
Agung meninggalkan ruangan kantor guru yang mendadak riuh rendah pasca dia melepas masker dan topinya. Banyak guru yang mendadak ingin berfoto bersamanya hingga akhirnya ibu guru walikelas Adinda mengawalnya untuk duduk di boothnya.
“Jadi wali Adinda sekarang Agung Aksara Gumilar?” suara kekaguman terdengar jelas dari seorang guru perempuan.
“Bukannya yang waktu itu datang meminta ijin ujian praktek susulan itu Pak Gumilar ya?” seorang guru lain berbicara dari boothnya.
“Pokoknya, yang menjadi wali murid Adinda sekarang keluarga Gumilar...” seorang guru pria mengomentari dengan santai.
“Gak kebayang nanti kalau yang datang Adisti Gumilar apalagi kalau bareng suaminya, Bramasta Sanjaya..” guru muda yang lain menimpali.
“Sekolah kita kedatangan para famous...” seorang guru berkata sambil memegangi dadanya, “Ganteng banget suer...”
Guru lain terkikik mendengar celotehannya.
Agung hanya tersenyum kecil menanggapinya. Dia diantar guru walikelas menuju kelas Adinda. Dia hanya ingin tahu letak kelas Adinda saja.
“Bu Guru, kalau murid yang bernama Ivan, keponakan dari pemilik yayasan, apakah sekelas dengan Adinda?”
Ibu Guru Walikelas menoleh dan mendengak pada Agung yang tinggi. Dia menggeleng sambil tersenyum.
“Tidak.. dia beda kelas. Kenapa? Adinda pernah dinakali oleh Ivan? Dia memang terkenal dengan trouble maker di sekolah ini..”
Agung tidak menjawab. Dia hanya berjalan di samping Ibu Guru Walikelas.
“Tapi akhir-akhir ini, Ivan lebih kalem.Dia tidak bertingkah lagi. Entah apa yang menyebabkan dia berubah,” Ibu Guru Walikelas menjelaskan lagi.
“Mungkin karena sekarang dia sedang menghadapi ujian akhir kelulusan,” Agung tersenyum.
“Bisa jadi. Mudah-mudahan dia bisa begitu seterusnya..” Bu Guru berhenti lalu berbalik menghadap Agung, “Ini ruang kelas Adinda. Adinda duduk di deret kedua, baris ketiga.”
Agung bisa melihatnya dari jendela. Kebetulan Adinda sedang melihat ke arah jendela. Matanya bertatapan dengan Agung.
Agung tersenyum pada Adinda yang memandanginya dengan wajah melongo. Dia melepas masker tapi dia masih mengenakan topinya.
Ruangan mendadak ricuh. Murid-murid mengira mereka akan mendapatkan guru baru.
“Ibu Guru, terimakasih banyak sudah mengantar saya. Adinda sudah saya bekali dengan oxygen hirup bilamana terjadi serangan panik pada dirinya. Mohon bantuannya..”
“Tidak perlu sungkan, Pak Agung. Adinda menjadi tanggung jawab saya selama di sekolah,” Ibu Guru Walikelas tersenyum.
“Saya mohon diri, Bu Guru. Hari ini juga hari pertama saya masuk kantor lagi..” Agung menangkupkan kedua tangannya di dadanya. Lalu berlalu dari depan kelas Adinda sambil mengenakan maskernya.
Di dekat tangga, Agung hampir menabrak murid yang menuruni tangga dengan cepat. Untung refleknya cepat. Dia meraih lengan atas murid laki-laki tersebut.
“Hei.. hati-hati..” Agung melepaskan pegangannya pada lengan murid tersebut.
Murid itu berbalik ke arah Agung.
“Pak Agung?”
“Kamu? Ivan?”
Keduanya terdiam. Saling menatap dan menilai.
Ivan membungkukkan badannya ke arah Agung sambil berkata cepat, “Jangan khawatir, saya tidak akan menganggu Adinda. Juga anak buah saya..”
Ivan langsung berlari meninggalkan Agung yang belum sempat berkata apa-apa.
Agung berjalan lagi ke arah mobil yang diparkir di luar gerbang sekolah. Tangannya membuat panggilan telepon dengan anggota teamnya di Sanjaya Group.
Masih ada waktu 20 menit sebelum jam kantor dimulai. Dia berharap jalanan tidak macet parah.
Dia tertawa saat membaca chat Indra di WAG. Adiknya dan Adik iparnya itu memang sedang bucin-bucinnya satu sama lainnya.
Dia heran, mereka belum juga berangkat bulan madu ke tempat adiknya bisa puas-puasin diri bercengkerama dengan makhluk hitam putih favoritnya yang berkaki empat.
Dia memasuki lobby Sanjaya Group dua menit dari jam kantor. Gegas dia menuju resepsionis untuk menge-tap kartu karyawan Sanjaya Group.
Meja resepsionis selalu diisi dengan wanita berparas cantik. Semuanya menyapa Agung seolah sudah mengenal baik dirinya.
Agung tersenyum membalas sapaannya. Dia masih mengalungkan kartu karyawannya sebagai ID card di gedung ini saat berjalan menuju lift. Saat dia menyadari, di kiri kanannya berjajar para pegawai Sanjaya Group yang sepertinya sengaja berkumpul di lobby. Langkah Agung melambat.
Saat Agung menyadarinya, mereka bertepuk tangan dan tersenyum pada Agung. Bahkan suara tepuk tangan juga terdengar dari atas.
Agung mendengakkan wajahnya. Matanya menyapu seluruh atrium bangunan ini. Para karyawan Sanjaya Group berkumpul di tepi handrailing lalu bertepuk tangan kepadanya.
Seseorang berteriak, “The Real Hero!”
Tepuk tangan terdengar semakin keras disertai seruan memanggil namanya berkali-kali.
Agung berhenti melangkah, dia melambaikan tangan ke semua arah. Lalu membungkukkan dirinya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Dia terharu.
“Terima kasih..” ucapnya berkali-kali kepada semua orang.
Hans muncul di ruangannya.
“Wow.. Prince Zuko effect warbiyasah banget ya..” kekehnya sambil duduk di sofa.
“Ini semua ide Lu, Bang?” tanya Agung.
“Nggak.. bukan ide gue. Gue gak sempat ngurusin kayak gituan sementara serangan terhadap Prince Zuko semakin menggila...”
“Kewalahan? Nanti sore gue ikut ke markas ya..”
“Hayu aja.. Gak kewalahan sih. Semua masih bisa di-handle anak-anak.”
“Abang gak ada meeting pagi ini?”
“Nanti jam 11 an. Dampingi Tuan Alwin ke Jakarta. Babeh belum kemari?”
“Assalamu’alaikum,” suara Pak Dhani dan wajahnya yang besar berada di pintu.
Hans dan Agung tertawa sambil menjawab salam dari Pak Dhani.
“Kan seharusnya saya yang ke kantor Pak Dhani,” Agung menyalimi papinya Indra.
Pak Dhani melambaikan tangannya tak acuh, “Gak usah terlalu formal. Tadi saya lihat Hans kemari makanya saya juga jadi ingin kemari. Efek berita yang diturunkan oleh Prince Zuko itu luar biasa ya? Eropa heboh..”
Hans mengangguk, “Helena Schimdt langsung diperiksa oleh instansi terkait di sana. Semua rekeningnya dibekukan dan aktifitasnya dihentikan hingga dia dinyatakan bersih dalam kasus ini.”
Agung menatap cemas pada Hans, “Ada kemungkinan dia bakal bebas?”
Hans mengangkat bahu, “Yang kita bidik Bryan Ansel. Kalau Helena sebagai backingnya juga bisa diciduk, anggap saja itu sebagai bonus.”
“Tapi para pelaku dengan kelainan jiwa seperti itu saling bekerja sama, Hans,” kata Pak Dhani mengingatkan.
“Bisa jadi si Helenna ini salah satu pelaku juga ya? Pedofil dan predator...” Agung bergidik.
“Prince Zuko mau bahas Helena?” Pak Dhani menatap Hans. Tangannya meraih gawainya lalu mengirimkan sesuatu pada pesan chat hijau kepada Hans.
“Saya beri kamu nama dan nomor yang bisa kamu jadikan narasumber Prince Zuko. Dia mengenal Helena semenjak masih mudanya. Mereka pernah sekelas saat SMA juga sekampus bareng walau beda jurusan,” Pak Dhani berhenti berbicara saat bunyi notifikasi pesan chat dari gawai Hans terdengar.
Hans memeriksa pesan dari Pak Dhani. Ada dua nomor kontak di sana. Keduanya nama orang asing. Hans mengernyitkan dahinya.
“Orang Jerman semua? Mereka itu siapa? Dan apa hubungannya dengan Pak Dhani?”
Agung merasa pembicaraan ini menarik. Dia beringsut dari duduknya. Mencondongkan tubuhnya ke arah Pak Dhani.
“Orang-orang ini, Bang Indra tahu gak Pak?”
Pak Dhani mengangkat bahu.
“Indra tahu mereka secara personal tapi tidak tahu tentang hubungan keduanya dengan Helena Schmidt. Indra pernah menemui salah satu diantara mereka saat Indra ke Jerman. Atas permintaan saya. Mereka berdua kawan saya saat saya dari komunitas numismatik. Istri mereka juga bersahabat denan Maminya Indra. Mereka dari komunitas filateli.”
“Wow, komunitas numismatik dan filateli tingkat dunia..” gumam Agung.
“Mereka bisa dipercaya?” tanya Hans.
“Mereka bersedia membantu karena saya mengatakan Helena Schmidt melindungi orang yang sudah mengganggu anak angkat kami. Apalagi setelah kami menceritakan tentang Adinda,” Pak Dhani menata Hans dan Agung bergantian.
Hans dan Agung mengangguk.
“OK Pak Dhani, terimakasih untuk info dan contact personnya. Nanti akan kita bahas di WAG. Saya mau ke ruangan saya sekarang,” Hans menyalimi Pak Dhani.
Pak Dhani menoleh pada Agung yang seperti tercenung.
“Gung, laporan keuangan untuk divisi 3 sepertinya ada yang harus diubah. Bagian entry data salah memasukkan datanya. Anak buah kamu kemarin lembur untuk mencari apa yang salah dari laporan tersebut..”
“Oh iya Pak.. Tadi pagi mereka sudah menghubungi saya. Saya akan periksa laporan revisinya, Pak.” Agung mengangguk.
“Adinda bagaimana hari ini? Masih mengalami mimpi buruk?” tanya Pak Dhani.
Agung menggeleng, “Alhamdulillah dini hari tadi dia tertidur nyenyak. Saat saya bangunkan untuk tahajud pun agak lama bangunnya. Sepertinya hari pertama masuk sekolah setelah dia dirawat membuat alam bawah sadarnya sibuk memikirkan sekolahnya,” kekeh Agung membuat Pak Dhani juga tertawa.
“Pers release hasil otopsi jam 9 pagi ini dari humas Polri...” Agung mengingatkan sambil melihat arlojinya.
“Ah, ya! Ayo kita ke ruangan saya. Di sana ada TV layar lebar.”
“Tapi meeting rutin saya dengan team sa...”
“Sudah saya minta untuk diundur jam 10. Dijadikan meeting team besar sekalian. Ayo.”
.
***
Senang ya bisa kompak begitu. Saling sokong, saling dukung dan saling bantu.
Catatan Kecil:
Numismatik adalah kegiatan hobi mengoleksi alat pembayaran kuno seperti uang kertas,yang koin ataupun token kuno yang pernah beredar di masyarakat.
Orang yang memiliki hobi tersebut disebut numismatis.
Filateli adalah hobi mengumpulkan perangko dan benda pos lainnya.
Orang yang hobi mengumpulkan perangko disebut filatelis.