
Suara teriakan Leon mulai terdengar. Mengaduh, berteriak, meminta ampun pada Mamang Urut untuk berhenti, berteriak lagi.
Bramasta terkekeh pelan sambil menutupi mulutnya. Indra mengeluarkan seringaiannya.
“Ulah cengeng jadi lalaki...Jangan cengeng jadi lelaki.._!” Mamang Urut meluruskan lengan Leon ke samping.
“Da nyeri atuh Mang.._Kan sakit mang..!_” Leon meringis.
Mamang Urut mengucap basmalah lagi lalu menarik lengan Leon dengan sekali sentakan. KREK.
Leon menjerit keras. Bramasta dan Indra meringis ngeri.
Sunyi. Seperti badai yang baru saja berlalu.
“Sok sekarang gerakin pelan-pelan..” kata Mamang Urut.
Leon menurut. Menggerakkan lengannya perlahan.
[Eh! Alhamdulillah.. gak sakit lagi!] wajah Leon cerah.
“Kumaha? Masih keneh nyeri teu?_Bagaimana? Masih sakit gak?_” tanya Mamang Urut.
“Alhamdulillah.. tos teu nyeri deui, Mang!” jawab Leon dengan mata berbinar.
“Beneran, Bang?” tanya Bramasta dan Indra berbarengan.
Leon mengangguk. Tangannya digerakkan lagi.
“Lalaunan weh, Kang_Pelan-pelan saja, Kang_. Jangan cepat-cepat seperti itu. Nyengsol lagi diurut lagi nih ku_oleh_ Mamang..”
Leon langsung berubah ekspresinya.
“Bang, calm down. Jangan petakilan dulu..” Indra tertawa.
“Sok mangga dileueut heula ci ntehna_Silahkan diminum dulu air tehnya_” Mamang berkata sambil membalurkan parutan jahe pada bahu dan punggung Leon.
“Panas, Mang!” protes Leon.
“Nya enya panas. Da jahe emprit diparut_Ya iyalah panas. Kan jahe emprit yang diparut_”
“Masih harus pakai gendongan tangan gak Mang?” tanya Bramasta.
Mamang Urut menggoyangkan telapak tanganya yang berlumur parutan jahe.
“Teu.. teu kedah_Gak.. gak usah_. Asal Akang Bulena ati-ati weh. Jangan dipakai ngangkat berat dulu. Bergerak pelan-pelan saja. 3 hari, insyaa Allah sembuh,” Mamang Urut mengelap tangannya dengan handuk yang berwarna kelabu kusam di dekatnya.
“Tuh Bang, dengerin..3 hari insyaa Allah sembuh,” Indra menepuk lutut Leon.
“Ieu teh kumaha dongengna sampai Kang Bule cedera?” Mamang Urut mengambil gelas khususnya.
Dari tadi Bramasta dan Indra melirik pada gelas di dekat Mamang Urut. Mereka takjub dengan ukuran gelasnya. Gelas bergagang tebal, tidak tinggi tapi mulut gelasnya sangat lebar. Kalau tidak berhati-hati wajah peminumnya bisa ikut tercelup di dalamnya.
Mereka berdua memperhatikan bagaimana si Mamang minum. Si Mamang hanya menyentuhkan bibirnya yang tebal sedikit saja pada gelasnya lalu menyesap air tehnya. Leon mengerutkan kening melihat kelakuan Bramasta dan Indra.
“Kunaon? Aya nu aneh?_Kenapa? Ada yang aneh?_" Mamang Urut meletakkan gelasnya, matanya menatap Bramasta dan Indra bergantian.
“Gelas Mamang, badag enjum_besar gede_” komentar Indra yang membuat si Mamang terkekeh.
“Kalian mau dibuat badag enjum?” Mamang Urut menaikturunkan kedua alisnya.
Bramasta dan Indra saling berpandangan.
“Maksudnya, Mang?” tanya Bramasta.
“Ukuran si Otong..” Mamang Urut menaikturunkan alisnya lagi.
“Otong? Siapa itu Otong?” Bramasta mengerutkan keningnya.
Mamang Urut berdecak lalu menunjuk pada pangkal paha Bramasta dan Indra bergantian, “Tah Otong tah.. nuju bobo ayeuna!_Tuh Otong tuh.. sekarang lagi tidur!”
“Eh!” otomatis Bramasta dan Indra menutupi pangkal pahanya dengan tangannya.
Leon terkekeh.
“Mau dibuat badag enjum gak?” tanya Mamang Urut lagi.
“Nggak Mang, terima kasih. Punya saya sudah badag enjum dari pabriknya,” jawab Bramasta sambil terkekeh.
“Mamang mah gak akan nawari ke Akang Bule. Da Mamang mah tahu bule mah ukurannya juga udah beda..” Mamang Urut melirik Leon.
Leon yang sedang meminum tehnya langsung tersedak. Lalu mengangguk-angguk setuju ucapan Mamang Urut.
“Akang Indra kumaha? Dari wajahnya sih Mamang yakin Kang Indra ini 100% pribumi...” Mamang Urut tersenyum lebar kepada Indra.
Indra mencebik. Merasa tersinggung karena dibandingkan ukurannya dengan bule dan blasteran.
“Gak Mang, terimakasih. Walau saya asli Indonesia tapi saya di atas rata-rata,” Indra tersenyum lebar, “Bahkan saya berani yakin, ukuran saya lebih besar daripada Otongnya Mamang.”
Giliran Mamang Urut yang mencebik.
“Kumaha dongengna ahli patah tulang jadi ahli si Otong?” tanya Leon.
“Bukan ku Mamang lah. Beda jalur itu mah.”
“Terus sama siapa?”
“Ada saudara Mamang. Memang ahli membuat badag enjum si Otong. Mak Peyot, namanya.”
“Lah, emak-emak?” Indra membelalakkan matanya.
Mamang Urut mengangguk, “Dia sudah dikenal luas kehebatannya.”
“Ooh..” ketiganya menanggapi ucapan Mamang Urut dengan kompak. Tidak ingin lebih jauh menanyakan kehebatan Mak Peyot, saudaranya Mamang Urut.
“Terus, Akang Bule kumaha dongengna?” tanya Mamang Urut.
Indra menunjukkan rekaman CCTV yang diedarkan media online Singapura. Mamang Urut menontonnya dengan penuh antusias.
“Waah ternyata Akang Bule jagoan!” Mamang Urut memandangi Leon dengan mata berbinar.
“Ah, biasa aja, Mang..” Leon memandangi Bramasta dan Indra, memberi kode untuk pamit.
“Kita mau pamit, Mang. Berapa untuk biaya urutnya?” tanya Indra.
“Ah seperti biasa weh, Kang. Mamang mah gak beda-bedain tarif antara pasien bule dengan pribumi. Seikhlasnya dan seridhonya saja supaya hidup Mamang berkah dan ilmu Mamang bermanfaaat bagi orang banyak.”
“Gak pasang tarif untuk pasien kesleo dan patah tulang, Mang?” tanya Bramasta.
Mamang Urut menggeleng.
“Mamang gak berani pasang tarif Den. Bisa hilang ilmu Mamang kalau Mamang pasang tarif. Orang-orang yang berobat ke sini tidak semuanya mampu. Bahkan karena sakitnya mereka jadi terganggu perekonomiannya karena orang yang menjadi tulang punggung keluarga sedang cedera.”
Bramasta mengangguk-angguk.
Leon tampak gelisah duduknya sambil memegang dompetnya.
“Mang, bisa gesek kartu gak?” tanya Leon yang membuat Bramasta dan Indra terperangah.
“Are you kidding me?_Bercanda, Bang?_” tanya Indra.
“Frère Léon, c’est embarrassant_Bang Leon, malu-maluin ih! _” Bramasta mencebik kesal pada Kakak Iparnya.
Leon menatap Bramasta dan Indra sambil mengeluarkan cengirannya, “Lupa bawa uang cash..”
Bramasta dan Indra menatap sebal.
“Lu kira si Mamang punya mesin EDC?” tanya Indra.
“Saya transfer saja ya Mang. Minta nomor rekeningnya, Mang..”
“Mamang mah gak pakai begituan, Kang. Seadanya saja Mamang mah. Gak mau dibuat ribet pakai transfer-transferan segala.”
Leon mengangguk-angguk.
“Bram, Ndra. Kemarikan dompet kalian,” nada perintah Leon terdengar berbeda.
Bramasta dan Indra saling berpandangan lagi. Lalu mengangkat bahu sambil mengambil dompet masing-masing dan menyerahkannya pada Leon.
“Nanti gue gantiin ya begitu bertemu ATM terdekat,” ucap Leon sambil mengambil semua uang cash yang ada di dalam dompet Bramasta dan Indra.
Bramasta dan Indra menatap bengong ketika uang cash mereka diambil semua oleh Leon.
“Mang, hapunten teu diamplopan_Mang, maaf tidak dibungkus amplop_. Mohon diterima ya Mang. Hatur nuhun pisan atas pengobatannya. Semoga ini menjadi keberkahan bagi kita semua,” Leon mengangsurkan segenggam lembaran merah dan biru ke dalam tangan Maman Urut.
Mamang Urut terperanjat.
“Seeur teuing ieu mah Kang.._Ini sih terlalu banyak, Kang.._” Mamang Urut merasa sungkan.
“Terima saja Mang. Bang Leon ikhlas kok,” kata Indra.
Mamang Urut menerimanya dengan malu-malu.
“Alhamdulillah.. akhirnya uang sekolahnya si Neng bisa terbayarkan. Neng bisa ikut ujian dengan tenang..”
“Neng siapa, Mang?” tanya Bramasta.
“Anak Mamang yang bungsu. Kasihan mau ujian akhir tapi diudag-udag uang gedung.”
“SMA?” Indra memandang Mamang Urut.
Mamang Urut mengangguk.
“Seumuran Adinda ya sepertinya,” Leon memandangi Bramasta dan Indra lalu keduanya mengangguk.
“Sing janten manpaat nya Mang_Semoga menjadi bermanfaat ya Mang_,” ucap Leon lagi.
"Aamiin..aamiin... Eh, Kang Bule muslim?” Mamang Urut memperhatikan wajah Leon.
“Alhamdulillah Mang. Abdi muslim ti borojol keneh..”
“Masyaa Allah..” Mamang Urut tersenyum senang.
Bramasta dan Indra berdiri lalu menyalami Mamang Urut. Diikuti Leon.
Saat hendak masuk ke dalam mobil, Indra teringat sesuatu.
“Bang, Lu gak ngompol kan tadi?”
Bramasta menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu mobil. Meringis memandang Leon.
“Isssh apaan sih kalian? Memang gue cowok keren apaan, diurut saja sampai ngompol-ngompol begitu. Percuma juga bawa baju ganti.”
“Wow.. keren!” celutuk Indra sambil tertawa. Melirik ke arah Bramasta yang tersenyum lebar hingga akhirnya mereka berdua terbahak bersama.
Leon yang duduk di bangku tengah memajukan tubuhnya. Menatap mereka bergantian dengan tatapan heran.
“Kalian berdua ini, kenapa begitu mencurigakan sih?” tanyanya.
Bramasta dan Indra langsung terdiam.
“Gak.. gak kenapa-napa kok,” Bramasta menyembunyikan senyumnya.
“Apa gue harus beli perangkat lie detector ya?” gumam Leon keras.
Indra tersedak saat hendak tertawa. Bramasta menepuk-nepuk punggungnya.
“Kualat tuh kalian ke gue..” Leon mencibir.
“Buruan Ndra jalan. Pasien Mamang Urut sudah mulai datang. Linu gue lihatnya..” Bramasta meringis melihat pasien yang baru saja turun dari angkot yang disewa.
Kakinya bengkak besar sekali berwarna keunguan. Berjalan dengan dipapah oleh 2 orang lelaki bertubuh besar.
“Aiih..patah tulang itu teh?” Leon meringis.
“Bisa patah tulang bisa juga remuk tulangnya.Pasien seperti itu biasanya dirawat inap didampingi keluarga untuk mengurusnya,” Indra membelokkan setirnya keluar dari halaman.
Indra menunjuk pada sayap bangunan rumah utama. Dinding luarnya berwarna krem.
“Itu bangunan tempat rawat inap pasien Mamang Urut. Gue salut dengan dedikasinya dengan tidak memasang tarif. Seikhlasnya saja pembayarannya. Karena ingin membantu orang-orang yang sedang kesusahan."
"Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang berguna bagi orang lain hanya berharap ridho Allah,” kata Bramasta.
Melewati kawasan niaga, mata Leon tampak berbinar-binar membaca spanduk dan plank-plank judul toko ataupun makanannya.
“Ndra.. lapar. Minggir dong. Kita wisata kuliner makanan Cililin.”
Indra menggigit bibirnya. Lalu mendesah panjang.
“Mau bayar pakai apa, Bang? Kita semua gak punya uang cash. Pedagang sederhana seperti mereka tidak menyediakan mesin EDC.”
“Cari saja yang bisa QR payment,” Bramasta menyandarkan lengannya pada pintu.
“Pintar Lu, Bram!” Leon menepuk pundak Bramasta.
“Gak bisa lihat logo QR payment dari mobil, Bram. Harus turun kita..” sahut Indra.
“Ya turunlah kita..” timpal Leon.
“Iyyes!” Leon berseru girang saat Indra memarkirkan kendaraannya di dekat pedagang pikulan yang tengah dikerubuti pembeli. Es goyobod begitu yang tertulis pada pikulannya.
“Gue mau itu!” Leon menunjuk ke arah pedagang es goyobod pikulan.
Bramasta dan Indra saling berpandangan.
“Bang, Lu serius? Yang bener aja lah. Jangankan EDC, kode QR payment-nya pun gak ada, Bang..”
“Tapi gue ingin banget es goyobod..”
“Bang, Abang lagi ngidam?”
“Pokoknya gue ingin es itu..”
“Oh my God..”
“Demi gue sebagai abang kalian yang sedang menginginkan es goyobod, kalian periksa masing-masing saku kalian ya. Siapa tahu masih ada uang sisa kembalian yang terselip,” Leon memandangi mereka dengan senyum lebar pada wajahnya.
.
***
Bang Leon ngeselin. Malu-maluin banget nih bule satu ini. Untungnya dia ganteng.
Eh!
Maaf..Author khilaf 😁😁🤣
Met weekend ya. Happy malam Ahad.
2 bab nih hari ini..😁🌷
Jangan lupa buat naikin booster Author ya Readers.. 😉