CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 119 – AGUNG KENAPA?



Tidak lama kemudian, pintu ruangan Agung dibuka dari luar.


“Assalamu’alaikum,” suara Anton memenuhi ruangan.


Adinda mengangguk sambil menjawab salam.


“Cerita apa saja ke Bang Agung?” tanya Anton sambil memindahkan kursi yang tadi dipakai Adisti ke dekat Adinda.


“Apa saja yang terlintas dipikiran, Kak.”


Anton tersenyum kecil.


“Hai Bang. Tadi saat beli kopi di bawah, gue gak sengaja ketemu dengan Adinda. Dia memakai hoodie kuning yang sama dengan kemarin, makanya gue mudah mengenalinya,” Anton memulai percakapannya dengan Agung.


Tangannya menyentuh tulang kering Agung.


“Kaki lu gak kenapa-napa kan Bang setelah terjatuh dari motor seperti itu?” Anton mengelus kaki Agung, “Kami menonton berkali-kali rekaman CCTV The Ritz saat lu jatuh. Bersyukur, tubuh lu jatuh duluan ke jalanan dan tidak terseret motor.”


“Kalau lu sampai terseret motor, wih.. ketampanan lu bakal berkurang 30%, Bang,” Anton terkekeh kecil.


“Ih, Kak.. kok seram begitu sih ceritanya? Yang lainnya aja napa?”


“Kenapa?”


“Gak tega dengarnya. Bikin linu, merinding bayanginnya.”


Anton tertawa.


“Ya sudah, gue lanjutin cerita gue ketemu Adinda di bawah aja ya, Bro,” Anton bergeser sedikit ke arah bed. Tangannya berada di atas handrail.


“Adinda pakai tudung hoodienya. Tadinya gue sangsi itu dia. Tapi karena dia berjalan seperti orang bingung dan seperti baru pertama kali ke rumah sakit ini, gue yakinin hati kalau itu memang dia.”


Anton memandang Adinda.


“Benarkan kamu baru pertama kalinya ke rumah sakit ini?”


Adinda mengangguk.


“Terus kenapa kamu terlihat kebingungan?”


“Bingung karena tidak tahu nama lengkap Om Agung, bingung juga karena tidak tahu dimana Om Agung dirawat. Saya nanti bisa disangka orang yang SKSD dengan Om Agung oleh sekuriti rumah sakit.”


“SKSD?”


“Sok Kenal Sok Dekat,” Adinda terkekeh.


Anton ikut terkekeh. Dia kemudian memandang Agung lagi.


“Bro, lu tau gak, kenapa dia menyembunyikan wajahnya dalam-dalam dengan hoodienya?” Anton sengaja menjeda sejenak ucapannya untuk melihat reaksi Agung. Tapi Agung masih sama, tertidur dengan tenang.


“Adinda menyembunyikan wajahnya di dalam hoodie supaya bekas-bekas jari yang terdapat di kedua pipinya tidak terlihat orang. Adinda dipukuli lagi kali ini oleh para mantan Ivan. 4 cewek. Penolakan Adinda dianggap sebagai penghinaan terhadap Ivan. Memar parah Bro, pipinya. Kanan kiri.”


Suara biip kencang terdengar dari monitor. Semua monitor berkedip dan alarmnya berdering. Beberapa petugas medis tampak berlarian ke ruangan Agung.


Anton dan Adinda termangu. Mereka berdiri dari duduknya. Menyaksikan para petugas medis memerika tubuh Agung.


“Ada apa? Abang Agung kenapa?” suara Anton terdengar bergetar karena panik.


“Silahkan menunggu di luar dulu. Nanti akan segera kami kabari kondisi Tuan Agung.”


“Kak, saya takut..” Adinda memegang lengan baju Anton. Pipinya sudah basah oleh air mata.


“Kita keluar dulu. Biarkan mereka melakukan tugasnya,” Anton menarik lengan sweater Adinda.


Adinda menurut, meninggalkan ruangan sambil menoleh ke belakang. Tubuh Agung tidak tampak karena tertutup oleh para petugas medis.



"Om Agung.." suaranya lirih terdengar.


Mereka membuka baju steril dengan buru-buru lalu menggantungkannya di lemari khusus.


Pintu luar dibuka cepat oleh Anton.


“Dis!” serunya, “Abang Agung..”


Anton berlari menuju sofa yang diduduki oleh mereka. Adinda ikut berlari di belakangnya dengan air mata berderai.


Adisti yang sedang berbagi kopi dengan suaminya langsung menoleh ke arah Anton. Dia berdiri, menatap nanar kepada Anton dan Adinda yang berlari ke arahnya.


Rasanya jantungnya mencelos. Dia memegang dadanya.


“Ada apa? Ada apa dengan Kakak?” suaranya parau.


Bramasta langsung berdiri membawa Adisti ke dalam pelukannya.


“Sssh..tenang dulu, Sayang.”


“Bang Agung! suara alarm biip nyaring, alarm-alarm lainnya berbunyi, monitornya berkedip-kedip semua..!” Anton menjelaskan dengan kacau. Jelas dirinya panik.


“Kami disuruh keluar dari ruangan oleh petugas medis di sana,” kata Adinda dengan suara bergetar.


“Ada apa ini?” Hans yang baru datang bertanya dengan suara beratnya. Semua menoleh ke arahnya.


“Tadi di dalam, saat gue ajak ngobrol Bang Agung, tiba-tiba alarm monitornya berbunyi nyaring, bukan cuma 1 alarm tapi banyak alarm. Monitornya juga berkedip-kedip,” Anton menjelaskan sambil mengusap wajahnya.


Bramasta dan Indra bergegas masuk ke ruang ICCU.


“Ayah dan Bunda sudah dihubungi?” tanya Hans pada Adisti.


Adisti menggeleng.


“Mereka sedang dalam perjalanan ke sini.”


Hans mengangguk mengerti.


“OK, kita tunggu saja.”


“Bang Leon mana?” tanya Hans.


“Bang Leon juga sedang dalam perjalanan ke sini, Bang.”


Mereka duduk terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Sekali-kali tangan Adisti ataupun Adinda mengelap air mata di pipinya.


“Apa Kakak tiba-tiba drop? Kondisi Kakak jadi kritis?" bisik Adisti.


Hans menoleh ke arah Adisti.


“Berdo’a saja semoga Agung kondisinya semakin baik,” Hans memandang Adisti dengan tatapan seorang Kakak kepada adiknya.


“Yang sabar ya, Disti jangan berpikir yang bukan-bukan. Tunggu kabar dari Bramasta dan Indra.”


“Assalamu’alaikum,” sapa Leon yang baru datang.


Semua menjawab salam Leon.


Dia mengernyit heran dengan kesunyian di sofa mereka. Raut wajah mereka tampak gelisah.


“Ada apa ini? Gue ketinggalan berita apa?” tanya Leon sambil duduk di samping Hans.


“Kamu Adinda ya?” tanya Leon dengan logat Perancisnya.


Adinda tersenyum dan mengangguk.


"Iya Om.."


Leon tampak kaget dipanggil Om.


"Oh iya, saya belum menyapa kamu," kata Hans, “Saya Hans. Agung banyak bercerita tentang kamu kepada kami semua.”


Adinda terperangah.


“Kalian semuanya??”


“Kami seperti keluarga,” Anton menjelaskan, “Abang Hans ini sekretaris ayahnya Bos Bramasta sedangkan Bang Leon ini suami dari kakaknya Pak Bos.”


Adinda mengangguk mengerti.


“Tapi kenapa harus diceritakan kepada kalian semuanya?”


“Karena kamu, gadis istimewanya Agung,” kata Hans sambil terkekeh.


“Seperti yang tadi saya bilang ke kamu. Kamu satu-satunya gadis yang bisa menjungkirbalikkan dunia Agung,” Anton menjelaskan lagi sambil tersenyum, “Walaupun tampaknya Agung belum menyadarinya.”


Hans dan Leon terkekeh.


“Terus kamu kapan ketemu gadis yang bisa menjungkirbalikkan dunia kamu, Ton?” tanya Leon.


“Meneketehe, Bang!” Anton menyandarkan punggungnya pada sofa sambil menengadahkan kepalanya menatap plafon di atasnya.


Hans terkekeh menatap kelakuan Anton.


“Sabar ya Mblo. Hidup itu ujian. Layu sebelum berkembang ya?”


“Isssh apaan sih Bang Hans ini.”


“I knew laaah,” Hans terkekeh.


Indra tampak keluar dari pintu ICCU. Adisti langsung berdiri melihat Indra.


“Bagaimana?” tanyanya saat Indra sudah berada di hadapannya.


“Ada lonjakan aktivitas otaknya, juga tekanan darah dan denyut jantungnya,” Indra menjelaskan kepada semuanya.


“Maksudnya, kakak kritis?”


Indra menggeleng, “Ada kemungkinan Agung akan segera sadar. Respon terhadap cahaya kata dokter lebih baik dari sebelumnya. Tingkat kesadaran Agung naik ke level 7. Mudah-mudahan tingkat kesadarannya menjadi normal lagi.”


“Alhamdulillah.. aamiin,” gumam Adisti.


“Dis, kamu masuk temani Bramasta ya.”


Adisti mengangguk lalu setengah berlari dia masuk ke ruang ICCU.


.


***


Babang Agung buruan bangun, nanti keburu Adinda melirik Taehyun..🤓