
Hans menatap semuanya sambil mengangkat bahunya.
“I don’t know about it_Gue gak tahu tentang itu_.”
Pak Dhani melambaikan kedua telapak tangannya.
“Tidak.. bukan hubungan asmara ataupun kekerabatan. Tapi hubungan sebagai sesama predator..” kalimat yang dilontarkan Pak Dhani membuat semuanya terkesiap.
“Bisa jelaskan lebih lanjut, Beh?” Hans duduk di kursinya.
“Dari August Bachmeier, teman numismatis saya, Helena itu penyuka sesama jenis tapi tidak tertarik dengan yang seumuran dengannya.”
“Penyuka daun muda?” tanya Indra.
“Ya.. bahkan menjelang akhir kuliahnya, ada peristiwa yang waktu itu membuat namanya terkait karena dialah orang yang terakhir terlihat bersama korban.”
“Korban? Artinya ada tindak kriminalitas di sana?” Leon menegakkan tubuhnya.
Pak Dhani mengangguk.
“Kata August, pada saat itu ada kasus ditemukannya mayat abege perempuan dengan bekas banyak siksaan di bagian tubuhnya. Mayatnya ditemukan di rawa-rawa dekat jalan pintas menuju sekolahan dari rumahnya.”
Adisti bergidik ngeri.
“Bagaimana Helena bisa lolos?” tanya Bramasta sambil menggenggam tangan istrinya.
“Helena beralibi, dia hanya menanyakan alamat. Kasus itu menjadi kasus yang tak terpecahkan hingga saat ini.”
“Tidak ada bukti keterlibatan Helena?” tanya Anton.
“Memangnya jaman itu belum ada CCTV?” tanya Adisti.
“CCTV jaman itu masih terbatas penggunaannya juga resolusinya masih buruk,” Anton menjelaskan pada Adisti.
“Dan saya yakin, untuk efisiensi dan penghematan, mereka mendaur ulang tape filmnya. Tumpang tindih rekaman dalam satu tape film,” Pak Dhani menjelaskan lebih jauh.
“Darimana Babeh berkesimpulan Helena dan Bryan adalah rekan predator?” Bramasta mengernyitkan keningnya.
“Lothar Schuemacher, pernah bekerja sebagai pramusaji di sebuah nightclub dewasa pada saat liburan musim panas sewaktu dia masih menjadi mahasiswa. Helena dan Bryan tidak mengenalinya sebagai teman sekampusnya karena Lothar bukanlah mahasiswa yang populer.”
“Bryan itu...” Hans mengerutkan kening.
“Dia dua tahun dibawah Helena. Masih satu kampus dan jurusan yang sama,” Pak Dhani langsung menjelaskan, “Sedangkan Lothar seangkatan dengan Bryan.”
“Apa yang terjadi di nightclub itu?” Leon bertanya.
“Mereka berdua menyewa VIP room. Di sana mereka bisa mendapatkan live show pesanan ataupun pelayanan plus-plus. Termasuk juga para PSK belia. Singkat cerita, saat Lothar masuk mengantarkan minuman dan makanan pesanan mereka, dia melihat Helena sedang menyiksa PSK belia sedangkan Bryan sedang having fun secara brutal dengan PSK belia lainnya.”
“Na’udzubillahi mindzaaliik,” mereka berseru secara bersamaan.
“Untungnya, malam itu, Lothar karena khawatir dengan keselamatan jiwa para gadis belia itu, dia menyelinap ke ruang control CCTV yang ada dan mencuri rekaman CCTV di ruangan tersebut.”
“Ada CCTV di setiap ruangannya?” Anton mengangkat alisnya.
‘’CCTV tersembunyi. Bisnis sampingan nighclub, menjual rekaman yang terjadi di ruang-ruang sewanya terhadap peminat dengan harga yang tinggi. Biasanya untuk menjegal lawan politik ataupun menekan rekan bisnis. Permainan-permainan kotor semacam itu.”
“Lothar masih menyimpannya?” tanya Agung.
Pak Dhani menggeleng sambil tersenyum.
Suara kecewa berdengung di ruangan dengan pendaran lampu berwarna biru laut Kaspia itu.
“Rekaman itu sudah tidak ada pada Lothar Schumacher lagi, karena siang tadi dia sudah mengirimkannya kemari. Insyaa Allah besok rekamannya tiba...” Pak Dhani tersenyum lebar.
Hening saat Pak Dhani usai berbicara. Kemudian semuanya berseru hamdalah sambil bertepuk tangan dan tertawa.
“Babeh keren!” seru Anton.
“Beh, bagaimana Lothar bisa mempercayai rekaman itu kepada Babeh?” tanya Agung dengan tidak sabar. Semuanya mengangguk, menunggu jawaban dari Pak Dhani yang tengah meneguk lemon tea hangatnya.
“Babeh cerita tentang Adinda apa adanya. Juga tentang korban Bryan yang di Filipina itu. Juga tentang kamu, Gung. Akhirnya Lothar memutuskan untuk memberikan rekaman itu kepada Babeh. Kata Lothar, Prince Zuko jelas-jelas mengamati Agung, dan dia yakin rekamannya itu akan disampaikan kepada Prince Zuko.”
“Kok Disti jadi mengkhawatirkan keselamatan Kakak ya?” Adisti menatap cemas pada Agung.
Semua meng-aamiin-kan ucapan Agung.
Anton tampak berpikir.
“Agung jadi seperti Peter Parker dengan Spiderman,” jemarinya mengetuk-ngetuk handle kursinya dengan perlahan.
“Maksudnya?” tanya Bramasta.
“Menjadi penghubung alias perantara,” Anton menjelaskan.
“It’s too late to change his image_Sudah terlambat untuk mengubah imejnya_.”
“Gak perlu diubah. Akan aneh bila tiba-tiba Prince Zuko membicarakan Agung tanpa ada hal khusus yang harus dibahas tentang dia. Yang jelas, Agung akan lebih dijaga kita,” Indra menatap Agung.
“Bro, gue gak mau dikawal kemana-mana..” Agung balas menatap Indra.
“It’s for your good, Gung_Demi kebaikan kamu, Gung_.” Leon berkata dengan serius pada Agung.
Agung menatap Hans dan Bramasta.
“OK, gue minta HP Lu, Gung,” Hans akhirnya berkata setelah terdiam, “Bebaskan kuncinya.”
“Hah?” Agung terperangah lalu mengangguk.
Hans menyodorkan tangannya meminta HP milik Agung. Agung menyerahkan HPnya pada Hans. Hans lalu menekan tombol interkom dari mejanya, memanggil salah satu anggota Shadow Team untuk masuk.
Tidak berapa lama, seorang pria bertubuh tegap masuk ke dalam ruangan. Mengangguk kepada yang lainnya lalu berjalan ke arah Hans. Berdiri tegak siap menerima perintah dari Hans.
“Pasang pelacak pada HP ini, juga akses darurat SOS. Itu saja.” Hans menyerahkan HP Agung.
“Siap, Tuan,” Pria itu menerima HP Agung lalu berlalu dari ruang rapat.
“Berapa lama?” tanya Agung.
“15 – 20 menitan.”
“Sama dengan pelacak pada HP Babeh, Hans?” tanya Pak Dhani.
Hans terkekeh sambil mengangguk.
“Pengamanan standar untuk para petinggi Sanjaya dan B Group.”
“Wah.. Kakak jadi VVIP sekarang..” Adisti terkekeh.
“Disti juga VVIP kok. HP Disti sudah Abang pasang pelacak juga..”
“Kok Abang gak cerita?”
“Sengaja biar Disti merasa nyaman saja..”
“Fitur SOS yang kata Abang itu berarti untuk melacak?” mata Adisti melebar.
Bramasta mengangguk.
“Langsung terhubung dengan markas Shadow Team. Dan orang-orang Shadow Team akan langsung bergerak ke lokasi Disti untuk pengamanan.”
“Tapi kalau pelacak pada HP, gue rasa masih terlalu riskan. HP mudah direbut dan disita penjahat,” Anton berpikir serius sekali.
“Indeed. Any idea_Memang. Ada ide_?” Indra menatap Anton.
“Gue sudah tahu tentang alat pelacaknya Shadow Team. That’s why_Itulah kenapa_, Gue bisa bicara alat tersebut masih ada kelemahannya. Oleh karena itu 2 hari yang lalu gue pesan 2 jenis alat pelacak yang berbeda. Yang satu, berdaya baterai yang energinya didapat dari kinetis, bisa kita taruh di arloji. Satu lagi, berdaya baterai yang sumber energinya dari bio thermal, panas tubuh si pengguna itu sendiri. Untuk yang satu itu bisa kita pasangkan di ikat pinggang ataupun perhiasan wanita,” Anton mengeluarkan tabletnya. Mengetik sesuatu dengan cepat kemudian menghadapkan layar tabletnya pada semua orang, "Barangnya sedang OTW juga. Insyaa Allah malam ini sampai."
Semua saling berpandangan. Lalu menatap Anton dengan penuh rasa ingin tahu.
.
***
Si Jenius berwajah Taehyung alias V BTS ini memang rajin banget mengulik gadget-gadget berguna.