
“Nanti kalian akan tahu sendiri. Pelakunya sudah saya minta datang kemari untuk minta maaf.”
“Yaelah.. pakai rahasia-rahasiaan segala,” Indra protes.
“Kan nanti juga pelakunya muncul. Tinggal tungguin aja. Sabar napa sih?”
Suara notifikasi pesan terdengar dari gawai Bramasta. Dia membuka pesan lalu mengetik balasan. Sekitar lima menit Bramasta saling bertukar chat dengan entah siapa. Bunda menyajikan teh yang tadi dibuatnya.
“Diminum selagi masih hangat. Tadi masih terlalu panas untuk kalian minum,” kata Bunda.
“Terima kasih banyak, Bu.”
Suara notifikasi terdengar lagi. Bramasta membalas dengan cepat lalu berdiri.
“Maaf, saya keluar dulu ya,” Bramasta menunjuk gawainya.
“Bos, jangan jauh-jauh. Sekarang masih jam bezoek, pasti masih ramai di bawah sana.”
“Gue cuma di lobby atas.”
Bramasta berjalan ke arah security yang tampak siap membukakan pintu kaca untuknya.
“Pak, tolong di bawah ada teman saya. Dia tidak bisa naik karena lift ditahan petugas security dan dia tidak mempunyai kartu pass VIP. Tolong sampaikan ke rekan bapak ya untuk membolehkan teman saya itu naik,” Bramasta menyebutkan nama temannya kepada petugas security tersebut.
“Baik, Pak Bramasta, akan saya sampaikan kepada rekan saya yang di bawah,” petugas tersebut langsung meraih HT yang ada di pinggangnya. Menghubungi teman sesama security di bawah sana.
“ Terimakasih banyak ya Pak,” Bramasta tersenyum kepada petugas security tersebut lalu melangkah lagi menuju ruangan Adisti.
“Cepat banget neleponnya, Bos?” tanya Indra begitu meihat Bramasta berjalan ke arah mereka duduk.
“Kepo,” kata Bramasta sambil menjatuhkan dirinya di sofa.
Suara ketukan menghentikan Indra yang hendak menimpali ucapan bosnya.
Agung membukakan pintu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” semua melongok ke arah pintu masuk.
Indra bergegas menghampiri.
“Anton??!”
“Iya ini gue. Napah? Kangen?”
“Jadi lu, impostornya?”
“Impostor apaan?”
“Lu yang bocorin video ke medsos?”
“Lah? Kok bisa gue yang dituduh?”
Bramasta menonton mereka sambil melipat kedua tangannya. Dia terkekeh melihat perdebatan Indra dan Anton. Agung melihat dengan mulut ternganga.
“Kan lu tadi yang nyuruh gue kemari.”
“Eh..iya.”
“Terus Pak Bos meminta security buat ngijinin gue naik. Tanpa permintaan dari Pak Bos, gak mungkin gue dibolehin naik. Lift VIP dan tangga menuju VIP dijaga ketat. Iya kan Pak Bos?”
Bramasta mengangguk.
“Jadi, tadi Bos keluar untuk menemui security?”
Bramasta mengangguk lagi.
“Kenapa gak lewat intercom aja sih?” tanya Indra gemas.
“Kalau lewat intercom, gak bakal ada momen seperti tadi,” Bramasta tersenyum jahil.
“So, Anton is not the impostor_Jadi, bukan Anton impostornya_?"
“Isn’t_Bukan_."
Anton menyalami Bunda.
“Mohon maaf, Bu.. kami berisik banget,” kata Anton.
“Gak apa-apa Nak. Malah Ibu senang, tempat ini jadi ramai tidak sepi. Adisti juga tidak tertidur terus. Dia ikut tertawa geli melihat tingkah kalian,” kata Bunda.
Bramasta menatap bed Adisti. Kebetulan Adisti juga sedang menatap Bramasta. Tatapan mata mereka bertemu. 1 detik. 2 detik. 3 detik. Keduanya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pipi keduanya terasa menghangat.
Indra memperhatikannya. Lalu senyumnya mengembang. Melangkah ke sofa U lalu berbisik pelan di dekat Bramasta yang masih berdiri di antara pantry bar dan sofa bed.
“Ciyeeee.”
Bramasta berusaha menjaga roman wajahnya tetap datar.
“Nak Bram, Adisti menanyakan tentang video itu,” Bunda memanggil Bramasta.
Bramasta menghampiri Bunda yang tengah duduk di samping bed Adisti.
“Video evakuasi Adisti dari pohon yang menahan tubuh Adisti. Adisti mau lihat?”
Bramasta berdiri di sisi bed yang lain. Tangannya menyusuri gallery di handphonenya. Lalu memegangi handphone yang dihadapkan pada Adisti.
Adisti menonton dengan dahi berkernyit.
“Are you OK_Kamu baik-baik saja_?”_tanya Bramasta.
Adisti mengangguk. Video berakhir.
“Boleh lihat lagi?” tanya Adisti.
Bramasta memutar ulang video.
“Terimakasih,” ketika video berakhir. Matanya menatap tulus dan bersungguh-sungguh pada Bramasta.
“Untuk?” Bramasta salah tingkah ditatap seperti itu.
“Menemani saya di bawah sana di saat saya mengira saya sudah berakhir di dunia,” Adisti menurunkan pandangannya. Bramasta teringat dengan tangan Adisti yang menyentuh wajahnya dan menyebutnya malaikat.
“Terimakasih sudah menjemput saya untuk kembali ke keluarga saya,” mata Adisti menatap Bramasta lagi, “Terimakasih sudah membawa saya ke rumah sakit.”
“Hei.. sudahlah,” Bramasta merasa tidak nyaman dengan semua ucapan terimakasih dari Adisti, “Sudah kewajiban saya yang saat itu berada di TKP untuk menolong kamu. Sudah kewajiban saya juga sebagai pemilik TKP untuk menanggung semua pengobatan kamu. Jangan terlalu membebani kamu, OK?”
Adisti mengangguk. Bramasta tersenyum.
“Jadi, sebenarnya apa yang kamu lakukan di bibir jurang?”
“Saya lupa. Tapi saya merasa ada sesuatu yang menarik perhatian saya di sana. Yang ingin saya ambil, untuk Ayah. Ayah yang selalu menemani dan menyemangati disaat-saat tersulit saya,” mata Adisti mengembun. Bunda menggenggam tangan kanan Adisti. “Tapi saya lupa, apa itu…”
Ada air mata yang jatuh di pipi kirinya. Reflek, Bramasta menyekanya lembut. Sentuhan kulitnya membuat Adisti terkesiap dan Bramasta terkejut, “Eh, maaf. Saya tidak bermaksud tidak sopan.”
Adisti mengangguk tersenyum.
“Jangan menangis, OK? Kamu aman sekarang. Jangan terlalu keras mengingat apa yang menarik perhatian kamu di tepian jurang. Biarkan saja ingatan itu datang sendiri,” Bramasta tersenyum pada Adisti. Adisti mengangguk.
Pintu diketuk dan petugas catering rumah sakit berseragam pink datang membawa trolly makanan. Meletakkan makan siang Adisti di meja beroda di dekat dinding.
“Dimakan ya Mbak. Makan yang banyak supaya cepat pulih.”
Adisti tersenyum.
“Bu, ini buku menu makan malam buat mbaknya. Silahkan dipilih mau makan apa. Mbaknya tidak ada diet atau pantangan khusus dari dokter. Nanti akan ada petugas yang mengambil buku menu ini sekalian piring kotornya,” kata petugas catering tadi sambil menyodorkan buku menu bersampul kulit imitasi dengan logo rumah sakit. Bunda menerima buku menunya.
“Have a nice lunch_selamat menikmati makan siangnya_,” kata Bramasta sambil tersenyum.
Bunda menyiapkan makanan Adisti dan menyuapinya.
Bramasta meninggalkan mereka berdua untuk bergabung dengan lainnya.
“Gila bener tadi di bawah,” Anton mulai bercerita, “Banyak kamera juga. Wartawan berkumpul di teras lobby, tidak diperkenankan masuk oleh security.”
“What_apa_??”
“Coba cek TV, mungkin ada yang live,” kata Anton.
Agung meraih remote, mencari channel TV yang sedang tayang live di rumah sakit. Wow luar biasa sekali pesona Bramasta membuat animo masyarakat untuk tahu mengenai dirinya sangat besar.
“Guys, yang mereka kejar sekarang bukan hanya Bramasta saja,” kata Anton, Anton menunjuk ke arah Indra, “Lu juga Ndra.”
“Lah, kok bisa?” Indra terperanjat kaget.
“Lu pagi tadi melayani wawancara via telepon kan?”
“Gue?? Kapan dan dengan siapa?”
Indra memandang Bramasta dengan panik. Bramasta mengangkat bahu, tangannya berada pada cuping hidungnya.
“Ah.. yang itu,” Bramasta menjentikkan jarinya, “Telepon dari stasiun TV yang menanyakan kesediaan lu jadi narasumber.”
“Lah, itu kan bukan wawancara..” Indra terperanjat kaget, “Pantes, tadi pagi ada cewek yang neriakin nama gue juga..”
“Gila, mereka kok murahan banget ya. Gak dapat narasumber malah menayangkan isi percakapan lu dengan pihak stasiun TV,” Agung ikut berkomentar, “Terus gimana nih? Adik gue aman gak? Gue gak mau dia mendadak terkenal karena jatuh ke jurang. Orang-orang bakal berspekulasi, beneran kecelakaan jatuh ke jurang atau menjatuhkan diri ke jurang?”
“Tenang, Gung. Kita bakal memprotect adik lu. Gak akan ada yang bakal nyentuh keluarga lu,” Anton bersuara. Tangannya meraih tombol remote, memindahkan ke saluran youtube lalu ke pencarian acara talkshownya nona berambut pink neon.
Beberapa adegan dipercepat, lalu tampak narasumber pria berbaju PDL itu mengomentari aksi Bramasta, “… sayang kita tidak bisa melihat tehnik turunnya Bramasta ya, tapi kalau dilihat dari teknik naiknya, terlihat Bramasta memang menguasai rappelling ini. Hanya sangat disayangkan, dia melakukan tindakan gegabah dan ceroboh yang bisa mencederai bahkan membahayakan jiwanya sendiri dan gadis yang ditolongnya.”
“Apa itu Bang Ariel? Bagaimana bisa seorang yang tadi Abang bilang menguasai tehnik rappelling tapi membahayakan keselamatannya sendiri?” tanya Nona Pink Neon.
“Karena dia tidak mengenakan pelindung kepala juga gadis yang ditolongnya juga tidak dipakaikan pelindung kepala,” pemuda yang disebut Bang Ariel itu berkata sambil menaikkan kacamatanya.
Anton memfreeze layar dengan menggunakan remote.
“Damn!_brengs*k!_” Bramasta memaki, “Orang itu tidak memikirkan faktor darurat.”
“Helm lu dipinjam Gading kan dua-duanya? Lom dibalikin?”
“Pantesan di mobil gue gak ada.”
Anton memutar lagi tayangan Nona Pink Neon. Dipercepat beberapa bagian lalu tampak layar dipenuhi wajah Nona Pink Neon, dengan senyum menghadap kamera, “Kami mendapatkan wawancara dari pihak Bramasta yaitu dari sekretarisnya yang selalu berada di belakang Bramasta di saat acara-acara yang dihadiri oleh Bramasta.”
Beberapa slide foto hasil yang menampakkan wajah Bramasta dan Indra dalam satu frame di beberapa acara resmi yang mereka hadiri. Ada yang memakai stelan resmi ada juga yang berbaju batik. Lalu suara Indra terdengar di TV. Layar TV dipenuhi wajah Indra yang di zoom.
“Aaah…kenapa di zoom sih? Kan burem fotonya, gak jelas gitu. Kok gak nyari foto gue yang rada bagusan..” Indra protes sambil menunjuk TV.
Anton meninju lengan atasnya dengan gemas. “Diem. Rese!”
Agung dan Bramasta terkekeh melihat tingkah mereka.
“Jadi penasaran impostornya siapa..,” Indra menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Terdengar pintu diketuk. Bunda membukanya.
“Assalamu’alaikum..” suara wanita mengucap salam.
“Wa’alaikumussalam,” Bunda menjawab sambil menatap heran kepada wanita cantik dan elegan di balik pintu.
“Ini dengan Bundanya Adisti?” Bunda mengangguk, “Perkenalkan, nama saya Almira. Saya ibunya Bramasta.”
“Oh…” Bunda terkejut lalu mundur sambil membuka pintu semakin lebar, “Silahkan masuk, Bu. Mari..”
“Bagaimana keadaan Adisti?”
Semua yang duduk di sofa U terperangah kecuali Bramasta.
“Jadi, Tante yang jadi impostornya?” Indra tanpa sadar berseru keras.