CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 168 – LOUNGE LOBBY HOTEL X



Bramasta memutar voice note yang dikirim Indra dari Anton. Tidak terdengar bunyi percakapan. Seperti voice note yang tidak sengaja dibuat lalu terkirim.


Voice note masih berputar, kemudian terdengar suara perabot bergeser. Suara teriakan orang-orang. Kaca pecah. Suara letusan senjata api. Jerit panik orang-orang. Voice note berakhir.


Bramasta dan Agung saling bertukar pandang dengan tegang. Layar TV masih menayangkan iklan komersil.


Agung menghubungi sebuah nomor.


“Assalamu’alaikum.” Jeda.


“Ya saya Agung. Bapak dimana sekarang?” Jeda.


“Kondisi Tuan Hans dan Pak Anton bagaimana?” Jeda.


“Kondisi anak perempuan pengganti korban?” Jeda.


“Sama sekali?” Jeda.


“Baik. Segera hubungi saya setelah semua jelas. Assalamu’alaikum.”


Agung mengakhiri panggilannya.


Sementara Bramasta juga baru saja mengakhiri panggilan dari Daddy.


“Siapa?” tanya Bramasta.


“Personel The Shadow yang ada di TKP. Bang Hans dan Anton belum bisa didekati. Suasana belum kondusif. Bang Hans disandera oleh asisten Bryan.”


“What??!” Bramasta tampak marah.


Layar TV menampilkan pembawa berita dari studio TV.



“Breaking News. Pemirsa, baru saja terjadi kericuhan di lounge hotel X yang berada di Jalan XXX, Bandung, yang berakhir dengan penyanderaan terhadap pengunjung lainnya.”


“Pelaku adalah dua orang lelaki, salah satunya berkewarganegaraan asing. Sementara korban dikenal sebagai sekretaris dari Tuan Alwin Sanjaya dari Sanjaya Group, yaitu Tuan Hans Alvaro Fernandez. Saat ini, korban masih disandera oleh kedua orang tersebut.”


Sebuah rekaman CCTV lounge pada lobby hotel muncul.



Diawali dengan datangnya seorang pria asing dengan pria lokal menuju meja yang sudah ada sepasang laki-laki dan perempuan dan seorang remaja berkerudung duduk di sana. Mereka tampak berbincang canggung.


Hans duduk di meja dekat dinding, di belakang meja mereka. Tak lama kemudian, datang Anton langsung menuju meja yang ditempati Hans. Mereka saling berjabat tangan selayaknya pertemuan untuk membicarakan urusan pekerjaan.


Anton dan Hans sempat bertukar tempat duduk. Hans membelakangi meja di depannya. Sementara Anton menghadap ke arah meja di depannya.


Mereka masih berbincang. Anton membuka laptopnya. Hans menunjukkan berkas pada Anton.


Di meja depan, tampak si Bule marah. Menunjuk wajah si lelaki di depannya. Si perempuan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya, memohon.


Mereka bertengkar. Pria yang bersama bule tampak mencecar mereka. Ikut menunjuk wajah si lelaki di hadapannya.


Hans membalikkan tubuhnya untuk melihat keributan di meja belakangnya. Dua orang pramusaji mendekati mereka menyajikan minuman.


Pramusaji berlalu, si Bule menyiramkan minumannya ke wajah pria yang ada di depannya.


Dua orang sekuriti hotel berlari mendekati meja mereka. Pria yang datang bersama bule mendorong mereka. Seorang sekuriti jatuh terjengkang. Beberapa kursi terguling.


Si Bule mengeluarkan pistol dari balik jasnya. Hans yang berdiri hendak beralih tempat tiba-tiba dipiting dari belakang oleh pria yang datang bersama bule.


Pistol menyalak, peluru mengenai dinding dekat Anton berdiri. Pengunjung lounge yang berhubungan dengan restauran hotel panik, berhamburan ke arah lobby. Pistol diarahkan ke kepala Hans.


“Hingga saat ini, Tuan Hans, Sekretaris Sanjaya Group masih disandera untuk keributan yang belum diketahui penyebabnya,” penyiar wanita membaca teks berita dari tele prompter.


“Turn off the TV,” bisik Adisti cukup keras untuk di dengar mereka berempat.


Bunda terkesiap. Bersyukur jarak bed Adinda dengan tempat TV cukup lumayan. Adinda masih di atas bednya. Memandang mereka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.


“Untung saja, wajah ibu tiri dengan teman prianya tidak di-zoom,” kata Agung, “Kurang jelas pula sudut kameranya.”


“Sebenarnya apa yang terjadi?” Bramasta menatap layar TV yang sudah gelap dengan telunjuk menyentuh cuping hidungnya.


“Hans, punya kemampuan bela diri yang sangat baik. Pernah menyelamatkan Daddy sewaktu ada serangan ******* di Maroko. Juga saat menangkap gerombolan pencopet yang ada di area Menara Eiffel saat bulan madu dengan istrinya.”


Agung menatap Bramasta, “Bang Hans pernah ditodong senjata api?”


Bramasta mengangguk. “Beberapa kali, saat di Tangier, Maroko dan di Washington, Amerika juga saat di Bangkok, Thailand. Hans dengan mudah melepaskan diri dari mereka dan membalik situasi.”


“Disti melihat, Bang Hans sengaja tidak melawan dan mengikuti permainan Bryan,” Disti berselancar di medsos mencari berita ataupun video tentang kejadian di lounge hotel X.


“Kakak juga rasa begitu kalau dengar cerita Abang Bram,” Agung mengangguk sambil merangkul bahu Bunda, menenangkan Bunda.


Gawai Bramasta berdering.


“Dari Mbak Hana..” kata Bramasta.


“Assalamu’alaikum, Mbak.” Jeda.


“Iya, kami baru saja menontonnya dari TV. Saya sedang di rumah sakit, Mbak.” Jeda.


“Iya, ini operasi pernyergapan.” Jeda.


“Anton belum bisa dihubungi.” Jeda.


“Tapi tadi Agung sudah menghubungi anak buah Hans yang ada di TKP. Area masih diblokade petugas polisi. Nanti akan segera dikabari bila ada perkembangan." Jeda.


“Mbak Hana tenang saja. Selalu berdo’a untuk keselamatan Hans dan Anton. Percaya dengan mereka berdua bisa mengatasi ini.” Jeda.


“Iya Mbak. Nanti akan saya langsung kabari.” Jeda.


“Iya Mbak.. Wa’alaikumussalam.” Panggilan berakhir.


“Bisa dimengerti bagaimana cemasnya istri Nak Hans,” kata Bunda sambil mengelus dada.


“Bunda tenang saja.. do’akan saja ya Bun, semoga mereka selalu dalam perlindungan Allah,” Bramasta membelai lembut punggung Bunda.


“Kalian berdua segeralah ke kantor. Gue yakin, Bang Indra tidak akan tinggal diam,” kata Agung memandang Bramasta dan Adisti.


“Iya, Kakak benar. Cepat..” Bunda mendorong punggung Bramasta dan Adisti hingga ke pintu.


“Tapi saya sudah memerintahkan Indra untuk stay di kantor, Bun,” kata Bramasta.


“Indra bukanlah tipe yang hanya akan diam saja melihat saudara-saudaranya dalam bahaya,” sahut Bunda tak terbantahkan, “Dampingi Indra.”


“Ada apa?” tanya Ayah usai mengucap salam.


Melihat Bunda dan Agung berkumpul di bed Adinda dengan wajah murung dan cemas.


“Ayah tidak lihat Breaking News tentang kejadian di Hotel X?” tanya Bunda.


Ayah menggeleng, “Kenapa?”


“Hans disandera Bryan dan asistennya. Anton yang mendampingi Hans belum bisa dihubungi. Terakhir, dia mengirim voice note tanpa perrcakapan kepada Bang Indra.”


Ayah terperanjat sambil beristighfar. Agung memutar voice note dari Anton untuk didengar oleh Ayah.


“Abang Hans dan Kak Anton baik-baik saja kan Om?” tanya Adinda.


“Insyaa Allah. Jangan cemas, ya,” Agung tersenyum menghibur Adinda.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ayah.


“Bang Hans sepertinya sengaja memperpanjang drama penyanderaannya,” Agung menatap Ayah.


“Untuk?”


“Membuka kedok Bryan yang selama ini bersembunyi dengan kekebalan diplomatiknya.”


Ayang mengangguk mengerti, “Semoga Allah selalu menjaga Nak Hans dan Nak Anton.”


“Aamiin,” Agung, Bunda dan Adinda mengaminkan do’a Ayah.


Gawai Agung berdering.


“Assalamu’alaikum, ya bagaimana situasinya?” Jeda.


“Alhamdulillah..” Jeda. Wajah Agung terlihat lega.


“OK. Baik. Terimakasih banyak sudah mengabari saya.” Jeda.


“Wa’alaikumussalam..” Panggilan berakhir.


“Bagaimana?” tanya Bunda dan Ayah berbarengan.


“Alhamdulillah. Semua sudah selesai. Bang Hans dan Anton baik-baik saja. Bryan langsung dijemput oleh pihak kedutaan. Sedangkan asistennya langsung digelandang ke kantor polisi,” jawab Agung.


Gawai Agung berdering notifikasi pesan chat. WAG Kuping Merah.


Bramasta_Nanti malam kumpul di apartemen_


Leon_Gue udah di pesawat. Sebentar lagi landing_


Agung_Bang Hans dan Anton, kalian beneran baik-baik saja?_


Tidak berapa lama Anton mengirim foto, Hans dan dirinya saling bersidekap sambil adu punggung dengan senyum di wajahnya.


Agung_Dih! kita cemas banget ternyata kalian buat foto dengan pose seperti itu_


Indra_Sekarang giliran mereka berdua yang main srimulat_


Stiker ngakak bertebaran di WAG.


.


***


Sebenarnya, apa yang sudah terjadi dengan mereka, sih. Author juga keder...


🤓