
“Kita mulai darimana?” tanya Anton.
“Kita memunculkan Adinda dalam layar, tidak apa-apa?" Hans memandang Agung dan Daddy.
“Kenapa?” Agung mengerutkan keningnya.
“Karena calon victimnya adalah Adinda. Dan kasus bejatnya Bryan terkuak secara tidak langsung karena Adinda kan?” Hans menjawab.
“Benang merahnya memang ada pada Adinda,” Bramasta mengangguk.
“Apakah harus menunjukkan wajah Adinda secara close up?” Agung memicingkan matanya tanda tidak setuju.
Hans tampak tercenung. Berpikir keras.
Daddy dan Mommy juga tampak tidak setuju bila wajah Adinda dipampang secara jelas.
Bramasta menggeleng. Anton menatap semuanya dengan pandangan ingin tahu. Indra bersidekap di kursinya. Benaknya sibuk berpikir.
“Ton, bisa sedot rekaman CCTV rumah sakit saat dini hari peristiwa Adinda terjadi?” Leon bertanya sambil jemari kanannya menyentuh pelipisnya.
Anton mengangguk.
“Waktunya bisa lebih spesifik, Bang?” Anton mulai mengetikkan perintah pada laptopnya.
“Saat Agung keluar dari rumah sakit menuju rumah Adinda.”
Semuanya mengerutkan kening mendengar ucapan Leon.
“Why?” tanya Hans.
“That’s when we started at_Kita mulai dari situ_”
“Ah ya...” Anton mengangguk mengerti, “Kita pakai taktik yang sama saat kita up kejadian Gerai Donat..”
Indra tersenyum, “Kita mainkan fokus netizen pada tokoh Agung sebagai hero pada waktu itu..”
Hans terkekeh, “Gung, siap-siap jadi hero lagi ya sekarang. Kelas internasional nih sekarang karena kita mau upload ke negaranya si Bryan juga.”
Daddy dan Mommy menatap Agung.
“Kenapa harus gue?” tanya Agung.
“Karena Lu udah merebut simpati netizen sebagai victim kasus The Ritz vs Tuan Thakur saat tertembak dan jatuh dari motor juga saat video Lu menaklukkan para berandalan itu di upload Prince Zuko, Lu naik kelas jadi hero,” Hans menjelaskan panjang lebar, “Dan kita berhasil menggiring opini netizen untuk tidak bertanya lebih jauh terhadap korban bullying di gerai donat.”
“Tapi kan saat upload gerai donat, wajah Adinda ditutup sementara para pelaku sengaja dibuat blur..” Agung masih dalam mode deep thinking.
“Untuk awalnya, kita tidak menampilkan wajah Adinda secara utuh. Kita ambil skenario Bang Leon, dimulai saat Agung dini hari meninggalkan ruang rawat inapnya menuju rumah Adinda,” Hans menatap Leon dan Agung.
“Apa kita perlu juga ambil gambar dari CCTV ruang tengah rumah Adinda?” Indra mengambil mug kopinya.
Hans mengangguk.
Bramasta menggeleng sambil menggerakkan telapak tangannya.
“Gak.. start awal jangan dimulai dari Agung meninggalkan ruang rawat inapnya. Adegan awal adri CCTV ruang tengah rumah Adinda. Jangan full,” Bramasta memandang semuanya, “Ambil adegan saat Adinda dipukul ibu tirinya, lalu dialog ibu tirinya dengan teman prianya tentang bagaimana mereka menghabisi papanya Adinda dan tentang rencana mereka menjual Adinda pada Bryan.”
Semua mengangguk-angguk setuju.
"Lalu bagaimana dengan adegan pelecehan yang dilakukan teman pria si ibu tiri?” Leon menatap Bramasta.
Bramasta menatap Agung. Menunggu keputusan Agung.
Agung menggeleng dan menunduk.
“Tidak.. jangan ditampilkan. Terlalu berat beban yang ada pada Adinda nanti..”
Adisti yang duduk di samping kakaknya, mengelus punggung Agung, mengirimkan kekuatan dengan bahasa kakak beradik di antara mereka.
Bramasta mengangguk.
“Baik, kita pakai suara yang terdengar dari kamar Adinda sewaktu Adinda dihajar oleh teman pria si ibu tirinya. Bagaimana?”
“Tepat pada saat Agung dan Hans masuk ke dalam kamar Adinda ya?” Indra menerawang mengingat rekaman CCTV dari handphonenya yang ia lihat dini hari itu.
“Ambil adegan CCTV rumah sakit, bagaimana kondisi Adinda saat tiba di rumah sakit, rekaman CCTV dari entrance pintu UGD,” Hans memandang Anton yang tengah sibuk mencatat adegan mana saja yang akan ditampilkan.
“Baru setelah itu, ambil beberapa adegan penting dari lounge hotel X,” Hans memicingkan matanya, “Bryan membicarakan tentang beasiswa pendidikan dari pemerintahan Jerman kepada pemeran pengganti Adinda kan?”
Anton mengangguk.
“Seberapa jelas wajah Adinda dalam rekaman CCTV tersebut?” Mommy bertanya dengan nada prihatin.
Anton menggerakkan mouse nirkabelnya, memilih video lalu mengatur pemutaran rekamannya. Layar proyektor yang diletakkan menutupi peralatan treadmill Bramasta menampilkan rekaman dari ruang tengah rumah Adinda.
Tubuh Adinda menghadap kamera, ada ibu tirinya berdiri membelakangi kamera tengah menampar Adinda dengan keras.
“Saya sudah berkali-kali menonton rekaman CCTV ini, Mom. Mostly, wajah Adinda tidak begitu jelas terlihat karena angle-nya dan juga karena jilbab yang dikenakannya. Untung saja malam itu Adinda mengenakan jilbab yang ada kanopinya,” Anton memandang pada Mommy.
“OMG... Hyung.. itu bukan kanopi Hyung..” protes Adisti, “Disebutnya pet, Hyung. Kanopi mah atap tambahan bangunan kan?”
“Pet?” Bramasta menoleh pada Adisti dengan tatapan bertanya.
Adisti mengangguk, “Pet seperti pada topi pet.”
Bramasta mengangguk.
Daddy berdehem. Semuanya menatap Daddy.
“Baiklah, Daddy setuju kalian memunculkan wajah Adinda tanpa diblurkan.”
“Kalian tidak meminta pendapat Adinda terlebih dahulu?” tanya Mommy.
“Mom.. yang membongkar kedok Bryan itu anonymous, Mom. Keberadaan Prince Zuko itu sangat rahasia, Mom.”
“Hana tahu tentang Prince Zuko ini, Hans?” Mommy bertanya pada Hans.
Hans mengangguk.
“Hana tahu tentang aktivitas saya sebagai ketua Shadow Team, dan dubber untuk Prince Zuko, Nyonya. Dia aman dan bisa dipercaya karena saya mengenalnya dengan baik. Dan itu membantu saya dalam mengurangi beban tugas sebagai Ketua Shadow Team dan juga Prince Zuko Team. Do’a dan keridhoan istri juga sangat penting bagi saya agar saya bisa menjalankan tugas-tugas dengan baik.”
Daddy mengangguk-angguk, “Kalian contoh Hans ya bagaimana dia memperlakukan dan menempatkan istrinya.”
“Leon juga selalu terus terang ke Layla, Dad. Selalu cerita aktivitas sehariannya Leon ke Layla...”
Mommy menahan tawanya saat memandang Leon yang tak mau kalah.
Daddy menatap Leon dengan penuh kehangatan. Tatapan seorang ayah pada anaknya.
“Iya.. kamu sayang banget ke istri kamu, Leon. Pertahankan dan tingkatkan. Jangan sampai kamu memberi celah para pelakor untuk masuk di antara kalian. Godaan kalian akan banyak sekali terutama para pelakor yang menawarkan dirinya baik secara langsung ataupun membungkusnya dengan rapi dan baik bagaikan kemasan permen yang menggoda hati.”
“Kalian dengar ya, ini nasehat dari kami selaku orangtua untuk kalian semua. Bagi yang sudah menikah ataupun yang belum menikah,” kata Mommy.
Bramasta merem4s jemari istrinya. Lalu mengecup punggung tangannya. Adisti menoleh. Menatap mata suaminya lalu tersenyum.
"Love you too," Adisti berucap tanpa suara yang membuat Bramasta tersenyum.
“Ngomong-ngomong tentang Bang Leon.. pagi ini Bang Leon sukses menguras dompet gue dan Bram sampai ludes. Seludes-ludesnya,” Indra memandang Leon yang tengah memelototinya.
“Bahkan, saat Bang Leon ngotot ingin beli es goyobod, kita harus mencari-cari recehan di saku celana dan jaket juga recehan di dashboard mobil..” Bramasta terkekeh.
“Kok bisa?” Mommy mulai terkikik.
“Leon lupa bawa uang cash, Mom..” Leon menunduk malu.
“Ya ampun... kamu pikir mang urutnya menerima swipe kartu atau QR payment?” Mommy kembali terkikik lagi diikuti yag lainnya.
Suasana yang tadinya tegang mendadak cair.
“Bukannya gak pasang tarif si Mamangnya?” tanya Adisti sambil beranjak ke pantry.
“Iya memang begitu, Dis. Tapi Bang Leon rupanya ingin memberi lebih kepada si Mamang setelah tidak merasakan rasa sakit lagi di persendiannya.”
“Yang gue kasih kan gak seberapa dibandingkan harus berobat di rumah sakit secanggih apapun tapi butuh waktu lama..” Leon memberi alasan.
“Ya gak apa-apa sih bang. Lagipula dengan Bang Leon memberi lebih, si Mamang Urut jadi merasa terbantu bisa membayar uang gedung tempat anak bungsunya sekolah. Mau ujian akhir tapi ditagih uang gedung terus..” Bramasta tersenyum.
“Ceritakan dong, saat Bang Leon minta beli es goyobod..” pinta Agung.
“Kayaknya seru ya,” Anton terkekeh.
Cerita es goyobod siang tadi mengalir dari mulut Indra bergantian dengan Bramasta. Semuanya terkekeh mendengar ceritanya. Leon sendiri ikut cengar-cengir mendengarnya.
“Kamu yakin Layla sedang gak hamil lagi?” tanya Mommy, “Kok seperti orang ngidam sih?”
Semua tertawa mendengar celutukan Mommy.
Adisti menyiapkan asinan dalam mangkuk-mangkuk keramik dengan motif Jepang. Bramasta datang membantunya dengan membawakan mangkuk-mangkuk di atas nampan itu ke meja kopi sofa ruang tengah.
Gawai Hans berdering. Hans sigap menerima panggilannya. Membaca nama yang tertera pada layar, Hans menyalakan tombol loudspeaker.
“Assalamu’alaikum, Pak Raditya..”
Semua memandang kepada Hans. Raditya, perwira tinggi polisi yang bekerja sama dengan hans saat penyergapan Bryan di lounge hotel X.
“Wa’alaikumussalam Pak Hans. Ma’af ya saya menghubungi malam-malam begini..”
.
***
Masih ingat Raditya?
Ada apa ya dia menelepon Hans malam-malam?
Just say hello atau terkait kasus?
Eh, kasus yang mana nih..