CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 231 – TRAKTIRAN OM AGUNG



Di dalam mobil, Agung dan Adinda duduk di bangku tengah. Di bangku depan ada pengawal yang akan ikut kemanapun mereka pergi. Tapi kali ini, Agung hanya meminta satu orang pengawal saja.


Mereka menuju toko peralatan dan bahan kue yang terletak di daerah Taman Sari.


“Kamu nanti malam masih sanggup belajar? Gak kecapean?” Agung melirik pada Adinda.


Adinda hanya menggeleng.


“Mulai malam nanti saya gak bisa nemenin kamu belajar loh.”


“Iya..”


“Saya pindah ke apartemen.”


“Iya, sudah tahu.”


“Kok kamu gitu sih tanggapannya?”


“Jadi maunya Om saya harus bagaimana? Salto dan jingkrak-jingkrak senang atau menangis meraung-raung mencegah Om tinggal di apartemen?”


“Ya gak gitu juga..”


“Terus?”


“Terserah kamu deh..” Agung mengambil gawainya yang berbunyi.


“Gak bisa gitu, Om. Biasanya yang bilang terserah itu cewek. Om kan cowok, jadi gak boleh ngomong terserah..”


Di bangku depan, pengawal dan driver menahan kekehan mereka.


Agung memutar tubuhnya. Kali ini dia menatap langsung pada Adinda.


“Kamu terkadang imut menggemaskan terkadang juga ngeselin menggemaskan.”


“Jadi, kesimpulannya saya menggemaskan, Om?” Adinda tersenyum lebar.


“Begitu menggemaskannya sampai saya rasanya ingin mencubit-cubit pipi kamu seperti squishy-nya Eric dan Baby Andra.”


Adinda langsung memegangi kedua pipinya.


“Gak boleh, Om. Bukan mahromnya!”


Agung kembali menghadap ke arah depan. Dia tidak berkata apa-apa lagi.


“Om..”


“Hmm?”


“Jangan diam saja dong. Sepi. Gak enak.”


“Lagi gak ingin ngobrol.”


“Kenapa?”


“Takut khilaf.”


“Dih!” Adinda membuang pandangannya ke jendela samping.


Agung menekuri gawainya. Menjawab beberapa email dan pesan chat yang masuk.


“Om..”


“Hmm?”


“Nanti Dinda boleh main ke apartemen Om?”


“Kenapa?”


“Ingin tahu saja apartemen Om seperti apa..”


“Ooh.”


Adinda mencebik. Om Agungnya berubah menjadi kanebo kering lagi. Saat bersama para abang, Om Agung begitu ceria dan tengil tetapi saat bersama dirinya, Om Agung berubah 180°.


“Om..”


“Jangan sendiri kalau mau main ke tempat Abang. Ajak Adek atau Bunda.”


“Iya..” kemudian menoleh cepat pada Agung, “Ajak Kak Anton gak apa-apa ya?”


Agung terdiam. Gawainya disimpan di saku dalam jaketnya. Matanya lurus memandang ke depan.


“Issssh..” Adinda melirik kesal pada Agung lalu memutar duduknya menghadap ke arah jendela samping.


Mereka terdiam hingga lampu lalu lintas berubah warna hijau.


“Ehm!” Agung berdehem.


Adinda bergeming. Sikunya bertumpu pada pahanya dan memegang kedua pipinya.


“Anton juga laki-laki. Kamu tahu kan apa maksud saya?”


“Tapi kan saya menganggap Kak Anton seperti kakak saya sendiri, Om.”


“Tetap saja kan?”


Adinda tidak menjawab.


“Hey.. jangan marah begitu. Katanya bukan bocil tapi kok masih sering ngambekan?” Agung menyentuh siku Adinda, berusaha membuatnya duduk menghadap depan.


“Saya mau pindah kok kamu ngambek terus sih.. Kok kamu gak berusaha bikin nice memory gitu ke saya..”


Adinda melirik tajam pada Agung.


“Gak usah macam-macam, Om. Kita belum halal.”


“Ya ampun... saya gak nyangka. Kamu sengeres itu..”


“Nuduh.”


“Lah pemikiran kamu tadi?”


“Itu sih perasaan Om saja.”


“Jangan galak, jangan jutek. Gak ada yang suka dengan kepribadian seperti itu. Apalagi ke orang yang lebih tua dari kamu. Tetap ramah dan santun kepada semua orang meski orang tersebut berkata yang tidak baik tentang kita, selama perkataannya tidak mengandung dan menimbulkan fitnah,” Agung menatap Adinda.


Adinda menunduk. Dia teringat kejadian tadi di ruang tengah.


“Saat mereka menyebut kamu bocil, bukan berarti mereka meremehkan kamu. Tapi karena mereka sangat menyayangi kamu. Bocil selalu diperhatikan, disayang, dimanja oleh orang dewasa.”


Mata Adinda berembun. Tangannya menyeka air mata yang lolos menggelincir di pipinya.


“Nanti Dinda minta ma’af pada Bang Hans dan yang lainnya..”


Agung mengambil tisu dari kotaknya. Lalu menyerahkan pada Adinda.


“Jangan menangis... Ambil hikmahnya. Anggap ini sebagai proses pendewasaan kamu.”


Agung menatapnya heran.


“Kamu kenapa?”


“Malu ke Bang Hans dan lainnya. Dinda ternyata kelakuannya masih bocil.”


“Terus kenapa menghadap belakang?”


“Daripada memeluk Om Agung, kan belum halal, mending saya peluk sandaran kursi saja..” sambil terisak Adinda memeluk sandaran kursi.


“Oh my God...” Agung menggelengkan kepalanya, kemudian tangannya menepuk-nepuk punggung Adinda.


“Sudah jangan menangis. Nanti sampai rumah mata kamu sembab, saya lagi nanti disidang oleh para orangtua..”


Adinda mengangguk.


“Ma’afin Dinda ya Om..”


“Gak perlu meminta ma’af. Saya memaklumi kamu..” tangan Agung masih menepuk-nepuk punggung Adinda, “Sudah. Jangan menangis lagi. Saya ingin lihat senyum kamu.”


“Sudah sampai, Pak..”Driver memberi tahu Agung.


“OK. Terimakasih ya Pak,” kemudian menoleh pada Adinda, “Sudah siap turun atau masih mau melanjutkan menangisnya?”


“Ih Om Agung. Apaan sih?”


Pengawal membukakan pintu untuk Adinda. Agung turun dari pintu Adinda karena lalu lintas sedang padat. Membuka pintu penumpang kanan sangat beresiko.


Mereka berjalan bersisian tanpa bersentuhan. Pengawal mengawal mereka dari jarak aman.


Adinda mengambil troli. Lalu mulai membeli kebutuhannya. Kemudian beralih ke bagian kotak kemasan kue.


Dia mengambil beberapa jenis mangkuk kue dari kertas untuk muffin. Juga kotak kardus cantik tempat marble cake-nya nanti dan kotak kue untuk muffin.


“Om jadi kan mau traktir saya?”


“Hmm..” Agung mendorong troli mengikuti langkah Adinda yang berjalan ke lorong cetakan kue.


Adinda mengambil dua buah loyang muffin isi 6 lubang. Kemudian matanya terpaku pada cetakan cake berbahan silikon. Matanya melebar melihat harga yang tertera.



“Itu cetakan kue apa?” Agung ikut mengamati dan menyentuhnya.


"Bisa untuk cake, puding dan coklat.”


“Gak bakal lengket? Rumit amat bentuknya.”


“Nggaklah Om. Kan silikon, dia lentur sehingga mudah dilepasnya.”


“Aman dipanggang?”


Adinda mengangguk.


“Impor dari Italia, Om. Pasti lebih bagus kualitasnya daripada buatan Cina. Harganya juga beda jauh.”


“Kamu mau?”


Adinda mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat sambil tersenyum lebar. Agung tertawa melihatnya.


“Ya sudah, ambil saja.”


“Tapi harganya..”


“Ambil..”


“Makasih Om... Boleh beli dua? Saya juga mau yang bentuk mawar setengah mekar itu..”



“Apa gak aneh nanti kuenya? Tinggi banget...”


“Gak lah Om. Boleh gak?”


“Kamu gak mau bentuk yang seperti terpelintir?”


“Itu nanti saja.. Saya beli sendiri..”


“Kamu suka mawar?” Agung sengaja menoleh pada Adinda untuk mengamati wajahnya.


Adinda mengangguk.


“Kata Papa, bunga kesukaan Mama itu mawar pink dan putih,” tatapan mata Adinda melembut, senyumnya juga mengembang lembut.


Agung berdehem untuk menghilangkan rasa kering yang melanda tenggorokannya sesaat setelah menatap wajah Adinda.


“Ya sudah.. Beli saja..”


Di tempat spatula, Agung menghentikan trolinya. Tangannya menggapai spatula yang menarik perhatiannya. Dia mengambil 2 spatula silikon.



“Buat di apartemen Om?”


“Gak. Buat kamu. Lihat wajah kelinci di spatula itu mengingatkan saya dengan ekspresi wajah kamu saat kamu sedang melow dan imut...”


“Terus itu yang nanas pakai kacamata?” Adinda menunjuk pada spatula satu lagi.


“Buat kamu juga. Jadi ingat wajah kamu saat ngeyel dan galak. Mirip banget dengan nanas ini...”


Troli didorongnya pelan menjauhi Adinda yang sedang berkacak pinggang dengan bibir mencebik. Agung berpura-pura tidak melihatnya. Aman.


Usai membayar, pengawal membantu memasukkan barang belanjaan ke dalam bagasi mobil. Adinda berdiri di samping Agung di belakang bagasi mobil yang sedang terbuka.


Agung sedang menikmati suasana siang itu. Tubuh jangkungnya memungkinkan dia untuk mengamati sekitarnya tanpa halangan.


Saat hendak menghalangi sinar matahari yang mengenai wajah Adinda, matanya menangkap pergerakan yang tidak biasa.


Seorang pria bertubuh kurus berkaus putih dengan tulisan GUESS besar di dadanya berlari agak membungkuk tepat menuju ke arahnya.


Begitu jarak sudah dekat, pria tersebut mendongak menatap matanya dan menyeringai jahat.


.


***


Om Agung nraktirnya banyak.


Gung, jangan lupa beliin Author spatula bunga.OK.


Atau mau dibikin apes oleh Author??


Btw, pria kurus berkaos putih itu mau ngapain?