CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 222 – ISI 30% REKAMAN AWAL



Semuanya terdiam mendengar cerita Lothar Schuemaker yang diceritakan kembali oleh Indra.


“Masyaa Allah.. gak nyangka..” Bramasta meraup wajahnya.


Yang lain mengangguk-angguk, setuju dengan ucapan Bramasta.


“Gadis itu, bisa pulih?”


“Secara mental, dia bisa pulih tumbuh normal seperti gadis lainnya. Lothar membantunya. Dia menceritakannya sambil menangis. Bagaimana mereka berdua berjuang agar istrinya bisa move on dari bayang-bayang malam itu,” Indra menengadah, menjeda kembali ceritanya. Sepertinya dia susah untuk melanjutkan cerita.


“Tapi secara fisik, gadis itu... tidak bisa menjadi wanita yang sempurna lagi. Perlakuan kasar Bryan membuat rahimnya terluka dan harus diangkat. Gadis itu tidak pernah bisa mempunyai anak dari rahimnya.”


“Innalillaahi...”


“Lothar tidak keberatan dengan hal itu?” tanya Anton.


Indra menggeleng, “Dia terlalu mencintai gadis itu. Banyak pasangan bule yang tidak mementingkan tentang anak, tetapi istrinya suka dengan anak-anak dan sangat menginginkannya.”


“Surrogate mother_Ibu pengganti_?” tanya Hans.


Indra menggeleng.


“Bagi Lothar, memakai jasa surrogate mother pasti akan menyakiti hati istrinya karena membuatnya semakin merasa ketidaksempurnaannya sebagai wanita."


Indra melanjutkan lagi, "Mereka mengadopsi anak. Laki-laki dan perempuan. Keduanya menjadi ilmuwan peneliti sekarang. Mereka bahagia dengan pernikahan mereka. Hingga natal tahun lalu, istri Lothar meninggal dunia.”


“Innalillaahi wainnaillaihi rooji’uun...” serempak mereka berucap.


“Pada saat Babeh bercerita tentang Bryan Amsel, Lothar ingin menuntaskan dendam masa lalunya, Bryan Amsel harus dipenjara.”


“Ndra, gadis yang disiksa Helena, apakah masih berhubungan dengan Lothar?” Hans memandang Indra.


“Gue gak tahu. Nanti gue minta Babeh buat menanyakan pada Lothar. Memangnya kenapa?”


“Gue khawatir dia keberatan bila masa lalunya diungkit lagi mengingat dia sudah berkeluarga sekarang.”


“Rekaman wajahnya jelas gak?” Bramasta mengernyit.


“Nanti...” Hans beranjak dari duduknya lalu kembali masuk ke ruangan lab. Tidak berapa lama dia keluar sambil membawa flashdisk di tangannya. Hans menunjuk ke arah ruang rapat.


Semua mengikuti Hans menuju ruang rapat. Begitu Agung menutup pintu ruang rapat, Hans mengaktifkan mode black. Suara es yang bergemeretak terdengar. Penerangan berangsur gelap kemudian beralih ke warna biru Laut Kaspia.


“Make your self comfort_Senyamannya kalian ya_,” Hans mulai mengetik di atas keyboard cahaya.


Mata Hans teralihkan pada kotak besar di atas meja.


“Itu apa?” tangannya menunjuk kotak.


“Kue buatan Adinda. Katanya untuk kita semua..” Indra terkekeh, “Calon istrinya Agung walaupun masih bocil tapi pengertian banget ya. Rajin bikin kue juga..”


“Eh, buka dong sekarang. Mending kita makan dulu deh sekarang sebelum nonton. Nanti malahan jadi ilfil buat makan dan buat ngapa-ngapain..” Hans duduk di kursinya, “Sambil menunggu Bang Leon juga. Tadi katanya sudah dekat..”


“Dari mana sih Bang Leon?” Agung membuka penutup kotak, kemudian tersenyum lebar menatap isinya.


“Dari Surabaya. Kenapa Gung?” tanya Hans.


“Ada suratnya,” Agung mengambil kertas yang terlipat lalu membacanya dengan cepat tapi kemudian mencebikkan bibirnya.


“Kenapa sih?” Anton mengambil kertas yang ada pada jemari Agung, “Boleh dibaca gak?”


“Baca aja. Kirain surat buat gue, calon lakinya..”


“Lu pengen dapat surat cinta, Kakak Ipar?” Bramasta terkekeh, “Gue tiap pagi dapat surat cinta terus dari Disti yang ditempel di pintu kulkas..”


“Itu sih bukan surat cinta, Bram. Tapi love note..” Hans mengambil sepotong cake dengan topping penuh dengan keju parut.


“Sama saja, Hans..” Bramasta tampak bingung memilih kuenya. Akhirnya dia mengambil kroket kentang yang dihias dengan rawit hijau yang ditusukkan di puncaknya.


Anton berdehem, mulai membaca dengan suara keras.


“Assalamu’alaikum. Dear para Abangnya Dinda, selamat menikmati ya. Mudah-mudahan suka. Tolong bilangin ke Om Agung supaya berhenti mengatai Dinda dengan sebutan BOCIL. Sebel banget Dinda. Wassalam, Adinda,” Anton selesai membaca pesan dari Adinda.


Matanya menatap semua orang yang melongo kecuali Agung yang mencebik. Lalu entah siapa yang memulai, ruang rapat itu dipenuhi tawa terbahak. Agung menyembunyikan wajahnya dengan menelungkup di atas meja.


“Parah Lu Gung..” Indra menepuk pundak Agung.


“Lu nyebut dia bocil?” Hans menaikkan alisnya, “Tapi memang pantes sih. Kelakuannya bocil banget. Kemarin saja sewaktu di depan gue ada Kinanti, sengaja gue telepon Adinda supaya Kinanti tahu bagaimana kedudukan Adinda bagi kita..”


Hans bercerita tentang kejadian kemarin saat menelepon Adinda. Suara tertawa menggema lagi di ruangan rapat.


“Lu kudu sabar menghadapi bocil ya, Bro..” Indra menepuk pundak Agung lagi sambil terkekeh.


“Gue gak salah kan manggil dia bocil..” Agung tersenyum lebar.


“Sekarang sih nggak..” Bramasta terkekeh geli, “Tapi nanti kalau kalian sudah merid beda lagi ceritanya..”


Suara tawa terdengar lagi. Mereka menoleh ke arah pintu saat pintu diketuk dan salah satu anggota Shadow Team menyajikan minuman dingin kepada mereka.


“Alhamdulillah.. pas banget nih. Ice lemon tea....” Bramasta menerima gelas plastik bersegel, “Terima kasih banyak ya A.”


Pria tersebut mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia memandang Agung.


“Kang Agung, motornya sudah beres di bengkel.”


Wajah Agung mendadak cerah.


“Bisa tolong antarkan ke rumah, Wan? Biaya perbaikannya di WAin aja ya, nanti saya transfer.”


“Siip Kang. Insyaa Allah malam ini saya antarkan ke rumah.”


“Hatur nuhun nya Wan_Terima kasih ya Wan_”.


“Sawangsulna Kang..” dia meninggalkan ruang rapat setelah membungkukkan badannya kepada semua orang.


Agung berseru sambil mengacungkan tinjunya.


“Iyyyyeeessssh! Gue bisa pakai motor lagi...”


“Kenapa?” Agung memandangi ketiganya.


“Lu gak boleh bawa motor dulu. Sadar gak sih, Lu baru saja dioperasi besar? Dan luka operasinya belum pulih benar??” Hans memandang gemas pada Agung.


“Gung, would you please**? Lu baru saja bangkit dari pra koma yang bikin kita semua cemas. Lu pulih dengan cepat itu diluar kemampuan para tenaga medis. Jangan aneh-aneh deh..” Indra menatap Agung yang terdiam.


“Bram, Lu gak ngomong apa kek buat ngingetin Kakak Ipar Lu?”


“Gak perlu,” Bramasta menggeleng, "Cukup nanti Disti saja yang bicara dengan Kakak tersayangnya yang tengil dan bandel banget..”


“Bang.. please gak usah libatin Adek.. Ribet dan panjang urusannya kalau libatin dia..” Agung memandang penuh harap.


“Au ah..” Bramasta memalingkan wajahnya. Anton terkekeh pelan.


Hans mengambil gawainya. Membuat panggilan entah dengan siapa.


“Assalamu’alaikum, Bun..” Jeda.


“Iya Bun, ini Hans. Saya hanya ingin memberitahu nanti akan ada yang mengantarkan motornya Agung dari bengkel ke rumah.” Jeda.


“Iya Bun.. sudah selesai. Nanti minta langsung masukin ke garasi saja ya Bun. Dan satu lagi... tolong kunci motornya disembunyikan saja Bun. Kalau Agung minta kunci motornya jangan dikasih ya Bun.” Jeda lama.


“Baik Bun.. Terimakasih banyak. Salam untuk Ayah dan Dinda. Sampaikan terimakasih kami ke Adinda, kue buatannya enak banget..” Hans terkekeh.


“Assalamu’alaikum Bun,” Jeda. Lalu Hans menutup panggilannya.


Dia menatap Agung sambil menaikkan alisnya.


“Ah.. Bang Hans...” Agung mengeluh disambut tawa yang lainnya.


“Langsung dilaporin ke emaknya...” Indra terkikik.


Suara salam bersamaan dengan dibukanya pintu ruang rapat. Leon memasuki ruangan. Semua menjawab salamnya lalu berucap hamdalah.


“Gue gak kehabisan kuenya Dinda kan?” Leon menghampiri kotak besar yang ada di kue. Melongokkan kepalanya lalu tersenyum lebar.


Semuanya menatapnya dengan aneh.


“Apa?” tangan Leon memegang kertas cup pembungkus kroket kentang.


“Darimana Abang tahu ada kue Dinda?” Agung memicingkan matanya.


“Easy_gampang_,” Leon terkekeh, “Gue kan memantau IGnya Dinda. Dia upload foto kue dalam boks lalu diberi caption, FOR YOU, PARA ABANG blablabla..”


Agung mengecek sosial media Adinda dari gawainya. Hatinya terasa hangat membaca blablabla yang tadi dibicarakan oleh Leon.


“For You, Para Abang. Especially for you, yes, it’s you!” Agung tersenyum lebar.


Dia jarang mengecek sosial media miliknya ataupun yang lainnya.


“Bang Agung, ini Abang bukan?” Anton menyodorkan gawainya. Layarnya menunjukkan akun IG milik Adinda. Foto seorang pria berjaket kulit hitam dengan latar belakang motor Honda hitam, hanya tampak kaki hingga dada. Bagian kepalanya dikrop oleh Adinda. Captionnya, “My Guardian Angel. Our First Met_Malaikat Pelindungku. Pertemuan Pertama Kami_.”


Agung mencondongkan tubuhnya.


“Kayaknya sih iya. Tapi dia dapat foto itu dari mana ya?”


Bramasta penasaran, ikut mencondongkan tubuhnya juga.


“Kayaknya foto itu ada di galery Disti deh. Sewaktu Kakak Ipar pertama kalinya memakai motor itu untuk ke kantor.”


“Itu beneran saat kalian bertemu kan di simpang Pahlawan?” Indra ikut memperhatikan foto.


“Smart girl. Dia meng-krop wajah Lu, Gung,” Hans ikut memperhatikan foto.


“Kalian tadi udah bahas apa saja?” tanya Leon setelah dia menyeka jemari dan bibir dengan tisu.


Hans memberi garis besar kisah Lothar Schuemaker. Kemudian dia melanjutkan ke meja utama, memutar rekaman CCTV nightclub dalam bentuk flashdisk.


“Ini 30% awal rekaman..” Hans menekan tombol enter. Masing-masing bisa menontonnya dari mejanya.


Adegan awal, Bryan dan Helena tengah mengobrol sambil minum minuman favorit warga Jerman yaitu bir. Lalu seorang pelayan mengantar dua orang gadis remaja masuk ke dalam ruangan.


“Itu Lothar Schuemaker?” Bramasta menunjuk pada pelayan tadi.


“Kayaknya bukan. Wajah Lothar gak kayak gitu..” Indra mengerutkan keningnya.


“Mereka gadis remaja yang cantik dan manis,” Leon menonton dengan kepala dimiringkan, “Sepertinya mereka sedang menentukan gadis siapa yang mereka pilih..”


“Ini memang gak ada audionya, Hans?” Indra memandang Hans.


Hans menggeleng, “Visual only..”


Lalu Helena tampak mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Cemeti berkuda, tali dari kulit juga dua buah borgol. Ia melemparkan sebuah borgol ke arah Bryan yang langsung ditangkap sambil tertawa.


Dua gadis belia itu tampak ketakutan. Salah satunya berteriak sambil mundur ketakutan mendekati pintu. Helena menarik gadis itu lalu menamparnya dengan keras.


Tubuh gadis itu limbung, Helena tertawa dan mulai mengikat si Gadis dengan tali kulit juga menyumbat mulutnya dengan kain. Detik berikutnya, Helena mulai memukuli gadis itu dengan membabi buta.


Sementara gadis satunya lagi memandang ngeri kepada temannya. Dia berusaha kabur. Bryan menarik tubuh mungilnya lalu membantingnya di atas sofa.


Menahan tubuh si Gadis dengan lututnya dan memborgol kedua tangannya.Adegan selanjutnya lebih tepat bila disebut dengan adegan p3rk0sa4n.


“Hans, mundurkan sedikit, ke adegan Helena yang sedang mengelus tubuh gadisnya..” suara Bramasta mengagetkan mereka semua yang sedang fokus menonton.


“Yang ini?”


“Ya.. yang itu.. Freeze it,” Bramasta menunjuk pada jemari Helena di proyektor, “Perhatikan cincinnya. Kalau tidak salah cincin itu masih dipakai kan hingga sekarang? Selalu dikenakannya kemanapun dia berada?”


.


***


Babang Bramasta jeli banget ya.


Untuk menghindari sensor, beberapa kata saya pakai kombinasi angka dalam penulisannya ya 🙏🏼