kata Bramasta sambil salim kepada Ayah dan Bunda.
“Abang ke kantor dulu ya Disti. Selalu dalam pengawasan Bunda ataupun kerabat dekat ya.”
Adisti mengangguk sambil menyerahkan jas Bramasta yang diambilkan Bunda dari dalam gazebo.
“Sadayana, hapunten saya harus kembali ke kantor,” kata Bramasta sambil menangkupkan telapak tangannya ddi depan dada sambil agak membungkuk kepada para kerabat yang berkumpul di halaman samping, “Assalamu’alaikum, sadayana_semuanya_..”
Bramasta menyerahkan kunci mobilnya kepada salah seorang pengawal.
“Tolong kemudikan ya Pak. Saya capek. Kita langsung ke kantor saja.”
Bramasta duduk di kursi penumpang di belakang. Mobil SUV tidak mengawal mobil Bramasta karena para pengawal masih menginterogasi motif wanita tadi.
***
Jangan lupa jejak di setiap babnya ya..
Jejak Readers berupa like, komentar ataupun hadiah sangat berarti buat Author.
Love you so much..