
Adisti menghela nafas panjang. Ucapan Bramasta tentang surprise membebani pikirannya. Berharap surprise dari suaminya baik-baik saja dan menyenangkan bagi dirinya dan semua orang. Tidak seperti surprise yang diberikan dari kakaknya yang selalu sukses membuat dirinya berteriak kesal.
Adisti menatap pantulan wajahnya di cermin. Para asisten MUA suada menyelesaikan tugasnya memberi dasar make up. Sekarang giliran MUA memberikan sentuhan ajaibnya pada wajahnya. Adisti berusaha mengingat langkah-langkah MUA, bagaimana memberikan contour gelap terang untuk menonjolkan ataupun menyamarkan.
“Dek, Bunda duluan ya..” kata Bunda yang sudah selesai berganti baju. Mengenakan gamis panjang cantik dengan warna yang mengingatkan Adisti dengan bulu Burung Merak.
“Mommy juga ya Disti. Sampai ketemu di bangunan utama..” kata Mommy sambil melambaikan tangannya kepada Adisti. Mommy mengenakan gaun dan riasan yang sama dengan Bunda.
Adisti belum sempat menjawab mereka sudah menghilang di balik tirai. Adisti melihat Layla yang tengah berdiri memutar memastikan gaunnya sudah rapi. Warna gaunnya lebih soft dana da detail warna jingga lembut pada bagian pinggang dan kerudungnya yang bagian belakangnya memanjang hingga belakang lutut. Cantik dan elegan.
Leon muncul lalu menatap Layla dengan takjub.
“Ma belle Layla_Cantikku Layla_,” Leon mendekati Layla, “Oh mon Dieu, je suis de nouveau amoureux_Ya Tuhan, aku jatuh cinta lagi_!”
“Merci Monsieur Leon cher_Terimakasih Tuan Leon sayang_,” sahut Layla, “I love you too.”
“May I?” dia menyodorkan lengannya untuk digandeng Layla. Layla meraih clutch-nya lalu menggandeng lengan suaminya.
“Kak Layla, Bang Leon..!” Adisti memanggil mereka.
Mereka berhenti dan memutar tubuhnya dengan anggun. Menatap Adisti yang tengah panik dan masih belum selesai dirias.
“Ya?”
“Masa Disti sendirian?”
Leon terkekeh lalu mendapat sikutan dari istrinya.
“Nggak.. nanti Disti gak sendirian. Nanti ada yang menemani Disti ke bangunan utama,” Layla menarik lengan suaminya, “See you at main building. Enjoy the surprise!”
Layla dan Leon terkekeh bersama lalu melambaikan tangannya pada Adisti. Adisti menatap tak berdaya pada mereka.
“Nona, ma’af merem dulu ya,” kuas kecil eye shadow MUA tampak di depan mata Adisti. Beberapa saat lamanya bekerja dalam hening. MUA berkonsentrasi membubuhkan dan membaurkan warna.
Asisten MUA mengeluarkan bulu mata palsu dari kotaknya. Adisti langsung menolak dengan menunjukkan telapak tangannya kepada asisten tersebut, “Nggak Mbak. Ma’af, saya tidak mau memakai bulu mata palsu. Haram hukumnya, Mbak.”
MUA tersenyum, “Nanti kita ganti pakai mascara saja ya.”
Seorang asisten yang memakai earpiece membisikkan sesuatu kepada MUA.
MUA mengangguk, “Lima menit lagi. Tim baju bersiap, berikutnya tim kerudung.”
Asisten MUA mengangguk lalu mengulangi ucapan MUA pada mikrofon klipnya.
Make up selesai. Adisti diminta berpindah tempat ke pojok ruangan bertirai, tempat tadi Mommy, Bunda dan Layla berganti baju. Adisti menatap takjub pada gaun yang dipakai manekin. Entah bagaimana menggambarkan gaun yang luar biasa itu.
Gaun dengan warna beberapa aneka warna ungu: violet, lavender, lilac dan dark purple dengan taburan Swarovski di beberapa bagiannya. Juga brokat mewah dengan kain shimmer. Tim baju membantu Adisti mengenakan gaunnya. Adisti melihat pantulan dirinya di cermin besar. Dia seperti tidak mengenali wajah di depannya. Seperti putri kerajaan dalam dongeng.
Adisti diminta untuk duduk. Tim hijab akan mengenakan kerudung pada dirinya. Kerudung berwarna lilac dengan dan ungu tua. Sentuhan terakhir adalah mahkota kecil yang cantik disematkan pada kepalanya.
“Apakah mahkotanya menyakitkan kepala Nona yang cedera?” tanya salah satu tim hijab.
“Tidak.. Mahkotanya tidak berat. Jadi tidak terasa menekan kulit kepala.”
Wanita itu mengangguk, “Syukurlah. Mahkota ini didesain khusus oleh desainer dari toko milik Nyonya Alwin untuk Nona.”
“Masyaa Allah, jadi mahkota ini beneran, Mbak?”
Wanita itu mengangguk lagi sambil tersenyum, “Real platinum, real diamonds, real Swarovski and real amethyst. Cantik ya?”
“Masyaa Allah. Gak kebayang harganya..”
“Jangan terlalu dipikirkan, Nona. Nikmati saja,” Wanita itu tersenyum lalu meminta Adisti untuk berdiri.
“Assalamu’alaikum..” suara Agung memenuhi ruangan.
Adisti menjawab salam sambil menoleh. Agung tampak terkejut menatap Adisti.
“Adek? Ini beneran Adek?” tanyanya sambil mendekati Adisti.
Adisti tersenyum lebar.
“Wow. Masyaa Allah. Akhirnya Adek bermetamorfosis sempurna menjadi kupu-kupu cantik..”
Adisti langsung mencebik.
“Kakak gak pernah ngomong gitu loh,” Agung memandangi adiknya dengan tatapan jahil, “Itu sih perasaan Adek saja yang merasa seperti itu.”
“Isssh Kakak mah. Kebiasaan deh bikin kesel Adek..”
Orang-orang yang berada di ruangan rias terkekeh geli.
“Mumpung gak ada Abang…”
“Bilangin loh ke Abang Bramasta…”
“Ciyeeee mentang-mentang sudah punya Abang Bramasta. Dulu mah kalau digangguin Kakak ngancamnya: bilangin loh ke Bunda..” Agung terkekeh. Lalu diam lama memandangi Adisti. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.
“Dek, cantik banget sih. Kakak jadi pangling banget. Gak nyangka Adek secantik ini.”
“Kakak lupa ya? Adek udah cantik sejak masih orok. Yang jagain Adek sewaktu kecil siapa? Yang ngikutin Adek setiap pulang sekolah semenjak SMP siapa? Segitu parnonya Adek digangguin atau ditaksir anak cowok..”
Agung terkekeh sambil memegang tengkuknya.
“Iya..iya…”
“By the way, Kakak juga ganteng banget sih,” puji Adisti.
“Kakak saya ganteng kan Mbak?” tanya Adisti pada semua orang di dalam ruangan rias. Dijawab dengan anggukan juga 2 jempol teracung oleh semuanya.
“Dia masih jomblo loooh.”
“Haisssh Dek, gak usah pengumuman gitu kali. Kakak kan jadi malu..” Agung tersenyum malu pada semuanya yang terkikik geli.
“Nona, silahkan bediri tegak.”
“Wah, kirain udah selesai Mbak..”
“Kita pasang ekor gaunnya ya..”
Dua orang membantu memasangkan ekor gaun yang disematkan pada bagian pundak. Beberapa orang lainnya mengatur arah jatuhnya kain. Adisti menatap bayangannya di cermin. Mulutnya terbuka tak percaya menatap ekor gaunnya. Ini bukan seperti ekor gaun biasa yang ada pada gaun pengantin. Tapi ini seperti sayap peri yang memanjang menyapu lantai berwarna ungu muda shimmer.
“Kak… Adek kok jadi merasa seperti…” Adisti tidak melanjutkan ucapannya.
Agung mengangguk sambil tersenyum.
“Abang Bramasta mewujudkan impian Adek…” bisik Agung, “Cintai Abang Bramasta setulus hati ya. Cinta Abang Bramasta ke Adek itu luar biasa besarnya. Kakak sebagai laki-laki saja bisa merasakannya.”
Adisti tersenyum dan mengangguk. Matanya berkaca-kaca terharu.
“Jangan menangis. Ini hari bahagia Adek dan Abang. Sesi menangisnya udah selesai saat prosesi akad nikah sore tadi. Sekarang gak boleh lagi menangis meskipun itu air mata haru,” Agung berkata lirih sambil menggenggam tangan Adisti, “Kasihan para Mbak yang sudah merias Adek kalau harus mengulang lagi riasannya.”
“Selopnya Nona,” kata Tim Baju sambil menyodorkan selop berwarna ungu muda bertaburkan kristal ungu. Dia membantu Adisti memakai selopnya.
“Hand bouquet-nya."
Seseorang memberikan hand bouquet untuk digenggam Adisti
“Are you ready?” tanya Agung sambil menyodorkan lengannya pada Adisti, “Abang dan lainnya sudah menunggu Adek di bangunan utama.”
Adisti mengangguk. Meraih lengan kakaknya, “Bismillahirrahmaanirrahiim.”
Seorang asisten MUA dengan earpiece mengabari petugas WO dengan suara pelan. Dua orang asisten memegangi bagian ekor gaun agar tidak rusak dan kotor.
Suasana tenda besar sengaja dibuat temaram. Tidak terlalu banyak orang di dalamnya karena acara sekarang difokuskan di bangunan utama.
“Are you OK?” tanya Agung.
“I’m nervous. Very nervous.”
“Kerabat Abang sudah banyak yang datang. Bule semua,” bisik Agung, “Pusing Kakak dengar mereka ngomong. Ada yang ngomong pakai bahasa Belanda, Perancis, Jerman, Italia.”
Adisti terkekeh.
Kemudian tawa dan langkahnya berhenti saat berada di antara tenda besar dengan bangunan utama. Agung menoleh dan tersenyum, “Welcome to the surprise land”.
***
Siap-siap ke resepsi ya kita. Kira-kira apa yang membuat langkah Adisti terhenti ya?