CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 213 – ICE CREAM



B GROUP BUILDING


Adisti yang tengah berbicara dengan fotografer dan team digital art & design mengerutkan keningnya saat melihat dia mendapat beberapa notifikasi pesan chat dari kakaknya.


Setelah pembicaraan selesai, dia membuka pesan chatnya. Mengecek jamnya, sudah berlalu 30 menit yang lalu.


Dia hanya mengirimkan emot tawa ngakak pada kakaknya. Orang-orang yang bertemu dengannya sudah meningalkan ruangannya, Bramasta mengetuk pintu ruangannya.


“Buk Istri mau ikut ke markas Shadow Team gak sore nanti?”


“Buk Istri mah ikut aja kemana Pak Suami ngajak..”


Bramasta tertawa.


Kemudian Adisti menunjukkan chat kakaknya kepada suaminya. Bramasta tertawa terpingkal dibuatnya.


“Kanebo kering rupanya harus berguru ke para seniornya..”


“Sepertinya bukan sesuatu yang bisa dipelajari dengan mudah ya. Harus dari soul kita, hati kita...” Adisti menatap lembut suaminya.


“Disti tadi padi melukis? Ini masih samar-samar bau cat minyak...” Bramasta menyalakan tombol exhaust.


“Iya melukis. Sudah selesai tinggal nunggu kering saja..”


“Abang boleh lihat? Penasaran. Dari kemarin-kemarin Disti merahasiakannya dari Abang.”


“Besok saja, OK? Kalau sudah kering betul. Disti buat emang buat Abang kok.”


“Beneran? Gak bakal disetorin ke Lunar Art & Gallery?”


Adisti menggeleng cepat.


“Nggaklah. Disti bakalan marah kalau lukisan yang Disti buat dengan sepenuh hati dan cinta itu sampai dijual..”


“Jadi makin penasaran. Love you more, Buk Istri..”


***


KAFETARIA SANJAYA GROUP


Mereka berdua sudah selesai makan. Agung membelikan Adinda es krim banana split sebagai dessert.



Agung mengamati Adinda yang tampak takjub dengan es krimnya.


“Kamu suka es krimnya?”


Adinda mengangguk berkali-kali.


“Dulu sekali, jaman kelas lima SD, saat kenaikan kelas, Papa mengajak saya ke pusat pertokoan untuk mentraktir saya sebagai hadiah rangking pertama..”


“Cobain rasanya. Sama gak dengan yang dulu Papa belikan?” sengaja Agung alihkan perhatian dari kenangan Adinda dan Papanya agar Adinda tidak bersedih hati.


Adinda terkekeh lalu memotong irisan memanjang pisang di kanan dan kiri mangkuk panjang. Mengisinya dengan es krim vanila dan topping buah kering juga campuran kacang mede dan kacang tanah cincang.


Adinda memasukkan sesuap besar es krim dengan mata terpejam. Mengemaskan sekali bagi Agung. Dia tersenyum lebar mengamati wajah Adinda.


Ekspresi Adinda membuat Agung melongo. Dia mengerjap beberapa kali dan menggeleng, membuang pikirannya yang mendadak travelling kemana-mana.


“Eh, bagaimana?” Agung bertanya gugup, “Samakah rasanya?”


Adinda masih memejamkan mata sambil mengunyah perlahan. Suara perpaduan kacang yang crunchy terdengar jelas dari dalam mulutnya. Dia menggeleng lalu tiba-tiba membuka matanya.


“Gak sama, Om.”


“Eh??!” Agung mengerutkan keningnya.


“Es krimnya.. ini lebih mirip es krim dalam ember produk pabrikan..” Adinda menutup matanya lagi, mencoba menggali rasa, “Teksturnya terlalu halus bahkan cenderung tanpa tekstur, mudah lenyap dalam mulut, manisnya juga terlalu manis. Aroma vanilanya... ini dari essence, bukan vanila murni.”


“Wow!” Agung mengerjap menatap bibir Adinda dengan noda es krim di sudut atasnya bergerak mengunyah pelan.


Rupanya membelikan Adinda es krim bukan ide yang baik untuk jantungnya. Jantungnya makin jedag-jedug tidak karuan.


Dengan segera Agung memalingkan pandangannya pada layar gawainya.


“Memang dulu ditraktir makan banana split dimana dengan Papa?”


Adinda menggeser duduknya, dia mencondongkan tubuhya ke depan.


“Om Agung tahu toko kue jadul di Jalan Braga?”


Agung mengangguk lalu mengernyit heran.


“Memangnya di sana jual es krim juga?”


“Isssh Om Agung.. Justru es krim di sana itu sudah terkenal semenjak jaman Belanda...”


“Oh ya? Saya belum pernah masuk ke sana.”


“Es krimnya mereka buat sendiri bukan pabrikan. Masih pakai mesin jadul dan bahan baku susu murni. Mereka juga gak pakai essens. Aroma vanila, asli dari batang vanila yang dikerok, aroma strawberry berasal dari buah strawberry...”


“Kamu masih sering ke sana?”


Adinda menggeleng. Dia membuat suapan besar untuk es krimnya. Memasukkannya ke dalam mulutnya. Agung menelan ludah. Pandangannya dialihkan lagi pada jemari tangan Adinda yang memegang erat sendok es krimnya.


“Kenapa gak pernah ke sana lagi?”


“Ya sudah.. nanti saya traktir kamu makan di sana. Mau?”


Mata Adinda berbinar.


“Iyyyeessh!” Adinda tertawa senang, “Makasih Om..”


“Dih, girang amat sih..” Agung tertawa melihat Adinda.


“Om.... Aaaaa!” Adinda menyuapkan sesendok penuh es krim berikut toppingnya ke dalam mulut Agung.


Agung mau tak mau menerima suapan dari Adinda. Manis dan meleleh...


“Ngapain Om lihatin Adinda terus?” Adinda menatap Agung kemudian membalikkan kalimat yang tadi Agung ucapkan di ruangannya, “Suka ya? Cinta ya?”


Agung terkekeh.


“Memang iya..”


“Eh??!” Adinda tampak salah tingkah mendengar jawaban Agung. Pipinya merona.


Adinda menyingkirkan mangkuk es krimnya. Juga gelas air putih yang tinggal sedikit isinya.


“Om.. tentang pers release hasil otopsi Papa..” suara Adinda memelan.


“Kamu tahu?” alis Agung naik sebelah.


Adinda mengangguk pelan.


“Mereka jahat banget. Sungguh tidak bisa dimaafkan..” mata Adinda mengembun tapi dia berusaha untuk tida meneteskan air matanya, dia menatap lampu-lampu di plafon yang terpasang estetik.


“Saya menontonnya dari dalam mobil dalam perjalanan kemari. Di medsos banyak yang men-share potongan pers release dari kepolisian.”


“Dinda.. are you allright?”


“Kemudian Pak Raditya menelepon saya..”


Agung menegakkan duduknya.


“Apa yang dikatakan Pak Raditya?”


“Kedua tersangka pasca diperiksa maraton semalam, menangis meraung, setelah tahu bagaimana kondisi jenazah Papa...” mata Adinda mengerjap.


Kepalanya masih tengadah menatap lampu plafon. Masih mengerjap tapi sebutir air mata lolos meluncur di pipinya.


“Dinda...” tangan Agung terulur menghapus air mata. Tangannya meraih tisu.


“Ah.. padahal saya berjanji tidak akan menangis, Om. Cengeng ya saya..”


“Sssh.. kamu gak cengeng. Kamu gadis kuat yang pernah saya kenal..” Agung berdiri menghampiri Adinda. Menepuk pundaknya, “Kembali ke ruangan saya yuk. Gak enak dengan yang lainnya, nanti disangkanya saya yang buat kamu menangis...”


“Ah Om Agung, pencitraan banget sih jaimnya..”


“Eh, bukan gitu. Di ruangan saya kamu bebas mau lanjut makan kripik kentang ataupun minum soda sambil nangis ataupun sambil nonton drakor...”


“Eh iya.. tadi saya ninggalin soda dingin di atas meja. Ya... jadi gak dingin lagi dong..” Adinda bergegas berdiri, “Yuk Om.”


Agung terkekeh. Dia tahu kelakukan Adinda yang random sebagai abege. 11 12 dengan Adisti sewaktu masih abege.


“Kamu masukin aja ke lemari pendingin lagi, ambil minuman lainnya..”


“Besok saya boleh ke sini lagi?”


“Mau ngapain?”


“Nganterin cilok buat Om Agung.”


Agung tertawa, “Besok sepertinya saya gak ada di ruangan saya saat kamu pulang sekolah. Ada meeting di luar kantor.”


“OK..”


“Pak Raditya bicara apa saja?” tanya Agung saat mereka sudah sampai ke ruangannya.


“Kedua tersangka merasa menyesal sudah membunuh Papa. Juga menyesal sudah menjual aset-aset Papa. Jenazah Papa yang wangi dan utuh membuat mereka ketakutan. Mereka meminta untuk bertemu langsung dengan saya, Om. Untuk meminta ma’af.”


Agung menatap lekat mata Adinda.


“Kamu bersedia mema’afkan mereka?”


“Apakah mereka layak untuk mendapatkannya, Om? Saya rasa hukuman yang pantas untuk mereka adalah hukuman di dunia dan akherat,” suara Adinda terdengar dingin.


“Kapan ujian tertulisnya?” Agung membelokkan pembicaraan.


“Senin nanti. Cuma 3 hari..”


“Kamu ingin cincin yang seperti apa?”


“Eh? Cincin?”


.


***


Babang Agung traveling mulu pikirannya. Dari es krim berlanjut ke cincin. Apa gak kejauhan travelingnya?