
Bramasta tiba hampir bersamaan dengan Adisti dan Adinda. Saat membuka pintu, terdengar tawa terbahak dari dalam ruangan.
Bramasta berdiri di depan pintu. Adisti dan Adinda masih berada di luar ruangan terhalang tubuhnya.
“Bang Bram,” suara Adisti bergetar, “Mereka semuanya jadi kesurupan?”
“Teh... Takuuut,” Adinda memegang tangan Adisti erat.
“Ck!!” Bramasta berdecak keras.
Dia melangkah masuk sambil mengucap salam dengan keras.
Mereka berhenti tertawa. Memandang semua ke arah pintu. Menjawab salam Bramasta. Adisti menongolkan wajahnya dengan takut-takut dari arah punggung suaminya.
Melihat wajah Adisti, serentak mereka tertawa kembali. Bramasta mengerutkan keningnya. Memandang ke sebelah kirinya. Tempat Adisti menyembulkan wajahnya. Lalu memandang ke arah mereka dengan tatapan bertanya.
Indra berjalan ke arah Bramasta. Lalu menunjuk Adisti, “Ini nih biang keroknya..”
Bramasta menggeser tubuhnya untuk melindungi Adisti. Sikap waspadanya membuat tawa mereka semakin pecah.
“Biang kerok apa?!” Bramasta bersuara keras mengimbangi suara tawa mereka.
“Nih.. gegara omongan Adisti, gue disangka kesurupan!”
Bramasta memandang Adisti dan Indra bergantian.
“Jadi tadi Lu gak kesurupan?”
“Ya nggak lah.”
“Terus kenapa Lu bisa disangka kesurupan?”
“Tuh, tanyakan pada Adik Ipar.”
“Ini ada apa sih sebenarnya?” Bramasta bertolak pinggang.
“Sini, duduk dulu,” Hans menepuk tempat kosong di sampingnya. Mereka sedang berkumpul di sofa bed.
Bramasta beranjak untuk duduk. Adisti dan Adinda yang masih bergandeng tangan erat berdiri mematung.
“Eh?” yang sedang duduk terperangah melihat Adisti tidak sendiri.
“Dinda??” Agung memiringkan kepalanya.
“Eh iya, Dinda..” Bramasta baru tersadar.
Adinda tersenyum gugup lalu menganggukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap mereka.
“Sejak kapan?” Indra menatap lekat pada Adinda.
“Sejak hari ini. Do’akan saya..”
“Semoga istiqomah..” tukas Agung, “Masyaa Allah. Kamu semakin cantik.”
“Ciyeeee,” goda Hans diikuti kekehan Anton.
Kemudian Hans menoleh pada Anton, “Are you OK?”
Anton yang ditanya langsung terdiam.
“Apaan sih Bang..”
“Sakit tak berdarah gak?” Hans masih menggodanya.
“Hissh Abang.. ya nggak lah.”
Indra menepuk-nepuk punggung Anton.
“Hih, gue gak kenapa-napa lagi..” Anton mencebik.
“Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi?” Bramasta menatap Agung yang masih memandangi Adinda yang hari itu mengenakan seragam Pramuka dengan kerudung coklat tua.
“Bidadari...” gumam Agung.
Yang lainnya terkikik.
Adinda merah padam.
“Setdah! Adiknya dulu mengigau Malaikat saat melihat Bramasta, lha sekarang Kakaknya mengigau Bidadari saat melihat Adinda..!” Indra menyusut sudut matanya yang sudah berair lagi.
“Haissh!” Bramasta menepuk punggung Agung.
Agung menjengit. Meringis menahan sakit.
“Bram!” teriak Indra mengingatkan.
“Ya Allah.. luka gue!”
Bramasta mematung. Lalu menatap Agung.
“Eh.. sorry.. maaf Kakak Ipar.. Abang lupa..”
Adisti bergegas menghampiri kakaknya.
“Kakak.. kakak gak kenapa-napa?”
Kemudian menatap galak kepada suaminya.
“Abang ih kenapa sih pakai mukul-mukul gitu ke Kakak?”
“Abang gak sengaja, Sayang. Lagian Kakak Ipar sih ditanya pakai mengigau segala..”
“Gung, lihat dulu lukanya, berdarah gak?” kata Indra mendekati Agung yang menahan sakit hingga meringkuk duduknya.
Adinda maju melangkah. Wajahnya dipenuhi kecemasan.
Indra membuka ikatan simpul pita pada punggung baju pasien Agung. Luka jahitan masih ditutupi oleh kasa.
“Gak ada darah yang merembes di kasa. Aman ya?” suara Bramasta terdengar penuh rasa bersalah.
“Udah.. kuat ah. Masa dikeplak dikit aja langsung begitu. Malu tuh ada Adinda..” kata Bramasta lagi.
Hans terbahak keras, “Benar-benar mereka ini keluarga srimulat ya..”
Yang lainnya ikut terbahak. Sejurus kemudian, mereka dikejutkan dengan pintu yang dibuka kasar. Daddy dan Pak Dhani memasuki ruangan dengan terburu-buru. Mengucapkan salam bersamaan.
Semuanya menjawab salam sambil memandang heran pada Daddy dan Pak Dhani.
“Ndra... kamu gak apa-apa?” Pak Dhani menghampiri Indra dengan wajah khawatir seorang ayah.
“Oh My God...” gumam Anton, “Kehebohan sore ini belum akan berakhir..”
Dia dan Hans berusaha untuk menahan tawanya.
“Indra gak kenapa-napa, Pi. Missundrestanding aja.”
“Missunderstanding bagaimana?” Pak Dhani mengerutkan keningnya.
“Hans?” suara Daddy terdengar menuntut penjelasan.
“Ma’af Tuan Alwin. Saya belum sempat memberi laporan dengan kondisi terakhir Indra dan Agung. Saya masih mendengarkan penjelasan mereka. Tapi kemudian rombongan Bramasta datang. Penjelasan belum selesai, kehebohan lainnya muncul..” Hans sekuat mungkin untuk tidak tertawa, dia berbicara dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin.
“Jelaskan dari awal lagi. Bukan kamu, Hans. Kamu wajahnya mencurigakan,” Daddy menepis tangannya ke arah Hans.
Yang lainnya terkikik pelan melihat Hans yang tidak terima dikatakan wajahnya mencurigakan oleh Daddy.
“Kalian berdua,” Daddy menunjuk Agung dan Indra, “ Jelaskan!”
Indra menjelaskan. Disusul Agung yang ikut menambahkan, kemudian disela oleh Adisti. Agung dan Indra bercerita dengan ekspresif sekali. Hingga memeragakan segala adegannya.
Belum setengah jalan menjelaskan, tawa sudah terdengar di dalam ruangan. Bramasta, Daddy dan Pak Dhani geleng-geleng kepala sambil terbahak.
Hans ikut menimpali saat menceritakan kedatangannya. Begitupula dengan Anton melengkapi cerita.
“Jadi, Adinda menangis setelah menelepon Kakak bukan karena dijutekin Kakak?” Adisti menatap Agung dan Adinda bergantian.
Agung menggelengkan kepala lalu menatap Adinda yang berdiri gelisah. Adinda menggeleng juga.
“Saya sayang sama kamu..” Indra menimpali diikuti kikikan dari yang lainnya.
“Luar biasa efek pernyataannya Agung..” kata Pak Dhani menggelengkan kepalanya, “Sampai membuat Indra kesurupan. Hans harus membelokkan helikopter ke rumah sakit, Anton harus menerobos kemacetan plus lari-lari naik tangga hingga ke lantai 6, Bramasta harus memakai jasa kawal dari polisi lalu lintas yang kebetulan lewat untuk menerobos kemacetan.”
Semuanya tertawa geli.
“Dad, beritahu Mommy. Jangan sampai Mommy ke sini nyusulin Daddy gegara dengar Indra kesurupan. Om Dhani juga beritahu Tante, Om..” kata Bramasta.
Daddy mengggoyangkan tangannya.
“Daddy belum cerita ke Mommy.”
‘’Om juga belum cerita ke Tante.”
“Bahkan Pak Bos sampai kirim chat, segera ke rumah sakit, Indra kesurupan, Agung sendirian di ruangannya,” Anton mengelap wajahnya dengan tisu.
Mengambil botol air mineral dingin yang disodorkan Adisti lalu meneguknya.
“Bang Hans, wanti-wanti: gak boleh ada orang luar yang tahu termasuk para perawat. Apa kata dunia kalau tahu orang nomor 2 di B Group kesurupan?” Anton melanjutkan lagi sambil meringis.
Indra yang sedang menjadi bahan pembicaraan ikut meringis.
“Ya iyalah.. saham B group bisa jatuh,” Bramasta menyisir rambutnya dengan jemarinya.
“Bakalan susah jodoh juga tuh anak kalau sampai orang-orang tahu..” celetuk Pak Dhani sambil mengupas jeruk.
“Dih Papi, gitu amat,” protes Indra.
“Ya iyalah. Iya gak Pak Al?” tanya Pak Dhani.
Daddy mengangguk sambil menatap Agung dan Bramasta.
“Kok bisa sih kalian menyangka Indra kesurupan? Daddy betul-betul tidak habis pikir..”
“Tingkah Bang Indranya sendiri, Dad.. aneh banget. Mencurigakan,” kata Agung.
“Memang sih, Indra ini petakilan banget orangnya,” kata Daddy lagi.
Pak Dhani mengangguk setuju, “Petakilan sejak masih dalam perut maminya..”
Indra mencibir, “Mungkin petakilan sewaktu masih dalam bentuk bibit, Pi..”
Semuanya tertawa mendengar omongan Indra.
“Hisssh! Sembarangan,” Pak Dhani menunjuk Indra, “Entah kamu nanti jodohnya seperti apa, Ndra. Perempuan yang bisa meredam petakilannya kamu..”
Daddy terkekeh.
“Om, jodohin aja dengan yang seumuran dengan Bang Indra atau sedikit di bawahnya. Biar dapat yang kalem dan dewasa..” kata Adisti.
“Jodohin? Ogaaaah,” Indra menggoyangkan kedua tangannya.
Suara ketukan pada pintu, Bunda dan Ayah memasuki ruangan sambil mengucap salam. Semuanya menjawab salam Ayah dan Bunda.
“Eh, sedang ngumpul semua di sini? Pantas tadi tertahan di bawah.." kata Bunda.
Para ayah bersalaman, anak-anak menyalimi Bunda dan Ayah.
“Ayo masuk saja,” kata Bunda kepada yang di luar pintu.
Para tetangga mengucap salam, ruangan rawat inap Agung mendadak penuh. Daddy dan Pak Dhani masih mengenali para tetangga.
“Yuk kita pindah di taman saja,” usul Adisti.
Semua setuju. Kuping Merah, Adinda, Daddy dan Pak Dhani berjalan beriringan ke taman di lantai 6.
.
***
Gak kebayang kalau Mommy dan Bu Dhani diberi kabar: Indra kesurupan.
😂🤣🤣