
Bramasta menghubungi Daddy, menceritakan apa yang terjadi. Adinda sesunggukan dalam pelukan Bunda dan Adisti.
Indra datang bersama kedua orangtuanya. Tidak berapa lama, Daddy dan Mommy tiba bersamaan dengan Anton.
Pengawal pribadi Mommy dan Bramasta menjadi pengawalan mandiri tanpa harus merepotkan para petugas polisi yang berjaga mengamankan areal pemakaman.
Banyaknya mobil mewah yang parkir di area pemakaman ditambah dengan kabar jenazah yang harum membuat masyarakat semakin banyak berkumpul.
“Panggil Adinda kemari,” Pak Raditya berdiri menatap jenazah yang diletakkan di atas meja stainless beroda.
Tirai disibak, Adinda masuk diantar oleh Ayah dan Agung.
“Masyaa Allah, Papa..” Adinda membekap mulutnya agar tidak terisak.
“Jenazah Papa dalam kondisi yang sagat baik, kamu jangan bersedih ya. Terus do’akan Papa, terus beramal shaleh atas nama Papa dan Mama,” Agung menahan tubuh Adinda yang berdiri di sampingnya.
Tirai disibak lagi, Tuan Alwin dan Pak Dhani memasuki tenda autopsi. Hans sudah memberitahu Pak Raditya terlebih dahulu.
Keduanya tertegun menatap jenazah yang berada di atas meja. Mereka tidak pernah bertemu semasa hidupnya tetapi takdir membuat mereka merawat putri satu-satunya dari jenazah.
Ayah memimpin do’a untuk jenazah dan kelancaran proses otopsi.
“Saya sudah beberapa kali bertugas menangani otopsi jenazah dengan kondisi yang sangat bagus seperti ini. Jujur saja, menangani jenazah dengan kondisi seperti ini membuat saya gugup,” kata dokter pemimpin otopsi.
“Kenapa Pak?” tanya Tuan Alwin.
“Rasanya sangat rikuh untuk merusak tubuh jenazah yang sudah dijaga oleh Allah. Tetapi tetap harus dilakuan untuk kepentingan penyelidian."
“Semoga Allah memudahkan semuanya ya Pak..” Ayah tersenyum lalu menyuruh Agung untuk membawa keluar Adinda dari tenda.
Bersamaan dengan itu, Pak RT masuk ke dalam tenda.
“Pak Raditya, saya mendapat informasi dari petugas yang memandian jenazah, pada waktu dimandikan, di bagian tengkuk jenazah Pak Adang Rahmat ada bilur merah keunguan. Saat dikonfirmasi kepada istrinya, katanya itu bekas kerokan di pagi hari saat Beliau meninggal.”
“Nanti kita periksa lagi. Terima kasih untuk infonya Pak.”
Pak Raditya mengangguk pada tim dokter. Semua meninggalkan ruangan tenda karena autopsi akan segera dimulai. Mereka menunggu di pelataran masjid di dekat pemakaman.
Kerumunan orang makin banyak. Berita yang berkembang di media sosial membuat pemakaman dan depan masjid mulai sesak oleh warga dan wartawan.
Demi keamanan, Daddy, Mommy, Bapak dan Ibu Dhani, Bramasta, Indra, Hans dan Anton meninggalkan area. Selain karena kesibukan pekerjaan juga.
Adisti menemani Adinda. Otopsi masih berlangsung. Gawai notifikasi chat Agung berbunyi. WAG Kuping Merah.
Hans_Malam ini kita jadikan launching yang terpending. Tempat biasa dan waktu biasa ya_
Anton_Siap!_
Indra_Menu pempek masih berlaku gak ya?_
Bramasta_Insyaa Allah. Kakak Ipar, tolong sampaikan ke Disti untuk pesan empek-empek ya_
Agung_Iya Bang. Disti udah baca kok chatnya.._
Hans_Bang Leon nanti hadir?_
Leon_Insyaa Allah, ini lagi menyimak_
Indra_Kalau Bang Leon gak hadir, jatah Bang Leon buat gue ya.._
Hans_Gue juga mau.._
***
Autopsi selesai pukul 14.00. Jenazah dimakamkan tidak lama setelah itu. Para tetangga Adinda banyak yang menghadiri proses pemakaman.
Untuk kedua kalinya, Adinda menitikkan airmatanya melihat pemakaman Papanya. Tapi kali ini dia tidak sesedih pemakaman pertama. Karena dia yakin tidak akan sebatang kara lagi di dunia. Dia memiliki keluarga baru sekarang.
“Dinda ikhlas?” tanya Bunda saat pemakaman selesai.
Adinda mengangguk, “Insyaa Allah Bun. Melihat kondisi jenazah Papa, Dinda jadi merasa lega. Papa sudah berada di tempat yang baik sekarang.”
Bunda mengusap kepala Adinda.
Ayah dan Agung membersihkan celananya dari tanah pemakaman. Saat berdiri, Agung terlihat mengernyit memegangi bekas operasinya di punggungnya. Pak Raditya melihatnya.
“Pak Agung kenapa?”
“Bekas luka operasinya...” Agung berusaha melihat punggung kemejanya.
Ayah dan Pak Raditya ikut melihat punggung kemeja Agung.
“Ada bercak darah. Saya panggilkan tenaga medis ya,” Pak Raditya segera menghubungi anak buahnya untuk memanggil tenaga medis yang standby di lokasi dalam mobil ambulans.
Kulit bekas jahitannya robek lagi akibat ikut membantu proses pemakaman Pak Adang Rahmat. Akhirnya, karena tidak bisa melakuan tindakan medis di teras masjid, Pak Raditya meminta driver ambulans memarkirkan kendaraannya di depan masjid.
“Om, tidak apa-apa?” Adinda mendekati Agung yang tengah meringis menahan nyeri dan linu pada luka yang sedang dibersihkan.
Agung tidak menjawab. Hanya menatap mata Adinda.
“Perlu dijahit ulang?” tanya Agung pada petugas medis.
“Cukup dibersihkan saja Pak. Hanya kulit luarnya saja yang tertarik jadinya robek. Mungkin karena lukanya masih baru jadi mudah robek. Selanjutnya jangan beraktifitas fisik yang menggerakkan otot lengan dan punggung ya Pak.”
Agung mengangguk. Kemudian berjengit pedih saat salep antiseptik dioleskan pada luka.
“Om...” Adinda menatap cemas pada Agung.
“Saya gak apa-apa,” Agung mencoba tersenyum, “Kamu gak usah mencemaskan saya.”
“Gak bisa seperti itu, Om. Mana bisa saya gak mencemaskan Om Agung disaat Om Agung kesakitan seperti itu..”
Wajah Adinda merona. Kemudian memberanikan diri balas menatap Agung.
“Karena saya menyanyangi Om Agung. As simple as that.”
“Yakin sesederhana itu?”
“Apakah harus diperumit, Om? Kata orang-orang, cinta itu sederhana.”
Adinda melirip pada petugas nakes yang sedang menyiapkan kasa untuk menutupi luka Agung.
Petugas nakes yang merasa diperhatikan oleh remaja cantik berkerudung warna navy itu berusaha untuk bersikap biasa saja. Padahal sebenarnya dia merasa terjebak dalam pembicaraan dua anak manusia yang sedang kasmaran tapi saling menjaga jarak.
“Punggungnya jangan terkena air dulu ya.. “ petugas nakes menempelkan plester putih yang menjaga kasa tetap berada di tempatnya.
Agung mengangguk.
“Lah, terus nanti Om Agung mandinya bagaimana?” Adinda menatap petugas nakes dan Agung bergantian.
“Paling cuma basahi depannya doang. Nanti punggungnya diseka pakai washlap.”
“Oleh siapa? Gak mungkin Om sendiri dong..”
“Kamu mau bantuin saya?”
Adinda menarik kepalanya ke belakang.
“Are you kidding me? Gak bisa. Bukan mahromnya.”
Agung terkekeh. Petugas nakes tersenyum simpul.
“Jadi ini salah satu contoh cinta yang tidak sederhana versi Om Agung?”
“Lah..” Agung tidak meneruskan.
“Mas, terimakasih banyak ya untuk bantuannya..”
“Sama-sama Pak Agung,” petugas nakes mengangguk lalu tersenyum.
Berdua mereka berjalan mendekati teras masjid.
“Dinda.. Nanti kita sambung lagi pembicaraan kita yang tadi ya.”
“Yang mana, Om? Yang diminta bantuin Om Agung menyeka punggungnya? Uwogah Om. Saya gak berani...”
Agung terkekeh pelan.
“Siapa juga yang meminta kamu untuk bantuin saya. Bercanda tadi tuh.. Mana ada saya keberanian untuk itu..”
Adinda menoleh. Agung menundukkan tubuhnya saat melepas sepatunya sambil berbisik di dekat telinga Adinda.
“Belum waktunya..”
Adinda menatap Agung dengan mulut membentuk huruf O kecil. Pipinya merona.
“Ngomong apa sih Om?” tergesa Adinda melepas sandalnya mendahului Agung memasuki teras masjid.
Ada Pak Raditya ditemani oleh dokter yang menjadi pemimpin tim otopsi di dalam masjid. Tengah berbicara pada Ayah, Pak RT juga para tetangga Adinda.
“Untuk jejak racun, alhamdulillah positif sudah ditemukan. Untuk lebih lanjutnya mengenai jenis racun yang dipakai nanti saja saat sudah dalam laporan tertulis ya, “ kata Dokter Forensik tersebut.
“Alhamdulillah..” seru orang-orang yang berada di dalam masjid.
“Alhamdulillah, jenazah dalam keadaan sangat baik sekali sehingga dapat dengan mudah bagi kami untuk menemukan jejak racun dan tanda-tanda tubuh mengalami keracunan sebelum meninggalnya,” Dokter Forensik melanjutkan keterangannya.
“Bagaimana dengan tanda kemerahan pada tengkuk jenazah seperti yang tadi saya bicarakan?” Pak RT memandang Pak Raditya dan Dokter Forensik bergantian.
“Tanda ungu kemerahan pada tengkuk belakang jenazah Pak Adang Rahmat memang ada. Dan bagi kami yang sudah terlatih, bisa dipastikan itu bukan tanda bekas kerokan seperti yang diucapkan oleh istri Beliau,” Dokter Forensik itu jeda sejenak. Dia menatap Pak Radityauntuk meminta persetujuannya.
“Jadi itu tanda bekas apa, Pak? Apakah karena racun yang diminumnya atau apa?” tanya Pak RT yang diangguki oleh semua orang di dalam masjid.
Pak Raditya mengangguk pada Dokter Forensik itu.
Dokter tersebut menggeleng kepada Pak RT.
“Tidak ada racun yang membuat bekas merah keunguan pada tengkuk korbannya.”
“Bekas merah keunguan pada tengkuk jenazah biasanya dialami oleh jenazah yang mengalami serangan stroke, yang membuat pecah pembuluh darah otak, itu yang menyebabkan adanya belur merah keunguan pada tengkuk,” Pak Raditya lalu menoleh pada Dokter Forensik.
“Betul sekali, Pak. Tapi untuk almarhum itu berbeda. Kami sudah memeriksa bagian tengkuk dan area otak belakangnya. Untuk stroke, negatif. Tapi bisa dipastikan, bilur merah keunguan itu karena benturan dengan benda tumpul.”
Tanpa sadar, Adinda mencengkeram tangan Agung yang ada di dekatnya. Agung tersentak lalu menoleh pada Adinda. Serta merta Adinda melepaskan tangannya.
“Karena terjatuhkah?” tanya seorang tetangga.
“Untuk lebih jelasnya, nanti kami akan melakukan kroscek dengan para pelaku. Mohon sekiranya bersabar untuk menunggu laporan lengkap dari kami dan tidak membuat persepsi sendiri-sendiri yang akan membuat kasus ini menjadi bias kemana-mana,” Pak Raditya.
Pertemuan itu kemudian diakhiri oleh Pak Raditya. Tenda sudah dibongkar, peralatan autopsi juga sudah dimasukkan ke dalam mobil boks bertuliskan FORENSIK.
Saat melewati rumahnya, Adinda meminta driver untuk melambat. Saat ditawari untuk turun melihat rumahnya, Adinda menggeleng.
Masih ada pita garis polisi pada pintu depan. Adinda menyeka air mata yang jatuh begitu saja di pipinya. Dia menangis tanpa suara. Adisti memeluknya dari belakang. Sementara Agung hanya bisa menatapnya sambil sesekali menyentuh bahu Adinda.
.
***
Selalu dukung Author ya Readers..🌷