CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!
BAB 272 – DI LUAR EKSPEKTASI



Agung masih terdiam beberapa detik untuk mengatur dadanya yang mendadak berdebar. Ada rasa gelenyar aneh di dada kirinya.


Seorang pengawal membukakan pintu mobil. Agung turun dengan perasaan yang entahlah. Beberapa kali terlihat Agung membuang nafas sambil memegangi dadanya.


Ayah menepuk punggung Agung.


“Kenapa? Gugup?”


Agung tidak menjawab hanya menyentuh tengkuknya.


“Baca do’a Nabi Musa, do’a untuk dimudahkan saat berlisan. Setelah itu, setiap kali melangkahkan kaki, dawamkan basmalah dalam hati.”


Agung mengucap basmalah perlahan.


“Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii. Aamiin.”


Adisti dan Bramasta sudah menunggu di depan tangga sebelum teras. Bramasta tersenyum melihat wajah Agung. Dia juga pernah merasakan kegugupan yang sama saat melamar secara resmi Adisti dulu.


Agung diapit oleh Ayah dan Bunda. Di belakangnya Adisti yang memeluk lengan Bramasta. Di belakang mereka para tetangga dengan membawa barang-barang seserahan dengan kotak transparan dan dihiasi mawar pink.


Keluarga Sanjaya, Kusumawardhani juga Fernandez dalam busana warna dusty pink yang berbeda model menyambut Keluarga Gumilar yang berbusana warna hijau sage-hijau botol di teras. Di dalam rumah, sudah ada para tetangga Adinda.


Acara diawali dengan pembacaan ayat suci al Qur’an yang luar biasa dan tidak disangka dibawakan oleh Anton Nicholas Akbar. Bunda dan Adisti sampai menitikkan air mata haru saat Anton melantukan ayat suci AL Qur’an dengan baik.


Acara sambutan dari tuan rumah dan para keluarga angkat Adinda, juga sambutan dan harapan dari para tetangga Adinda yang diwakili oleh Pak RT sukses membuat haru semua orang.


Kemudian keluarga Gumilar diwakili oleh imam masjid komplek yang memang mengenal Agung sejak kecil ditunjuk untuk memberi sambutan sebelum acara inti dimulai.


Ayah berbicara dengan lugas tentang maksud kedatangan mereka untuk mengkhitbah Adinda. Sedangkan rencana menikahnya akan dibicarakan nanti.


Sepanjang acara, Bramasta melihat Agung duduk dengan gelisah. Indra beberapa kali bersitatap dengan Bramasta, berdialog melalui mata dan gestur wajah tentang apa yang terjadi dengan Agung. Agung beberapa kali terlihat menghembuskan nafas dengan kasar. Beberapa kali juga Agung terlihat menengadah, memperhatikan kamar-kamar di lantai atas.


Acara sedikit terinterupsi dengan kedatangan Raditya di saat Ayah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka ke kediaman Keluarga Sanjaya. Raditya datang masih dengan berseragam lengkap.


Seorang pengawal yang sudah dibriefing oleh Hans memandu Raditya ke ruangan kamar yang ada di bawah untuk berganti baju. Mengenakan baju yang sudah disediakan oleh B Group sebagai sponsor utama.


Agung berbisik pada Bunda yang ada di sebelahnya.


“Subhanallah, Bun.. Kakak lupa memberitahu Bang Raditya tentang perubahan lokasi acara..”


Bunda terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Agung,


“Sudah diurus Nak Hans. Kalem saja, Kak. Kita semua bisa diandalkan kok..”


Agung mengangguk dan tersenyum saat melihat Raditya bergabung di duduk di samping Bramasta. Mengenakan busana batik berlengan pendek dengan nuansa hijau sage.


Agung menyapukan pandangannya pada keluarga angkat Adinda yang duduk di depannya. Terpisah oleh dua meja rendah persegi dengan rangkaian bunga meja hidrangea pink dan baby breath yang berwarna putih krem


.


Daddy, Mommy duduk berdampingan. Di samping Daddy adalah Papinya Indra lalu Maminya Indra. Di samping Mami, ada Hans dan Hana juga Baby Andra. Layla, Leon, Erik, Indra dan Anton ada di belakang barisan para orang tua.


Semua warna bajunya dusty pink kecuali seorang wanita di samping Mommy yang memakai baju berwarna fuschia tampak sangat kontras dengan kulitnya yang putih.


Gelisahnya Agung karena ia berharap bisa melihat wajah Adinda, calon ma’mumnya. Tetapi Adinda tidak ia temukan di barisan Kak Layla dan Bang Leon. Ia yakin, Adinda ada di salah satu kamar di atas sana. Tapi ini kan acara khitbah? Kenapa Adinda disembunyikan di dalam kamar seperti acara ijab kabul?


Pikiran Agung terus disibukkan dengan keberadaan Adinda. Tanpa sadar, sudah tiba acara penyematan cincin. Ayah menepuk bahunya untuk maju ke depan. Bunda sudah maju terlebih dahulu.


Agung yang tengah melamun tampak terkejut dengan tepukan Ayah pada punggungnya. Ayah mengernyit menatap Agung. Adisti berbisik pada suaminya tentang tingkah laku kakaknya yang terlihat aneh malam ini.


Kasak kusuk terjadi di barisan kedua deretannya dari keluarga angkatnya Adinda.


“Kalian perhatikan gak semenjak tadi perilaku Agung aneh banget..” bisik Indra.


Leon mengangguk, “Iya.. terlihat gelisah. Terlihat bukan Agung seperti biasa.”


“Seharusnya malam ini dia bahagia, dong.. Ini kan acara yang ia tunggu-tunggu,” Anton memajukan tubuhnya agar bisa melihat Leon.


“Jangan-jangan Agung kesurupan?” Leon menatap ngeri pada Indra dan Anton.


“Jangan ngaco, Bang. Kan tadi gue udah ngajiin..” Anton menggeleng.


“Isssh kok jadi seperti ini sih acaranya? Apa karena acaranya dipindah ke rumah ini?” Indra berspekulasi.


Daddy menatap ke belakang.


“Kalian mau dijewer lagi seperti di acaranya Bram?”


Ketiganya langsung diam. Takut dengan ancaman Daddy. Mereka memperhatikan jalannya acara lagi. Daddy kembali menghadap depan lagi.


Agung menunduk saat berjalan ke depan. Dia mengernyit saat Mommy menyuruh wanita bergamis pink cerah untuk maju ke depan. Agung menggeleng karena merasa ini tidak benar. Bahkan Bunda sudah mengeluarkan cincin Adinda dari kotaknya.


Agung menahan tangan Bunda. Bunda menoleh terkejut.


“Kenapa Kak?”


“Tahan dulu Bun..” wajah Agung tampak tidak bersahabat.


Para tamu dan keluarga bergumam. Tidak menyangka hal ini terjadi.


Agung maju mendekati wanita bergamis pink cerah. Dia memandang wanita itu sambil memicingkan matanya. Mommy sampai terkejut.


“Gung? Kenapa? Ada apa?”


Agung tidak menjawab pertanyaan Mommy. Dia menatap lurus si Gamis Pink Cerah yang balas menatapnya dengan takut-takut.


“Ma’af, Anda siapa ya? Saya tidak mengenal Anda. Gadis yang akan saya khitbah adalah Adinda Amelia Putri Binti Adang Rahmat. Bukan Anda!”


.


***


Eh, bagaimana sih ini?


Kok jadi begini?