CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 259 – PAGI DI KELUARGA GUMILAR



Agung terdiam sejenak. Menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Dia duduk di kursi dekat jendela kamar.


“Lewat email,” Agung terlihat sedang mengingat-ingat, “Ada email masuk berbahasa Inggris. Tidak ada salam pembuka ataupun pengenalan diri. Langsung bertanya to the point.”


“Apa pertanyaannya?” Raditya terlihat penuh minat.


“TELL ME ABOUT IT.”


“Hanya itu?”


Agung mengangguk.


“Tidak berapa lama pesannya menghilang. Seperti menghapus sendiri. Saya jadi tidak ragu lagi bahwa itu memang pesan darinya. Saya langsung mengirimkan isi flashdisk itu padanya.”


Raditya terperangah.


“Bagaimana bisa ada email yang bisa menghapus isi email itu sendiri.”


Agung mengangkat kedua bahunya.


“Bahkan setelah saya mengirimkannya pun, semuanya terhapus termasuk alamat email Prince Zuko.”


“Seperti berada di film Mission Impossible..” gumam Raditya kemudian menguap.


Agung tertawa. Dia mengambil baju ganti.


“Tidurlah Bang, supaya gak telat tahajudnya.”


***


Setelah subuh, seperti biasa, Agung berolahraga di balkon sambil menelepon Adinda.


Raditya tengah berada di pantry membuat kopi.


“Bang, kita sarapan di rumah Bunda saja. Sudah disiapkan,” Agung melongokkan kepalanya ke ruang dalam.


Raditya yang tengah melamun di depan kopinya terlonjak kaget hingga membuat sendok terjatuh.


“Eh, ma’af.. kaget ya?” Agung menghampiri sambil memamerkan cengirannya.


Raditya terkekeh malu. Dia mengambil sendok dan mengelap lantai yang tertumpah kopi dengan tisu.


“Saya mandi dulu ya Bang,” Agung beranjak ke dalam kamarnya.


Tidak berapa lama, Agung keluar kamarnya. Kemeja biru mudanya dimasukkan ke dalam celana abu-abu tua. Rapi dan tampak profesional.


Raditya yang sudah memakai seragamnya masih melamun memandangi kopinya yang sudah dingin.


Agung menepuk pelan pundak Raditya.


“Life must go on _Hidup harus terus berlanjut_. Kenanglah yang sudah pergi.”


Raditya menatap Agung.


“Tidak seharusnya Masayu meninggal dengan seperti itu.”


“Sudah jalan hidupnya seperti itu, Bang. Ikhlaskan saja supaya almarhumah tidak terbebani oleh rasa kehilangan kita. Yakini saja, akan ada hikmah yang luar biasa yang Allah siapkan untuk Bang Raditya.”


Raditya menengadah, mengamati lampu tanam plafon, agar embun yang mengumpul di matanya tidak luruh turun.


“Yuk kita jemput Anton dulu. Kita sarapan bareng.”


Saat mereka keluar dari unit Agung, Anton juga tengah keluar dari unitnya.


“Assalamu’alaikum, Bro? Enak tidurnya?” Agung ber hi-five dengan Anton.


“Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah. Badan segar banget rasanya..” Anton ber hi-five juga dengan Raditya.


“Kelihatan dari wajahnya,” Raditya tersenyum, “Beda jauh dengan semalam.”


Agung tergelak, “Kucel, lusuh. Para penggemar Taehyung bakal kecewa.”


Anton terkekeh malu.


“Thanks a lot ya kalian berdua sudah membantu saya semalam.”


Agung menepis udara dengan tangannya. Raditya hanya terkekeh sambil menepuk lengan Anton.


“Kalian selalu sarapan di rumah Keluarga Gumilar?” Raditya bertanya saat mereka sudah berada di dalam mobil.


“Nggak selalu..” Anton melirik ke arah Agung, “Sekarang sih kayaknya karena ada yang kangen. Biasa ketemu setiap hari, kamarnya depan-depanan. Sekarang...”


Anton yang duduk di kursi depan tergelak melihat raut wajah Agung yang memerah. Raditya ikut menoleh dan ikut tergelak juga.


“Pak Agung mau ngapelin Neng Adinda..” Pak Salim yang menjadi driver ikut menggoda Agung. Pengawal yang duduk di bangku belakang juga ikut tertawa.


“Ngapel pagi sebelum ujian..” Anton terkikik lagi.


“Sedang ujian akhir ya?” Raditya menoleh lagi pada Agung.


Agung yang ditanya mengangguk sambil tersenyum.


“Agungnya sudah senyum-senyum terus nih dari tadi. Kayaknya sudah tidak sabar ingin ketemu Adinda ya Gung?” goda Raditya yang ditimpali dengan gelak tawa di dalam mobil.


Jalanan Kota Bandung masih lengang saat mendekati pukul 06.00. Tidak berapa lama, mobil berhenti di depan kediaman Gumilar.


Ayah menyambut mereka di depan rumah. Mereka menyalimi Ayah. Kepada Raditya, Ayah menepuk-nepuk punggungnya.


“Yang kuat dan sabar ya, Nak Radit. Bila kita tidak mendapat keadilan di dunia, adukan kepada Sang Maha Adil.”


Raditya tertegun dengan kalimat Ayah.


“Saya yakin, bila Allah memberikan amanah berupa kedudukan yang lebih tinggi kepada Nak Raditya, Nak Raditya bisa menggunakan kekuasaan yang diamanahi untuk menegakkan keadilan yang selama ini menjadi barang langka bagi masyarakat kebanyakan. Dan saatnya menghukum mereka yang bersalah.”


Ayah menepuk-nepuk punggung Raditya lagi. Raditya mengangguk tapi kemudian menggeleng.


“Saya... saya tidak tahu, Pak Gumilar. Sekarang saja saya sedang diburu oleh orang-orangnya Tuan Thakur. Sehingga Tuan Hans meminta saya untuk tinggal sementara di tempat Agung.”


“Saat kedholiman sudah luar biasa ditampakkan, saya yakin, kejayaan orang tersebut akan segera berakhir. Saya turut berduka cita dengan apa yang sebenarnya terjadi pada almarhumah istri Nak Raditya.”


“Ayah.. suruh sarapan dulu Nak Raditnya. Dia jadwal ngantornya beda dengan Agung dan Nak Anton loh. Iya kan Nak?” suara Bunda terdengar dari ruang makan.


“Oh iya.. Ayo..ayo.. sarapan dulu.”


“Pak Radit masuk jam berapa?” Anton menuang kopi setelah sarapan.


“Saya ada apel pagi jam tujuh.”


Agung mengantar Raditya ke garasi. Menyibak plastik penutup motornya dan mengelus tanki bensinnya dengan penuh rasa sayang.


“Wah, Gung.. Saya gak bisa bawa ini ke kantor. Bisa heboh nanti orang kantor dan menyangka saya mendapat sogokan besar. Motor ini terlalu mewah buat saya..”


“Diantar saja oleh salah satu pengawal saya ya Bang. Supaya cepat sampai ke kantor?”


Raditya mengangguk setuju. Lalu dia segera pamit kepada Ayah dan Bunda. Agung menatap penuh iri kepada pengawal yang membawa motornya.


Seolah tahu kegelisahan Agung, pengawal yang membawa motornya sengaja menarik gasnya dengan kencang hingga knalpotnya menderu. Raditya tertawa sambil melambaikan tangannya kepada Agung dan Anton.


“Om, sedih amat wajahnya..” Adinda memasukkan buku ke dalam tasnya lalu memeriksa alat tulisnya.


“Hmmm..”


“Ciyeeee yang ingin momotoran..” Adinda menertawakan Agung.


Anton yang masih memegangi cangkir kopinya ikut tertawa.


“Siapa yang ingin momotoran?” Bunda muncul dari pintu samping, “Kakak? No way!”


“Bun.. Kakak sudah gak apa-apa kok. Sudah sehat lagi. Bekas operasinya juga sudah nggak sakit lagi. Boleh ya... Bun..”


Bunda menoleh lalu mendengus.


Ayah yang sedang mengetik di laptopnya tertawa. Anton dan Adinda cekikikan di ruang tengah.


Agung mende$ah. Akhirnya ikut duduk di sofa.


“Sudah siap ujian hari ini?” menatap Adinda yang tengah menggulir layar gawainya.


“Insyaa Allah Om..”


“Pulang jam berapa nanti?”


“Jam 12.30.”


Agung menatap Anton yang tengah berbincang dengan Ayah tentang tanah yang di Garut.


“Din, mau berangkat jam berapa?” Agung melirik arlojinya.


“Bareng dengan Om saja. Dinda masuk 07.30.”


“Ciyeee yang kangen dengan saya, sampai segitunya...” Agung terkekeh sambil terus menggoda Adinda.


“Apaan sih Om Agung nih. Gaje. Gak jelas!”


“Ciyeee.”


“Biasa aja Dinda mah. Gak kangen-kangen amat...” Adinda menoleh memanggil Anton, “Kak Anton berangkat jam berapa?”


“Sebentar lagi. Kenapa?” Anton menghampiri Adinda.


“Dinda ikut Kakak saja ya. Nebeng ke sekolah.”


“Eh! Laaah.” Agung terlihat panik.


Anton menatap Agung dan Adinda bergantian.


“Kan biasanya Dinda bareng Om Agung?”


“Gak ah. Om Agung rese. Nyebelin. Mending Dinda nebeng ke Kak Anton saja. Kak Anton kan orangnya kalem. Gak pecicilan nyebelin,” Adinda melirik Agung dengan tatapan galak.


“Din.. ih kok jadi gini sih?” Agung menggaruk belakang kepalanya.


“Makanya jadi orang tuh jangan pecicilan, petakilan. Dulu aja ada adiknya, hampir tiap hari adiknya dibuat jengkel sampai nangis karena dikerjai terus. Sekarang gak ada Adek, Dinda jadi sasaran. Iya?” Bunda bertolak pinggang menatap Agung kesal, “Mau Bunda cubit puntir?”


Agung langsung beringsut menjauhi Bunda. Anton dan Adinda terkekeh.


“Ma’af, Ibu Ratu..” Agung menangkupkan tangannya, “Mohon ampun..”


“Yuk Kak, kita berangkat sekarang. Takut macet,” Adinda menghampiri Bunda untuk salim lalu ke Ayah, “Do’ain Dinda ya Bun, Yah. Supaya Dinda bisa mengerjakan ujiannya dengan lancar.”


“Aamiin...” jawab Ayah dan Bunda bersamaan.


“Eh, Din., tunggu dulu..” Anton mengejar Adinda.


Adinda yang tengah memakai sepatunya menatap Anton dengan pandangan bertanya.


“Kakak lupa.. Pagi ini Kakak gak bawa mobil. Tadi nebeng mobil Om Agung. Mobil Kakak masih di kantornya Bang Hans.”


“Yaaa Kak Anton gimana sih? Tadi kan Dinda udah jutekin Om Agung..”


Anton tertawa.


“Lanjutin aja jutekinnya di dalam mobil nanti..”


“Kalian merencanakan apa sih?” Agung menghampiri mereka diikuti Ayah dan Bunda.


Adinda melengos. Anton terkekeh geli.


“Bang, Lu gimana sih? Yang mau ujian kok dibikin bete. Apa gak ambyar nanti moodnya?”


“Gak tau tuh Om Agung. Gak peka banget.”


“Udah deh sana kalian berangkat. Nanti Dinda telat lagi. Pusing Bunda dengar kalian bertengkar melulu...”


Adinda menoleh pada Bunda. Lalu bergegas memeluk dan mencium pipinya.


“Dinda sayang Bunda. Please, jangan marah ke Dinda. Dinda gak ngajak Om Agung bertengkar. Dinda juga gak suka bertengkar. Dinda sayang Bunda..”


Anton menatap Agung dengan senyum jahat.


Bibirnya berucap tanpa suara, “Nah lo!”


.


***


Nah lo Babang Agung...


Bun, cubit puntir saja Babang Agungnya...


(Author sedang jadi kompor meleduk)