
Bramasta memegang erat kemudi mobil. Menahan amarahnya, mencegah tangannya untuk menghajar wajah Prasetyo. Dia melirik ke arah Adisti yang tengah menatap Prasetyo dengan wajah terperangah. Hati Bramasta mencelos. Ada kekhawatiran bila Adisti mempercayai kata-kata Prasetyo.
“Dis, dia memang kaya. Lebih kaya daripada aku. Tapi aku laki-laki normal, Dis. Aku sanggup membahagiakanmu,” Prasetyo menatap Adisti tapi kemudian menunjuk pada Bramasta, “Tidak mengapa kalau kamu sudah tidur dengan dia. Aku paham, Dis. Tidak ada yang menolak pesona Bramasta yang dikelilingi harta, kekuasaan dan uang. Aku sangat paham, Dis. Aku akan menerimamu kembali walau kamu sudah tidak suci lagi. Kita bisa bersama lagi seperti dahulu dengan melupakan masa lalu.”
CUKUP SUDAH. Bramasta membuka pintu mobilnya dengan kasar. Prasetyo yang tengah membungkuk di dekatnya terdorong nyaris terjengkang. Bramasta meraih kerah baju Prasetyo. Ditariknya Prasetyo lalu dibenturkannya pada pintu mobil. Matanya menatap lekat Prasetyo yang ketakutan.
“Sudah saya bilang kan, Adisti dalam tanggung jawab saya. Jauhi Adisti dan keluarganya. Tapi kamu rupanya terlalu bebal untuk mengerti. Kamu boleh menghina saya. Saya tidak akan menghajar kamu. Tapi saat kamu menghina wanita saya, calon istri saya, maka saya tidak akan menahan diri lagi!” tinju Bramasta melesat ke arah perut Prasetyo. DEB. Terdengar bunyi pukulan dan erangan tertahan.
Bramasta melepas cekalannya. Tubuh Prasetyo merosot sambil memegangi perutnya. Dia terbatuk-batuk. Merasakan mulas dan sakit yang luar biasa. Bramasta menunjuk kepada Prasetyo, ”Kamu tidak tahu apa-apa tentang kehidupan saya. Tidak usah mengumbar gosip murahan. Tidak ada kebenaran pada gosip impor yang kamu bawa, Pras.”
Didengakkannya wajah Prasetyo menghadap ke arahnya, “Pras, demi kebaikanmu. Berubahlah. Berubahlah menjadi Prasetyo yang dulu lagi. Jauhi pergaulanmu yang liar. Hentikan keluar masuk night club setiap malam. Jadilah Prasetyo yang dulu Adisti kenal. Carilah wanita baik-baik untuk kau nikahi bukan untuk kau tiduri.”
Prasetyo tersentak kaget.
“Kamu pikir saya tidak tahu sepak terjangmu?” kata Bramasta, “Bahkan sebelum pertunangan kalian dibatalkan, petualangan cinta satu malammu sudah aku ketahui. Next time_lain kali_, jangan lakukan hal haram di jaringan hotel B Group ataupun Sanjaya Group ya! Don’t be so moron like an idiot!_Jangan jadi terlalu dungu seperti seorang idiot!_”
Adisti yang sudah berada di belakang Bramasta terkesiap kaget. Menatap Prasetyo tak percaya. Prasetyo menundukkan wajahnya dalam-dalam.
“Dis,” Prasetyo menatap Adisti, “Dis, maafkan aku. Sungguh, maafkan aku. Aku hanya cinta sama kamu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Dis…”
Bramasta menatap jengah pada Prasetyo. Tangannya bertolak pinggang. Adisti menarik lengannya.
“Sudah Bang. Sudah..” Adisti menatap Bramasta dengan mata berkaca-kaca, “Sudah. Cukup. Jangan ladeni pecundang seperti dia.”
Bramasta mengantarkan Adisti ke tempat duduknya. Membukakan pintu dan memasangkan seatbeltnya.
“Kunci pintunya,” gumam Bramasta. Adisti mengangguk.
Bramasta menyalakan mesin mobilnya. Keluar dari pelataran parkir yang menyesakkan itu. Hanya ada kesunyian di dalam mobil.
Bramasta melirik ke arah Adisti. Wajah Adisti dipalingkan menghadap jendela. Tapi Bramasta tahu, Adisti sedang menangis dalam diam.
Ada taman di ujung belokan. Bramasta mengarahkan kemudinya masuk pelataran parkir taman.
“Disti..” Bramasta menyentuh lengan Adisti, “Disti hadap sini. Kita bicara di sini ya.”
Bramasta menyodorkan tisu. Adisti menoleh, Menerima tisu pemberian Bramasta.
“Tentang omongan Prasetyo tadi, gosip yang beredar di Singapura…”
Adisti menggeleng, “Mommy sudah cerita ke Disti, Bang. Disti percaya Mommy. Disti juga percaya Abang.”
“Alhamdulillah..”
“Tapi mendengar fitnah yang dilontarkan Tiyo pada Abang dan Adisti rasanya membuat darah mendidih. Mendengar perkataan Abang pada Tiyo, kok rasanya menyakitkan ya walaupun sudah melepaskan hubungan dengan dia, tapi mengetahui apa yang dia lakukan di belakang Disti, rasanya sangat menyakitkan, menyesakkan..” tangis Adisti pecah.
“Bersyukurlah Disti tidak jadi menikah dengannya. Dia tidak mencintai Disti. Dia hanya terobsesi dengan Disti. Ssssssh… sudah jangan menangis.”
Adisiti memegangi dadanya menahan rasa sesak. Isakannya terdengar lirih.
“Disti, ssssh jangan menangis ya. Abang jadi gak bisa ngapa-ngapain kalau Disti nangis.”
“Biarin dulu Disti nangis, Bang. Biar puas dulu nangisnya. Ini air mata terakhir yang Disti keluarin buat Tiyo.”
“Tapi Abang gak bisa meluk buat menghibur Disti loh,” Bramasta menatap tangannya yang ada pada kemudi.
Adisti menoleh pada Bramasta, “Belum boleh, Abang.. Disti juga gak minta dipeluk-peluk begitu. Disti gak secengeng itu. Disti gak selemah itu. Disti gak selebay itu..”
“Iya..iya.. Disti is a strong girl_Disti adalah seorang gadis yang kuat_. Kan biasanya kalau di film-film, di novel-novel, cewek yang nangis itu harus dipeluk untuk meredakan tangisnya, untuk menghilangkan sedihnya, menghibur hatinya..”
“Jangan samakan Disti dengan tokoh-tokoh khayalan, Bang.”
“Iya.. maaf deh..”
“Aduh.. tadi nangisnya udah sampai mana?” Adisti kebingungan, “Tuh, Abang sih. Disti jadi lupa tadi nangisnya sampai mana..”
“Laaah??”
“Kan, sekarang jadi bingung mau ngelanjutin lagi nangisnya..”
“Ya udah atuh udahin aja nangisnya. Udah lupa lagi kan?” Bramasta terkekeh, “Kita udah terlambat nih.”
Bramasta menunjuk arlojinya.
“Bang, ada air mineral gak?”
Bramasta membuka kotak bagasi tengah di antara kursi mereka. Mengambil botol mineral masih utuh segelnya. Meminum setengahnya. “Habis nangis haus, Bang.”
Bramasta tergelak. “Disti, Abang makin sayang deh.”
Adisti menoleh, “Sejak kapan Abang sayang dengan Disti?”
Bramasta tersenyum malu, “Sejak pertama kali menatap mata Adisti, di atas dahan, di tengah jurang.”
Adisti tersipu malu. Wajahnya merona.
Bramasta menatap sekitarnya. Lalu menunjuk ke samping kanannya.
“Ada masjid di sana. Kita Dhuhur dulu yuk. Bawa mukena kan?”
Adisti mengangguk.
Bramasta sudah mengabari pihak butik bahwa mereka akan terlambat sekiar 30 menit. Mereka sudah kembali dari masjid usai sholat. Adisti sudah memperbaiki riasan wajahnya. Wajahnya terlihat lebih segar daripada tadi sebelum sholat Dhuhur.
Pintu dan jendela yang tinggi, pilar tinggi dengan motif garis vertikal, bagian atasnya ada ornamen daun pakis yang mengelilingi pilarnya. Pintu kaca berbingkai kayu tebal dengan gagang vertikal dibuka oleh Bramasta. Dia menahan pintunya untuk Adisti.
“Bang,” Adisti berbisik, “Tetap manis seperti ini ya selamanya.”
Bramasta terkekeh pelan, “Insyaa Allah.”
Gadis penerima tamu yang mengenakan seragam butik menyambut mereka lalu mengantarkannya ke ruang berlantai marmer putih. Seorang wanita berkerudung krem berwajah Arab nan cantik berada di balik meja besar. Senyumnya ramah. Umurnya seusia Mommy dan Bunda.
“Assalamu’alaikum, selamat datang di Sultan Butik. Hai Bramasta dan ini Adisti ya? Nyonya Alwin sudah mengabari saya sebelumya.”
“Wa’alaikumussalam, terima kasih banyak, Umi Khalid,” kata Bramasta, “Khalid masih di Dubai ya. Sudah lama tidak bertemu. Terakhir chat dengannya minggu yang lalu.”
“Iya, Bram. Tapi katanya nanti saat hari H, dia akan pulang. Khususon menghadiri acara kalian.”
“Alhamdulillah. Senang rasanya di hari yang penting dalam hidup kita, dihadiri oleh teman masa kecil.”
“Umi kenal baik dengan Bramasta sejak dia kecil,” Kata Umi Khalid kepada Adisti, “Jangan khawatir, Bramasta lelaki yang baik, sholeh dan bertanggung jawab.”
Adisti mengangguk dan tersenyum.
“Adisti nanti pas Hari H masih memakai gendongan tangan?”
“Sebenarnya bisa sih dilepas, tapi gak bisa lama-lama Umi. Pegel banget. Lagipula khawatir sendinya bergeser lagi,” kata Adisti.
Umi Khalid mengengguk, “OK, gak apa-apa. Nanti Umi buatin gendongan tangan yang cantik dan keren ya sesuai dengan gaunnya.”
“Umi, bagian bahu dan punggung Adisti masih ada luka jahitan. Nanti bajunya dibuat nyaman di bahu dan punggungnya ya,” kata Bramasta kepada Umi. Hati Adisti menghangat dengan perhatian Bramasta padanya.
“Yang sebelah mana?” tanya Umi Khalid.
“Yang kiri, Umi,” jawab Adisti. Umi Khalid mengangguk lalu menulis di buku catatannya, “Kita ukur dulu ya.”
Umi Khalid memanggil seorang asisten pria untuk mengukur tubuh Bramasta. Sedangkan Adisti ditangani oleh asisten perempuan.
“Konsepnya seperti yang diceritakan Nyonya Alwin, Bram?”
“Iya Umi..”
“Kata Nyonya Alwin, konsep dan gaunnya nanti jadi surprisenya Adisti ya? Terus nanti bagaimana saat fittingnya?”
“Gampang, Umi.. tutupin aja matanya begitu masuk ruangan,” kata Bramasta. Umi Khalid terkekeh.
Adisti memandang Bramasta, “Apa Bang?”
“Ada deh..” Bramasta mengedipkan matanya pada Adisti.
Mereka tidak lama berada di butik. Bramasta memeriksa gawainya. Beberapa pesan chat masuk dan juga email.
“Disti, Abang harus mampir ke tempat teman Abang dulu ya. Gak lama kok. 2 blok dari sini.”
Adisti mengangguk.
Bramasta memarkirkan mobilnya di dekat sebuah toko meubel besar. Teman Bramasta yang akan ditemuinya ada di sebuah pusat layan dokumen yang terletak di sebelah toko meubel itu.
“Teman Abang ada di sana, kelihatan kan tempatnya?”
Disti mengangguk.
“Abang cuma sebentar. Disti tunggu di sini aja ya? AC mobil Abang nyalakan ya?”
“Gak usah Bang. Jendelanya Disti buka aja.”
“Are you sure_Kamu yakin_?” tanya Bramasta, “Panas loh di luar.”
“Gak apa-apa. Pengen kena angin menjelang sore.”
Bramasta terkekeh, “Abang pergi dulu ya.. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Tiati Bang..”
Adisti sudah menunggu 5 menit. Dari semenjak dia datang, matanya sudah terpaku pada penjual minuman boba di depan toko. Haus dan panas, akhirnya ia keluar dari mobil untuk ikut dalam antrian pembeli. Hanya ada 2 orang pembeli.
Adisti keluar dari mobilnya, ikut mengantri. Dia tersenyum dan mengangguk pada gadis penjual minuman dan bapak-bapak yang ikut mengantri. Thai tea boba menjadi pilihan Adisti siang itu. Adisti berdiri di depan mobil. Tubuhnya menghadap mobil sambil mengamati lalu lintas di hari menjelang sore. Angin semilir membuat ujung pashminanya berkibar.
Ketika tiba-tiba kerudungnya terasa ada yang menarik dari arah belakang. Ditarik dengan sekuat tenaga. Adisti berusaha mempertahankan kerudungnya. Suara wanita di belakangnya berteriak penuh kebencian padanya, “Akhirnya gue ketemu juga dengan lu! Perempuan miskin tidak tahu diri!! Kenapa lu belagu sekali membatalkan perkawinan kalian??! Brengs*k lu!”
Kerudungnya semakin ditarik ke belakang. Leher belakang Adisti terasa kebas. Rasanya sakit sekali.
“Gara-gara lu, Nyonya Hilman tidak mau membayar seperserpun baju-baju yang sudah dia pesan! Gara-gara lu, gue rugi puluhan juta!!” wanita itu menyentak kuat kerudung Adisti.
“Gara-gara lu, gue kehilangan pelanggan-pelanggan sosialita gue karena ocehan Nyonya Hilman!” tangannya menggapai kepala Adisti, disentak ke belakang. Adisti menjerit. Dia bisa merasakan ujung jarum pentul mengoyak kulit kepalanya.
Gadis penjual boba berteriak-teriak meminta tolong. Ada beberapa orang di kejauhan tapi mereka tidak bergerak menolong, malah menonton dan sibuk mengarahkan handphone mereka.
“Bu..bu, sudah..itu kasihan tetehnya..” gadis penjual boba berusaha menarik-narik tangan wanita yang menarik kerudung Adisti. Gadis penjual boba ditepisnya hingga terjatuh.
Adisti bertahan. Mengumpulkan tenaganya di tengah kesakitannya. Tangan kanannya dengan cepat melepaskan gendongan tangannya. Menahan sentakan dari wanita yang menarik kerudung dan kepalanya. Dia merundukkan tubuhnya. Melontarkan tubuh sambil memutar tubuhnya dengan kuda-kuda yang mantap, kakinya diarahkan ke arah wanita itu.
Saat dia memutar tubuhnya, dia bisa melihat Bramasta yang tengah berlari ke arahnya. Kakinya menyentuh dengan keras wanita itu. Tepat di dadanya. DUG. Adisti melihat wajah wanita itu yang tengah terhuyung dengan jelas dalam posisi kuda-kudanya yang sempurna. Wanita itu berwajah Medusa.