
SANJAYA GROUP
DIVISI ACCOUNTING
Agung memasuki ruangannya setelah makan sholat dhuhur di mushola gedung. Tadi beberapa chief section yang menjadi bawahannya mengajak untuk makan siang bersama di kafetaria.
Suasananya penuh keakraban saat makan siang tadi. Tidak ada sekat antara atasan dan bawahan saat di luar jam kantor.
Mendekati meja kerjanya, keningnya berkerut melihat ada sesuatu di atas mejanya. Bungkusan berbentuk kantong kertas berwarna krem dan hijau sage dihiasi pita berwarna hijau sage berbahan satin mengilap terlihat manis.
Penasaran, ia membaca kartu kecil yang diselipkan di lipatan atas bungkusan imut itu.
“Selamat menikmati. Kalau suka nanti dibawain lagi..”
Agung mengangkat sebelah alisnya saat mencari nama pengirim. Saat kartu itu di balik, tertulis “Calon Ma’mum” dengan tinta warna pink. Agung tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya.
Penasaran dengan isinya, Agung membuka kertas pembungkus dengan hati-hati agar tidak merusaknya. Terlalu sayang jika harus merusak sesuatu yang cantik dan imut seperti itu.
Keningnya berkerut saat melihat mencium aroma yang sangat dikenalinya. Aroma jaman dulu.. jaman masih berseragam sekolah.
Saat melongok ke dalam kantong kertas, dia langsung tertawa keras.
“Masyaa Allah... Calon ma’mum Aa..”
Sebuah wajah melongok ke dalam ruangan Agung.
“Assalamu’alaikum. Lu kenapa Gung? Tertawa keras banget sampai kedengeran dari luar?” Hans masuk melangkah menghampiri Agung.
“Wa’alaikumussalam..” Agung yang terkejut melihat Hans.
“Apaan tuh?” mata Hans tertuju pada kantong kertas cantik di atas meja.
Belum sempat Agung menjawab, Hans mengambil kantong kertas di hadapannya.
“Wuihh! Legend nih. Jajanan masa kecil gue. Bagi, Gung!” tangan Hans meraih tusukan bambu yang ada di tangan Agung.
“Cilok bumbu kacang!” Hans melahap satu bulatan cilok, lalu memejamkan matanya, “Hmmmm, rasanya... orisinal banget. Mantap Gung!”
“Bang, punya gue itu..”
“Jangan pelit. Orang pelit kuburnya sempit!” Hans mengambil satu lagi dan langsung melahapnya lagi.
“Laaah! Dimakan lagi!” Agung tampak tak berdaya menghadapi serangan Hans.
“Enak banget! Suer Gung! Beli dimana?” Hans sudah mengarahkan tusukan bambunya lagi ke arah bulatan aci berlumur saus kacang yang digiling kasar.
Agung mengambil tindakan langsung. Menutup kantong kertas dan menjauhkannya dari jangkauan Hans.
“Isssh siniin, Gung!”
“Ogah!”
“Gung, buruan! Udah tanggung pedes nih!”
“Kalau pedes ya minum, Bang. Bukannya malah nambah lagi..”
‘Buruan ah!”
“Nggak! Ini punya gue. Gue dapat kiriman.”
“Bagi lah!”
“Kan tadi udah nyomot dua!”
“Kurang, Gung!”
“Kalian berdua sedang apa?” suara Tuan Alwin terdengar dari ambang pintu yang terbuka lebar.
“Assalamu’alaikum..” Tuan Alwin memasuki ruangan Agung, langsung mendekati keduanya.
Hans dengan segera mengambil tisu yang ada di belakang meja Agung. Mengelap bibirnya. Dia masih kepedesan.
“Kamu kenapa, Hans? Kok mirip ikan Koi yang diangkat dari kolam?” Tuan Alwin menatap Hans dan Agung bergantian, “Itu apa? Jadi kalian berdua rebutan ini. Kemarikan, Gung!”
Agung meletakkan di atas mejanya lalu menyorongkannya dengan perlahan ke dekat Tuan Alwin.
“Apaan tuh?” tangannya dengan sigap membuka kantong kertas, “Wuihh! Apaan tuh?!”
Mata Tuan Alwin terarah pada tangan Hans yang memegang tusukan bambu.
“Hans?” telapak tangannya terbuka mengarah pada Hans.
“I..iya Tuan!” Hans menyerahkan tusukan bambunya dengan setengah hati.
“Kalian berdua jangan bilang-bilang ke istri saya ya kalau saya makan ini..” Tuan Alwin menusukkan tusukan bambunya, cilok berlumur saus kacang keluar dari kantong kertas yang kini kondisinya sudah lecek.
Cilok tampak mengkilap tertimpa cahaya lampu ruangan Agung. Aromanya saus kacang dan tetelan otot sapi menguar memenuhi ruangan. Agung menelan ludah.
Dengan dua gigitan, cilok pada tusukan bambu itu dihabiskan oleh Tuan Alwin. Matanya melebar.
“Gung! Luar biasa! Jadul banget ini rasanya!”
“Tuh kan.. tadi saya juga bilang begitu..” Hans menimpali.
“Tau ah! Nyicipin aja belum!” Agung meraup wajahnya.
“Lah? Gimana sih? Masa pemiliknya belum nyicipin?” Tuan Alwin menusukkan tusukan ke cilok lagi.
Menatap Agung dengan tangan memegang tusukan yang ada ciloknya.
“Beli dimana? Enak nih rasanya. Jadi berasa kembali ke jaman dulu..”
“Gak tahu itu beli dimana..” Agung menatap Tuan Alwin dengan tatapan tak berdaya.
“Loh? Jadi siapa yang beli? Kamu, Hans?”
Tuan Alwin memandang Hans yang masih kepedesan.
“Bukan, Tuan..” Hans memberikan selembar tisu kepada Tuan Alwin saat melihat ada saus kacang di bibir atasnya, “Itu dari Adinda..”
“Ooh dari Adinda...” Tuan Alwin memandang kantong kertas lagi. Tangannya siap menusuk cilok lagi di dalamnya.
“Enak sih, pedasnya oke juga..” Tuan Alwin menggigit cilok dengan penuh perasaan.
“Begitu ya?” Agung memandang Hans yang menatap penuh harap pada kantong kertas putih dan sage yang semakin lecek.
“Eh, sorry Gung. Saking enaknya saya sampai lupa kalau ini cilok cinta..” Tuan Alwin terkekeh.
Hans yang dipandang hanya mengangkat bahunya. Pandangannya tertuju lagi pada kantong kertas di atas meja.
“Iya.. Cilok cinta. Kan kiriman dari yang tercinta...” Tuan Alwin meletakkan tusukan bambu di atas meja yang langsung disambar oleh Hans.
“Tuan Alwin mencari Hans tadi?” sengaja Agung bertanya agar keduanya segera berlalu dari ruangannya. Ia menatap cemas pada kantong kertas di atas mejanya.
“Oh iya.. Meetingnya diundur, Hans..” Tuan Alwin duduk di sofa. Mengambil sebotol air mineral yang memang sudah tersedia di atas meja kaca.
“Alhamdulillah...” Hans mengucap hamdalah sambil menusuk cilok, “Sorry, Gung. Soalnya gue masih penasaran.”
“Tega ih!” seru Agung saat melihat ke dalam kantong kertas, hanya tersisa satu buah cilok.
“Yang ikhlas... Orang hidup itu harus berbagi. Berbagi itu yang ikhlas...” bisik Hans, “Gue baik masih sisain satu buat Lu!”
“Issssh!”
“Kenapa kamu bilang alhamdulillah, Hans?”
“Eh? Iya Tuan Al. Alhamdulillah diundur jadi kita tidak menemui klien dalam keadaan kepedesan seperti ini, Tuan..”
Tuan Alwin terkekeh.
“Betul juga kamu, Hans..”
Hans ikut terkekeh. Duduk di samping Tuan Alwin sambil meminum air mineral.
Agung mengunyah ciloknya sambil memandang kedua orang yang duduk di sofa.
“Gung, bilangin ke Dinda ya, beliin lagi. Yang banyak..” Tuan Alwin terkekeh lagi. Dia berdiri.
“Thanks ya Gung untuk ciloknya. Yuk Hans, kita siapkan materi meeting nanti,” Tuan Alwin menepuk lutut Hans.
Hans mengangguk. Lalu menatap Agung sambil tersenyum lebar.
“Gung, thanks a lot. Nanti gue hubungi Adinda buat beliin lagi yang banyak..”
“Gak usah Bang. Nanti kalau gue hajatan, gue borong segerobak deh biar kita semua puas makannya..” Agung mencebik.
Hans hanya terkekeh sambil menutup pintu.
Di kepala Agung, pertanyaan besar di benaknya: bagaimana rupa Hans, wajah seperempat Italia dengan penampilan selalu dingin dan datar tapi mulutnya megap-megap kepedasan.
Menatap kantong kertas cilok yang sudah tidak karuan bentuknya, dia mengambil gawainya. Membuat panggilan video kepada Adinda.
Mengerutkan kening saat layar Adinda mengelap.
“Assalamu’alaikum, Dinda.. Kok gelap sih? Kamu ada dimana sekarang?”
“Wa’alaikumussalam,” suara Adinda terdengar jelas sementara layarnya masih gelap, “Sengaja ditutup kameranya, Om.”
“Kenapa?”
“Saya sedang di salon and spa. Tadi diculik Mommy saat di ruangannya Teh Disti.”
“Kamu tadi ke B Group? Ngapain?”
“Fitting baju..”
“Wow.. Kok seperti mau hajatan gede ya..” Agung menyalakan laptopnya, “Kamu sedang ngapain sekarang?”
“Sedang dilulur..”
“What??! Berarti sekarang kamu gak pake baju?” Agung cengengesan, "Pantesan digelapin."
“Isssh apaan sih Om ini..”
“Kenapa pakai luluran segala sih? Kan cuma khitbah doang. Paling cuma tangan saja yang jadi fokus kita. Tapi yang menyematkan cincin juga bukan saya, paling Bunda. Kayaknya percuma saja deh kalau kamu luluran segala..”
“Tau ah, saya disuruh Mommy buat perawatan menyeluruh, y nurut sayanya. Bagi cewek, dipijat seluruh badan kemudian dilulur, terus berendam dalam bathtub berisi kelopak bunga, lalu perawatan rambut, wajah, kuku tangan dan kaki... siapa yang bisa menolaknya?” Adinda terkekeh, “Apalagi saya kan baru saja selesai ujian, Om. Berbulan-bulan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir, akhirnya selesai juga. Lega Om...lega. Butuh melepas rasa penat juga..”
“Kamu suka?”
“Ya iyalah..”
“Hmmm, noted_dicatat_.”
“Apaan?”
“Kalau kamu suka dengan perawatan lengkap di spa. Setidaknya saya harus rajin bekerja supaya bisa selalu menyenangkan kamu bila nanti sudah menjadi ma’mum saya..”
“Issh apaan sih Om ini..”
“Eh iya Dinda.. Terimakasih buat kiriman cantik kamu di atas meja Om ya.”
“Haaa? Jadi diletakkan di atas mejanya Om?” Adinda cekikikan.
“Loh, memangnya bukan kamu yang meletakkannya?”
“Bukan. Saya meminta tolong Pak Salim untuk disampaikan ke ruangannya Om lewat mbak-mbak resepsionis yang ada di lobby. Saya gak turun dari mobil karena takut ketemu Om.”
“ Memangnya kenapa kalau ketemu saya?”
“Gak dibolehin, dipingit, katanya.”
“Laah cuma khitbah saja pakai pingit-pingitan segala. Mana ada itu...” Agung terdengar kesal.
“Tau ah.. Terus enak gak ciloknya?"
"Enak banget. Sayangnya... saya cuma kebagian satu. Daddy dan Bang Hans masing-masing makan tiga.”
“Kasihaaaaaaan.”
.
***
Dipingit dulu Dindanya, Gung..
Biar surprise!
Sabaaaaaar Gung... Sabaaaaaar
🤓😂